
Sejenak mereka saling berdiam diri. Dalam terpaan sinar bulan purnama, ketiga orang ditepi jurang itu tampak tegak seperti patung.
Gadis cantik yang membawa payung hitam terlihat mengerenyit. Ia sedang berusaha membaca tingkat kultivasi pemuda dihadapannya yang berjuluk Pendekar Naga Emas itu, “Pendekar Pertapa! Hmm.. bagaimana orang selemah ini dapat membantuku merebut Pusaka Pedang Es Abadi. Mungkin aku salah orang..” pikirnya.
Tanpa disadari oleh si gadis, rupanya Arya diam-diam mengerahkan tekniknya untuk mencuri pikiran gadis yang berjuluk Ratu Bunga Asmara itu. Ia tersenyum kecut setelah mengetahui apa tujuan gadis ini mencarinya.
Sementara itu, Nie Zha menjadi semakin berdebar-debar, tetapi debaran hatinya kali ini bukan lantaran karena terpukau oleh pesona Arya seperti sebelumnya. Namun debaran ini lebih kepada perasaan jengkel karena dilihatnya Arya dan gadis yang baru saja datang itu saling pandang tak berkedip. Kecemburuan tiba-tiba merayapi hatinya. Tidak bisa dipungkirinya bahwa paras Ratu Bunga Asmara memang lebih cantik darinya, lekuk tubuhnya juga sangat menggiurkan. Bagian bawah samping sampai ke pinggul terbelah di kedua sisi-nya memperlihatkan betis hingga pangkal pahanya yang mulus. Selain itu pakaian di sebelah atas terlalu rendah hingga belahan kedua dadanya menyembul putih menantang membuat belingsatan laki-laki yang memandangnya.
Semua ini membuat Nie Zha menjadi jengkel dan jengah karena berfikiran bahwa pandangan Arya terhadap gadis itu ialah pandangan seorang lelaki yang terpesona akan keindahan tubuh wanita.
“Bodoh, ada apa denganku?! Memang semua laki-laki sama saja! Tak bisa melihat tubuh gadis cantik langsung terpikat.. huh..” batin Nie Zha dengan wajah tertekuk dan alis berkedut-kedut.
Kedua orang yang berdiri beberapa tombak saling pandang itupun, kemudian salah seorang diantaranya berkata, “Benar, walaupun aku heran bagaimana kau bisa tahu namaku, namun benar aku adalah Jian Yie atau Ratu Bunga Asmara. Kedatanganku kemari memang untuk menemuimu.” ucap Ratu Bunga Asmara dengan lembut dan tersenyum menggoda.
Arya tidak segera menyahut. Matanya melirik ke arah Nie Zha yang berdiri disampingnya. Wajah gadis itu tampak jelas menggambarkan kekesalannya, namun demikian Nie Zha tidak dapat berbuat lain daripada hanya berdiam diri saja, dia ingin tahu apa maksud gadis yang tiba-tiba muncul itu menemui Arya. Diam-diam Nie Zha telah menyiapkan diri, kalau-kalau gadis itu adalah musuh yang hendak mencari perkara dengan mereka.
Dengan menganggukkan kepalanya Arya berkata, “Menemuiku untuk urusan apa?”
Ratu Bunga Asmara tersenyum menawan, lalu katanya, “Terus terang aku tak suka bicara banyak. Kedatanganku kemari adalah ingin mengajakmu bekerjasama untuk menghancurkan Sekte Iblis Berdarah.”
Arya pura-pura unjukkan wajah kaget. Padahal jelas-jelas dia telah mengetahui maksud kedatangan Ratu Bunga Asmara itu berikut dengan tujuannya yang menginginkan Pedang Es Abadi dari tangan Patriark Pao Shoawen.
Sejenak mereka terdiam. Dan suasana pun menjadi hening sepi. Yang terdengar adalah silirnya angin perbukitan menyentuh dedaunan.
Tetapi sebelum Arya menentukan sikapnya, tiba-tiba terdengar kokok ayam di kejauhan saling bersahut-sahutan seperti merasakan sesuatu alamat yang tidak enak. Suasana berubah menjadi suram seakan-akan tercekam oleh suasana yang sunyi dan rawan.
Air muka Arya berubah pula, dan lalu katanya, “Tampaknya kau datang bukanlah seorang diri!”
Ratu Bunga Asmara hanya tersenyum mengangguk.
__ADS_1
Tak lama berselang, dari balik keremangan pohon berkelebat muncul tiga sosok bayangan.
Ketiga sosok tersebut berhenti di samping Ratu Bunga Asmara. Mereka bukan lain adalah tiga bersaudara. Yang dalam rimba persilatan Kekaisaran Tang dijuluki Tiga Pembawa Maut. Walau mereka memiliki tingkat kesaktian yang sangat tinggi dan sangat ditakuti. Namun sudah cukup lama mereka menjadi kaki tangan Ratu Bunga Asmara. Mereka tak berdaya dalam pengaruh sihir gadis itu.
Yang paling tua bernama Bu Tong Sit memiliki wajah, rambut dan kulit berwarna merah. Sedangkan saudaranya yang kedua bernama Bu Tong Siok berambut hijau, wajah dan sekujur tubuhnya juga berwarna hijau. Dan yang bungsu bernama Bu Tong Pay sekujur tubuh dan rambutnya berwarna biru dan memiliki jari tangan aneh seperti capit kepiting.
Ketiga bersaudara itu cepat-cepat bungkukkan badan, menjura penuh hormat kepada Ratu Bunga Asmara.
“Yang Mulia, benarkah pemuda ini yang anda maksud?” bertanya Bu Tong Pay.
Memang sudah sepekan dia bersama dua saudaranya berpencar mencari keberadaan Naga Emas. Dalam pencariannya tersebut, ia tak sengaja melihat pemuda berambut kuning seperti ciri-ciri yang pernah diterangkan oleh Ratu Bunga Asmara. Maka diapun mengikuti Arya untuk beberapa saat, lalu segera menyampaikan perihal pemuda itu kepada Ratu Bunga Asmara.
Melihat kemunculan ketiga orang berpenampilan angker tersebut, meremanglah bulu kuduk Nie Zha. Reflek dia merapatkan diri kepada Arya. Dada gadis ini menjadi bergetar. Sekali lagi dipandanginya wajah ketiga orang itu. Baginya ketiga orang itu lebih mirip binatang daripada manusia. Tidak pernah seumur hidupnya melihat sosok se-mengerikan itu.
Tiba-tiba Ratu Bunga Asmara melangkah maju, menghampiri Arya sambil membungkuk hingga memperlihatkan dadanya yang putih kencang bergelayutan.
Nie Zha yang risih serta jengah atas sikap genit Ratu Bunga Asmara terhadap Arya, segera melangkah maju. Ia merasakan adanya sesuatu energi aneh yang memancar dari sorot mata Ratu Bunga Asmara itu ketika memandangi Arya.
Benar saja, saat itu Ratu Bunga Asmara memang diam-diam sedang mengerahkan sihirnya untuk menundukkan Arya. Namun perbuatan Nie Zha telah membuyarkan fokusnya.
Ratu Bunga Asmara nampak mengerutkan dahi sambil memandangi Nie Zha dengan raut wajah tidak suka. Dia berfikir bahwa gadis itu adalah kekasih sang pemuda. Mengingat pesan dari gurunya agar tidak menyinggung Naga Emas, maka diapun berusaha menyembunyikan ketidak-sukaannya pada gadis itu. Dia tersenyum lembut membalas ekspresi tidak bersahabat dari Nie Zha. Baginya yang terpenting sekarang adalah untuk mendapatkan bantuan dari pemuda itu agar mau bergabung dengannya.
Nie Zha menoleh ketika bahunya terasa di sentuh oleh seseorang, didapatinya Arya menggeleng lalu berkata,
“Beri aku kesempatan bicara dengannya, Nie Zha.”
Dengan napas terhempas menahan dongkol dan wajah sedikit cemberut, akhirnya Nie Zha melangkah mundur. Membiarkan Arya menyelesaikan urusannya dengan gadis liar dihadapannya itu.
Arya tersenyum menatap Nie Zha, entah kenapa melihat wajah Nie Zha yang sedang cemberut seperti itu, dia merasa gadis itu terlihat lebih manis dan menggemaskan.
__ADS_1
Nie Zha agaknya benar-benar tak suka pada Ratu Bunga Asmara. la punya kecemasan sendiri yang menimbulkan rasa tak suka di hatinya. Sorot mata Ratu Bunga Asmara terhadap Arya menimbulkan kegelisahan baginya.
“Aku memang sebenarnya juga memiliki urusan dengan Sekte Iblis Berdarah.. tapi maaf, aku tak bisa bergabung dengan kalian. Jika kalian menginginkan sesuatu dari sekte itu, kalian usahakanlah sendiri.” ucap Arya dengan tenang.
Tampak Ratu Bunga Asmara kecewa atas jawaban Arya.
“Hem,” gadis ini menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Jangan membuat kami kecewa supaya kami dapat berbuat sebaik-baiknya atas dirimu. Kau harus membantu kami seperti kami akan membantumu. Kami memerlukan orang sepertimu. Percayalah kau tak akan menyesal jika bekerja-sama dengan kami, aku memiliki banyak pasukan dan aku tidak akan sayang mengorbankan pasukanku untuk kepentingan kita.”
Nie Zha mendengarkan kata-kata Ratu Bunga Asmara itu dengan wajah yang tegang. Sepercik pikiran timbul di dalam hatinya. Bukankah akan sangat menguntungkan jika saat-saat seperti ini mereka mendapat kekuatan pendukung.
Arya menggeleng pelan, ia tidak dapat menerima permintaan Ratu Bunga Asmara apapun keuntungan yang didapatkannya. Lagipula dengan kemampuannya saat ini serta pasukannya siluman-siluman miliknya dia sudah sangat yakin dapat mengalahkan Sekte Iblis Berdarah. Dia sudah membaca rencana dari Ratu Bunga Asmara. Ia yakin bahwa Ratu Bunga Asmara dan orang-orangnya bukanlah orang yang dapat dipercaya. Besar kemungkinan mereka akan menusuk dari belakang atau perbuatan apapun yang akan mencelakakannya.
“Maaf, aku tetap pada pendirianku. Kepentinganku menyerang mereka lantaran untuk menegakkan kedamaian di negeri ini. Aku tidak ingin membantu seseorang yang memiliki pamrih. Luarnya saja ingin bekerjasama, namun didalamnya terselubung tujuan untuk merebut pedang pusaka.” ucap Arya dengan tegas.
Ratu Bunga Asmara terkejut mendengar tanggapan Arya itu. Dia tak menyangka bagaimana pemuda dihadapannya itu dapat mengetahui rencananya. Karenanya, maka segera wajahnya menjadi tegang. Suaranyapun menjadi tegang pula. Katanya, “Dari mana kau tahu aku mengincar pedang pusaka yang dimiliki mereka?”
Diam-diam Ratu Bunga Asmara menduga bahwa Arya sebenarnya juga mengincar Pedang Pusaka Es Abadi.
Arya tersenyum kecut, lalu katanya dengan sinis, “Tidak penting aku tahu darimana.. jika kau memang mengincar Pedang Pusaka itu, maka usahakanlah sendiri, sebelum pusaka itu terlebih dulu jatuh ke tanganku. Aku tahu apa yang menyebabkan kau sangat menginginkan pusaka itu. Dengan pedang pusaka itu kau berniat menguasai rimba persilatan di seluruh benua daratan ini serta untuk mengangkat diri menjadi Ratu di kerajaan Es. Katakanlah apa kata-kataku ini salah?”
Wajah Ratu Bunga Asmara menjadi merah. semerah bara. Untunglah awan menutupi sinar bulan purnama, membuat suasana menjadi remang-remang telah melindunginya, sehingga perubahan wajahnya itu tidak terlihat jelas. Namun demikian terasa dadanya bergetar dan suaranyapun gemetar pula. “Pendekar Naga Emas, kau terlalu berprasangka. Aku menginginkan Pedang Pusaka itu karena memang seharusnya pusaka itu menjadi milik kami.”
Mendengar jawaban Ratu Bunga Asmara, Arya tiba-tiba tertawa. Dengan menengadahkan wajahnya ia berkata, “Terserah kau saja mau memakai segala macam alasan untuk menutupi niat busukmu. Tapi, ku tegaskan sekali lagi, aku tak akan bergabung dengan kalian.” Arya menurunkan pandangannya, menatap Ratu Bunga Asmara, “Kau sudah mendengar sendiri apa yang menjadi keputusanku.. sekarang kalian pergilah!”
Ketiga Pembawa Maut yang sedari tadi berdiri diam seperti sebatang tonggak mati dan hanya mendengarkan pembicaraan tersebut. Tiba-tiba terhuyung-huyung karena suara tertawa Arya yang mengandung tekanan energi luar biasa kuat. Suara tawa itu meledak hampir memecahkan gendang telinga mereka. Mereka terkejut bukan main, segera saja melompat mendekati Ratu Bunga Asmara. Ditatapnya wajah pemuda itu tajam-tajam.
Tubuh Ratu Bunga Asmara menjadi gemetar menahan marah. Meskipun demikian ditenangkannya hatinya sejauh mungkin. Ia masih mengharap Arya menerima permintaannya. Ia hendak membuka mulut namun Arya sudah lebih dulu memotong,
“Mengapa masih berada disini?” pemuda itu mulai menunjukkan wajah serius, “Oh, rupanya kalian tidak terima atas penolakanku.”
__ADS_1
Arya angguk-anggukan kepalanya, lalu sambungnya, “Jika kalian hendak memaksaku, baiklah aku akan dengan senang hati melayani kalian.”