Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Arya Vs Tiga Tetua Iblis Berdarah


__ADS_3

Arya bangkit dari posisinya rebahan, dia bersiap menghentikan Liu Wei. Tetapi segera di urungkannya saat melihat Huang She sudah bertindak menghentikan gadis itu.


Meski tahu Liu Wei sudah dapat menggunakan teknik es pemusnah, namun gadis itu masih belum bisa mengendalikannya dengan sempurna. Arya khawatir tindakan Liu Wei malah justru akan menyebabkan banyak orang terluka, sebab Liu Wei belum bisa mengontrol teknik tersebut untuk memilih target serangannya. Dengan kata lain jika Liu Wei menggunakan teknik es pemusnah maka tidak perduli lawan ataupun kawan, mereka semua akan terkena dampaknya.


"Tuan kenapa anda tidak membantu mereka?" Tanya Griffinhan yang berada di samping kiri Arya bersama Wouven.


Sebelumnya Griffinhan dan Wouven langsung menyadari kedatangan Arya saat melihat kemunculan Hulao dan Honglong. Maka dengan segera merekapun terbang menuju ke tempat pemuda itu. Namun mereka terheran saat melihat Arya begitu tenang bahkan terkesan tidak perduli dengan pertarungan yang terjadi.


"Tuan kalian ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengasah kemampuan mereka.. Untuk itulah aku dilarang ikut campur. Hmm.. Bukankah lebih menyenangkan menjadi penonton?" Balas Arya tanpa mengalihkan pandangannya dari pertempuran.


"Maksud anda apa tuan?"


Arya menoleh kepada Griffinhan dan Wouven. "Hahaha.. Rupanya kalian tidak tahu kemampuan tuan kalian. Apa kalian yakin aku adalah tuan kalian yang asli?" Arya menyeringai.


Melebarlah pupil mata Griffinhan dan Wouven, mereka benar-benar di buat heran sekaligus bingung dengan perkataan. 'Apa kalian yakin aku adalah tuan kalian yang asli.'


"Lalu siapa kau? Dan dimana tuan kami.."


"Dia ada di sana.." Arya menunjuk ke satu arah dengan dagunya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa kau sebenarnya?" Kali ini suara Griffinhan sedikit meninggi dan bersiap menyerang.


"Hahaha... Ada apa dengan kalian? Aku juga sama tuan kalian, tetapi tuan kalian yang asli ada disana. Aku hanyalah salah satu bayangannya yang ditugaskan untuk mengawasi mereka." Arya kembali merebahkan tubuhnya di udara. Sambil menguap ia menegaskan. "Jika kalian bingung, tanyakan saja pada Harimau dan tupai itu."


"Sepertinya dia tidak berbohong, sebaiknya kita tanyakan saja pada Hulao dan Honglong." Tukas Wouven.


"Baiklah," Griffinhan menatap tajam pada Arya. "Tunggu di sini dan jangan kemana-mana! Jika kau berbohong, kau akan tahu sendiri akibatnya karena telah berani menyamar menjadi tuan kami."


"Duh.. duh.. duh.. kalian makin imut saja kalau marah begitu." Arya bangkit sambil merentangkan tangannya seolah berniat ingin memeluk Griffinhan.


Melihat hal itu, Griffinhan menganggapnya sebagai ancaman. Dengan cepat Griffinhan mengayunkan cakaran, namun Arya dapat menangkisnya hanya dengan sebelah tangan. Pemuda itu menyeringai tipis sambil menggeleng-geleng.


"Sekarang aku yakin kau memang benar-benar bukan tuan kami." Cercah Griffinhan lalu mengepakkan sayapnya bergerak mundur.


"Tenanglah aku tidak akan berbuat jahat pada kalian. Sekarang kalian mau tetap di sini menemaniku atau membantu mereka?"


Sesaat Griffinhan masih menatap Arya dengan penuh kemarahan sebelum akhirnya mengepakkan sayapnya menukik tajam menyusul Wouven yang terlebih dulu sudah turun menuju ke tempat Hulao dan Honglong berada.


"Husssh.. husssh.. pergi sana! Menganggu ketenanganku saja." Arya melakukan gerakan tangan seperti mengusir dan lalu kembali rebahan santai di atas awan.


***** 


Jauh di kedalaman hutan, tepatnya di bawah pohon Ara yang berada dekat dengan danau biru. Berkumpul 3 orang berpakaian serba merah dan satu orang lagi berpakaian hitam-hitam.


Tiga orang berpakaian serba merah terlihat duduk sambil memejamkan mata di atas cabang dahan pohon ara tersebut. Sementara orang berpakaian hitam hanya berdiri mengawasi mereka dari cabang dahan lainnya.


Ketika terdengar dentuman ledakan dan gemuruh petir, orang yang berpakaian hitam itupun mengedarkan pandangannya menatap ke arah langit. Meski dari kejauhan namun orang tersebut mampu melihat dengan jelas adanya pertarungan di atas sana. Dalam sekali lihat, orang tersebut langsung mengenali tiga orang diantaranya, yang tidak lain adalah rekannya sendiri.


"Apa yang terjadi? Bagaimana dengan misinya?" Orang berpakaian hitam tersebut mengirimkan pesan melalui telepati kepada ketiga rekannya yang bertarung di atas sana.


"Tidak apa-apa, ini hanyalah masalah kecil. Misi kita sudah berhasil.. sekarang pergilah susul tetua dan yang lainnya. Kami akan segera menyusul."


Setelah memahami situasi, orang berpakaian hitam itupun langsung menghilang. Dengan kata lain tugasnya mengawasi tiga Tetua Iblis Berdarah telah berakhir.


Memang otak utama penyerangan Lembah Petir adalah para kultivator daratan utara. Rencana awal mereka sebenarnya hanyalah menyusup dan mencuri Pusaka Legenda tanpa menimbulkan kekacauan, sebab mereka tidak ingin perbuatan mereka di daratan timur akan terendus oleh kultivator lain.


Namun setelah mengetahui jika keamanan di Lembah Petir sedang diperketat dan terlebih banyak pendekar yang berkumpul disana untuk mengikuti acara turnamen, maka merekapun merubah rencana awal dan berniat menjadikan pendekar aliran hitam sebagai alat agar keamanan Markas Lembah Petir sedikit menurun.

__ADS_1


Tetapi mengumpulkan banyak pendekar aliran hitam untuk membuat keributan di Markas Lembah Petir juga pastinya memiliki resiko yang sama besarnya. Beruntungnya disaat mereka sedang kebingungan mencari solusi, mereka tidak sengaja melihat pasukan mayat hidup menyerang sebuah desa.


Merekapun memanfaatkan hal itu dan dengan sedikit usaha mereka berhasil menundukkan seseorang yang mengendalikan pasukan mayat hidup tersebut. Merasa kurang pasukan mayat hidup yang mereka dapatkan, para kultivator itupun kembali mencari tetua Sekte Iblis Berdarah lainnya untuk di paksa melakukan penyerangan ke Markas Lembah Petir.


Ketiga Tetua Iblis Berdarah masih dalam keadaan duduk bersila, dengan mata terpejam mereka nampak begitu fokus mengendalikan para mayat hidup, sehingga mereka sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang menawan mereka telah pergi. Yang artinya mereka kini sudah bebas.


"Sialan, jangan mengganggu konsentrasiku.!" Umpat salah seorang Tetua Iblis Berdarah masih dengan memejamkan mata. Dia sebisa mungkin memfokuskan pikirannya meskipun tubuhnya merasa sakit seperti ada seseorang yang melemparkan batu ke tubuhnya.


"Oh, aku kira kalian patung.. eh tahunya orang aneh yang tiduran di atas pohon. Hihihi.." Arya tertawa cekikikan karena mengingat Dewa Petir juga dulu mengejeknya seperti itu. "Bangunlah, nanti jatuh baru tahu rasa."


Selepas Arya berkata demikian, ketiga tetua Iblis Berdarah tersebut tiba-tiba terjengkang dan terjatuh. Tapi anehnya mereka jatuh tepat dihadapan Arya, padahal tadinya posisi mereka terpisah.


"Arrrgghh.." Pekik ketiga Tetua Iblis Berdarah tersebut bersamaan sambil memegangi pantat mereka yang terasa panas dan nyut-nyutan.


Bersamaan dengan konsentrasi ketiga Tetua Iblis Berdarah menghilang, seluruh pasukan mayat hidup di area pertempuran seketika roboh. Membuat semua orang terperanjat keheranan, sesaat suasana menjadi hening. Namun tidak lama berselang, terdengar riuh sorak sorai kemenangan dari seluruh prajurit dan Pendekar.


Selarik ekspresi kebingungan tergambar di wajah Huang She dan Liu Wei. Kedua gadis itupun menatap ke atas, mereka beranggapan bahwa semua ini adalah perbuatan Arya. Tanpa memperdulikan lelaki yang mencoba berkenalan dengannya, kedua gadis itupun melenting terbang ke atas.


Honglong yang kesal karena belum puas bersenang-senang, juga melesat ke tempat Arya berada. Sementara Hulao seolah tidak perduli, harimau putih itu kini sedang sibuk memberikan penjelasan kepada Griffinhan dan Wouven mengenai kemampuan Arya yang bisa mengkloning diri.


"Jadi yang disana bukan tuan Arya. Lalu sekarang tuan ada dimana?" Tanya Hulao.


Griffinhan mengangkat satu kakinya, menunjuk ke arah perbukitan yang ada disebelah tenggara.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Hulao melesat terbang menuju tempat yang di maksud. Griffinhan dan Wouven saling berpandangan sesaat, lalu terbang menyusul harimau putih tersebut.


"Bocah sialan, apa kau yang menjatuhkan kami?" Bentak salah satu Tetua Iblis Berdarah yang bernama, Su Yuntao.


"Kalian jatuh sendiri, malah menyalahkanku.. harusnya kalian berterimakasih padaku karena mau berbaik hati memperingatkan kalian. Hah, dasar orang-orang aneh tidak tahu di untung." Dengus Arya memasang wajah kesal.


"Sepertinya orang itu sudah pergi..." Tetua Iblis Berdarah lainnya mengedarkan pandangan, memutar tubuhnya dengan posisi masih terduduk.


"Jangan banyak bicara kau bocah.. apa mulutmu itu ingin aku bungkam selamanya." Bentak Su Yuntao memotong perkataan Arya.


"Mulut-mulutku sendiri kenapa kalian melarangku bicara. Huh benar-benar orang-orang aneh." Arya menggeleng-gelengkan kepala, lalu menyunggingkan seringai ejekan.


"Kalian pergilah dulu, biar aku beri pelajaran bocah sialan ini..." Cetus Su Yuntao menatap Arya dengan kilatan mata nafsu membunuh.


"Terserah kau saja..." 


Kedua Tetua Iblis Berdarah melengos pergi, mereka yakin tidak butuh waktu lama bagi Su Yuntao untuk membereskan pemuda itu.


"Yah, mau pergi kemana kalian? Tidak ada tempat kembali untuk kalian selain alam baka..." Arya berkata dengan nada mengejek. Namun pemuda itu masih tetap tenang berdiri tanpa beranjak sedikitpun dari posisinya, Arya hanya menatap kepergian kedua Tetua Iblis Berdarah tersebut.


Benar saja tidak berselang lama setelah kedua tetua tersebut melesat pergi, terdengar suara pekikan yang saling bersahutan.


"Hahaha... Sudah ku bilang kalian tidak akan bisa kembali. Apa kalian pikir aku akan membiarkan kalian pergi setelah membuat kekacauan." Suara Arya menggetarkan tanah, membuat keseimbangan ketiga tetua Iblis Berdarah goyah.


"Siapa kau?" Su Yuntao menatap Arya dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Kini dia sadar kenapa pemuda itu masih bisa bersikap tenang padahal telah menyinggung dirinya. 


"Aku adalah malaikat maut kalian..."


Tepat setelah Arya berkata demikian, keadaan di tempat tersebut mendadak gelap. Su Yuntao nampak terkesiap dan memasang kuda-kuda siap bertarung. Akan tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa di gerakan.


Mata Su Yuntao terbelalak lebar, tubuhnya gemetaran hebat. Dia sangat ketakutan saat melihat sosok raksasa yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Sosok tersebut menghunuskan pedang besar, bersiap menebas tubuhnya.


"Ampuni aaa..."

__ADS_1


'Sreetttt....'


Sebelum Su Yuntao dapat menyelesaikan ucapannya, ayunan pedang besar tersebut sudah menebas tubuhnya menjadi serpihan. Memberikan rasa sakit yang teramat menyiksa.


"Apa yang terjadi?" Su Yuntao terkejut bukan main saat mendapati potongan-potongan tubuhnya kembali menyatu.


Dan 'Sreetttt..'


Lagi-lagi tubuh Su Yuntao merasakan rasa sakit yang tidak dapat tergambarkan, tubuhnya terbelah karena hujaman pedang besar. Anehnya tubuhnya kembali menyatu, tetapi rasa sakit akibat serangan tadi belum hilang. Kini tiba-tiba tubuhnya terbakar oleh api yang entah muncul darimana, Su Yuntao mengejang sebelum tubuhnya hancur menjadi abu.


Penyiksaan Su Yuntao terus berlanjut. Entah sudah berapa kali tubuhnya hancur dan menyatu kembali. Rasa sakit yang diterimanya benar-benar begitu nyata, sama sekali Su Yuntao tidak pernah membayangkan akan berada dalam kondisi demikian. Dia hanya bisa pasrah dan beranggapan bahwa kini dirinya berada di neraka, menjalani hukuman akibat semua perbuatannya selama hidup.


"Hahaha... Anggap saja semua ini adalah neraka kecil untukmu. Rasa sakit yang kau rasakan ini tidak ada seujung kukupun dibandingkan pedihnya penyiksaan neraka yang sesungguhnya."


Mendengar suara familiar seorang pemuda, Su Yuntao baru sadar jika dirinya belumlah mati. Tetapi Su Yuntao juga tidak tahu dimana sebenarnya dirinya saat ini.


"Anak muda.. lebih baik ambil saja nyawaku, aku sudah tidak sanggup..."


Bduuuarr...


Tidak ada bom tidak ada serangan, tiba-tiba tubuh Su Yuntao meledak. Serpihan daging tubuhnya berhamburan kemana-mana, dan kembali menyatu menjadi sosok Su Yuntao seperti sediakala. Namun rasa sakit yang dideranya sama sekali tidak menghilang bahkan berkali-kali lebih sakit. Semakin dia mengalami penyiksaan, semakin bertambah pula rasa sakit yang dirasakannya.


Berkali-kali Su Yuntao memohon agar dibunuh saja, tetapi suara Arya sudah tidak terdengar lagi. Kini dia hanya bisa pasrah menatap nanar ribuan jarum berkilatan yang siap melesat menusuk tubuhnya. Raungan kesakitan menggelegar, seluruh tubuh Su Yuntao kini telah tertancapi ribuan jarum. Membuatnya terlihat seolah seperti landak, dengan kucuran darah yang mengalir dari setiap lubang-lubang jarum yang bersarang ditubuhnya.


Su Yuntao benar-benar mencapai batas, tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menahan penyiksaan yang bertubi-tubi. Su Yuntao tidak sadar jika semua ini hanyalah ilusi, karena rasa sakit yang di alaminya benar-benar nyata. Hanya kematianlah yang sangat ia inginkan untuk saat ini, dia berfikir hanya dengan kematianlah rasa sakit yang di deritanya akan menghilang. Namun Su Yuntao tidak tahu jika dirinya mati, maka neraka sesungguhnya telah siap menanti.


Hui Gan dan Wu Yifan, dua tetua Iblis Berdarah yang berniat melarikan diri, tetap berusaha mencoba menghancurkan segel pelindung untuk dapat keluar dari tempat tersebut. Namun tiba-tiba mereka mendengar jeritan Su Yuntao, merekapun lantas kembali dan mendapati tetua Sektenya itu telah mematung sambil terus meraung-raung kesakitan.


"Apa yang kau lakukan padanya.." Hui Gan menatap Arya dengan penuh kemarahan.


"Hmm... Jadi kau ingin tahu ya. Baiklah, aku akan dengan senang hati memberitahukanmu." Ucap Arya dengan tenang.


Muka Wu Yifan tertekuk, dahinya mengkerut tebal, dia keheranan melihat Hui Gan tiba-tiba menjerit-jerit kesakitan. Nalurinya mengatakan untuk menjauhi Arya, namun amarahnya yang tidak terima melihat kedua rekannya kesakitan, membuat dirinya mengindahkan peringatan kata hatinya tersebut. Wu Yifan menghilang dan tiba-tiba sudah melancarkan serangan, dengan mengayunkan pedang mengincar kepala pemuda itu.


Mendadak mata Wu Yifan menangkap sekelebatan asap hitam dan lantas sosok Arya berubah menjadi dirinya. Ayunan pedangnya dengan cepat menebas leher tergetnya, membuat leher sosok Wu Yifan dihadapannya terputus dan jatuh bergulingan di tanah.


Wu Yifan mematung, wajahnya mengerenyit menahan rasa sakit yang dirasakannya pada bagian pangkal leher, seakan tebasannya tadi berbalik menyerangnya sendiri.


"Ada apa denganmu.." Arya sedikit menghentakkan dua jarinya yang menahan tebasan pedang Wu Yifan. Membuat Wu Yifan terjengkang ke belakang.


Seketika Wu Yifan baru menyadari jika dirinya terkena pengaruh ilusi, namun sebelum dirinya dapat bangkit berdiri. Semuanya menjadi gelap, kepala Wu Yifan telah meledak akibat Teknik Pengendalian Darah milik Arya.


"Semoga di kehidupan selanjutnya kau menjadi orang yang lebih baik." Arya menghentakkan kakinya, membuat jasad Wu Yifan terkubur dengan tenang.


Arya beralihlah menghampiri dua Tetua Iblis Berdarah yang masih mematung dan meraung kesakitan. Setelah berada tepat di hadapan Su Yuntao, dengan gerakan ringan Arya menghantamkan pukulan tepat ke jantung Su Yuntao sampai tebus.


"Aku kabulkan permintaanmu untuk mati." Arya menyemburkan api dari mulutnya ke tubuh Su Yuntao hingga hancur menjadi abu, dan terpaan angin membawa terbang abu Su Yuntao tersebut.


Arya kemudian menggeleng pelan dan menghentakkan tanah, sebelum menarik tubuh Hui Gan lalu menentengnya seperti anak kucing. Arya membawa Hui Gan terbang menuju Markas Lembah Petir.


Sesaat setelah Arya pergi, muncul beberapa pendekar yang berkelebatan melewati tempat pertarungan Arya tadi. Para pendekar itu terus berlarian sambil mengedarkan padangan menyisir semua tempat yang mereka lewati. Mereka masih terus mencari dalang dari kekacauan tanpa tahu jika Arya sudah terlebih dulu meringkus mereka.


_____


Maaf author hanya bisa update segini. Inipun author sudah sempat-sempatin luangkan waktu di sela-sela kesibukan. Jadi maaf kalau tulisannya terkesan amburadul. 😂


Terimakasih buat yang sudah Like, komen, vote dan kirim hadiah.

__ADS_1


Saya ucapkan kalian war biasa.... Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan.


__ADS_2