Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Sekte Yang Menghilang


__ADS_3

Kejadian terciptanya piringan pelangi raksasa yang hampir terlihat di seluruh dunia kini menjadi bahan pembicaraan semua kalangan manusia, bangsa siluman serta bangsa hewan iblis. Pasalnya fenomena itu juga menyebabkan beberapa gunung meletus dan gelombang air laut meninggi.


Hampir semua organisasi, sekte maupun kerajaan segera melakukan pertemuan untuk membahas terkait fenomena tersebut. Mereka semua sepakat jika kejadian itu bukanlah alami tetapi ada hal lain yang memicu keluarnya energi besar dari berbagai penjuru sehingga mengakibatkan fenomena yang begitu menggemparkan seluruh dunia beberapa waktu lalu.


Pemerintah di berbagai daratan langsung mengirimkan utusan masing-masing ke titik lokasi yang sebelumnya memancarkan cahaya ke langit, yang berlokasi terdekat dari wilayah mereka. Begitu pula dengan sebagian organisasi maupun sekte, mereka juga berlomba-lomba mencari informasi tentang cahaya yang di yakini mereka berasal dari benda pusaka.


Sementara itu di tempat bersemayamnya pecahan Pusaka Matahari Penghancur sedang terjadi kepanikan, dua markas Sekte besar yang berlokasi di daratan utara dan selatan sama-sama langsung memerintahkan seluruh anggotanya untuk menutup segala akses markas dari orang luar. Penjagaan di perketat dan segel pelindung markas tersebut di perkuat guna mengantisipasi adanya serangan dari pihak luar yang berniat ingin mencari tahu informasi ataupun merebut pusaka mereka.


"Patriark, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa salah satu cahaya itu juga berasal dari sini." Tanya salah seorang tetua yang sedang melakukan pertemuan di aula Sekte Pedang Suci.


Sekte Pedang Suci adalah sekte terkuat sekaligus sekte yang memimpin seluruh sekte aliran putih di daratan utara. Sekte Pedang Suci memanglah memiliki banyak anggota yang berkemampuan tinggi, namun untuk menghadapi keinginan-tahuan banyak pihak yang di yakini cepat atau lambat akan berdatangan ke markas mereka tentu hal yang merepotkan. Apalagi jika sudah ada yang mengetahui bahwa cahaya yang berasal dari markas mereka adalah energi dari Pusaka Legenda, tentu hal itu akan menimbulkan konflik yang bisa saja memicu terjadinya perang besar.


"Aku juga tidak tahu, mungkin di tanah berdirinya markas kita ini tersimpan pusat energi alam. Dan untuk mengenai kenapa energi itu keluar, mungkin saja ada sesuatu yang menariknya atau mungkin semua itu adalah proses alami untuk membentuk energi di dunia ini." Patriark Dai Wubai beralasan.


Sebenarnya Patriark Dai Wubai dan beberapa tetua sepuh mengetahui jika di markas mereka tersimpan pecahan salah satu Pusaka Matahari Penghancur, namun demi menjaga keharmonisan agar para anggotanya tidak dibutakan keserakahan untuk mendapatkan pusaka tersebut, mereka terpaksa merahasiakannya dari anggotanya sendiri. Selain itu Patriark Dai Wubai juga tidak ingin para anggotanya menjadi panik karena bagaimanapun keberadaan Pusaka Legenda juga memiliki resiko yang besar bagi keselamatan mereka.


"Kalau begitu kenapa kita harus menutup diri, Patriark? Bukankah hal ini justru akan semakin mengundang kecurigaan banyak pihak."


"Aku khawatir kejadian ini akan membuat sekte kita kedatangan pihak yang memiliki niat buruk pada kita. Untuk itulah sebagai jaga-jaga kita harus menutup markas untuk sementara waktu. Jika ada yang datang untuk bertanya, katakan saja seperti yang aku jelaskan tadi." Balas Patriark Dai Wubai dengan lugas.


Benar saja, baru beberapa puluh menit selepas fenomena tersebut. Kini sudah ada beberapa orang yang berdiri di luar gerbang dan meminta izin untuk masuk. Mereka adalah para prajurit kerajaan yang memang dekat dengan lokasi Markas Pedang Suci.


"Maaf, kami sekarang sedang tidak bisa menerima tamu, silahkan kalian semua kembali." Ucap salah satu penjaga yang berdiri di atas tembok pertahanan gerbang.


"Apa seperti ini cara kalian memperlakukan tamu?" Pimpinan prajurit tersebut berkata dengan nada ketus.


"Sekali lagi maaf, bukan maksud kami berlaku kurang sopan pada kalian. Namun jika tujuan kalian ingin menyelidiki cahaya apa yang tadi terpancar dari sini, kami akan memberitahukannya bahwa cahaya itu adalah energi inti alam yang tersimpan di bawah tanah markas ini." Ucap penjaga tersebut dengan ramah.


Pimpinan prajurit itupun mengerutkan dahi, dia terdiam sesaat. "Setidaknya biarkan kami masuk, kami hanya ingin menyelidikinya lebih jelas."

__ADS_1


"Maaf tuan, Patriark kami menyuruh untuk tidak membiarkan orang luar masuk. Bukannya apa-apa, Patriark hanya tidak mau markas ini ramai di kunjungi orang-orang yang datang hanya karena menginginkan penjelasan mengenai cahaya yang berasal dari sini. Mohon anda semua mengerti, kami hanya tidak ingin adanya pihak yang mungkin datang memiliki niatan buruk." 


"Jadi kalian mencurigai kami?" Pimpinan prajurit itupun tersenyum kecut.


"Kami hanya menjalankan perintah, maaf tuan silahkan anda semua kembali."


Setelah selesai melakukan pertemuan darurat, Patriark Dai Wubai dan tiga tetua sepuh lantas bergegas menuju pohon kauri besar yang berlokasi di tengah danau.


Patriark Dai Wubai terlihat memutar salah satu akar pohon yang menyembul keluar, dia menggerakkan akar tersebut sesuai pola untuk membuka ruangan bawah tanah yang ada di bawah pohon besar tersebut.


Tiba-tiba akar yang di pegang Patriark Dai Wubai bergerak ke dalam tanah, lalu beberapa saat kemudian lapisan depan pohon kauri besar itupun terbuka ke atas dan memperlihatkan ruangan yang terdapat anak tangga yang menuju ke bawah.


Setelah berada di dasar, mereka di hadapkan enam lorong yang berlainan arah. Patriark Dai Wubai berkelebat di udara memapak setiap batu bulat yang sedikit menyembul di permukaan dinding atas enam lorong tersebut. Setelahnya, Patriark Dai Wubai mendarat sambil memandangi lantai, yang mana kini lantai di hadapannya itu memancarkan cahaya melingkar.


Patriark Dai Wubai dan tiga tetua kemudian memasuki cahaya itu, dan secara mengejutkan mereka tiba-tiba sudah berada di atas perbukitan.


"Patriark, ku rasa energi pusaka itu sedikit melemah. Apa mungkin.." Salah satu tetua mengelus-elus jenggotnya yang panjang lalu menutup mata kanannya dengan dua jari. Dia mulai menggunakan tekniknya untuk meneliti perubahan tekanan energi tongkat pusaka yang ada di hadapannya itu.


"Sepertinya cahaya yang kita lihat tadi adalah sebagian energi tongkat ini yang terserap oleh sesuatu. Energinya saat ini hanya tersisa 80 persen, itu artinya pasti ada sesuatu yang menyerap energi pusaka ini."


Patriark Dai Wubai mengerutkan dahi sambil menggeleng pelan, dia jelas tidak dapat mempercayainya. "Bagaimana mungkin ada yang bisa menyerap energi pusaka ini tanpa menyentuhnya."


Patriark Dai Wubai yakin bahwa tidak ada seorangpun yang memasuki tempat ini, pasalnya segel berlapis yang menyelubungi tongkat pusaka tersebut masih dalam kondisi baik-baik saja. Andaikan ada yang memasuki tempat ini, Patriark Dai Wubai tentu saja akan mengetahuinya sebab salah satu segel yang terpasang tersebut adalah milikinya. Segel udara adalah segel yang berfungsi seperti radar sehingga dapat mendeteksi siapapun yang memasuki jangkauannya.


"Tapi energinya memang terlihat seperti di serap secara paksa, Patriark."


Semuanya terdiam, meskipun tidak dapat menerima kenyataan tersebut. Namun jika bukan terserap lalu 'kenapa energi tongkat pusaka tersebut tiba-tiba keluar sampai menembus langit?'


"Mungkin energinya terserap kembali ke alam, tapi kenapa hanya ada empat cahaya energi yang terlihat. Bukankah pecahan Pusaka Legenda ada lima?" Patriark Dai Wubai nampak berfikir keras.

__ADS_1


"Entahlah, sebaiknya kita bicarakan hal ini secepatnya pada seluruh penjaga pusaka lainnya."


"Baiklah, kalian berdua pergilah ke daratan tengah. Aku khawatir sekte kecil mereka akan mendapatkan serangan karena kejadian ini." Patriark Dai Wubai nampak khawatir namun di lain sisi dia juga tidak tahu apakah sekte kecil di daratan tengah yang menjaga pecahan Pusaka Legenda tersebut masih ada atau tidak. Pasalnya dari kabar yang mereka dengar ratusan tahun lalu, sekte tersebut telah lenyap bagaikan di telan bumi.


"Apa tidak sebaiknya kita mengabari mereka dulu, Patriark?"


"Kalian bisa mengabari mereka untuk berkumpul jika Sekte Makam Kuno di daratan tengah sudah bisa di pastikan keamanannya." Patriark Dai Wubai sebenarnya ingin pergi sendiri namun tugasnya untuk melindungi sektenya sendiri juga amatlah penting.


"Baiklah, jika begitu aku dan Han Dang akan segera ke sana Patriark." Ucap tetua yang memiliki rambut hitam separuh putih, dia bernama Chen Zhu. Rambutnya memang unik seperti di warnai, namun sejatinya keunikan rambutnya itu di akibatkan oleh teknik yang dimilikinya.


Patriark Dai Wubai mengangguk, dia lantas melemparkan kepingan berbentuk melingkar dan memiliki ukiran manusia setengah kuda, itu adalah jarum langit. Memang setiap penjaga Pusaka Legenda dibekali jarum langit masing-masing guna untuk memastikan keberadaan pecahan Pusaka Legenda lainnya.


"Gunakan benda itu untuk mencari keberadaan markas mereka. Aku yakin mereka masih ada di suatu tempat. Ingat apapun yang terjadi jangan sampai benda itu jatuh ke tangan orang lain." Patriark Dai Wubai memperingati setelah menyerahkan jarum langit kepada Chen Zhu.


"Baik Patriark, kami sekarang juga akan berangkat." Chen Zhu menelangkupkan tangan lantas pergi dari tempat itu bersama Han Dang.


Patriark Dai Wubai mengalihkan pandangannya ke arah tongkat pusaka. "Kita tidak mungkin selamanya menyembunyikan hal ini, cepat atau lambat keberadaan pusaka ini pasti di ketahui. Sebelum itu terjadi aku akan membawa pusaka ini ke tempat lain. Setelah kepergianku nanti, aku ingin kau menggantikan posisiku menjadi Patriark, jagalah sekte ini dengan segenap kemampuanmu."


Tetua berjanggut panjang menengokkan kepalanya menatap Patriark Dai Wubai, tetua itu bernama Xie Huang yang memiliki julukan 'Tangan Pedang'. "Patriark, menjaga pusaka itu seorang sendiri bukanlah pilihan tepat. Bukan maksudku meremehkan kemampuan anda tapi.."


"Tenanglah aku sudah memiliki rencana dan pastinya aku tidak akan membiarkan siapapun mendapatkan pusaka ini. Meskipun kekuatan kita cukup untuk mempertahankan pusaka ini, tetapi aku tidak mau mengorbankan banyak nyawa anggota kita. Ku harap setelah aku membawa pusaka ini, tidak akan ada penyerangan dari pihak yang mengincar pusaka ini."


Sementara itu di tempat lain, terlihat sosok berpakaian coklat sedikit kumuh sedang terbang di atas awan, dia adalah Zhen Long. Pria paruh baya itu berniat menuju ke Markas Makam Kuno, dia sebenarnya sangat terkejut ketika mendapatkan kabar bahwa Makam Kuno telah lenyap ketika mendapatkan serangan dari Sekte Kelelawar Hijau, salah satu sekte aliran hitam terkuat di daratan tengah. Tujuannya pergi ke Markas Makam Kuno bukan hanya untuk memastikan keadaan sahabatnya, namun juga ia ingin mencari tahu penyebab keluarnya energi pusaka legenda beberapa waktu lalu.


"Semoga saja kau masih hidup, Yao Zhen. Maafkan aku karena baru mengetahui situasi yang menimpa sektemu." Batin Zhen Long, dia terlihat begitu mencemaskan sahabatnya sekaligus saudaranya itu.


Zhen Long dan Yao Zhen sebenarnya adalah saudara jauh. Awal pertemuan mereka terjadi ketika Yao Zhen tengah menjalankan misi dari Sektenya, waktu itu Yao Zhen masih menjadi murid inti Sekte Makam Kuno. Dia bersama anggotanya saat itu sedang bertarung mengahadapi para penyamun yang meresahkan para penduduk desa, Zhen Long datang membantu karena tidak sengaja melihat pertarungan tersebut.


Setelah melalui pertarungan itu, mereka saling mengenalkan diri dan akhirnya mereka mengetahui jika sebenarnya mereka berdua memiliki ikatan keluarga.

__ADS_1


Semenjak saat itulah Zhen Long sering datang berkunjung ke Makam Kuno untuk sekedar melihat kondisi dan perkembangan saudaranya itu, bahkan Zhen Long sudah di anggap anggota Makam Kuno dan akan di jadikan Patriark, sebab itulah Zhen Long mengetahui adanya pecahan Pusaka Legenda disana. Zhen Long tentu saja menolak di jadikan Patriark, dia tidak mau membebani sekte tersebut sebab saat itu Zhen Long memiliki banyak musuh yang terus memburu dirinya.


__ADS_2