
Situasi di dalam kerajaan kini sedang kacau setelah ditemukannya puluhan prajurit tewas tanpa diketahui siapa pelakunya. Hampir di setiap tempat para prajurit berbekal obor sedang melakukan penyelidikan dan pencarian. Keamanan di sekeliling istana dan tembok pertahanan di perketat, jalur masuk kawasan kerajaan juga ditutup.
Sebagian besar prajurit yang berjaga di sekitar istana adalah para prajurit kelas satu, kemampuan terendah mereka berada di tahap Pendekar Raja dan sisanya berada di tahap Pendekar Kaisar.
Tujuan mereka semua hanya satu, yakni melindungi keamanan para petinggi-petinggi kerajaan yang berada di dalam istana.
Situasi itu memaksa sebagian panglima turun tangan melakukan pencarian, sementara Raja Zhou Lun dan keluarga kerajaan di imbau agar tidak keluar dari istana, demi keamanan.
Sementara itu, di ruangan bawah tanah yang berada tidak jauh dari taman di belakang istana, para penyusup dari golongan aliran hitam masih melakukan pertemuan.
Tak... Tak... Tak...
Terdengar suara derap langkah kaki seseorang berjalan menuju ruangan pertemuan.
Semua orang yang berada di dalam ruangan pertemuan tersebut menatap ke arah pintu, menunggu siapa orang yang akan masuk.
Tak lama berselang terdengar suara pintu di ketuk sebanyak enam kali, lalu terdengar suara hentakan kaki sebanyak dua kali. Itu adalah sebuah kode.
Kriekk..
Barulah setelahnya pintu terbuka, terlihatlah seseorang yang berpakaian prajurit muncul dari balik pintu.
Orang yang baru saja masuk itu segera berlutut, memberi hormat. "Maaf tuan, aku datang membawa kabar penting."
Jenderal Luo Jing mengangguk, memberi isyarat agar orang itu menyampaikan informasi yang dibawanya.
"Situasi di luar saat ini sedang kacau, banyak prajurit yang ditemukan tewas, namun anehnya semua prajurit yang tewas itu semuanya adalah anggota kita."
Muka Jenderal Luo Jing menjadi buruk, begitu juga dengan ekspresi semua orang yang ada di dalam sana.
"Sudah kau selidiki siapa pelakunya?" Tanya menteri Yihong Duan, menatap prajurit yang berlutut di depan pintu tersebut dengan sorot matanya yang tajam.
"Maaf tuan, aku belum bisa memastikannya. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang kerajaan sudah mengetahui indentitas sebenarnya dari anggota kita."
Jenderal Luo Jing bangkit berdiri, dia menelangkupkan tangannya ke arah menteri Yihong Duan, "Tetua, aku akan keluar untuk menyelidiki hal ini."
__ADS_1
"Hati-hatilah, aku khawatir indentitas kalian juga sudah terbongkar." Menteri Yihong Duan menatap semua prajurit, gadis-gadis pelayan, dan para panglima. "Kalian sebaiknya keluar, cari pelaku pembunuhan itu! Jika memang orang-orang kerajaan telah mengetahui indentitas kita, maka segeralah kabarkan pada semuanya untuk bergerak menyerang."
Kini di ruangan tersebut hanya tinggal menteri Yihong Duan dan tiga menteri lainnya.
"Kenapa kau terus saja menunda penyerangan? Apa yang sebenarnya kalian khawatirkan?" Tanya salah seorang menteri yang berbadan gemuk dan berbibir tebal. Dia bernama Huang Kun.
"Aku sedang menunggu perintah dari Patriark. Lagipula anggota kita yang berada di kerajaan Goading dan Dasha juga belum bergerak melakukan penyerangan." Jawab Yihong Duan.
"Lalu untuk apa kalian mencari bantuan dari kami jika hanya untuk terus menunggu dan menunggu seperti ini. Aku sudah tidak sabar ingin meminum darah gadis itu." Ucap pria berbadan kurus semampai, berwajah pucat dan berkumis tebal. Orang itu adalah menteri pertanahan yang bernama Cao Song.
Yihong Duan tersenyum kecut, dia tahu siapa gadis yang dimaksudkan itu. Gadis itu tidak lain adalah Putri Zhou Jing Yi. Menurut yang di ketahuinya, Putri Zhou Jing Yi memiliki darah murni yang di kenal sebagai darah kijang putih.
Darah kijang putih sangat istimewa bagi bangsa hewan iblis, meminumnya dapat meningkatkan kultivasi dengan sangat cepat. Selain itu, darah kijang putih juga dapat membuat mereka abadi dan kebal terhadap segala jenis racun serta elemen cahaya yang memang adalah kelemahan terbesar mereka.
Yihong Duan akan membuka suara sebelum tiba-tiba ketiga orang yang bersamanya bangkit berdiri.
"Aura siluman! Apa kalian juga merasakannya?" Huang Kun menatap kedua temannya yang berdiri di sampingnya.
Cao Song dan satu orang lainnya yang bernama Chai Yan mengangguk, tatapan mereka tertuju ke arah pintu.
****
"Aku merasakan masih banyak aura kegelapan dan aura hewan iblis yang berkeliaran disini. Kau pergilah sendiri ke ruangan bawah tanah itu, aku akan membereskan mereka semua." Honglong berkata dengan penuh percaya diri, tersungging seringai tipis di bibirnya yang kini masih menggunakan wujud aslinya. Yakni seekor tupai kecil yang menggemaskan juga menyebalkan.
Namun sebelum Honglong hendak melesat turun, Hulao sudah mencengkram tubuhnya sehingga tubuh tupai kecil itu sepenuhnya berada di dalam genggaman tangan Hulao.
"Tuan menyuruh kita berdua pergi ke ruangan bawah tanah, jadi bukan hanya aku yang harus pergi ke sana, tapi kau juga harus ikut bersamaku tupai tengik."
Selesai berkata demikian, Hulao langsung melesat menuju bangunan besar yang berada di ujung taman di belakang istana.
Honglong nampak kesal, "Bilang saja kau takut pergi ke sana sendirian. Dasar pengecut." Umpatnya sambil berusaha melepaskan diri.
Di antara pepohonan yang tidak terlalu lebat, dari kegelapan terlihat beberapa orang berjalan nampak mengendap-endap, lalu berpencar memisahkan diri.
"Hei tunggu! Sepertinya orang-orang itu baru saja keluar dari bangunan itu." Seru Honglong sambil memutar kepalanya berusaha menatap Hulao.
__ADS_1
Hulao sendiri sudah mengetahui keberadaan orang-orang itu, namun dia tampak acuh dan terus terbang menuju bangunan yang memiliki sedikit penerangan. Di depan pintu masuk bangunan itu, terdapat beberapa prajurit yang berjaga.
Dengan kecepatannya yang luar biasa, Hulao membunuh semua penjaga disana hanya dalam satu kedipan mata. Lalu diapun berjalan memasuki pintu bangunan itu.
"Hei, lepaskan aku. Kita sudah berada disini, kenapa kau masih memperlakukanku seperti ini." Rutuk Honglong sambil berusaha menggeliatkan tubuhnya yang masih berada dalam kepalan tangan Hulao.
"Aku akan melepaskanmu sesudah kita menemukan ruangan bawah tanah yang dimaksudkan itu."
Butuh waktu untuk akhirnya Hulao menemukan patung yang di maksudkan Arya. Maka tanpa membuang waktu lagi, diapun mulai menggerakkan satu persatu patung yang ada di dalam ruangan tersebut.
Sreekktt..
Bersamaan dengan suara patung tergeser, lantai yang berada di belakang patung itu terbelah. Terlihatlah sebuah lubang gelap yang menjorok ke dalam, lubang gelap itu nampak seperti sumur.
Hulao berjalan ke tepi lubang di lantai tersebut, dia mengamatinya sesaat lalu terjun ke dalamnya. Ternyata lubang itu lumayan dalam, sehingga hanya orang-orang yang memiliki kemampuan meringankan tubuh yang tinggi, yang dapat keluar masuk lubang ini.
Sesampainya di dasar, Hulao dapat melihat di sekeliling dinding lubang itu terdapat sebuah lorong yang sangat gelap. Maka diapun lantas memasukinya, tidak sulit bagi Hulao untuk melihat di kegelapan.
Di ujung lorong bawah tanah ini, mereka melihat adanya cahaya di sela-sela bawah pintu.
"Sepertinya mereka sudah mengetahui kedatangan kita." Tepat setelah berkata demikian, Hulao menghentakkan tangan kirinya ke depan, serangkum angin menderu menghancurkan pintu di ujung lorong tersebut.
Braakkk...
Serpihan pintu kayu yang hancur terhempas, sebagian mengarah ke tempat orang-orang yang ada di dalam sana.
Huang Kun mengibaskan tangannya, kobaran api dari sapuan tangannya melesat menyongsong serpihan kayu yang menuju ke arah mereka. Serpihan-serpihan kayu itupun terbakar di udara sebelum lenyap menjadi abu.
"Ada urusan apa siluman seperti kalian datang kemari, ikut campur urusan kerajaan!"
Terdengar suara bentakan dari dalam, yang membentak adalah Cao Song.
Tanpa berkata apapun, Honglong yang sudah terlepas dari genggaman Hulao langsung berkelebat masuk ke dalam ruangan, melancarkan serangan.
Duarr...
__ADS_1
Benturan energi dari pukulan yang dilancarkan Honglong menghantam salah seorang disana, ledakan keras membahana menggetarkan seluruh ruang bawah tanah.
Nyala obor yang menjadi penerangan ruangan seketika padam, kini suasana menjadi gelap mencekam. Suara dentuman ledakan energi itu masih menggema berulangkali mengganggu pendengaran.