
Walau saat itu sudah lewat tengah hari namun keadaan di danau itu diselimuti kegelapan mencekam. Langit hitam kelam ditebali awan hitam mendung. Angin bertiup kencang mengeluarkan suara aneh. Udara sangat dingin membungkus tempat itu. Ditambah dengan gelegar guntur yang sesekali ditimpali sambaran petir membuat suasana benar-benar menggidikkan.
Selain itu, masih ada keanehan lainnya, energi disana seperti tersedot ke satu titik, yakni pulau kecil yang ada di tengah-tengah danau tersebut.
Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan Arya yang dapat merasakan keanehan itu, menjadi penasaran dengan apa yang ada di pulau tersebut. Karenanya perhatian mereka kini tercurah ke pulau di tengah danau itu.
Heng Dao yang dapat menangkap gelagat mereka nampak tersenyum. Dan lalu menenggak araknya. “Gluuukk..”
Akhirnya langkah mereka berhenti di tepi danau, kemudian kelihatan si kakek yang berdiri paling depan, sambil terbungkuk memutar tubuhnya menghadap mereka. Si kakek mengguratkan senyuman dan lantas berkata,
“Ku rasa tidak ada perlunya lagi aku menyamar dihadapan kalian.”
Alangkah terkejutnya, jenderal Sun Jian, Putri Zhou Jing Yi dan tabib tua Heng Dao ketika melihat si kakek bungkuk itu tiba-tiba berubah menjadi seorang dara cantik jelita berpakaian hijau. Pakaiannya yang terbuka lebar, mempertontonkan buah dadanya yang menyembul bulat putih menggoda.
Arya melirik gadis berbaju hijau itu sekilas. Pandangannya lalu dipalingkannya kembali ke tengah danau yang airnya mengeluarkan riak seolah mendidih.
“Setelah memasuki danau ini, kalian akan tiba di kerajaan kami.” Berkata si gadis berbaju hijau. “Ku harap kalian bisa menjaga sikap..” si gadis memandangi Arya, ia khawatir pemuda itu tidak bisa menjaga sikapnya seperti yang sudah-sudah.
Seolah tahu sedang diperhatikan, Arya tampak membuat gerakan. Perlahan sekali kepalanya dipalingkan ke kiri ke arah gadis berpakaian hijau. Untuk sesaat, keduanya saling bertatapan. Dan untuk pertama kali dalam hidup si gadis, ia merasakan getaran dihatinya saat memandang mata yang bagus bening dan bersinar penuh wibawa itu. Getaran yang tak dimengertinya, tetapi membuat hatinya berbunga-bunga.
Si gadis berbaju hijau tersebut, tersentak dan segera palingkan mukanya yang memerah saat didengarnya Arya berkata, “Kenapa kau melihatku seperti itu?”
Gadis berbaju hijau tak segera menjawab. Untuk menutupi gejolak dihatinya, ia memutar tubuhnya menghadap danau.
“Hmmmm... Akhirnya tugasku selesai juga. Sudah saatnya aku kembali.” Desis si pemuda. Meski pelan namun cukup didengar semua yang ada di sana.
Kilat menyambar. Sekilas suasana menjadi terang benderang. Guntur menggelegar seperti merobek telinga dan menghancurkan jantung. Air danau tampak beriak keras dan kepulan asap semakin tebal bergulung ke udara. Cahaya kilat lenyap dan tempat itu kembali dibungkus kegelapan.
Pada saat kilat menyambar barusan, Putri Zhou Jing Yi sekilas melihat Arya lenyap namun sekedipan mata kemudian pemuda itu kelihatan kembali. Namun yang mengherankan ialah pemuda itu saat ini memakai pakaian yang berbeda. Pakaian jubah biru dengan dalaman baju putih dan celana berwarna putih pula. Jika sebelumnya rambut pemuda itu terikat ke belakang, tetapi sekarang rambut panjang pemuda itu berkibar-kibar tertiup angin.
Semua orang memandangi Arya dengan terheran-heran. Si gadis berbaju hijau yang tadinya berniat bertanya maksud dari ucapan si pemuda, serta-merta menjadi terbengong memandangi pemuda itu dari atas sampai bawah.
Si pemuda menyunggingkan senyuman menawan, membuat hati gadis berbaju hijau menjadi kian berdebar-debar. Tapi kemudian si pemuda memalingkan pandangannya, dua matanya yang tajam bagus memandang ke tengah danau tanpa berkedip.
“Sepertinya sesuatu di sana telah menarik perhatianmu..” Terdengar suara si gadis berbaju hijau.
Arya mengangguk, ia kembali menyunggingkan senyuman kepada si gadis. “Bolehkah aku ke pulau itu, ada sesuatu yang ingin aku pastikan disana.”
“Maaf tuan, pulau itu tidak bisa di kunjungi sembarang orang. Tapi jika anda memang benar-benar ingin ke sana, lebih baik mintalah izin kepada Ratu. Mudah-mudahan beliau mengizinkannya.”
“Terimakasih, selain cantik ternyata kau juga gadis yang..”
Arya putuskan ucapannya ketika tiba-tiba dari bawah permukaan danau melesat keluar dua sosok tubuh berpakaian biru dan kuning. Dan keduanya ternyata adalah sepasang dara berparas cantik jelita, berkulit sangat putih seperti berkilauan ditimpa sinar matahari.
Yang membuat Arya jadi menahan nafas adalah pakaian kedua gadis ini. Sisi kiri baju panjang yang dikenakan dua gadis tersebut terbelah tinggi sampai ke pangkal pahanya, hingga sebagian auratnya kelihatan terpampang ketika sapuan angin menyibakkan baju mereka!
Sesaat Arya tegak tertegun. Sementara Jenderal Sun Jian membuka mulutnya lebar-lebar, sepasang matanya berbinar-binar tak berkedip memandangi kedua gadis tersebut.
“Uhuukk.. uhuuuukk.. uhuukk..” Heng Dao tersedak sampai menyemburkan araknya sangking kaget juga terkesima melihat kemunculan dua gadis itu.
Setelah mendarat di tepi danau, kedua gadis itu langsung memandangi Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian, Heng Dao, dan Arya bergantian. Pandangan mereka untuk beberapa lamanya terpaku menatap paras si pemuda. Mereka tersadar ketika di dengarnya gadis berbaju hijau menegur.
“Kedatangan kalian pasti untuk menjemput kami. Maaf jika kami tidak langsung masuk dan justru malah berlama-lama berada disini.”
Gadis berbaju kuning masih menatap Arya, tapi sorot matanya berubah tajam. “Jadi kau yang bernama Tabib Xian?”
“Oh, ternyata kau sudah mengenalku. Sebentar-sebentar, aku ingat-ingat dulu...” Arya menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke kening, sambil mengamati wajah gadis berbaju kuning dengan teliti.
Si gadis yang ditatap, menjadi berdesir dadanya. Tapi seolah tak mau kalah, ia balas melototi si pemuda.
__ADS_1
“Maaf, aku benar-benar sama sekali tidak ingat. Ku rasa baru sekarang kita bertemu..” Ucap Arya kemudian.
“Memangnya siapa bilang kita pernah bertemu sebelumnya?” tukas si gadis berbaju kuning ketus.
Arya manggut-manggut, sambil menaikkan alisnya ia berkata, “Lalu kenapa kau bisa mengenali namaku?! Apa jangan-jangan kau menaruh hatiku padaku, hingga diam-diam mencari tahu keterangan tentang diriku. Ayo ngaku..!”
Menjadi geram lah si gadis berbaju kuning. Ia menggertakkan giginya sambil mengepalkan tinju. Sementara itu, gadis berbaju hijau dan biru tampak senyum-senyum. Tetapi ketika merasakan pancaran energi yang mengeruak keluar dari tubuh gadis berbaju kuning, maka buru-buru kedua gadis itupun menahan pundak si gadis berbaju kuning agar emosinya tidak semakin meledak-ledak.
“Mendung menutup matahari,
Semilir angin membuai hati yang sepi,
Biarkan langit menjadi saksi,
Kehidupan memang terkadang lucu sekali,
Biasanya lelaki yang mengejar gadis pujaan hati,
Tapi sekarang si gadis yang mengejar sang lelaki.”
Arya mengumandangkan syair, lalu diakhiri dengan bersiul-siul sambil menarik turunkan alisnya memandangi si gadis berbaju kuning.
Diam-diam gadis berbaju kuning hanyut dalam kebahagiaan yang belum pernah dirasakannya. Namun dia cepat mengendalikan diri. Perlahan-lahan dia melangkah mundur. “Suaramu tidak sedap masuk ke telingaku. Kalau kau bukan orang yang ditunggu Ratu, ingin rasanya saat ini ku gampar mulutmu dan menendangmu agar angkat kaki dari tempat ini...”
Semua orang memandangi Arya dengan ekspresi berbeda-beda. Bagi Jenderal Sun Jian, Putri Zhou Jing Yi dan tabib tua Heng Dao, sikap Arya memanglah sangat aneh dan tak dapat di tebak. Pemuda itu kadang beringas seperti hewan buas yang kelaparan, kadang pendiam, kadang baik, kadang sopan, dan sekarang dilihatnya pemuda itu juga lihai menggoda seorang gadis.
“Qian si, Qian Fei, Qianqiao, apa yang kalian lakukan! Cepat bawa mereka kemari!”
Tiba-tiba terdengar suara menggema seantero danau. Dan ketika suara itu reda mendadak kilat menyambar. Laksana sebilah pedang raksasa yang menderu dari atas langit, kilat tersebut menghantam danau. Air danau berubah menjadi panas, mencuat sampai puluhan tombak! Seluruh tempat tersebut laksana dilanda gempa ketika guntur menyusul menggelegar.
Ketiga gadis yang namanya disebut nampak pucat dan gemetaran. Dengan nada bergetar, gadis berbaju hijau yang bernama Qianqiao menyahut, “Maafkan kami ratu.. sekarang juga kami akan membawa mereka kehadapan anda.”
“Kenapa Ratu kalian menjadi marah?! Apakah sepenting itu kehadiran kami sehingga ratu kalian menjadi tidak sabaran seperti itu.”
“Aku tidak tahu, mungkin ratu memiliki kepentingan pribadi dengan kalian. Sebaiknya lekas kita masuk ke dalam air.” Balas Qianqiao.
“Kau menyuruh kami masuk ke dalam danau! Apa aku tidak salah mendengar.” Tukas Putri Zhou Jing Yi, dilihatnya gadis berbaju hijau itu tersenyum mengangguk,
“Kau tidaklah salah dengar. Memang kerajaan kami ada di dasar danau ini. Karena itulah kerajaan kami di namakan Kerajaan Danau Lembah Peri.”
Dan gadis itu melanjutkan, “Sebagai seorang pendekar, tentunya kalian dapat menahan nafas beberapa lama dalam air. Jangan buang-buang waktu lagi, mari ikuti kami.”
Demikianlah, akhirnya mereka satu persatu melangkah ke dalam danau. Makin dalam, makin dalam hingga mereka semua lenyap dari pemandangan!
Ternyata danau itu sangat dalam. Semakin lama mereka menuju ke bawah, maka semakin kabur lah penglihatan mereka karena cahaya dari permukaan danau semakin menipis serta tekanan air yang semakin kuat.
Arya mengamati sekeliling, dia dapat merasakan keberadaan makhluk yang berjumlah banyak tak terlalu jauh darinya. Pemuda ini kemudian menoleh ke belakang, dilihatnya muka Putri Zhou Jing Yi menjadi pucat.
“Apa kau baik-baik saja tuan putri?”
Sungguh mengherankan, di dalam air pemuda itu dapat berbicara layaknya didaratan. Memang sedari kecil Arya sudah berlatih menahan nafas berjam-jam di dalam air, karena itulah ia sama sekali tidak merasakan tertekan apalagi kehabisan nafas. Jangankan berada di dalam air, di luar angkasa saja ia dapat bertahan, bernafas bahkan berbicara.
Mengerutlah dahi Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan Heng Dao mendengar perkataan si pemuda. Mereka jelas mendengar pemuda itu berbicara dengan suara yang keluar dari mulutnya. Bukan dari gelombang energi yang di kirimkan ke pikiran.
Dan nampak lah Arya berhenti, menunggu putri Zhou Jing Yi mendekat. Ketika sang putri sudah berada di sampingnya, ia langsung menekan punggung gadis itu.
Aneh seperti di dorong oleh sebuah energi, tubuh Putri Zhou Jing Yi tiba-tiba tidak merasakan tekanan seperti sebelumnya. Ia nyaris tak percaya kalau tidak mengalami sendiri bagaimana dirinya bisa melangkah bahkan melayang di dalam air, bahkan juga dapat bernafas seolah-olah dia berada di udara terbuka saja!
Hanya pemandangannya saja yang masih terasa agak berkabut dan matanya sedikit perih. Namun beberapa saat kemudian dia mampu melihat seterang di luar. Hal ini tak lain karena totokan aneh yang dilakukan Arya pada bagian punggungnya.
__ADS_1
Putri Zhou Jing Yi hendak membuka mulut untuk menanyakan sesuatu. Tapi ia segera sadar jika berada di dalam air, dan khawatir air masuk ke dalam mulutnya, maka iapun kancing mulutnya rapat-rapat.
Arya yang melihat itu, tertawa mengekeh. Pemuda ini kemudian mendekati jenderal Sun Jian, menotok punggungnya, setelahnya ia melakukan hal yang sama terhadap si tabib tua Heng Dao.
Setelah melayang beberapa lama di dalam air danau, akhirnya sebentar lagi mereka akan mencapai dasar. Di dasar sana mereka dapat melihat sebuah bangunan besar yang memiliki beberapa atap-atap tinggi berbentuk kerucut dan dikelilingi tembok pertahanan seperti halnya tembok pertahanan pada sebuah kerajaan umumnya.
Ketika hampir mencapai bangunan besar tersebut, dua orang terlihat melesat dari depan tembok pertahanan. Ternyata mereka adalah dua orang gadis, masing-masing berpakaian merah dan cokelat. Sebentar saja mereka sudah sampai dihadapan tiga gadis yang menuntun jalan bagi Arya dan yang lainnya.
Kemudian terdengar gadis berpakaian merah berkata,
“Ikuti kami...”
Dua gadis tadi memandang sesaat pada Arya, lalu berbalik dan berenang mendahului menuju ke gerbang besar.
Begitu sampai di depan gerbang, keduanya berpisah menuju sudut gerbang kiri dan kanan. Tampaklah kedua gadis ini memasukkan sesuatu ke sebuah lobang yang terdapat di tiang penyangga gerbang tersebut.
“Silahkan masuk.. Selamat datang di kerajaan danau lembah peri.” berkata gadis berbaju merah, yang bukan lain adalah penjaga gerbang.
Tiga gadis berbaju kuning, hijau dan biru mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka memberikan isyarat menyuruh Arya dan yang lainnya masuk terlebih dahulu.
Ketika mereka memasuki gerbang, air danau serta merta lenyap. Diantara mereka berempat, hanya Putri Zhou Jing yang pakaiannya basah kuyup. Arya memandang ke dalam, dia dapat melihat sebuah ruangan yang memiliki puluhan tiang di sisi kiri kanan. Lantainya beralaskan permadani dan jauh di ujung sana ada sebuah kursi besar di bawah dua buah payung.
“Baru kali ini aku melihat kerajaan bawah air. Aku tak habis pikir bagaimana bisa mereka dapat bertahan hidup disini. Ilmu apa yang mereka gunakan.” Berkata Putri Zhou Jing Yi, ekor matanya melirik kesana kemari.
Ketika Putri Zhou Jing Yi hendak berbicara lagi, gadis berbaju hijau sudah mendatangi dan berkata, “Marilah, masuk.”
Gadis berbaju hijau itu tersenyum memperhatikan Arya. Sebenarnya dia heran ketika mendengar pemuda itu dapat berbicara di dalam air. Namun mengingat kemampuan si pemuda, dia dapat memakluminya. Gadis ini memberi isyarat agar mereka mengikutinya.
“Sebenarnya makhluk macam apa gadis-gadis disini? Apakah mereka semua siluman?” Desis Putri Zhou Jing Yi.
Gadis berbaju hijau yang bernama Qianqiao mengantarkan mereka ke ruangan masing-masing.
“Di dalam kamar ada seperangkat pakaian. Sebagai tamu, kalian harus mengikuti aturan disini. Sebelum menemui ratu, kalian di haruskan memakai pakaian yang disediakan.”
Putri Zhou Jing Yi menatap Arya untuk melihat tanggapan pemuda itu. Dan dilihatnya si pemuda mengangguk. Sang putri yang memang pakaiannya basah kuyup segera memasuki kamar yang disediakan untuknya. Kemudian menyusul jenderal Sun Jian yang juga memasuki ruangannya, begitupun dengan Tabib tua Heng Dao.
Disana hanya tinggal Arya dan gadis berbaju hijau. Si gadis memandangi pemuda tersebut dengan alis terangkat naik.
“Ada apa Tabib Xian, kenapa kau masih berdiri disini?”
“Lalu aku harus apa?” sahut si pemuda.
“Tadi sudah aku terangkan, kau harus mengganti bajumu.” sunggut si gadis.
“Ooh.. tapi aku ingin kau yang melepaskan pakaianku ini, serta kau pula lah yang memasangkan pakaian yang disediakan untukku itu. Bagaimana?”
Tanpa diduga-duga oleh si gadis, Arya tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Wajah si gadis tampak menjadi merah. Untuk sesaat dia terbengong-bengong, mengikuti saja kemana si pemuda membawanya.
Begitu pintu kamar ditutup, barulah si gadis tersadar. Dengan nada tinggi ia membentak, “Keparat! Tindakanmu ini sudah cukup menjadikan alasan bagiku untuk menjatuhkan hukuman atas perbuatanmu yang lancang ini!”
Dibentak demikian, bukannya menjadi menciut nyalinya, justru Arya malah senyum-senyum penuh arti. Dengan langkah perlahan sekali ia mendekati si gadis.
Dikarenakan perlakuan si pemuda sudah keterlaluan, si gadis bernama Qianqiao itu mengerahkan energinya ke tangan. Sekejap kemudian tangannya sudah menyambar ke muka Arya.
Akan tetapi tanpa dapat dilihat oleh si gadis, tangannya yang menyambar tersebut tiba-tiba sudah dicengkram oleh Arya. Dicobanya untuk melepaskan diri, namun ketika pandangannya menatap mata si pemuda, usahanya melepaskan diri menjadi mengendur.
Perlahan Arya mendekatkan wajahnya ke wajah si gadis. Qianqiao kini hanya tegak mematung seolah terbius, gadis ini merasakan debaran jantungnya seolah-olah akan meledak ketika sejengkal lagi wajah pemuda itu akan mencapai wajahnya.
__ADS_1