Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Si Tua Sadis


__ADS_3

Gluk!


Baru setengguk air arak yang telannya, wajah kakek itu nampak berseri-seri. Warna biru yang menghias pada wajahnya perlahan-lahan mulai memudar. Bau harum arak segera menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Wanginya mirip-mirip bunga lavender.


“Nikmat sekali arakmu ini, anak muda. Darimana kau mendapatkannya? Sepanjang hidupku yang telah berusia ratusan tahun ini, baru kali ini aku merasakan arak seenak ini.” ujar kakek tua itu dengan wajah berseri-seri dan penuh kepuasan.


Tanpa menunggu jawaban dari Arya, kakek itu kembali menyedot air arak pada kendi yang melayang dihadapannya sampai isinya habis. Setelahnya, kendi itupun tercampakkan jatuh dihadapan kakek tua tersebut.


Arya tersenyum, diangkatnya kendi arak yang dipegangnya, “Gluk! Gluk! Ah..”


“Arak ini adalah arak khayangan. Di dunia ini, hanya aku yang memilikinya.” ujar Arya dengan bangga, “Nah, sekarang lanjutkan-lah cerita anda, kek!”


Memang arak itu adalah arak khayangan yang hanya bisa didapatkan di alam para dewa. Arya mendapatkan arak tersebut karena pemuda ini sebelumnya pernah menyuruh Pegasus untuk mengambilkan arak tersebut dari alam dewa. Dikarenakan tak mau meminta arak khayangan terus-terusan kepada para dewa, iapun lantas meneliti dan mempelajari komposisi yang terkandung dalam arak tersebut, agar di kemudian hari dia bisa membuatnya sendiri.


Kakek itu mengerutkan dahi, “Jadi kau yang membuatnya sendiri?”


“Iya..”


Kakek itu tiba-tiba tertawa, “Dari energi kehidupan yang terpancar dari tubuhmu, setidaknya kira-kira kau berumur dua tahun tujuh tahun. Tapi sungguh aneh rasanya, diumur yang semuda itu kau mampu membuat arak se-enak ini. Jujur saja aku termasuk pecinta arak. Sudah ratusan tahun aku malang melintang ke berbagai penjuru dunia dan telah mencicipi segala macam jenis arak. Kurasa pembuat arak terhebat sekalipun tak akan mampu membuat arak seperti buatanmu ini, anak muda.” kakek ini menghentikan ucapannya saat telinganya mendengar suara kecamuk pertarungan di luar.


“Sungguh aku sangat merasa tersanjung mendapatkan pujian dari penikmat arak berpengalaman dan senior seperti anda, orang tua.” balas Arya tanpa memperdulikan suara pertarungan diluaran sana.


Kakek itu mengerutkan dahi, menengok kesana kemari, lantas kembali menghadap kepada Arya, “Kalau aku tak salah menduga, kau datang ke kemari membawa serta teman-temanmu. Aku mendengar suara pertempuran diluar. Apakah kalian datang hendak menghancurkan perkumpulan orang-orang ditempat ini?”


Arya mengangguk, wajahnya nampak serius, “Kami datang tidaklah membawa dendam apa-apa, tidak pula menginginkan keuntungan atau pamrih tertentu. Sebagai seorang pendekar, sudah seharusnya kami menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Oleh karena itu, jika ada kelompok atau perorangan yang membuat malapetaka melampaui batas, sudah sewajarnya-lah jika kami sebagai seorang pendekar, jiwa kami merasa terpanggil untuk memberantasnya.” pemuda ini menatap lekat-lekat pada wajah si kakek yang nampak murung, “Apakah anda keberatan dengan tindakan kami ini, orang tua? Aku maklum jika engkau sebagai seorang guru pastilah tidak akan terima kalau ada orang yang mengusik ataupun memusuhi murid anda.”


Kakek itu menghela nafas, “Kau benar, anak muda. Walau bagaimanapun juga dia adalah muridku, kesalahannya sebagian dari kesalahanku pula. Aku yang tua dan bodoh ini memang tak bisa mendidik muridku dengan benar. Aku menyesal, amat sangat menyesal sekali, hanya memberikan ilmu-ilmu kepandaian kepadanya tapi tidak bisa menanamkan norma-norma kebaikan dalam sanubarinya.”

__ADS_1


Kakek itu menundukkan kepalanya untuk beberapa saat, lalu menengadahkan wajahnya sembari berkata, “Dulu, sewaktu aku sudah mengundurkan diri dari dunia kultivator, aku mengasingkan diri dan membangun sebuah rumah tangga. Akan tetapi ketenangan hidupku hanya berlaku sekejap saja. Mungkin sudah menjadi suratan takdirku atau lebih tepatnya karma bagiku untuk akibat dari segala kejahatan yang telah aku lakukan. Dua anakku di bunuh, istriku diperkosa lalu di penggal kepalanya. Waktu kejadian itu, aku memang sedang tak ada dirumah. Aku pergi memburu binatang untuk makan kami sekeluarga. Dapat dibayangkan betapa hancurnya hatiku ketika mendapati kenyataan itu. Aku benar-benar sedih, marah tapi juga merasa bersalah. Hidupku hancur sehancur-hancurnya. Lebih baik aku mati saat itu juga untuk menyusul anak istriku, menemani mereka di alam baka. Bagiku lebih baik menderita sepeti keadaanku sekarang ini daripada harus mengalami luka batin yang sukar sekali disembuhkan bahkan terus saja menghantui setiap tidurku. Namun aku segera tersadar bahwa semua ini terjadi karena kesalahanku sendiri. Ada sebab pasti ada akibat. Begitulah yang aku alami.” Kakek itu menghela nafas berat, tubuhnya bergetar untuk menahan bendungan air mata. Namun air murni yang keluar dari curahan lubuk hatinya itu masih jua merembes keluar.


Arya diam-diam juga larut dalam kesedihan si kakek. Bayangan kejadian ibu ayahnya yang meninggal sewaktu ia masih kecil dan hidup di bumi, kembali terbayang dalam hatinya. “Bapak, ibu, maafkanlah anakmu ini, sampai belasan tahun lamanya, aku tidak menepati janjiku untuk mengunjungi makam kalian.” batinnya, tanpa terasa air mata jatuh dari sepasang pelupuk matanya. Arya mengusap air matanya saat mendengar kakek itu kembali bercerita,


“Sebagai seorang yang pernah berkecimpung dalam kesesatan dan telah membunuh banyak orang, tentu saja diluar sana pasti banyak orang yang memusuhiku bahkan menaruh dendam untuk membunuh atau setidaknya menghancurkan hidupku.” kakek ini menatap Arya memalui mata batinnya. Ia tersenyum, bila di ingat-ingat memang sudah lama ia tidak pernah tersenyum setulus ini. Sudah lama pula ia merindukan bisa berbicang-bincang dengan seseorang, telah lama ia dikurung oleh muridnya sendiri, dari kekaisaran Tang sampai dibawa ke tempat ini. Dan sekarang ada pemuda yang mau bercakap-cakap dengannya, biarpun saat ini dia berada diujung keputus-asaan dan merasa bersedih mengingat masalalunya yang kelam, ia merasa hatinya senang sekali bisa bercakap-cakap dengan pemuda ini. Memang sudah menjadi hal yang lumrah, bilamana orang tua senang sekali berceritera tentang masalalunya.


Kakek ini melanjutkan, “Ah, ternyata masih terdapat dendam membara. Bara yang panasnya masih harus ku alami dalam usiaku yang renta ini. Apakah yang belum aku lakukan untuk menghukum diriku sendiri, atas nama masa laluku yang jumawa, dan penuh semangat penaklukan. Setelah mengasingkan diri begitu lama, menghilang dari rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan. Akhirnya aku memutuskan kembali untuk mencari pembunuh anak dan istriku. Pada suatu hari, dimalam yang diterangi cahaya bulan purnama, aku bertarung dengan seratus kultivator yang beberapa diantara mereka adalah pembunuh anak dan istriku, sisanya adalah orang-orang yang menuntut pembalasan dendam terhadapku. Di atas bukit karang yang terjal dan berbatu tajam, tanganku bermandi darah. Seratus kultivator dari golongan hitam, golongan putih, maupun golongan netral yang tidak pernah berpihak. Ku bunuh mereka satu persatu seperti elang perkasa memangsa tikus. Kepada golongan putih ku berikan kematian tanpa penderitaan, kepada golongan hitam ku berikan kesakitan setimpal dengan kejahatan yang mereka lakukan, dan kepada golongan netral ku biarkan ilmu mereka menangkal ilmuku semampu dayanya.”


“Sebagai kultivator, ku berikan mereka kematian yang terhormat, yakni kematian dalam pertarungan. Pengeroyokan memang bukan sikap yang terpuji, tetapi akulah yang telah mengundang mereka datang. Ku tantang mereka semua karena aku sudah jemu pada kehidupanku, jikapun andaikata aku mati pada saat itu, aku akan mati dengan hati tanpa beban.” Kakek ini geleng-gelengkan kepalanya, “Anak muda, teman-temanmu tengah bertarung. Kenapa kau tak membantu mereka?”


Arya tersenyum, lalu keluarkan dua kendi arak khayangan. “Ku rasa aku tidak perlu ikut campur. Pertarungan itu hanyalah pertarungan kanak-kanak. Biarlah mereka bermain-main. Aku lebih suka disini mendengarkan cerita anda. Lebih baik kita minum-minum sampai mabok, he..he..he..”


Arya lemparkan satu kendi arak ke arah si kakek, lantas ia tempatkan tubuhnya duduk dilantai, menghadap kakek tersebut.


Seperti halnya tadi, kendi arak itupun melayang di hadapan si kakek. Namun kakek ini tak segera meminumnya. Ia kerutkan kening, menurutnya perkataan pemuda itu mencerminkan kesombongan, terlalu menganggap remeh lawan. Sebuah sikap yang dapat mencelakakan diri sendiri maupun teman-temannya. Dia sendiri sangat mengenal betul kemampuan muridnya si ‘Serigala Iblis Dari Timur’. Selain muridnya itu memiliki kemampuan tinggi, ditambah kekuatan hitam yang didapat dari cara sesat, muridnya itu juga amat licik. Dia sendiri saja dapat di ringkus karena terperdaya oleh tipu muslihat muridnya tersebut.


Seolah mengerti isi hati si kakek, Arya lantas berkata, “Kek, bukan maksudku meremehkan kemampuan muridmu, tetapi aku percaya pada teman-temanku. Lagipula jika memang keadaan mendesak aku juga akan turun tangan.”


Arya angguk-anggukan kepalanya. Dengan kemampuannya yang hampir mencapai Pendekar Langit, ia merasa dapat menghancurkan seluruh anggota Manusia Iblis dalam sekejapan. Dia bukannya meremehkan lawan, tetapi bukankah sebelumnya ia telah menerjunkan lima bayangannya yang kesemuanya memiliki kemampuan Pendekar Bintang tingkat puncak. Itu sama saja kalau dirinya telah berkontribusi dalam pertarungan. Tentu saja semua ini rasanya tak perlu ia ceritakan kepada si kakek.


Kakek itu kembali menghela nafas. Kemudian barulah ia meminum arak khayangan dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Yakni menggunakan kemampuan telekinesis untuk menggerakkan apapun objek yang dia kehendaki melalui pikirannya.


“Gluk! Gluk! Ah...” si kakek mendesah nikmat, lidahnya dijulurkan untuk membersihkan air arak yang belepotan di bibirnya. “Anak muda, kalau boleh aku bertanya, apakah yang terkandung dalam arak ini? Kenapa setelah meminumnya, bandanku terasa segar sekali seolah tenagaku kembali muda, batinku juga menjadi tenang, selain itu arak ini benar-benar keras. Baru minum satu kendi setengah, kepalaku sudah kelinyengan, berputar-putar seolah-olah jiwaku dibawa terbang menuju surga.”


“Ha.. ha.. ha.. namanya juga arak khayangan. Air dari surga yang memiliki banyak khasiat. Tapi sayangnya arak itu tak bisa menumbuhkan kembali sepasang tangan dan kakimu, orang tua, apalagi mengembalikan bola matamu.” wajah Arya berubah karena mengingat sesuatu, “Ah, aku sampai lupa menanyakan, apakah gerangan sampai muridmu menjadi durhaka dan tega membuatmu sampai menderita sedemikian rupa seperti ini, kek.”


Kakek itu menarik nafas dalam-dalam seolah hendak mengurangi beban batinnya, “Dengar anak muda, gelarku adalah si Tua Sadis, sedangkan namaku adalah Li Chunfeng...”

__ADS_1


“Ah..” Kejut Arya.


“Ada apa anak muda? Tampaknya kau terkejut mendengar nama atau gelarku.. apakah kau pernah mendengar mengenai diriku?” tanya si kakek.


“Hmmm... Bukan apa-apa kek. Aku hanya terkejut karena rupanya kita memiliki marga yang sama, yaitu Li. Bukankah ini artinya kita memiliki ikatan keluarga?”


“Oh Dewa yang agung,” wajah si kakek terlihat kaget. “Bagus.. baguslah...”


“Bagus? Apanya yang bagus kek?”


Si kakek gelengkan kepala, lantas mengalihkan topik pembicaraan, “Selepas pertarungan itu, aku lalu mengasingkan diri bertapa di Gunung Bengcu sampai kemunculan Sung Tiang Le, manusia laknat itu. Mulanya aku menemukannya tengah sekarat dan nyaris saja dimakan siluman harimau. Karena tak tega, akupun segera menolongnya. Begitu dia siuman, aku melihat pada diri Sung Tiang Le, ia memiliki perangai yang baik, tutur katanya sopan, tindak tanduknya juga mencerminkan orang yang mengerti peradatan. Dia kemudian pamit padaku hendak mencari orang sakti untuk dijadikan guru, alasannya sederhana ia hendak belajar kultivasi karena ingin menjaga diri dari para perompak dan penyamun yang sering datang mengganggu desanya.” kakek ini menghela nafas, wajahnya tegang seolah-olah tengah marah.


“Sungguh aku bodoh terlalu mempercayai begitu saja ucapannya, atau mungkin dialah yang terlalu lihai bermain tipu muslihat memperdayaiku. Akhirnya aku mengajukan diri untuk mengangkatnya menjadi murid. Seiring waktu berjalan aku makin suka padanya, karena ku lihat sifatnya baik dan penurut, hingga aku tak keberatan mewariskan beberapa ilmu yang hebat kepadanya! Tapi siapa sangka kalau manusia itu sesungguhnya sudah sejak lama mendekam maksud jahat hendak menimbulkan bencana di atas alam mayapada ini. Maksudnya adalah untuk membangkitkan Raja Iblis! Berita ini aku ketahui setelah dia lama turun gunung, seiring waktu aku terus saja mendengar segala sepak terjangnya yang bertindak kejam diluaran.” si orang tua yang bernama Li Chunfeng menghela nafas panjang lalu melanjutkan,


“Seperti yang kau lihat sekarang, cucuku. Akhirnya aku memutuskan untuk turun gunung dan datang menemuinya untuk menyadarkannya dari kesesatannya! Tapi dengan ilmu yang aku ajarkan kepadanya, dia tiba-tiba menyerangku dengan cara licik. Dia bersikap seolah-olah meminta ampunan kepadaku dan bersedia menjalankan hukuman untuk ku ajak kembali ke gunung Bengcu, akan tetapi ketika aku lengah, tiba-tiba dia menotok tubuhku. Kedua tangan dan kakiku dipotong, kedua mataku dicongkel. Dalam keadaan tubuh masih tertotok aku diseret ke dalam ruang tahanan. Beberapa tahun lamanya dia menyekapku, dan baru beberapa bulan belakangan aku dibawanya ke negeri ini.” kakek ini mengulurkan tangannya yang buntung dan masih meneteskan darah, seolah sengaja memperlihatkannya kepada Arya.


“Ketahuilah cucuku, manusia laknat itu membiarkan aku terus hidup karena hendak menguras semua ilmuku serta energi Qi yang telah lama aku kumpulkan selama beratus-ratus tahun. Dengan meminum darahku, maka semua kemampuanku akan berpindah kepadanya. Namun untunglah aku masih memiliki cara agar dia tidak segera dapat memiliki semua kemampuanku sehingga sampai saat ini aku masih sanggup mempertahankan nyawaku.”


“Biadab! Anjing saja masih bisa membalas budi kepada tuannya. Belum pernah aku menemui manusia sejahat dia. Benar-benar laknat terkutuk!” kata Arya geram. “Orang tua, aku berjanji akan memecahkan kepalanya demi membalaskan sakit hatimu!”


Kakek tua itu mengangguk lemah.


“Kalau begitu aku mohon diri. Percayalah, aku akan membawa kepalanya ke hadapanmu. Tapi sebelumnya itu, sebaiknya ku selamatkan dulu engkau ke tempat yang aman. Aku khawatir tak dapat menahan diri untuk menghancurkan seluruh tempat ini.”


“Terima kasih... terima kasih, cucuku! Tak perlu engkau bawa diriku yang sudah cacat dan tak berharga ini. Tapi sebelum kau pergi, aku ada satu permintaan kepadamu.” kata orang tua itu dengan senyuman merekah dibibirnya.


“Katakan saja, kalau aku mampu dan selama permintaanmu tak menyalahi kebenaran, pasti akan aku usahakan.” sahut Arya dengan mantap.

__ADS_1


“Bagus!” kakek itu angguk-anggukan kepalanya, “Aku minta kepadamu, tikamlah jantungku! Cabutlah nyawaku...! Aku sudah terlalu menderita hidup di dunia ini. Biarkan jiwaku tenang di alam keabadian, atau bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih bermanfaat untuk menebus kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan selama diriku hidup di kehidupan ini.”


Sontak Arya terperanjat, sepasang matanya melebar memandangi kakek tua dihadapannya itu dengan perasaan tak percaya. Baru kali ini dia mendapati ada orang meminta sesuatu yang tak masuk akal. Minta dibunuh!


__ADS_2