Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Gunung Phoenix


__ADS_3

Setelah terbang selama seharian, kakek janggut putih yang bernama Liang Xie baru menyadari bahwa bocah kecil yang di panggulnya ternyata telah tertidur.


Perlahan-lahan anak lelaki itu dibaringkannya di tanah, dia sendiri kemudian duduk bersila untuk memulihkan tenaga serta energi Qi nya yang sudah banyak terkuras.


Beberapa saat kemudian, dia lantas kembali melanjutkan perjalanan, terbang di atas hutan yang gelap dan mencekam. Suara binatang malam seolah menjadi musik tersendiri yang menemaninya di sepanjang perjalanan.


Matahari mulai terbit menyingkirkan kegelapan. Seringai gembira tersungging dibibir kakek tua itu ketika dihadapannya terlihat Gunung Phoenix yang menjulang tinggi.


Penduduk di sekitar tempat itu menganggap gunung tersebut angker, tak satupun ada berani mendekati kaki gunung. Tetapi kakek tua janggut putih itu seperti tidak perduli, dia lalu melanjutkan perjalanannya melalui jalur darat, mendaki ke puncak gunung tersebut.


Dari kaki gunung sampai pertengahan lereng jalan menuju puncak gunung tersebut masih terbilang mudah di tempuh dan tidak berbahaya, hanya terdapat beberapa hewan buas saja. Tetapi sesampainya di pertengahan lereng, pepohonan dan semak belukar mulai rapat. Ular-ular pohon terlihat melilit dan bergelantungan dimana-mana. Sekali seseorang terkena dipatuk pasti dalam waktu dua sampai lima menit akan mati akibat bisa nya yang mematikan. Terdapat pula para siluman yang berkeliaran, bahkan ada beberapa yang mengintai namun tidak berani mendekat.


Kakek janggut putih yang bernama Liang Xie tidak perduli dengan siluman-siluman itu, bahkan ular-ular itu sendirilah yang menjauh ketakutan, karena kesaktiannya yang tinggi kakek tua tersebut dapat mengeluarkan hawa panas yang membuat takut hewan-hewan maupun siluman penghuni hutan. Tidak ada yang berani mengganggu bocah pengembala yang sampai saat ini masih tertidur nyenyak diatas pundak kirinya.


Semakin naik, jalanan benar-benar sulit dan berbahaya. Dimana-mana terdapat batu karang raksasa runcing menjulang ke atas, licin, berlumut dan lembab. Di sela-sela batu-batu karang tersebut membentang jurang terjal dan gelap, sedangkan kabut tebal menutupi pemandangan.


Dengan kemampuan Liang Xie, dia dapat melewati jalanan sulit tersebut seperti berlari di jalanan yang rata. Kakek tua itu melompat dari satu batu karang ke batu karang lainnya, melewati jurang hingga akhirnya dia sampai di salah satu puncak Gunung Phoenix.


Di sana terdapat dua orang tua berpakaian putih-putih tengah asik bermain catur. Yang pertama berambut putih berbadan pendek, usianya sekitar 300 tahun, yang di kenal dengan nama Lian Tao, sementara yang seorang lagi bernama, Shin Hai, berperawakan kurus tinggi, bermuka hitam, juga berusia sekitar 300 tahun. 


Keduanya tidak lain adalah pembantu-pembantu Jiang Feng. Di sebut pembantu karena Jiang Feng tidak mau mengangkat mereka murid meskipun mereka mendapatkan segala ilmu dari Jiang Feng sendiri. Di samping itu mereka memang sejak dulu bertugas melayani serta memenuhi semua keperluan Jiang Feng.


Meskipun Jiang Feng memiliki kesaktian tinggi namun dia memiliki sifat-sifat yang aneh seperti kurang sehat pikiran. Keanehan itu dengan sendirinya menular kepada kedua pembantunya, meskipun tidak separah Jiang Feng sendiri.


Ketika tengah asyik bermain catur, tiba-tiba kakek tua berwajah hitam menggoyangkan kepalanya dan berkata, "Heh, ada orang datang.."


Sebenarnya kakek yang satunya juga sudah mengetahuinya. Mereka berdua saling memandang heran. Memang sudah sejak lama sekali tak pernah ada orang luar yang naik ke puncak Gunung Phoenix.


Sekelebatan bayangan putih tiba-tiba berhenti di hadapan mereka berdua. Seorang kakek janggut, rambut serta kumis serba putih berdiri sambil memanggul seorang bocah di pundak kirinya.


Melihat siapa yang datang, Shin Hai dan Lian Tao buru-buru menjatuhkan diri, berlutut hormat. 

__ADS_1


"Kami sungguh tidak menyangka, kalau di hari ini puncak Gunung Phoenix akan kedatangan tamu yang tidak lain adalah paman guru kami sendiri." Kata Shin Hai.


"Apakah saudaraku... Ada?" Tanya Liang Xie.


"Tentu saja ada.. sudah sejak 200 tahun beliau tidak pernah meninggalkan puncak ini." Balas Shin Hai.


Sementara itu Lian Tao bertanya dengan hormat, "Apakah paman guru baik-baik saja selama ini?"


"Tentu, tentu saja.."


"Eh, siapa bocah yang anda bawa itu?"


Pertanyaan itu sebenarnya juga ingin di tanyakan Shin Hai.


"Aku juga tidak tahu, yang aku tahu dia adalah anak gembala.."


Keduanya nampak keheranan, sebab Liang Xie sudah ratusan tahun tidak muncul dan sekalinya datang malah membawa seorang bocah.


Sekilas kedua pembantu Jiang Feng saling lirik lalu memperhatikan bocah yang di atas bahu paman guru mereka.


"Kalian berdua tunggu apa lagi?"


Shin Hai berdiri dan berkata. "Maaf paman guru, sebelumnya guru berpesan untuk tidak di ganggu karena saat ini beliau sedang bertapa."


Liang Xie mengerutkan kening, "Sekalipun yang datang aku?"


"Paman guru, sekali lagi maafkan kami. Harap anda bisa memakluminya."


Liang Xie mendongak ke langit lalu tertawa tergelak-gelak. Ternyata suara tawanya telah di aliri Qi sehingga sampai terdengar jauh.


Kedua pembantu tersebut terheran-heran, mereka saling memandang. Dan karena mereka memiliki sifat yang aneh, lantas keduanya ikutan tertawa tergelak-gelak.

__ADS_1


Puncak Gunung Phoenix tersebut seolah-olah tergetar di landa gelombang suara tertawa tiga manusia sakti tersebut.


Tiba-tiba kakek janggut putih menghentikan tawanya, wajahnya berubah buruk, sepasang matanya melotot dan dari mulutnya keluar bentakan keras. "Kalian berdua pembantu-pembantu rendahan berani melarang aku Liang Xie untuk menemui kakakku sendiri."


Sontak saja kedua pembantu tersebut menghentikan pula tawa mereka.


"Bukan kami melarang, tapi guru sendiri melarang siapapun untuk jangan mengganggu. Kami hanya menuruti perintah." Jelas Shin Hai.


"Persetan dengan segala pesan dan perintah. Aku tidak mengenal segala aturan yang buat oleh gurumu yang berotak miring itu." Liang Xie mendengus kesal.


"Paman guru kelewat menghina. Guru sama sekali tidak miring otaknya, hanya sedikit kurang sehat pikirannya." Ucap Shin Hai.


"Otak miring dan kurang sehat pikiran adalah sama saja, bodoh. Dasar gurunya gila, muridnya sinting. Sekarang menyingkirlah kalian! Aku mau lewat."


"Mau lewat kemana?"


"Cepat menyingkir, atau kalian akan mendapatkan pukulan dariku." Liang Xie sudah tidak dapat menahan marahnya.


"Paman guru, kami hanya menjalan perintah dengan segala tanggung-jawab dan akibatnya."


"Jadi kalian berani kurang ajar pada paman guru sendiri ya. Bagus, biar ku beri sedikit pelajaran." Setelah berkata demikian, Liang Xie mengibaskan ujung lengan bajunya yang lebar.


Sebuah gelombang angin menderu dengan dahsyatnya.


Sontak kedua pembantu tersebut menghindar ke samping. Namun sapuan angin tersebut masih membuat mereka terhuyung ke belakang.


"Paman guru, kenapa kau menganggap kami musuh." Rutuk Lian Tao.


"Karena kalian memang perlu di beri pelajaran bagaimana bersikap sopan santun terhadap paman guru." Kakek Liang Xie lantas berkelebat ke atas.


"Paman guru gila sepertimu mana pantas di hormati." Teriak Shin Hai lalu menunggingkan pantatnya dan kemudian kentut.

__ADS_1


Untung saja Liang Xie sudah tidak ada lagi di sana, kalau tidak kakek itu pastilah akan sangat marah di hina sedemikian rupa.


__ADS_2