Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Racun Penyerap Sukma


__ADS_3

Sang mentari pagi sudah naik setinggi tombak, sinarnya menjadi saksi bagaimana kota Guangzhou porak-poranda karena dilanda pertarungan hebat yang berakhir dengan kemenangan pihak kerajaan.


Di seluruh kota serta di kawasan kerajaan masih terjadi kebingungan tentang indentitas pendekar misterius yang menjadi pilar penting bertahannya kerajaan ini dari serangan pihak musuh.


Setelah berakhirnya pertempuran besar, para petinggi kerajaan Guangzhou langsung memerintahkan para prajurit untuk kembali bangkit, menata semua hal yang sebelumnya telah hancur.


Para penduduk berbondong-bondong kembali menghuni kota yang sekarang sudah kondusif, mereka membangun ulang kota dibantu oleh para prajurit kerajaan.


Berita tragedi penyerangan kerajaan Guangzhou mulai di sebarkan ke seluruh pelosok negeri, termasuk Kekaisaran tetangga.


Dengan gotong royong dan rasa keperdulian satu sama lain, tatanan kehidupan di jantung kota kerajaan Guangzhou terasa sangat indah dan damai.


Kesulitan mengubah diri manusia menjadi lebih peka terhadap sesamanya, membuat mereka sadar, kesenjangan akan memutus ikatan persaudaraan.


Hidup bersosial, saling tolong menolong, saling menghargai dan menerima perbedaan, akan menciptakan sebuah keharmonisan pemerintahan yang indah.


Seusainya pertempuran, para petinggi-petinggi kerajaan langsung menemui para bayangan Arya termasuk Hulao dan Honglong. Namun yang di temuinya tidak mengucapkan sepatah kata apapun, mereka kemudian lenyap begitu saja tanpa mengucapkan selamat ataupun belasungkawa.


Bagi orang-orang kerajaan, kemunculan sekelompok orang bercadar dan dua siluman aneh layaknya seperti Dewa penyelamat, yang turun menegakkan kebenaran dan pergi tanpa pamrih meminta imbalan.


Jenderal Sun Jian kini berada di sebuah ruangan bersama seorang pria tua yang terlihat membawa tongkat.


Pria tua itu mengenakan pakaian lusuh layaknya seorang petani, rambut yang sudah memutih terurai seperti orang gila yang tidak peduli terhadap penampilan. Di pinggangnya terselip kendi arak berukuran sedang yang tidak pernah dia tinggalkan, dimana araklah minuman satu-satunya yang selalu dia konsumsi.


Namun meski begitu dia sebenarnya adalah seorang Alkemis terkenal yang di datangkan dari Kekaisaran Tang. Seorang tabib gila pemabuk, seperti itulah kira-kira julukan yang disematkan orang-orang kepadanya.


"Berdasarkan dari gejala penyakitnya, ku yakin pria gendut ini terkena racun. Tapi sampai saat ini aku belum bisa memastikan jenis racun apa yang bersarang di tubuhnya." Berkata pria tua itu lalu mengaruk-garuk rambutnya yang putih kusut. Kemudian menenggak kendi araknya.


Sepasang mata Jenderal Sun Jian melebar, tatapannya menunjukkan ketidak-senangan terhadap perkataan pria tua itu. Dia nampak marah ketika pria tua itu mengatakan Rajanya dengan sebutan 'pria gendut'.


Pria tua itu menoleh, menangkap ekspresi yang di tunjukkan Jenderal Sun Jian, dia malah terkekeh.


"Tubuh, saraf, nadi, dan jantungnya berfungsi dengan baik, namun pria gendut ini mengalami kelumpuhan, seluruh tubuhnya mati rasa, bahkan dia tidak merasakan sakit ketika ditusuk oleh jarum," Jelas pria tua itu, dan lagi-lagi menenggak araknya.


"Orang tua, tidak bisakah kau berkata sopan. Dia adalah seorang raja, tidak sepantasnya kau berkata seperti itu." Jenderal Sun Jian menatap tajam, jika saja saat ini dia tidak membutuhkan pertolongannya, sudah dari tadi dia akan bertidak kasar dan bisa saja menjatuhkan hukuman berat terhadap pria tua tersebut.


"Hahaha.. bukan maksudku menghina rajamu, namun kenyataannya memang begitu.. Rajamu ini memang gendut."


"Kau..!!" Jenderal Sun Jian menggerakkan tangannya hendak mendamprat, namun lekas-lekas diurungkannya, mengingat keselamatan sang raja bergantung pada pengobatan pria tua itu.

__ADS_1


Pada saat itulah, seseorang dari luar tengah mengetuk pintu kamar.


Masih dengan memasang wajah tersungut marah, Jenderal Sun Jian segera membuka pintu, dia tersenyum lembut ketika mendapati yang datang adalah Putri Zhou Jing Yi. Maka dengan sikap hormat, diapun cepat-cepat menundukkan badan.


Namun kilatan matanya menunjukkan keheranan ketika melihat pemuda yang berdiri di belakang sang putri.


"Bagaimana keadaan ayahku?" Bertanya Putri Zhou Jing Yi, ekor matanya melirik ke dalam ruangan.


"Penyakit Yang Mulia belum bisa di obati, tuan putri. Jika tuan putri ingin melihat kondisi Yang Mulia, mari silahkan masuk." Berkata Jenderal Sun Jian dengan penuh hormat.


Putri Zhou Jing Yi mengangguk, lalu menoleh ke arah pemuda di belakangnya. "Tabib Xian, tujuanku mengajakmu kemari bukan untuk melihatmu berdiri disana.. ayo masuk!" Ucapnya dengan ketus, lalu menyunggingkan senyuman mengejek.


Arya mendengus pelan, kali ini dia tidak bisa membalas ejekan sang putri karena sadar bahwa dirinya saat ini tengah berada di dalam istana. Maka diapun harus bisa menjaga kehormatan sang putri di hadapan orang-orang kerajaan.


Wajah Jenderal Sun Jian seketika berseri ketika mengetahui jika pemuda yang dibawa sang putri ternyata adalah Tabib Xian. Maka dengan sikap hangat dia tersenyum ke arah si pemuda lalu menarik diri ke samping untuk membuka jalan.


Di dalam kamar sudah berdiri seorang pria berpakaian lusuh sedang menengguk araknya, Arya menyipitkan mata melihat pria tua itu. Berdasarkan aura pengobatan yang terpancar dari tubuh pria tua tersebut, dia langsung bisa mengetahui jika pria tua itu adalah seorang Alkemis berkemampuan tinggi.


"Perkenalkan pria tua ini adalah tabib Heng Dao, dia seorang Alkemis dari Kekaisaran Tang. Dan ini adalah Putri Zhou Jing Yi, sementara pemuda ini adalah Tabib Xian." Melihat Arya memandangi pria tua lusuh, Jenderal Sun Jian segera memperkenalkan mereka.


Tiba-tiba pria tua itu tertawa tergelak-gelak, di tengguknya guci araknya lalu berjalan mendekati Arya.


Arya nampak terkejut, dia tidak menyangka bahwa namanya sudah sebegitu tersebar luas. "Kakek terlalu berlebihan, di negeri ini kemampuan Alkemis masih jarang di temui, karena itulah aku yang bodoh ini sudah di anggapnya hebat, padahal aku hanyalah bocah kemarin sore yang kebetulan memiliki sedikit pengetahuan."


“Kau jangan merendah seperti itu, meski mataku sudah buram dan sering mabuk-mabukan tapi aku masih bisa melihat dengan jelas aura pengobatan yang terpancar di tubuhmu ini lebih pekat dariku." Pria tua yang bernama Heng Dao menepuk-nepuk bahu Arya.


Tidak disangka, pria tua itu mampu membaca aura pengobatan yang selama ini Arya sembunyikan, padahal orang lain sebelumnya tidak dapat merasakannya, dimana Arya menyembunyikan auranya dengan menggunakan teknik pengolahan energi naga api, warisan dari kakeknya Zhen Long.


Melihat Arya menatapnya penuh selidik, pria tua itu kembali menenggak araknya lalu tertawa. "Sudah beberapa minggu ini aku berusaha menganalisa racun di tubuh pria gendut itu, namun sampai saat ini aku belum bisa mengetahui jenis racun itu. Sekarang cobalah kau periksa, siapa tahu kau dapat mengenali jenis racun apa yang bersarang di tubuh raja gendut itu."


Arya terdiam sesaat dan lalu mengangguk, dia sangat memahami bahwa seberapapun hebatnya kemampuan Alkemis dalam meracik obat, tidak akan ada gunanya jika mereka tidak mengetahui sumber masalah pada tubuh pasiennya.


Dari kejauhan Arya memandangi Raja Zhou Lun dengan seksama, seorang pria berwajah tampan namun bertubuh agak gendut. Meskipun Raja Zhou Lun memiliki semacam teknik untuk menyembunyikan kultivasinya namun tetap saja Arya dapat mengetahui tahap kultivasi sang raja yang berada di tahap Pendekar Pertapa tingkat 7.


Awalnya Arya nampak terkejut, namun dia segera maklum ketika berfikir bagaimana seseorang bisa menjadi raja jika kemampuannya sendiri berada di bawah para punggawanya.


Dalam sekali lihat, Arya juga dapat merasakan bahwa penyakit sang raja memang tidaklah sesederhana kelihatannya.


"Baiklah, kalau begitu izinkan aku memeriksanya." Arya menatap putri Zhou Jing Yi dan Jenderal Sun Jian untuk meminta ijin pada mereka.

__ADS_1


Jenderal Sun Jian balas tersenyum mengangguk, sementara Putri Zhao Jing Yi dengan serta merta malah mendorong Arya sampai berhenti di samping pembaringan sang raja.


Setelah tiba disisi sang raja, Arya langsung menatap Putri Zhou Jing Yi dengan menggembungkan rahangnya karena kesal.


"Kenapa kau malah melihatku, cepat periksa ayahku." Berkata Putri Zhou Jing Yi sambil melotot.


Di saat melihat Arya mendengus kesal dan memalingkan wajahnya ke arah sang raja, diam-diam Putri Zhou Jing Yi tersenyum-senyum, 'Rasakan pembalasanku, ini barulah awal..'


Dengan hati-hati Arya meraih tangan sang raja untuk memeriksa denyut nadi dan aliran darahnya.


Benar seperti yang pernah di jelaskan oleh Alkemis tua yang bernama Heng Dao. Denyut nadi, jantung, syaraf dan darah sang raja normal seperti tidak sedang sakit, Arya tidak menemukan gejala apapun ditubuhnya.


Selanjutnya dia memeriksa keadaan persendian sang raja, namun tetap saja tidak menemukan apapun.


Semua orang memperhatikannya dengan penasaran, mereka mengerutkan kening karena bingung melihat Arya yang hanya memegangi tangan sang raja saja, dimana biasanya Alkemis akan memeriksa seluruh tubuh pasiennya, paling tidak dia seharusnya mendengarkan detak jantung dan hembusan nafasnya.


Jika memeriksa racun, Alkemis biasanya akan mengambil sampel darah untuk ditelitinya, mereka akan mencampur darah itu dengan ramuan lain agar dapat melihat reaksi yang ditimbulkan.


Namun Arya, dia tidak beranjak sedikitpun dari tangan sang raja, seluruh tubuh sang raja dapat diperiksanya hanya dengan dari tangannya saja, membuat orang lain memandanginya aneh termasuk Heng Dao.


Lama Arya menganalisa tubuh sang raja namun seperti Alkemis lain, dia masih belum dapat menemukan sumber masalahnya. Satu yang dia ketahui, sang raja memang terkena racun.


Arya sebenarnya bisa saja langsung menghisap racun yang bersarang di tubuh sang raja lalu diolahnya menjadi energi Qi untuk mengisi Dantian elemen racun yang dimilikinya. Namun dia tidak mau menarik perhatian orang-orang yang ada di sana, karena itulah kini dia sedang mencari cara lain untuk mengobati sang raja.


Hanya ada satu jalan terakhir yang dapat dia tempuh untuk mengetahui kondisi sang raja, yakni dengan mengalirkan energi naga emas.


Membutuhkan energi yang cukup besar bagi Arya agar dapat menganalisa seluruh tubuh sang raja, membuat tangan kanannya kini memancarkan sinar keemasan bersinar terang dan dapat terlihat oleh semua orang disana.


Baik Heng Dao, Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi mereka nampak membelalakkan mata, menyaksikan apa yang dilakukan oleh pemuda itu tanpa berkedip.


Tidak ada yang pernah melihat energi seperti itu, auranya begitu hangat dan mendamaikan, mereka kini bertanya-tanya siapa sebenarnya pemuda ini.


Secara perlahan Arya mengalirkan energinya diatas dada sang raja, membuat seluruh tubuh sang raja kini diselimuti energi bersinar keemasan.


Arya segera menarik kembali semua energinya, hanya sepersekian detik saja dia sekarang sudah mengetahui sumber masalah dari penyakit aneh yang diderita sang raja.


"Apa kau sudah mengenali jenis racun itu, Tabib Xian?" Bertanya Jenderal Sun Jian dengan tidak sabaran.


Arya mengangguk, "Racun yang bersarang di tubuh raja adalah racun penyerap sukma. Dimana racun itu seharusnya akan dapat menghancurkan tubuh korbannya hanya dalam hitungan nafas, namun karena raja memiliki kultivasi yang tinggi maka dia bisa bertahan sampai sejauh ini."

__ADS_1


__ADS_2