Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Kekacauan Di Dalam Kota


__ADS_3

Puluhan tubuh bayangan Arya terbang berpencar ke segala arah, sosok mereka dari kejauhan terlihat seperti gagak hitam terbang dan menukik ke setiap rumah penduduk yang dirasakannya memancarkan energi kegelapan dan aura hewan iblis.


Seperti layaknya maling, mereka bergerak senyap menyatroni setiap rumah targetnya, menyusup masuk dan mengambil sesuatu yang mereka incar, yakni mengambil nyawa para korbannya.


Para pendekar aliran hitam yang menyamar menjadi penduduk kebanyakan sedang terlena larut dalam tidur dan bermeditasi, sehingga memudahkan para tubuh bayangan Arya melancarkan aksinya, memaksa mereka meninggalkan jasad kasar mereka menuju alam baka.


Seperti yang di pesankan oleh Arya, para tubuh bayangan tersebut membunuh targetnya dengan cara menghancurkan jantung, mematahkan batang leher sampai putus, menghantam batok kepala mereka sampai hancur dan membakar tubuh mereka sampai menjadi arang atau abu.


Tak butuh waktu lama untuk menghabisi lebih dari separuh jumlah para pendekar aliran hitam yang menyamar, hanya sebagian yang melakukan perlawanan, namun tetap saja perlawanan mereka tidak sanggup membuat mereka mempertahankan nyawa.


Kebanyakan para pendekar aliran hitam hanyalah berada ditahap Pendekar Raja dan Kaisar, kemampuan yang sangat jauh dibawah kemampuan Arya. Satu bayangan Arya saja sudah cukup untuk membunuh puluhan sampai ratusan pendekar aliran hitam anggota Iblis Berdarah. Sebab itulah Arya sangat percaya diri sanggup menghancurkan Markas Iblis Berdarah semudah seperti membalikkan tangan.


Perlawanan sedikit sengit kala harus menghadapi jelmaan dari para hewan iblis, pertarungan mereka membuat situasi di dalam kota yang semula tenang menjadi ricuh. Suara dentuman dari ledakan energi dan juga serangan mereka menyebabkan kerusakan yang parah di sekitar lokasi pertarungan. Banyak rumah warga yang terkena imbasnya, tak sedikit pula para penduduk yang terluka dan meregang nyawa.


Situasi itu tak pelak mengundang perhatian seluruh prajurit yang berjaga di setiap sudut kota, para penduduk dan para pendekar segera berbondong-bondong keluar untuk menyaksikan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Di mata para penduduk biasa, pertarungan yang berada di beberapa titik di atas udara terlihat sangat kecil, bahkan mereka hanya bisa menyaksikan kilatan-kilatan energi yang saling beradu tanpa bisa melihat siapa yang sedang bertarung di atas sana. Akhirnya mereka hanya bisa menyimpulkan bahwa itu hanyalah fenomena alam, sebab selama ini mereka memang tidak pernah menyaksikan adanya seseorang dapat melayang di atas udara.


Para prajurit sendiri yang memang memiliki kultivasi dan para pendekar yang kebetulan berada di kota Guangzhou, samar-samar dapat melihat jalannya pertarungan di atas sana.


"Aku tak menyangka, ternyata di kota ini terdapat banyak sekali pendekar yang berkemampuan tinggi." Berkata seorang pemuda berpakaian sederhana seperti penduduk biasa, namun dari tubuhnya memancarkan energi layaknya seorang pendekar.


"Tapi apa tujuan mereka bertarung di dalam kota kerajaan?" Bertanya seorang gadis yang berdiri tegak di samping pemuda itu.


"Mungkin saat ini kerajaan sedang di serang." Tukas pemuda itu, pandangannya terus menatap ke arah titik pertarungan di atas sana.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan membantu kerajaan ini?"


Pemuda itu menggeleng menanggapi pertanyaan si gadis, beberapa menit berlalu barulah dia berkata. "Kita amati dulu situasinya, sebelum mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi, sebaiknya kita tetap diam."


Dari arah barat, dentuman dahsyat terjadi berulangkali. Rumah-rumah para penduduk yang menjadi sasaran ledakan energi tersebut. Itu semua adalah ulah dari hewan iblis berbadan ikan berkepala singa. Dia tidak punya pilihan lain karena lawannya benar-benar kuat, maka untuk mengalihkan perhatian, diapun melesatkan serangan ke arah rumah para penduduk.


"Licik!" Hardik tubuh bayangan Arya yang menjadi lawan hewan iblis itu, lalu dengan secepat kilat dia melesat melancarkan tendangan lurus menargetkan kepala hewan iblis tersebut.


Namun sayang, yang di serang berhasil mengelak menjatuhkan diri, sementara tendangan bayangan Arya tadi hanya membelah ruang kosong.

__ADS_1


Dari bawah, hewan iblis berkepala singa itu membuka rahangnya, dia melontarkan serangan energi berupa bola hitam yang diselimuti kilatan-kilatan petir hijau.


Deeebbpp.. Duuuarr...


Tubuh hewan iblis itu tiba-tiba terpental jauh, itu semua karena pada saat yang sama, muncul bayangan Arya lainnya yang tahu-tahu muncul dan menyerang dari arah samping.


Bola energi yang di lontarkan hewan iblis itu sendiri meledak di udara karena terkena hantaman tapak penghancur gunung yang di lancarkan tubuh bayangan Arya yang melayang di atas sana.


Hewan iblis bertubuh ikan berkepala singa itu masih terhempas di udara sebelum akhirnya jatuh ke tanah, membuat tempat terjatuhnya hewan iblis itu bergetar hebat, kepulan debu seketika membumbung tinggi menutupi pandangan.


"Kau mendapatkan lawan yang sungguh aneh.. tapi sepertinya ikan terbang itu enak kalau panggang." Berkata bayangan Arya yang baru saja melancarkan serangan. Dia menjilati bibirnya, seolah bernafsu ingin menyantap hewan iblis berbadan ikan berkepala singa itu.


"Kau hanyalah sebuah bayangan, bagaimana caramu memakannya." Sahut bayangan Arya yang berada di atas, dia lalu melayang turun menuju tempat hewan iblis itu terjatuh.


"Selama aku masih memiliki wujud ini, tentu saja aku bisa memakannya, bodoh." Ucap bayangan Arya yang tadi menjilati bibirnya. Melihat lawan bicaranya bergerak turun, diapun segera bergerak menyusul.


Baru saja kedua bayangan Arya menjejakkan kaki ke tanah, dari balik kepulan debu melesat beberapa energi berupa bola-bola kecil seukuran kelereng, menderu secepat kilat menuju ke arah mereka berdua.


Salah satu banyangan Arya mengibaskan tangannya, segelombang angin menderu dahsyat menghempaskan bola-bola energi tersebut ke arah lain.


Bola-bola itu menghantam dan menghancurkan beberapa rumah warga.


Sementara satu Arya lainnya tiba-tiba menghilang dan tahu-tahu muncul di atas hewan iblis itu, tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas dengan posisi telapak tangan tegak lurus, bersiap membelah tubuh hewan iblis tersebut.


Jangankan untuk melawan, untuk menghindar dan menoleh saja sudah tidak ada waktu. Dan...


Traaaangg...


Telapak tangan bayangan Arya dengan telak menghantam punggung hewan iblis tersebut, namun anehnya yang terdengar justru seperti dua besi yang saling beradu.


"Tubuhmu ternyata keras! Baiklah, terima ini."


Bayangan Arya sekali lagi melancarkan serangan, tangan kanannya yang tadi barusan di gunakan untuk memukul, kini diangkatnya kembali. Tangannya di kepalkan erat, kilatan petir menyelimuti tinjunya. Itu tidak lain adalah Jurus Pukulan Halilintar.


Hewan iblis yang masih merasakan sakit akibat pukulan sebelumnya, buru-buru bergulingan ke samping. Hal itu membuat bayangan Arya yang berada diatasnya hendak melancarkan serangan, terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan.

__ADS_1


Duuuarr...


Pukulan Halilintar meleset menghatam tanah, sementara yang melancarkan jurus itu sendiri terpelanting akibat daya kejut jurusnya sendiri.


Melihat lawannya terjatuh, tidak ingin membuang kesempatan, hewan iblis itu lantas menyemburkan energi kilatan petir dari mulutnya.


Bayangan Arya yang berdiri terhuyung-huyung buru-buru menjatuhkan diri sejajar dengan tanah, lalu berusaha secepat mungkin bergulingan menghindari kilatan-kilatan petir yang terus memburunya.


"Kena kau!"


Disaat hewan iblis itu sedang fokus menyemburkan serangan kilatan petir ke arah lawannya yang bergulingan, dia tidak sadar bahwa di belakangnya telah berdiri satu sosok bayangan Arya lainnya. Bayangan Arya menarik nafas dalam-dalam, lalu membuka mulutnya menyemburkan kobaran api biru yang sangat panas menargetkan punggung siluman tersebut.


Udara seolah terbakar, semua yang berada di dalam jangkauan hawa panas semburan api biru tersebut akan merasakan gravitasi berkali-kali lebih berat. Itulah dampak dari Teknik Semburan Naga Api warisan dari Sang Legenda Naga, Zhen Long.


Meskipun tubuh hewan iblis ikan separuh singa tersebut sangatlah keras seperti baja, namun api biru itu sanggup membuat tubuh kerasnya menjadi lembek seolah seperti tahu. Memang semua elemen yang memiliki unsur cahaya adalah kelemahan terbesar bagi hewan iblis.


Sesaat hewan iblis itu terlihat memberontak, tubuhnya yang terlahap api masih berdiri tegak sebelum akhirnya jatuh menyamping tanpa bisa bergerak lagi.


"Sepertinya ikan panggang itu sudah matang, hahaha.." Berkata bayangan Arya yang tadi melancarkan serangan sebelum berkelebat ke arah hewan iblis ikan berkepala singa yang nampak hangus seperti arang.


"Jangan bilang kau benar-benar berfikir akan memakannya." Terdengar sebuah suara sebelum mendarat sesosok tubuh bayangan Arya lainnya dari arah samping.


"Oh, jadi kau juga ingin mencicipinya? Baiklah, karena sekarang aku sedang berbaik hati, maka mari kita menyantapnya bersama. Haha.." Bayangan Arya yang berkata itupun langsung mencengkram tubuh hewan iblis ikan yang hangus tersebut.


Meski permukaan tubuh hewan iblis ikan separuh singa itu gosong dan keras, namun daging di dalamnya begitu lunak dan putih.


Tanpa membuang-buang waktu, bayangan Arya langsung memasukan daging putih di genggaman tangannya ke dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya?" Bertanya bayangan Arya yang satunya.


"Coba saja sendiri, soal rasa tidak bisa di jelaskan." Balas bayangan Arya sambil mengunyah daging di mulutnya.


Karena penasaran, bayangan Arya yang tadi bertanya kemudian mengambil daging hewan iblis ikan tersebut, lalu mulai memakannya. "Huufsss.. pahit. Sialan kau!" Umpatnya sambil berkali-kali membuang ludah.


"Hahaha... Selera orang berbeda-beda. Kalau kau tak suka biar aku yang menghabiskannya."

__ADS_1


__ADS_2