
Setelah memeriksa Yu Buqun dan Da Si King, Arya lalu menoleh kepada Chen Xule. Sambil berdiri dan mengulurkan sebutir pil, iapun berkata, “Minumlah obat ini supaya luka-lukamu lekas sembuh.”
Dengan canggung Chen Xule menerima pil tersebut. Rupanya dia juga mengalami cidera. Beberapa bagian tubuhnya tidak bekerja seperti biasa dan di beberapa bagian yang terkena benturan dengan Arya tampak membengkak dan kemerah-merahan. Untunglah, daya tahan tubuh Chen Xule cukup kuat sehingga ia tidak sampai mengalami luka parah.
Maka, ketika keadaan sudah agak reda, merekapun kemudian menuju ruang tamu. Di sana telah tersedia berbagai macam makanan dan minuman yang ternyata telah di persiapkan oleh sang kepala desa.
Masih dengan perasaan canggung, kepala desa Chen Chuankai mengulurkan tangan kanannya ke arah meja besar yang dikelilingi delapan kursi sebagai isyarat mempersilahkan mereka semua duduk.
“Maaf, hanya makanan dan minuman ini yang bisa kami sediakan untuk kalian.” Kata kepala desa itu dengan perasaan malu juga marah jika mengingat keadaan desanya yang sedang dicekam ketakutan karena kelompok orang-orang tidak dikenal yang seringkali datang menculik gadis-gadis perawan di desanya.
Arya tersenyum, “Ah, bagiku makanan ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih telah repot-repot menyiapkan ini semua, tuan.” setelah berkata begitu Arya lantas mengisi piring bambunya dengan nasi dan lauk pauk yang tersaji di meja tersebut. Sebelum tangannya hendak menyuap makanan ke mulutnya, si pemuda memandangi satu persatu orang-orang yang duduk disana.
“Kenapa kalian hanya diam, aku jadi enak kalau makan sendiri dan malah jadi tontonan kalian.. hahaha..”
Nie Zha mendengus, “Jadi enak apanya?”
Arya memandangi gadis itu sambil senyum-senyum, “Makananku akan jadi jauh lebih enak jika makan sambil memandangi gadis secantik dirimu.. hahaha..”
Sontak perkataan pemuda itu, membuat wajah Nie Zha memerah. Diam-diam dia senang dengan pujian pemuda itu, namun disisi lain dia menjadi jengkel sekaligus marah. Kejadian yang pernah dialaminya, dimana ia hampir diperkosa oleh seorang pemuda yang telah membunuh bibi serta teman-temannya, mengakibatkan trauma yang mendalam baginya, bahkan telah hilang kepercayaan di dalam hatinya terhadap pemuda manapun. Baginya semua laki-laki adalah sama, mereka semua adalah manusia-manusia yang hanya mengedepankan nafsu daripada cinta.
“Tutup mulutmu!” hardik Nie Zha sambil pelototkan mata dan eratkan kedua kepalan tangan.
Arya yang hendak menyuapkan makanan ke mulutnya sontak terkejut, reflek ia menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Dengan sorot mata polos, seperti bertanya-tanya ia memandangi Nie Zha.
Melihat hal itu, kakek tua Si Lengan Api tertawa mengekeh. Kepala desa Chen Chuankai dan Chen Xule tersenyum-senyum. Suasana yang tadinya canggung mulai agak mencair.
Nie Zha dengan wajah kesal masih memelototi Arya. Seolah tak akan membiarkan pemuda itu bicara lagi.
“Sudahlah, kalau dia menutup mulutnya, lalu bagaimana caranya dia untuk makan?” kata si kakek Lengan Api yang kembali tertawa mengekeh.
__ADS_1
Nie Zha mendengus, dengan acuh tak acuh dia mulai mengisi piringnya dengan makanan.
“Kek, cucumu ini sepertinya sedang datang bulan. Masakan orang mau makan disuruh tutup mulut. Hehehe..” Kata Arya.
Tiba-tiba Nie Zha bangkit berdiri sambil menunjuk Arya. Dengan suara bergetar dia membentak, “Apa mulutmu tidak pernah dididik? Pemuda macammu memang lebih baik tutup mulut. Sekalinya bicara, kata-katamu membuat kuping dan hatiku panas.”
Arya jadi garuk-garuk rambutnya. Diam-diam dia membaca pikiran gadis tersebut. Namun tatapannya buru-buru dialihkan manakala terdengar kembali gadis itu membentak.
“Lancang! Tutup juga matamu yang jelalatan itu!”
“Nie Zha,” tegur si kakek tegas. “Kau juga tidak sopan membentak-bentak orang. Kau harus paham jika kita disini adalah tamu. Tidak sepantasnya kita berlaku tidak sopan.”
Si kakek kemudian memandang kepada kepala desa Chen Chuankai, lalu katanya “Maafkan sikap cucuku ini, tuan.. Harap dimaklumi dia memang pernah mendapatkan kejadian yang tidak mengenakkan sehingga membuat sikapnya jadi mudah meledak-ledak seperti ini.”
“Ah, tidak perlu dipersoalkan kek.” Ucap sang kepala desa ramah, “Kita lanjutkan pembicaraan nanti saja, lebih baik silahkan dinikmati jamuan dari kami yang seadanya ini.”
Demikianlah, Arya dan yang lainnya larut dalam kegiatan santap makan tanpa adanya perbincangan.
“Meskipun aku berasal dari Lembah Petir, namun yang sebenarnya aku bukanlah anggota dari sekte itu. Hanya saja karena keluargaku adalah tetua sekte itu maka aku pun dianggap bagian dari mereka.” katanya. “Yang sebenarnya aku hanyalah seorang pengembara yang sedang mencari pengalaman dan mendalami tentang arti kehidupan.”
Semuanya yang mendengarkan mengangguk-anggukan kepala.
“Masa mudaku dulu juga aku habiskan dalam pengembaraan. Dalam pengembaraan itu aku sering menemui kejadian-kejadian lucu. Apakah kalian ingin mendengar?” si kakek menatap berkeliling, ke wajah-wajah orang-orang yang duduk disekitar meja itu. “Pada masa mudaku dulu aku pernah bertemu seorang pemuda yang tampan. Tapi ketampanannya tidaklah seperti keadaan dirinya yang sebenarnya. Setelah berkenalan, kami kemudian melakukan perjalanan bersama. Namun setelah beberapa waktu, aku jadi mengetahui bahwa pemuda itu agaknya aneh. Setiap kali aku tidur dan terbangun kembali, aku mendapati tahu-tahu dia sudah ada di sampingku, memelukku bahkan hampir-hampir menciumiku. Entahlah, mungkin saja aku sudah di ciuminya sewaktu masih terlelap tidur...”
“Hahaha... Setelah pemuda itu bangun, pasti dia langsung muntah-muntah bahkan pingsan. Dalam mimpi sedang bercumbu dengan gadis cantik, tak tahu nya bangun-bangun sedang bercumbu dengan kakek peot sepertimu..” Ucap Arya yang diselingi tawa tergelak-gelak.
Merasa ditatap semua orang, Arya menghentikan tawanya. Dan didapatinya si kakek tersungut-sungut sambil cibirkan bibirnya. Bukannya merasa bersalah, tetapi Arya kembali tertawa-tawa karena menurutnya ekspresi si kakek menggelikan sekali jika sedang tersungut-sungut macam ikan kelaparan seperti itu.
“Ayo kek, lanjutkan ceritamu..” ucap Arya pula.
__ADS_1
“Kenapa tidak kau saja yang bercerita tentang apa yang kau jumpai di perjalanan. Tidakkah kau pasti menjumpai kejadian-kejadian yang lucu, misalnya, seperti yang terjadi di sini” Kata si kakek dengan nada mencibir.
Mendengar pertanyaan ini Arya tersenyum, demikian juga kepala desa Chen Chuankai dan Chen Xule, meskipun kalau teringat akan hal itu, hati mereka masih tergetar. Tetapi kemudian oleh pertanyaan ini, Arya jadi teringat akan keperluannya datang ke sini. Tetapi jawaban dari penyelidikannya sudah terjawab setelah dirinya membaca pikiran orang-orang yang ditemuinya di desa tersebut. Meski demikian, ia tetap bertanya.
“Kakek Lengan Api, tuan kepala desa, memang aku sebenarnya menjumpai sesuatu dalam perjalananku yang ingin aku tanyakan. Itulah sebabnya maka aku datang kemari.” Ketika Arya tampaknya bersungguh-sungguh, maka mereka yang mendengarkan pun menjadi bersungguh-sungguh pula.
“Di puncak gunung Qiantang,” sambung Arya, “Aku mendapati sesuatu yang mencurigakan. Alat-alat minum yang berserak-serakan. Bekas unggun api. Dan yang paling mengherankan adalah adanya batu-batu yang disusun sebagai suatu tempat untuk pemujaan, sedangkan di atasnya terdapat kerangka perempuan. Dan tidak jauh dari tempat itu, aku juga melihat kerangka yang lain. Juga seorang perempuan.”
Mendengar pertanyaan itu kepala desa Chen Chuankai menundukkan wajahnya dalam-dalam. Gao Lishi alias Si Lengan Api mengerutkan dahinya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis ketuaannya, sedangkan Chen Xule menarik nafas dalam-dalam.
“Tabib Xian...” Ucap kepala desa Chen Chuankai dengan suara yang dalam. “Akulah orangnya, kalau ada pemimpin yang sama sekali tak berguna.” Ia berhenti sebentar menelan ludah, lalu sambungnya, “Sebagai seorang kepala desa, yang seharusnya dapat memberikan perlindungan kepada rakyatku. Tetapi nyatanya aku sama sekali tak mampu berbuat demikian.” Kembali kepala desa tua itu berhenti berbicara. Matanya memandang jauh keluar rumahnya.
Di halaman, beberapa orang masih duduk berkelompok-kelompok sambil bercerita tentang kehebatan pertarungan siang tadi. Kepala desa Chen Chuankai menggeser duduknya sedikit. Matanya masih menembus jejeran rumah-rumah seolah-olah ada yang dicarinya disana. Tetapi rupa-rupanya ia ingin melanjutkan keterangannya. Ia pun lantas meneruskan,
“Kejadian ini bermula beberapa bulan yang lalu.. Dimana saat itu, di daerah ini lewat serombongan orang-orang berkuda. Memasuki senja, di desa ini mereka berhenti didepan gerbang yang dijaga beberapa orang. Karena tak ada tanda-tanda yang aneh pada mereka, serta sikap pimpinannya yang ramah dan mereka juga memperlihatkan indentitas penduduk Kekaisaran Ming, maka kami tak dapat menolak kedatangan mereka. Rombongan itu dipimpin oleh dua orang perempuan yang katanya akan menuju ke desa Shanyin. Mereka berhenti sejenak untuk beristirahat dan mengisi perut di kedai kopi padi,” Sekali lagi kepala desa Chen Chuankai berhenti. Rupanya ia sedang mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Kemudian sambungnya.
“Tetapi terkutuklah mereka. Terkutuklah rombongan orang-orang berkuda itu. Pada malam harinya ketika mereka akan melanjutkan perjalanan, mereka menangkap seorang gadis yang sedang pergi ke sungai. Gadis ini sempat menjerit, dan seorang yang baru pulang dari mengairi sawahnya dapat menyaksikan peristiwa itu. Seorang yang mengantarkan gadis itu, seorang pemuda tanggung dipukulinya hingga tewas. Maka ketika hal itu disampaikan kepada kami, meledaklah amarah kami. Segera desa ini kami kepung rapat-rapat. Mereka segera kami ancam untuk menyerah. Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan kami. Mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiran kami, orang-orang hampir seluruh desa ini. Ketika kami mendengar gadis itu menjerit, hati kami tak tahan lagi. Dan segera terjadilah pertempuran. Orang-orang kami lebih banyak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap-luap, daripada kesediaan untuk bertempur. Apalagi rombongan berkuda itu ternyata terdiri dari orang-orang yang sakti. Beberapa saat pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya, tetapi segera tampak betapa lemahnya kami. Dalam waktu singkat orang-orang kami dapat dihantam dan dicerai-beraikan. Aku tidak lagi dapat berpikir lain daripada bertempur mati-matian.
Aku, Yu Buqun dan Da Si King, kami bertiga langsung terlibat dalam perkelahian melawan pimpinan gerombolan itu. Mungkin terdorong oleh kemarahanku maka terasa seolah-olah tenagaku menjadi berlipat-lipat. Tetapi ternyata mereka bukanlah manusia, bahkan menurutku mereka adalah iblis, karena mereka mempunyai ilmu yang tinggi dan tidak masuk akal. Setiap kali usaha kami dapat mengenai bahkan memotong tubuh mereka, seolah tidak dapat mati, tubuh mereka yang terpotong itupun kembali tumbuh seakan tidak pernah terjadi apa-apa.” Kepala desa tua itu menarik nafas sambil membetulkan duduknya, kemudian ia melanjutkan, “Untunglah waktu itu mereka kabur. Aaahh.. Aku tidak bisa mengatakan itu keuntungan akan kerugian bagi kami, dikarenakan mereka kabur maka selamatlah nyawa kami semua, tapi kepergian mereka bagaimanapun juga telah menyebabkan kerugian besar bagi kami. Mereka membawa seorang gadis, ditambah lagi karena pertarungan itu, banyak penduduk kami yang kehilangan nyawa.” Kepala desa tua itu berhenti bercerita. Pandangan matanya yang suram dan menyorotkan kemarahan itu ditundukkannya dalam-dalam.
Meski sudah mengetahuinya, Arya mendengarkan cerita kepala desa tua itu dengan penuh perhatian. Terbayang betapa kepala desa tua itu telah berusaha mati-matian untuk melindungi rakyatnya, sampai ia tidak memikirkan nasibnya sendiri. Tetapi lawan yang dihadapi mereka memang bukanlah orang-orang sembarangan. Dia juga terharu melihat keadaan desa ini yang dicekam ketakutan setiap saat, hingga sawah-sawah atau ladang-ladang di desa ini jadi tak terurus. Terbayang bagaimana perekonomian di desa ini menjadi terpuruk, para penduduk harus rela menahan lapar karena dilanda ketakutan hingga banyak yang tidak bekerja.
Kemudian terdengar Chen Xule berkata, “Ternyata kejadian semacam ini tidak hanya terjadi disini, tapi di desa-desa yang lain juga mendapati kejadian yang serupa. Namun demikian desa inilah yang paling sering terjadi penculikan. Karena itulah, atas laporan dari para kepala desa, Raja Zhou Lun kemudian memerintahkan aku dan lima panglima lainnya dengan membawa prajurit-prajurit pilihan untuk mengamankan desa-desa maupun kota yang mengalami kasus penculikan seperti ini.” Chen Xule berhenti sejenak untuk menggeser duduknya, lalu sambungnya, “Setelah di selidiki, rupanya para pelaku penculik itu adalah orang-orang aliran hitam. Mereka tidak hanya menculik gadis-gadis tetapi juga bayi-bayi yang baru lahir. Karena kejadian ini kami sampai tidak bisa kembali untuk membantu sewaktu terjadi penyerangan terhadap kerajaan Guangzhou.”
Arya angguk-anggukan kepalanya, “Kalian adalah orang-orang yang berjiwa kesatria dan penuh tanggung-jawab. Beruntung desa ini memiliki pemimpin seperti anda, tuan kepala desa. Dan semoga kejadian ini tidak akan terjadi kembali.”
Kemudian kepada si kakek Lengan Api, Arya berkata, “Kek, lalu apa tujuanmu sampai meninggalkan pekerjaanmu di laut dan malah nyasar keluyuran jauh sampai ke desa ini?”
“Keluyuran kepalamu! Kedatangan kami ke sini karena tak sengaja mendengar suara pertarungan kalian yang berisik itu. Sebenarnya aku ingin mengantarkan cucuku ini ke rumahnya. Karena situasi saat ini sangat berbahaya makanya aku menemaninya.”
__ADS_1
“Oooo...” Arya angguk-anggukan kepalanya sambil melirik Nie Zha.
Gadis yang dilirik segera menatap tajam kepada si pemuda. Membuat Arya terkekeh sendiri, merasa lucu atas sikap si gadis yang menurutnya kekanak-kanakan itu.