
Suasana masih tampak samar-samar meski cahaya kekuningan sudah semburat dibentangan langit sebelah timur pertanda sang matahari tidak lama lagi akan muncul. Saat itu Arya telah berkelebat cepat menuju ke arah barat. Pada satu tempat dia hentikan larinya. Lalu kepalanya berpaling ke kanan-kiri.
Tempat itu adalah sebuah lembah yang tidak begitu besar. Di kanan kiri lembah terlihat jurang menganga dalam. Sementara lembah itu sendiri ditumbuhi semak belukar mengering dan jajaran pohon besar berdaun kecoklatan karena musim gugur.
“Mana katanya ada gerbang istana hantu di gunung ini..” gerutu Arya pelan. Iapun kembali melanjutkan larinya yang semakin lama semakin menanjak dan melewati tebing-tebing yang curam serta berbatu-batu yang terjal.
Beberapa saat berselang, sampailah Arya di puncak gunung Qiantang. Kabarnya dipuncak gunung inilah dahulu pernah berdiri sebuah kerajaan seorang raksasa yang bernama Qiantang, sehingga gunung ini kemudian dikenal dengan nama Gunung Qiantang.
Tetapi pada saat Arya baru saja menginjakkan kakinya di gunung ini, terasalah sesuatu yang tak wajar. Selama perjalanan, ia memang selalu merasa sedang diintai. Tetapi sekarang ia dikejutkan ketika melihat kerangka manusia.
Hati Arya menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia juga menjadi tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia.
Sebagai seorang Alkemis, Arya tentu mengenali beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa kerangka-kerangka itu adalah kerangka perempuan yang tidak tampak adanya tanda-tanda penganiayaan. Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu seperti apa upacara itu dan apa tujuannya.
Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk di sekitar gunung ini. Namun tiba-tiba Arya berkata entah kepada siapa,
“Aku tahu kalian sedang mengawasiku. Aku tak akan mengganggu jika kalian tidak menggangguku. Maaf kalau kedatanganku telah mengusik ketenangan kalian.”
Tiba-tiba ada gema suara dari segala penjuru yang menyahut perkataan si pemuda, “Cepat tinggalkan tempat ini kalau tak ingin mampus!”
Arya tersenyum kecut, meski tersinggung namun dia tidak marah karena ia memang tak ingin menambah persoalan. Lagipula antara dirinya dengan penghuni gunung ini tak ada selang sengketa. Jikapun dia telah mendapatkan bukti bahwa penghuni gunung ini telah meresahkan ataupun merugikan manusia, barulah ia memiliki alasan untuk bertindak.
Tanpa berkata apapun, Arya kemudian segera menuruni gunung dan cepat-cepat pergi ke arah pemukiman penduduk yang ada di sebelah barat.
Ketika ia sampai di pemukiman itu, terasa alangkah asingnya penduduk menerima kedatangannya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman dengan riangnya, segera berlari-larian masuk ke dalam rumah. Terasa sekali bahwa beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah dinding setiap rumah kiri kanan yang dilaluinya.
“Apakah yang aneh dariku?” pikirnya sambil meraba sebagian rambut depannya yang kuning. “Mungkin karena rambut ini, mereka takut padaku.”
Setiap kali orang melihatnya, orang itupun segera menghindar dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah, bahkan sebelum sempat ia bertanya ataupun membaca pikiran orang tersebut.
Beberapa kali ia berjalan mondar-mandir kalau-kalau ia berjumpa dengan seseorang yang dapat ditanyainya atau seseorang yang menyapanya. Tetapi sudah untuk kesekian kalinya tak seorang pun dijumpainya, dan tak seorang pun menyapanya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu-pintu rumah yang tertutup.
Mendadak ia merasakan sesuatu yang tidak wajar. Dari balik-balik pagar batu di sekitarnya, didengarnya dengus nafas yang tertahan-tahan. Tidak hanya dari satu-dua orang, tetapi sudah dapat dipastikannya bahwa di balik pagar-pagar itu terdapat banyak orang yang bersembunyi.
Arya tidak mengerti maksud mereka mengintip dari balik-balik pagar. Karena itu ia pura-pura tidak mengetahui akan hal itu. Tetapi ketika ia akan melangkahkan kakinya menginjak ambang pintu rumah sebuah halaman, berloncatanlah beberapa orang laki-laki dari balik pagar-pagar batu di sekitarnya. Mereka semua membawa senjata. Golok-golok besar, tombak panjang dan pendek, pedang, belati dan sebagainya.
Arya mengerutkan dahi terkejut juga heran, tetapi cepat otaknya bekerja. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa sepertinya memang pernah terjadi sesuatu di daerah ini. Ia juga menduga bahwa orang-orang itu tak bermaksud jahat. Mereka hanya berjaga-jaga dan waspada. Sebagai orang asing di daerah berbahaya sudah sepantasnyalah jika ia dicurigai. Itulah sebabnya ia mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa.
__ADS_1
Orang yang menjadi pemimpin rombongan itu berperawakan sedang. Badannya tak begitu besar, tetapi otot-ototnya yang kuat menghias seluruh tubuhnya. Diantara jari-jari tangan kanannya terselip sebuah trisula, yaitu sebuah tombak bermata tiga. Di sampingnya berdiri seorang yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat. Pandangannya tajam berkilat-kilat. Ia tak bersenjata tajam apapun kecuali sebuah cambuk besar yang ujungnya lebih dari dua meter panjangnya, dan pada juntai cambuk itu diikatkan beberapa potongan besi, batu dan tulang-tulang. Rupa-rupanya ia merupakan salah seorang tokoh terbesar dari para pengawal di desa itu. Dari samping beberapa pengawal lain segera berkelebat mengepungnya.
“Ikut kami!”
Tiba-tiba terdengarlah sebuah perintah yang menggelegar keluar dari mulut orang yang tinggi besar itu.
Meski suara itu mengandung Qi yang membuat tanah bergetar, namun Arya sama sekali tidak terpengaruh suara tersebut.
Arya masih diam tegak berdiri, iapun kemudian mengambil keputusan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keributan, menuruti perintah itu dengan patuh.
Orang yang tinggi besar itu berjalan di depan bersama-sama dengan pemimpin rombongan. Di belakangnya Arya mengikuti, diiringi oleh para pengawal.
Rombongan itu berjalan menyusuri jalan desa menuju ke sebuah rumah yang lebih besar dari rumah-rumah yang lain, berpagar batu agak tinggi dan berhalaman luas.
Mereka pun memasuki halaman itu dengan melewati sebuah gerbang yang dikawal orang di kiri-kanannya, sedangkan di halaman itupun telah pula menanti beberapa orang laki-laki yang juga bersenjata. Diantara mereka berdirilah seorang laki-laki yang sudah agak lanjut usianya. Pemimpin rombongan serta orang yang tinggi besar langsung mendatangi orang tua itu. Arya masih saja mengikuti di belakangnya.
“Tuan..,” lapor pemimpin rombongan itu,
“Orang ini terpaksa kami curigai. Selanjutnya terserah kebijaksanaan, tuan..”
Orang tua yang ternyata kepala desa dari daerah itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa garis umur telah tergores di wajahnya, tetapi ia masih nampak segar dan kuat. Wajahnya terang dan bersih. Giginya masih utuh, putih berkilat diantara bibir-bibirnya yang tersenyum ramah.
Arya yang sudah membaca pikiran mereka nampak tenang-tenang saja. Dia telah mendapatkan titik terang antara keadaan desa ini dengan apa yang ditemukannya di puncak gunung Qiantang.
Kepala desa tua itu memandang Arya dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Arya, ia tidak menduga adanya maksud-maksud buruk.
“Bolehkah aku bertanya?” kata kepala desa tua itu dengan nada yang berat tetapi sopan dan rumah. “Siapakah namamu anak muda? Dan dari manakah asalmu? Sebab menurut pengamatan kami, kau bukanlah orang dari daerah kami.”
Mula-mula Arya jadi ragu. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikannya saja. Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Arya tidak menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah orang yang tinggi besar itu membentak, “Ayo katakan!”
Arya sebenarnya sama sekali tidak senang diperlakukan sedemikian, tetapi ia tidak ingin ribut-ribut. Maka dijawabnya pertanyaan itu dengan sopan pula, “Tuan kepala desa, kalau tuan ingin mengetahui, aku berasal dari Sekte Lembah Petir. Aku adalah salah satu anggota sekte itu, yang karena sesuatu tugas aku sampai di desa ini.”
Beberapa orang tampak terkejut mendengar jawaban Arya tersebut. Sekte Lembah Petir adalah salah satu sekte besar aliran putih yang sudah seharusnya mendapat kehormatan. Sedang pemuda ini, orang yang mengaku anggota sekte itu menjadi orang tangkapan. Apakah kalau hal ini sampai terdengar oleh anggota-anggota Sekte Lembah Petir lainnya, tidak akan menjadikan mereka murka.
Arya merasakan pengaruh kata-katanya itu atas orang-orang yang mengepungnya. Demikian juga wajah orang tinggi besar itu tampak berubah. Dahinya mengernyit dan alisnya ditariknya tinggi-tinggi.
Kepala desa tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bertanya lagi dengan nada yang masih sesopan sebelumnya. “Melihat sikapmu, memang tepatlah kalau kau seorang pendekar aliran putih, atau setidak-tidaknya seperti orang yang terlihat baik-baik. Tetapi kedatanganmu seorang diri kemari merupakan sebuah pertanyaan bagi kami.”
__ADS_1
Sekali lagi tampak wajah-wajah di sekitar Arya berubah. Mereka jadi ikut bertanya pula di dalam hati.
“Ya, kenapa seorang anggota sekte pergi sedemikian jauhnya seorang diri?” Tetapi tak seorangpun yang mengucapkan pertanyaan itu.
“Orang ini ingin memperbodoh kita tuan,” kata orang tinggi besar itu dengan matanya yang berkilat-kilat. Sekali lagi ia memandang berkeliling, kepada orang-orang yang berdiri memagari Arya. Dan sekali lagi orang-orang itu mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.
Sikap orang yang tinggi besar itu semakin tidak menyenangkan hati Arya, tetapi ia masih saja menahan dirinya dan menjawab dengan ramah pula.
“Tuan kepala desa, sebenarnya memang aku mempunyai banyak keterangan mengenai diriku, tetapi sebaiknya kalau keterangan-keterangan itu aku berikan khusus untuk tuan, tidak di hadapan orang banyak. Sebab ada hal-hal yang tidak perlu diketahui umum.”
Arya sama sekali tidak menduga bahwa perkataannya itu akan berakibat yang kurang baik. Orang yang tinggi besar itu, yang sebenarnya bernama Yu Buqun, dan bertugas sebagai kepala penjaga keamanan desa Huangpu merasa sangat tersinggung. Ia merasa direndahkan oleh pemuda asing itu, dengan mengesampingkannya dari pembicaraan. Karena itu ia membentak dengan suaranya yang lantang,
“Apa perlunya tuan kepala desa meladeni orang sepertimu! Cepatlah katakan saja sekarang juga!”
Perlakuan orang itu sebenarnya sudah keterlaluan. Tetapi Arya masih berusaha untuk menahan diri, dan menjawab dengan baik. “Apa yang perlu kau ketahui telah aku katakan.”
“Itu belum cukup,” jawab Yu Buqun semakin marah. “Apa yang ingin kau katakan kepada tuan kepala desa, hingga kau ingin berbicara dengannya saja?”
Arya memandang kepada orang tua itu. Wajahnya yang bening menjadi agak suram. Sebenarnya ia dapat menerima permintaan Arya, tetapi ia tidak dapat menyakiti hati bawahannya yang merupakan tulang punggung keamanan desanya. Memang sebenarnya kepala desa tua itu sendiri sering merasa tidak senang akan sikap Yu Buqun. Tetapi orang ini terlalu berpengaruh karena kehebatannya. Malahan pernah terpikir olehnya untuk suatu saat memberi pelajaran sedikit kepada Yu Buqun, sebab meskipun usianya telah lanjut tetapi ia masih merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi hal yang demikian akan berakibat tidak baik pengaruhnya terhadap rakyat yang justru sekarang memerlukan perlindungan dari bahaya yang setiap saat dapat mengancam.
Dan tiba-tiba saja ia mendapat suatu pikiran baik. Melihat tubuh, sikap dan gerak-gerik Arya, orang tua yang sudah banyak pengalaman itu segera mengenal, bahwa pemuda itu bukanlah orang yang pantas direndahkan. Ia tersenyum dalam hati karena pikiran itu.
“Lalu bagaimanakah sebaiknya Yu Buqun?” tanya kepala desa tua itu.
Sikap Yu Buqun semakin garang. Ia merasa bahwa kepala desa telah menyerahkan segala sesuatu kepadanya. “Pemuda ini harus berkata sebenarnya dan sejelas-jelasnya.” katanya.
“Kalau dia tidak mau?” pancing kepala desa itu.
“Dipaksa!” jawab Yu Buqun tegas, tandas dan jelas.
Dan jawaban ini memang diharapkan sekali oleh kepala desa tua itu. “Bagus... terserah kepadamu. Yang lain sebagai saksi atas apa yang terjadi,” katanya.
Keadaan berubah menjadi tegang. Tak seorangpun mengerti maksud dari kepala daerahnya itu. Sebenarnya orang-orang itu sama sekali tak menghendaki kejadian-kejadian semacam itu, sebab dalam pandangan mereka, Arya adalah orang yang sopan dan baik.
Kalau Yu Buqun sudah bertindak, biasanya tak dapat dikendalikan lagi. Dan orang yang diperiksanya akan mendapatkan celaka. Tetapi tak seorang pun yang berani menghalang-halanginya sifat-sifatnya yang mengerikan itu. Apalagi kalau orang itu benar-benar anggota Sekte Lembah Petir, maka apakah kiranya yang akan terjadi pada desa ini jika anggota-anggota sekte itu menjadi marah kepada orang-orang desa ini.
Berbeda sekali dengan pikiran Yu Buqun, ia menjadi gembira seperti anak-anak yang mendapat mainan. Meskipun ia juga mempunyai otak, tetapi tidak dapat bekerja dengan baik. Perangainya yang keras dan lekas marah. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu, pada waktu terjadi kegemparan, dan ia tidak mampu untuk mengatasinya. Maka sekarang ia ingin mengembalikan kepercayaan rakyat atas kehebatannya dengan menumpahkan segala dendamnya kepada pemuda asing itu.
__ADS_1
Tetapi untuk itu ia tidak akan segera turun tangan sendiri. Ia ingin melihat dulu sampai mana kekuatan barang mainannya. Sebab bagaimana tumpulnya otak Yu Buqun, namun ia masih juga melihat suatu kemungkinan yang ada pada calon korbannya.
Sebaliknya Arya mengeluh dalam hati. Cepat ia dapat menangkap maksud kepala desa tua yang bijaksana itu dengan menangkap pandangan matanya. “Permainan berbahaya” pikirnya.