
Keterkejutan jelas terlihat di wajah semua orang saat mereka melihat Patriark Tao Lian datang bersama para tetua dan anggotanya yang memanggul seseorang berpakaian serba merah. Dalam sekali lihat saja, mereka semua langsung tahu bahwa orang tersebut adalah anggota Sekte Iblis Berdarah.
Sebelum duduk di kursinya, Patriark Tao Lian mengedarkan pandangan mencari keberadaan Arya. "Bocah itu, pergi tanpa permisi."
Patriark Tao Lian menghela nafas, lalu kemudian menceritakan kronologi penyerangan mayat hidup yang tidak lain adalah perbuatan Sekte Iblis Berdarah. Patriark Tao Lian juga memberitahukan jika Tabib Xian lah yang meringkus tetua Iblis Berdarah tersebut dan menyerahkannya kemari.
Mendengar hal itu, Tetua Lin Hai dan Tetua Qin Si Juan saling melirik. Mereka sudah menduganya, sebab tepat setelah kemunculan Liu Wei dan Huang She, tidak lama berselang pertarungan dengan mayat hidup berakhir.
"Kami sudah menyisir semua area hutan namun tidak menemukan apapun. Jika memang Tabib Xian menangkapnya, kenapa kami tidak mendengar adanya pertarungan." Patriark Xin Fei berkomentar.
"Patriark Tao, bukannya aku tidak mempercayaimu tapi bagaimana mungkin anak itu dapat mengalahkan Pendekar Suci itu." Patriark Gu Ta Sian bersikap tenang sambil terus memperhatikan Hui Gan. Menurut perhitungannya setelah mengukur kemampuan Hui Gan, ia sendiri tidak yakin dapat mengalahkannya bahkan jikapun harus dibantu 2 Patriark lainnya.
Para tetua yang sudah melihat kemampuan Arya tersenyum tipis, dalam hati mereka menertawakan sikap para Patriark yang meremehkan Arya. Mereka yakin, semua orang akan muntah darah dan akan bertekuk lutut jika tahu kemampuan Arya yang sesungguhnya.
"Mengenai hal itu kalian bisa tanyakan sendiri padanya nanti." Patriark Tao Lian nampak canggung. "Oh iya saya sampai lupa mengucapkan terimakasih pada kalian, sebagai bentuk terimakasih dari kami, secepatnya kami akan memberikan sumberdaya kepada kalian. Dan sekali lagi maaf karena kejadian ini, kalian mengalami banyak kerugian."
"Patriark Tao, jika benar Tabib Xian yang menangkapnya, lalu kenapa dia tidak ada disini. Bisakah anda memanggilnya, ada yang ingin saya pastikan." Jenderal Qian Tangjiang berkata penuh wibawa.
Patriark Tao Lian terdiam sesaat, dari sorot mata semua orang dia dapat menemukan keraguan. Bahkan ada beberapa diantaranya yang matanya berkilatan antusias dan menyeringai, nampaknya mereka ingin menjajal sejauh mana kemampuan Arya.
"Apa tidak sebaiknya kita mengorek informasi dulu dari anggota Iblis Berdarah ini." Patriark Tao Lian tersenyum kecut.
__ADS_1
"Masalah orang ini bisa dibicarakan nanti.. Yang lebih penting saat ini adalah mengenai Tabib Xian. Jujur saja aku penasaran dan mencurigainya." Tandas Ye Ziyun, Patriark Sekte Bangau Merak.
"Baiklah.." Patriark Tao Lian mengalihkan pandangannya kepada Tetua Lin Hai. "Cari Tabib Xian! Katakan kepadanya bahwa ada hal penting yang perlu di luruskan disini."
Tetua Lin Hai mengangguk, lalu menelangkupkan tangannya kepada seluruh orang yang ada disana, setelahnya ia melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu kesenanganmu tupai kecil. Aku hanya tidak mau semakin banyak yang terluka karena pertarungan itu." Arya bersikap tenang menanggapi kekesalan Honglong.
Arya lalu memandang Liu Wei. "Liu'er, apa kau melupakan perkataanku?"
Meski Arya pada saat itu tidak berada di area pertempuran tetapi dia dapat memantau setiap kejadian disana melalui mata seluruh siluman peliharaannya dan satu bayangannya yang bertugas mengawasi pertempuran tersebut.
"Bukan seperti itu, Ya Gege.. aku sebenarnya sudah bisa mengontrol teknik itu, dan untuk mengasahnya lebih jauh aku perlu menggunakannya dalam pertarungan yang terdapat banyak musuh di sekitarku." Liu Wei tersenyum semanis mungkin, dia berharap Arya akan senang setelah mengetahui jika dirinya sudah dapat mengontrol teknik es pemusnah.
Liu Wei merengut, sebab bukannya mendapatkan pujian justru dia mendapatkan jitakkan.
"Kau kira aku tidak tahu apa-apa.. teknik itu aku yang menciptakan, jadi aku tahu semuanya. Kau bisa mengasahnya pada hamparan batu atau rerumputan. Jangan sesekali bertindak bodoh dengan menggunakan teknik yang kau belum kuasai sepenuhnya dalam pertempuran, jika kau sampai gagal, bisa saja tubuhmu mengalami luka dalam dan musuh akan lebih mudah membunuhmu."
Liu Wei menatap Arya kesal dengan mata berkaca-kaca, sementara Huang She dan semua siluman peliharaan Arya tertawa mengejek.
"Tuan, jangan terlalu bersikap keras padanya. Lihatlah tuan, anda sudah membuat murid cantikku menangis." Ucap Hulao setelah berhenti tertawa.
__ADS_1
Arya bersedekap sambil menatap Liu Wei dan Huang She bergantian. "Lagipula masih banyak teknik yang belum kalian kuasai. Maka jangan pernah berbangga diri!! Meski kalian sudah menjadi pendekar suci tapi kemampuan kalian saat ini masih terlalu rendah. Aku tidak suka kalian menyombongkan diri dengan menunjukkan kemampuan yang tidak perlu di situasi yang tidak mendesak."
"Kalian tahu banyak Pendekar hebat yang mati konyol sebab terlalu percaya diri dan menganggap remeh lawan. Mereka terlalu menghabiskan banyak energi di awal pertarungan hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya hebat dan akhirnya mereka malah tewas karena kesalahan sendiri."
Arya sebenarnya cukup terkejut melihat Liu Wei dapat mengontrol teknik es pemusnah waktu itu, namun dia tidak ingin memberikan pujian sebab baginya sebuah pujian hanya akan menghambat perkembangan. Arya menerapkan cara pelatihan sebagaimana cara yang lakukan kakeknya Zhen Long dan Dewa Petir terhadapnya dulu.
Sampai sekarang Liu Wei dan Huang She masih di buat kebingungan atas sikap Arya yang begitu keras saat melatih mereka, namun akan berubah lembut dan bersahaja ketika sesi pelatihan sudah selesai.
"Ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua." Arya menghela nafas. "Kalian sebentar lagi akan di angkat menjadi tetua, maka dari itu kalian harus semakin kuat agar bisa melindungi semua orang di sekte ini."
Liu Wei dan Huang She mengerutkan kening.
"Bagaimana bisa begitu? Kami saja belum lama menjadi bagian dari sekte ini." Balas Huang She yang merasa ada sesuatu di balik perkataan Arya tersebut.
Arya tersenyum ketika mengetahui isi pikiran Huang She. "Ya, memang akulah yang mengajukan kalian menjadi tetua. Sebenarnya tujuanku melatih kalian, karena aku ingin menjadikan kalian pendekar terkuat di Kekaisaran ini. Dengan begitu aku bisa tenang melanjutkan pengembaraan."
Mendengar itu, Huang She dan Liu Wei melotot. Mereka berdua dapat menangkap maksud dari Arya yang ingin mengikat mereka dengan posisi tetua, agar mereka tidak bisa lagi mengikutinya.
"Aku tidak mau menjadi tetua. Bukannya sekte ini adalah rumahmu, kenapa kau ingin pergi?" Liu Wei tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Arya terbatuk, "Ingat, aku ini adalah guru kalian. Jadi ikuti saja perintahku!!"
__ADS_1
Huang She akan membuka mulut ketika seseorang bergerak mendekat. Mereka semua lantas mengalihkan perhatian ke sumber pergerakan tersebut.
"Maaf mengganggu perbincangan kalian. Aku kesini atas perintah Patriark, dia menyuruhku menjemputmu, Xian'er. Ada sesuatu yang harus kau luruskan." Ucap tetua Lin Hai setelah mendarat ringan di hadapan Arya.