Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Pencuri Kacang


__ADS_3

Di atas sana, para sosok bercadar kembali melesat cepat menerjang panglima kegelapan. Salah satu sosok bercadar yang memegangi cambuk api, memutar-mutarkan cambuk tersebut sehingga menciptakan kobaran api melingkar. Sekejap kemudian dia melecutkan cambuk itu ke depan, ke arah panglima kegelapan. Satu kali lecutan, cambuk itu mengeluarkan nyala api yang berbeda-beda. Nyala api itu memercik dan menimbulkan suara menggelegar bagai hendak meruntuhkan langit.


Blaarrr...! Glegeerrr... !


Bersamaan dengan itu, tujuh sosok bercadar lainnya juga turut lepaskan serangan elemen masing-masing.


Lesatan bola api, jarum es, kilatan petir, tombak tanah dan puluhan larik cahaya menderu cepat ke arah panglima kegelapan yang terselubung ledakan api akibat serangan cambuk tadi.


Ledakan berturut-turut mengguncang langit, gelombang kejutnya sampai terasa ke daratan dan menyebabkan sebagian wilayah mengalami goncangan dahsyat.


Gelombang kejut tersebut juga membuat pertarungan antara hewan iblis berkaki cumi-cumi melawan Griffinhan dan yang lainnya turut terhenti. Mereka semua terhempas terpontang-panting di udara.


“Mau lari kemana kau!” Teriak Liu Wei, gadis ini segera melesat mengejar hewan iblis berkaki cumi-cumi yang terbang menjauh hendak melarikan diri.


Para bayangan Arya yang sudah dapat menguasai diri dari hempasan gelombang kejut tadi juga lekas memburu hewan iblis tersebut. Griffinhan, Wouven dan Huang She juga tak mau ketinggalan. Dalam sekejap mereka sudah mengepung hewan iblis itu dan kembali melanjutkan pertarungan.


Sementara itu ledakan api dari tempat panglima kegelapan mulai menghilang. Para bayangan Arya tidak mau bertindak gegabah, mereka menyiapkan jurus masing-masing karena sadar bahwa musuh yang satu ini tak mungkin dapat dikalahkan dengan mudah.


Belum lagi kobaran api di udara itu menghilang sepenuhnya, para bayangan Arya yang memiliki pendengaran dan insting yang tajam mendengar deruan angin yang mengandung energi kuat.


Baru saja mereka menoleh ke arah yang sama, di sana panglima kegelapan sudah melancarkan serangan yang membuat satu bayangan Arya terbelah menjadi tiga potongan sebelum lenyap menjadi butiran cahaya ke-emasan.


Panglima kegelapan yang bernama Yeva menyeringai sinis, dia sama sekali tak menduga akan merasakan sakit karena terkena serangan gabungan dari para bayangan Arya. Sebelumnya dia menganggap remeh lawan sebab merasa dirinya memiliki kultivasi yang jauh lebih tinggi.


“Hahaha... Berani sekali kalian menantangku manusia! Sebelum aku menghabisi kalian semua, dan agar tidak ada penyesalan bagiku, cepat buka penutup wajah kalian itu.!”


“Huh.. kau memang kuat asap gosong tapi bukan berarti kami takut padamu. Tak usah banyak basa-basi, mari bertarung sampai mati!”


Para bayangan Arya melesat serentak, sebagian melancarkan serangan jarak dekat dan sebagian lagi mencari kelengahan lawan untuk kirimkan serangan susulan.


Yeva menggerung macam serigala melihat lawannya sama sekali tak menunjukkan rasa takut terhadapnya. Panglima kegelapan ini bergerak cepat mengelaki setiap serangan yang datang. Dia tidak mau ambil resiko lagi menerima serangan lawan atau dia akan terluka lebih parah.


Bayangan Arya yang memegang tombak api biru bermata kepala naga, tahu-tahu muncul di atas panglima kegelapan dan langsung mengayunkan tombak api tersebut bergerak menebas ke arah kepala targetnya.


Sambaran tombak api tersebut mengenai tempat kosong dan menciptakan lidah api memanjang seperti semburan naga. Bayangan Arya yang lainnya pergunakan kesempatan ini untuk menyerang dari samping! Tapi...


Buukkkk! Kraaakk!


Tahu-tahu tusukan ekor panglima kegelapan bersarang di bahunya! Tubuhnya terpelanting dengan bahu jebol. Bayangan Arya ini menatap tajam panglima kegelapan seakan tidak rela kalah. Namun perlahan tubuhnya hancur menjadi serpihan cahaya keemasan sebelum lenyap tak berbekas.


Kini tinggallah tujuh bayangan Arya yang tersisa. Walaupun menang jumlah tetapi itu hanyalah hitungan angka, karena meskipun mereka sepuluh kali lipat sekalipun tak akan sanggup melawan panglima kegelapan yang memiliki kultivasi Pendekar Langit.

__ADS_1


Mau tak mau mereka jadi terdesak hebat. Panglima kegelapan berulangkali berhasil menyarangkan pukulan dan serangan mematikan. Untung bayangan Arya memiliki kecepatan dan membantengi diri dengan perisai energi, kalau tidak mereka sudah pasti lenyap dalam sekali serangan.


Di saat terdesak demikian rupa, mendadak tubuh para bayangan Arya memancarkan sinar kuning keemasan yang menyilaukan.


Merasa ada yang janggal, panglima kegelapan segera menjauh. Dia mengamati perubahan kondisi musuhnya untuk memastikan apa yang sebenarnya sedang direncanakan sang musuh. Rupanya meskipun memiliki kultivasi di atas lawannya, panglima kegelapan ini tidak mau bertidak ceroboh. Dia sudah merasakan sendiri bagaimana solidnya kerjasama serangan dan pertahanan lawan. Walau kultivasi musuhnya jauh dibawahnya namun mereka sanggup membuatnya terdesak untuk sesaat.


*****


Selesai bertarung dengan Ratu Hewan Iblis, Arya langsung menemui Putri Zhou Jing Yi yang saat itu tengah menjaga bocah bernama Lu Ping di kediamannya yang hancur akibat dampak pertarungan.


Pemuda ini kemudian meminta Putri Zhou Jing Yi untuk mengumpulkan para penduduk yang mengalami luka-luka maupun mengalami kerugian material karena bangunan-bangunan mereka yang hancur. Arya merasa perlu menyalurkan bantuannya pada para penduduk kota, sebab dirinya merasa bertanggung-jawab atas tragedi kehancuran kota dan para korban yang terluka akibat perang.


Dengan di bantu para prajurit kerajaan untuk menertibkan para penduduk yang ingin mendapatkan bantuan, Arya menyalurkan tenaganya untuk mengobati orang-orang yang terluka maupun yang sebelumnya terjangkit virus akibat ulah dari anggota iblis berdarah. Pemuda ini juga dengan berbesar hati memberikan harta pribadinya pada para penduduk yang rumahnya hancur.


Butuh waktu lama, sampai akhirnya Arya memutuskan untuk menghentikan kegiatan sosialnya dan akan melanjutkannya pada esok hari.


Bagi para penduduk yang belum mendapatkan bantuan nampak kecewa bahkan ada yang sampai nekad membuat kerusuhan, karena bagaimanapun mereka telah lama dan lelah mengantri. Namun mau tak mau pada akhirnya merekapun membubarkan diri.


Nama Li Xian kemudian menjadi buah bibir setiap orang di kota Guangzhou. Kebaikan serta rasa keperdulian pemuda itu mendapatkan tanggapan positif dari setiap kalangan.


Bersama Putri Zhou Jing Yi dan Lu Ping, Arya kemudian berjalan menuju ke gedung asosiasi lotus perak. Pemuda ini sangat kecewa karena anggota asosiasi tidak mau turun tangan membantu saat terjadi pertarungan di dalam kota maupun istana.


Sesampainya di dalam gedung asosiasi lotus perak, Arya langsung menuju ke lantai atas untuk menemui Li Juan selaku direktur yang memegang mandat sebagai pengelola gedung ini.


“Kau sudah tahu apa kesalahanmu?” Ucap Arya datar namun membuat hati Li Juan bergetar. Kini dia sadar bahwa pemuda dihadapannya itu memiliki kultivasi di atasnya.


“Sekali lagi maaf tuan.. Kami benar-benar tidak bisa ikut campur urusan kerajaan.” Tubuh Li Juan tidak bisa berhenti bergetar, dia merasa tubuhnya seakan ditimpa beban ribuan kilo. Sampai akhirnya tubuhnya roboh berlutut dihadapan Arya.


“Alasan yang tidak masuk akal...! Jelas-jelas persoalan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kerajaan. Ini semua menyangkut keselamatan orang banyak. Untuk apa kau berlatih dan berkultivasi jika kau hanya berdiam diri dan bersembunyi seperti pengecut saat melihat orang-orang disekitarmu mengalami kesusahan bahkan sampai kehilangan nyawa.” Tandas Arya dengan lugas.


“Aku sebenarnya ingin membantu namun aku juga mengkhawatirkan keadaan gedung ini jika sampai aku keluar menghadapi mereka. Lagipula hewan iblis itu berjumlah banyak dan kuat, kemampuan kami tidak akan sanggup untuk menghadapi mereka semua. Ku mohon tuan dapat mengerti dan memaafkan kami.” Ucap Li Juan tanpa berani mengangkat kepalanya.


Arya akan membuka mulutnya, namun tiba-tiba pemuda ini mematung. Bersamaan dengan itu, energi yang keluar dari tubuhnya menghilang. Dengan begitu akhirnya Li Juan dapat bernafas lega dan tak merasa tertekan lagi oleh energi yang di keluarkan pemuda itu.


“Sediakan aku ruangan atau kamar. Aku ingin sendiri..” Ucap Arya dengan nada cemas.


Li Juan mengangguk dan buru-buru mengajak Arya ke sebuah ruangan yang lebih tepatnya adalah kamar.


Sebelum memasuki kamar tersebut, Arya berpesan agar tidak mengganggunya. Dia juga menyuruh Li Juan untuk menyampaikan pesan pada Putri Zhou Jing Yi agar tidak perlu menunggunya.


****

__ADS_1


Hulao hinggap di sebuah cabang pohon besar, dia mengamati pertarungan dari jauh. “Ah, aku tidak bisa melihat dengan jelas dari sini. Sialan, dimana tupai tengik itu, kenapa dia lama sekali.” Gerutunya sambil menoleh ke sekitar.


Tak berselang lama, Honglong muncul dengan penampilan wujud manusia berpakaian kumal dan berambut gimbal di kuncir ke belakang. “Ku kira kau sudah membantu mereka, tak tahunya malah nongkrong di sini. Hahaha...”


“Nongkrong perutmu bengkak! Aku menunggumu, kemana saja kau?!” Hardik Hulao dengan tatapan bengis.


“Ciiiihh... Siapa suruh kau menungguku, kucing tua! Sana, lekas bantu mereka... Hush.. hush.. hush...” Honglong gerakan tangannya seperti mengusir.


“Tupai bunting tak tahu diri! Siapa kau berani-beraninya memerintahku... Kau saja yang bantu mereka, lagipula kerjaanmu selama ini hanya main-main tak jelas.” Sentak Hulao sambil menarik kuncir rambut Honglong sampai membuat kepala siluman tupai itu terdongak ke atas.


“Eiiittss lepaskan...! Jangan mulai lagi, atau kau ingin tuan marah lagi pada kita.”


Hulao segera sadar bahwa bisa saja tindakannya ini di awasi oleh Arya, maka dengan cepat dia lepaskan tangannya dari rambut Honglong.


Honglong tersenyum mengejek, lalu katanya dengan acuh tak acuh. “Menurutku lebih baik kita menonton mereka saja disini, lagipula musuh hanya tersisa seekor.”


Meski masih jengkel, namun Hulao memilih diam dan kembali menatap ke atas, mulai mengalirkan Qi ke mata agar bisa melihat jalannya pertarungan lebih jelas.


“Eh, aku ada kacang rebus.. Kau mau?” Kata Honglong seraya mengambil kantong kain yang lumayan besar dari balik bajunya yang kumal dan penuh tambalan.


“Aku lebih suka makan daging. Apalagi makan dagingmu, pasti lebih nikmat.” Ketus Hulao.


“Coba saja kalau berani.” Tantang Honglong tak kalah sengitnya.


Hulao menggeram marah, akan tetapi dia masih bisa menahan diri karena teringat hukuman dari Arya. “Tupai tengik, jangan pancing amarahku!”


Honglong tertawa cekikikan bernada mengejek. Lalu mulai memakan kacang rebus yang di bawanya.


“Eh, darimana kau mencuri kacang itu!”


“Dugaanmu sangat tepat.. aku memang mencurinya dari pedagang di pinggir jalan. hik.. hik.. hik..” Kembali  Honglong tertawa cekikikan.


“Apa yang kalian lakukan disini?! Bagus, kalian memang tak ada gunanya. Sebaiknya ku kembalikan saja kalian ke dunia dimensi.”


Mendadak terdengar suara Arya yang membuat tawa Honglong serta merta berhenti. Baik Hulao dan Honglong sama-sama terperanjat kaget dan serentak palingkan pandangan ke bawah.


Benar saja, di bawah sana Arya berdiri tegak sambil lipat kedua tangan di depan dada, memandangi mereka dengan sorot mata tajam.


“Tu... Tuan, kami hanya sedang menikmati pemandangan. Baiklah, aku akan pergi membantu mereka.” Selesai berkata begitu, Honglong langsung melesat cepat ke arah pertarungan.


“A.. aku juga tuan.” Hulao menundukkan kepala sebelum melesat menyusul Honglong.

__ADS_1


Di bawah sana, Arya menghela nafas panjang dan kemudian menghilang dari tempat tersebut.


__ADS_2