
Dalam pertukaran beberapa jurus, Patriark Dai Wubai terus mempelajari tata pergerakan Arya. Orang tua ini beberapa kali dibuat kagum melihat jurus-jurus yang memiliki si pemuda banyak perubahan dan penyempurnaan-penyempurnaan dengan gabungan-gabungan yang tepat dan berbahaya. Itulah sebabnya Patriark Dai Wubai harus berhati-hati dan memeras segala pengalamannya bertarung untuk menghadapi kecepatan dan gerakan-gerakan yang baru dilihatnya dari jurus si pemuda.
Sementara itu, Arya memang sedari awal sudah serius. Dia sadar yang dihadapinya kali ini bukanlah orang sembarangan. Nama dan pamor orang tua dihadapannya tersebut begitu tersohor di seluruh benua daratan utara. Tetapi untuk saat ini dia hanya mempergunakan jurus-jurus yang dipelajarinya dari Zhen Long. Pemuda ini rupanya ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakannya mengenai pernyataannya tentang dirinya yang adalah murid dari Zhen Long memang benar adanya.
Pemuda ini memusatkan segala tenaga dan pikirannya dalam setiap serangan dan bertahan. Matanya yang dapat melihat sekilas beberapa detik kedepan serta dapat pula melihat lebih lambat pergerakan lawan, telah banyak membantunya. Seandainya tanpa memiliki kelebihan pada mata itu, sudah barang tentu ia akan terkena beberapakali serangan.
Kultivasi Patriark Dai Wubai memang lebih tinggi sehingga pergerakannya tidak dapat diimbangi oleh Arya. Untuk mengatasi hal itu, Arya sangat bergantung pada matanya. Akan tetapi Arya juga sadar bahwa ia tidak boleh terlalu sering menggunakan matanya untuk melihat pergerakan lawan supaya energinya tidak cepat terkuras.
Arya kertakkan rahang. Dua tinjunya bergerak susul menyusul. Deru angin yang dahsyat melanda ke arah Patriark Dai Wubai. Si orang tua, yang rupanya ingin menjajaki sampai di mana ketinggian kultivasi lawan, balas mengirimkan pukulan tangan kosong.
Glaaarrrr...!
Letusan sedahsyat guntur berdentum ketika dua energi mereka saling bentrokan di udara. Puncak bukit cinta berguncang kuat, tanah disekitar pertarungan mereka retak-retak dan berhamburan. Tubuh Patriark Dai Wubai kelihatan berdiri gontai beberapa detik lamanya. Sedangkan Arya jatuh duduk di tanah, mandi keringat dingin!
Zhiyuhan yang berdiri jauh dari pusat pertarungan dan menyaksikan itu mengeluh tertahan karena menyangka Arya mendapat celaka besar. Sesuai dugaan, energi Patriark Dai Wubai memang demikian tingginya, lebih tinggi dari energi yang dikeluarkan oleh Arya sepenuhnya.
Binatang-binatang dan siluman-siluman yang menghuni bukit cinta terkejut bukan main mendengar ledakan tersebut. Segera saja semua binatang itu berlarian tunggang langgang mencari selamat. Namun mereka tidak bisa lari terlalu jauh, karena sesampainya mereka di kaki bukit, mereka semua tertahan oleh tembok tak kasat mata.
Sadar kalau tidak dapat mengandalkan serangan energi karena kekuatan si orang tua lebih kuat, Arya segera melompat dan menyerang. Kedua tangannya bergerak demikian cepat seolah berubah puluhan banyaknya, menyapu-nyapu dan sekali-kali menjotos ke muka dengan dahsyatnya. Hampir dua jurus Patriark Dai Wubai terkurung oleh pukulan-pukulan yang anginnya memerihkan matanya dan mengandung hawa panas luar biasa.
Patriark Dai Wubai mau tak mau mempercepat pula gerakannya. Tubuhnya kini laksana bayang-bayang. Dalam beberapa kali pertukaran serangan, Arya mulai merasakan tekanan-tekanan serangan yang membuatnya harus berhati-hati. Tiga jurus kembali berlalu. Tubuh kedua manusia itu sudah tak kelihatan hanya seperti bayang-bayang karena cepatnya gerakan mereka ditambah lagi dengan debu serta pasir yang menggebubu ke udara menutupi keduanya.
Tiba-tiba dibarengi dengan lengkingan yang menggetarkan tanah, dengan satu gerakan yang sulit ditangkap oleh mata Arya, Patriark Dai Wubai tiba-tiba telah mengayunkan siku kirinya ke kepala.
Patriark Dai Wubai melihat tubuh lawannya itu masih dapat mengelak ke samping. Si orang tua lekas pergunakan satu tangannya yang lain untuk kirimkan jotosan ke arah mana Arya mengelak.
Bukkkk...!!
Arya terpental sampai dua tombak ke belakang. Mulutnya meringis menahan sakit akibat pukulan tangan kanan Patriark Dai Wubai yang bersarang di dada kirinya. Pukulan itu bahkan membuat pakaian dibagian dada kirinya berlobang dan terbakar. Cepat-cepat dialirkannya tenaga dalamnya ke bagian yang terkena itu.
Patriark Dai Wubai mengerenyitkan dahi, tangan kanannya yang digunakan untuk memukul lawan terasa nyeri. Orang tua ini keheranan mendapatkan kenyataan bahwa pukulannya yang seharusnya dapat meremukkan tubuh lawan ternyata sama sekali tidak melukai si pemuda. Justru malah tangannya sendiri yang terasa sakit. Tetapi dari mulut orang tua ini keluarkan ejekan,
“Kalau kau masih belum mau menyerahkan energi pusaka legenda. Jangan menyesal kalau bukan dadamu saja yang ku buat terbakar tapi mukamu juga akan ku buat lebam-lebam seperti mangga busuk.”
__ADS_1
Paras Arya kelam membesi. Kedua kakinya merenggang. Tangan kiri diulurkan lurus-lurus ke depan. Tangan kanan ditarik tinggi-tinggi ke belakang di atas kepala. Pelipisnya bergerak-gerak. Sepasang tangannya kemudian kelihatan menjadi menyala putih keperakan dan bergeletar.
Patriark Dai Wubai naikkan alisnya. Matanya memandang lekat-lekat ke sepasang tangan Arya yang semakin lama semakin bersinar terang tersebut. Meski dia sudah hidup selama ratusan tahun, meski pengalamannya di dunia kultivator setinggi langit sedalam lautan namun kali ini mau tak mau tergetar juga hatinya melihat sepasang tangan lawan itu. Dia memang sangat mengenali jurus apa yang sedang digunakan si pemuda! “Jurus Pukulan Penghancur Gunung.” Desisnya.
Dia tahu betul bahwa di dunia ini hanya ada satu manusia yang memiliki ilmu pukulan yang dahsyat ini yaitu si tua Zhen Long yang berjuluk Legenda Pendekar Naga. Tapi kini dihadapannya, ada seorang pemuda yang berkali-kali telah menunjukkan ilmu-ilmu yang dimiliki Zhen Long. Semakin yakinlah orang tua ini bahwa pemuda dihadapannya itu memang benar-benar adalah murid dari sahabatnya tersebut.
Kerut-kerut pada kening Patriark Dai Wubai mengendur sedikit. Kini bibirnya malah tersenyum mengejek, “Pukulan penghancur gunung memang luar biasa! Tapi ilmu sehebat itu malah jadi rongsokan saat kau gunakan.” kata orang tua ini, dia dapat melihat tekanan energi yang kerahkan si pemuda terlalu lemah dalam mempergunakan jurus pukulan penghancur gunung itu.
Arya mengeratkan rahangnya. Dilipat-gandakannya energinya. Dia sadar tak akan dapat mengalahkan orang tua dihadapannya tersebut hanya dengan mengandalkan tingkat kultivasi yang dimilikinya saja. Namun meski demikian dia diam-diam telah mendapatkan cara untuk setidaknya menguras energi lawan. Untuk itu dia berusaha menyarangkan beberapa pukulan ke titik Meridian si orang tua agar aliran energinya menjadi terhambat. Banyak ilmu yang bisa diandalkannya untuk melancarkan rencananya tersebut.
Tanpa menyahuti ucapan si orang tua, Arya telah mendahului menyerang. Pemuda itu sepersekian detik lenyap dari pandangan dan tahu-tahu telah menghujani pukulan-pukulan dahsyat. Sepasang tangannya yang bersinar terang itu bergerak kian kemari dalam kecepatan yang sulit ditangkap oleh mata.
Gerakan Arya memang luar biasa cepatnya, namun kelihatan seperti tak teratur dan tak menentu. Tubuh Arya doyong sana doyong sini. Namun serangan itu telah mengurung si orang tua sakti Patriark Dai Wubai.
Tapi si orang tua tersebut masih juga bisa tersenyum tenang. Dengan santainya ia mengelaki dan menangkis setiap serangan yang datang. Jika saja yang dihadapi oleh Arya saat ini bukanlah seorang sakti, Patriark dari Sekte terkuat aliran putih didaratan utara. Pastilah tubuh lawan yang diserangnya itu akan hancur tercerai-berai oleh pukulan penghancur gunung yang menyapu-nyapu laksana badai itu!
“Jurus apa ini?! Bodoh, lemah sekali! Masih kurang cepat, masih kurang cepat!” Ejek Patriark Dai Wubai.
“Perhatikan serangan!” Teriak Patriark Dai Wubai.
Meskipun sudah diperingatkan, meskipun sudah mengelak dengan kecepatan yang luar biasa. Namun tangan Patriark Dai Wubai yang semula menderu ke arah ulu hati, tiba-tiba berubah arah menyambar ketiak. Dan tangan orang tua itu telak menghantam ketiak Arya.
Breeett!!...!
Baju putih Arya robek besar di bagian ketiak sebelah kanan dan kemudian pakaiannya itu mengeluarkan api membakar sampai separuh dari pakaian si pemuda.
“Sial..!” Maki Arya. Sadar bahwa kecepatannya perlu ditingkatkan, pemuda ini segera menggunakan ‘Jurus Sambaran Petir Membelah Langit’. Sebuah jurus yang didapatkannya dari Dewa Petir.
Masih meneruskan serangan demi serangan, sepasang tangan Arya yang bersinar putih keperakan mulai diselimuti percikan-percikan petir beraneka warna. Sekejap kemudian percikan petir itu telah menyelimuti seluruh tubuhnya. Patriark Dai Wubai yang melihat perubahan pada tubuh lawan lekas-lekas melompat, dia merasa harus berhati-hati pasalnya ia dapat merasakan kecepatan si pemuda seiring waktu semakin meningkat bahkan sanggup mengimbangi kecepatannya.
Tapi Arya tak membiarkan Patriark Dai Wubai lepas dari kurungan serangannya. Dia memang berniat menguras energi si orang tua dan takkan membiarkan lawannya itu memulihkan diri.
Ketika tangan kanan Arya sejengkal lagi akan mendarat di dada Patriark Dai Wubai, maka terdengarlah suara lengkingan yang mengandung gelombang kejut dahsyat. Gelombang kejut itu secara mengejutkan telah menghempaskan tubuh Arya beberapa tombak, sehingga pukulannya tadi tidak jadi mengenai sasaran.
__ADS_1
Tubuh Arya melayang di udara setelah berjungkir balik terdorong oleh gelombang kejut tadi. Suara lengkingan tersebut juga telah membuat gendang-gendang telinganya serasa sakit seperti di tusuk-tusuk.
Disaat Arya tengah melesat, kembali melanjutkan serangan. Disaat itu pula Patriark Dai Wubai menyemburkan sesuatu dari mulutnya ke arah si pemuda. Ternyata dari mulut orang tua ini keluar butiran-butiran energi angin yang tak kelihatan.
Merasakan adanya energi yang melesat ke arahnya, Arya lekas melambai-lambaikan kedua tangannya. Puluhan butir energi yang di semburkan si orang tua tersibak ke samping dan meledak di udara. Bahkan tujuh butir di antaranya berbalik menyerang Patriark Dai Wubai. Tapi dengan goyangkan sedikit saja kaki kanannya, maka orang tua sakti itu membuat ketujuh butir energi tersebut bermentalan!
“Keluarkanlah semua ilmumu. Aku ingin melihat sejauh mana kemampuan bocah ingusan yang mengaku-ngaku sebagai murid Legenda Pendekar Naga.!” Kata Patriark Dai Wubai. Di tangan kanannya tiba-tiba muncul segumpal sinar putih yang kemudian membentuk sebilah pedang.
Begitu kalimat itu selesai. Arya dan Patriark Dai Wubai sudah kembali terlibat dalam pertarungan yang lebih cepat dan sengit. Kedua tangan Arya yang diselimuti petir, selain digunakan untuk menyerang juga untuk menangkis sabetan pedang energi lawan.
Tak terasa pertarungan itu sudah berjalan seratus jurus. Zhiyuhan yang berdiri tegang menyaksikan pertarungan tersebut dari kejauhan merasakan segarnya udara. Angin di puncak bukit cinta terasa sejuk menyapu mukanya. Meski udara pagi begitu segar namun jika seseorang berdiri di dekat pertarungan Arya dan Patriark Dai Wubai. Maka hanya hawa panaslah yang terasa membakar kulit.
Lama-lama di sebelah timur telah membayang semburat warna merah.
“Hampir fajar,” dengus Zhiyuhan seorang diri.
“Tuk kesekian kalinya,
Senyuman sang surya, menyambut pagiku tanpa kau di singgasana.
Rindu rasanya aku memeluk dan mengecup keningmu cinta,
Meski saat ini hanya bayangmu yang ada,
Sebagai penghapus gulana,
Dalam kehidupan ini tunggulah aku, duhai belahan jiwa.”
Setelah melantunkan syairnya, pemuda ini kemudian menghentakkan kakinya, tubuhnya segera meluncur ke atas. Pada ketinggian tertentu ia melayang memandangi sekeliling. Dilihatnya disekitar kaki bukit cinta, terdapat banyak binatang-binatang serta para siluman yang berdesak-desakan berusaha menembus segel pelindung. Pemuda ini menggeleng pelan, lalu pandangannya beralih ke arah persawahan yang membentang luas di daerah sekitaran perbukitan. Semburat sinar merah sang fajar menaburi pepohonan dan persawahan disana. Awan juga nampak kemerahan. Menambah kesan indah panorama alam dikala matahari akan keluar dari peraduan.
Untuk sementara Zhiyuhan menjadi terpaku perhatiannya. Tetapi ketika terdengar dentuman dahsyat, ia pun segera mengesampingkan keindahan fajar.
Pandangannya kini tertuju pada arena pertarungan. Disana dia tidak bisa melihat apa-apa kecuali tebaran debu-debu yang membumbung tinggi.
__ADS_1