
Gadis kecil itu tersenyum sinis, lalu mengeluarkan bentakan dengan kasar. "Manusia rendahan, berani-beraninya kau menghina sang penguasa sepertiku."
Yang dibentak justru garuk-garuk tengkuknya, "Gadis kecil, kenapa kau kasar sekali. Aku hanya mengajakmu bermain, kalau kau tidak mau ya tidak perlu menbentak-bentak seperti itu. Itu namanya tidak sopan, kau mengerti?"
Selesai berkata, Arya dengan tenangnya berjalan mendekat.
Sepasang mata gadis itu tiba-tiba melotot, wajahnya yang selalu datar kini menunjukkan kemarahan. "Berhenti, atau ku hancurkan kakimu."
Arya tak perduli dan terus berjalan mendekat.
Gadis kecil itu mengangkat tangannya, lima larik sinar hijau melesat. Pemuda yang diserang membelalakkan mata lalu cepat-cepat mengibaskan tangan kanannya ke atas. Satu gelombang angin kencang menderu menyongsong tiga serangan sinar hijau tersebut.
Wutt... Wuttt.. Wuttt...
"Celaka!" Keluh Arya ketika dia menyaksikan bagaimana pukulan jurusnya yang bernama 'perisai topan menggulung ombak' berhasil diterobos oleh tiga sinar hijau yang kemudian terus menderu ke arahnya.
Dengan cepat Arya lekas-lekas memutar tubuhnya ke kiri. Seiring dengan itu, dia kembali menghentakkan tangan kanannya. Kali ini terdengar suara bergaung disertai menyambarnya sinar emas menyilaukan dan menebar hawa panas.
Arya kembali berkelit cepat menggunakan jurus 7 arah mata angin, "Luar biasa.."
Sinar-sinar hijau yang menyerang tadi tetap saja tak dapat ditangkis ataupun di buat musnah.
Tiga sinar itu menderu dahsyat menerobos sinar emas, lewat hanya dua jengkal dari kepala si pemuda. Tiga sinar itu masih melesat menghantam salah satu bangunan di samping istana sampai hancur luruh.
"Gila! Aku tak mau mati konyol! Kalau pertarungan berlangsung disini, bisa-bisa istana dan seluruh kota akan hancur." Berfikir demikian, Arya kemudian lenyap dari pandangan.
"Lari kemana kau? Lari kemana kau?! Apa kau kira, kau bisa lepas dariku.?!" Si gadis kecil mengedarkan pandangan berkeliling. Kedua tangannya diangkat tanda dia siap untuk kembali melancarkan serangan. Namun sekian lama mencari-cari dia tak berhasil melihat atau menduga-duga dimana pemuda tadi bersembunyi.
Sebenarnya orang yang dicarinya tidak berada jauh dari situ. Hanya saja Arya kini bertindak cerdik, dia menyamarkan auranya dan bersembunyi di balik tubuh mayat-mayat yang bergelimpangan.
"Pasti dia sudah kabur, lumayan juga manusia rendahan satu itu! Sanggup menyelamatkan diri dari seranganku.."
Setelah merasa yakin jika gadis kecil itu sedikit menurunkan kewaspadaan, Arya cepat-cepat menggunakan teknik berpindah dimensi dan tiba-tiba muncul di atas kepala si gadis kecil seraya membuka telapak tangan kirinya lebar-lebar.
__ADS_1
Sebelum gadis kecil itu bisa mengelak ataupun melancarkan serangan, tubuhnya telah lenyap dari pandangan.
Menyadari dirinya telah berada di tempat yang berbeda, gadis kecil itu meraung marah. Dia menyesali dirinya karena telah meremehkan manusia bertopeng tersebut.
"Jika manusia rendahan itu yang membawaku kemari, berarti dia ingin bertarung denganku di tempat ini." Berfikir si gadis kecil lalu dia menimpali. "Sialan! Mana mungkin manusia rendahan itu berani bertarung dengan penguasa sepertiku. Baiklah, aku akan kembali ke kerajaan itu. Tunggu saja kau manusia rendahan, akan ku cincang-cincang tubuhmu."
Tiba-tiba si gadis kecil mengedarkan pandangannya bersekeliling, "Ini! Bagaimana mungkin terdapat begitu banyak aura siluman di hutan ini."
Tidak mau mempedulikan hal itu, si gadis kecil kemudian melesat terbang, namun baru belasan meter dia meninggalkan tempat tersebut, terdengar suara yang tidak asing di telinganya.
"Apa kau sedang mencariku, gadis kecil?"
Dengan cepat, gadis kecil itu memutar tubuh ke arah sumber suara. Di lihatnya, manusia bertopeng sedang melayang di dekatnya.
"Hahaha, akhirnya kau keluar juga, manusia rendahan.. serahkan kepalamu, dengan begitu nyawamu akan ku ampuni." Gadis kecil itu menyeringai tajam, lalu melepaskan aura kuat yang menggetarkan seluruh hutan.
Namun kepercayaan dirinya tidak bertahan lama, karena dilihatnya manusia bertopeng yang ditekannya tidak bergeming sedikitpun, bahkan masih bisa tersenyum dan menjulurkan lidahnya mengejek.
"Mengampuni nyawaku dengan meminta kepalaku, itu sama saja kau menginginkan nyawaku. Dasar bodoh.."
Pemuda itu buru-buru melapisi tubuhnya dengan energi Qi, dengan begitu teknik aneh yang dikerahkan si gadis kecil tersebut tidak berpengaruh lagi terhadapnya.
Sepasang mata si gadis kecil membeliak, wajahnya tersungut marah. "Oh, ternyata kau memang memiliki kemampuan. Tunjukkanlah semua kemampuanmu, berikan sang penguasa ini sedikit hiburan."
"Hah, jadi sekarang kau sudah bersedia bermain-main denganku?" Arya tertawa pendek, lalu melanjutkan. "Baiklah, siapa yang akan mulai?"
Gadis kecil itu tiba-tiba lenyap dari pandangan, lalu tahu-tahu dari arah bawah terdengar suara angin menderu.
Selarik cahaya hijau terang meluncur dengan kecepatan tinggi, namun dengan cepat pula Arya membentuk segel tangan untuk menciptakan kubah perisai.
Ledakan besarpun terjadi menciptakan gelombang besar yang menyeruak ke segala arah, membuat puluhan pohon ikut terhempas.
Kepulan asap membumbung tinggi dari debu yang berhamburan, namun dari balik asap itu terlihat kedipan cahaya terang berwarna keemasan, membuat si gadis kecil seketika menyipitkan mata.
__ADS_1
"Sialan! Ternyata manusia rendahan itu memiliki elemen cahaya. Ini tidak bisa dibiarkan.."
Arya segera menghentakkan kakinya, menciptakan gelombang energi menghempaskan semua asap tebal yang menyelimuti dirinya. Dia kemudian menoleh ke bawah, memandang si gadis kecil sambil gelengkan kepala. "Gadis kecil, tunjukan saja wujud aslimu. Tak usah malu-malu.."
Si gadis kecil tertawa, namun tawanya itu menyiratkan kemarahan. "Manusia rendahan sepertimu, tak pantas melihat wujud sang penguasa ini." Setelah berkata demikian, tangannya dia gerakkan ke atas, selarik sinar hijau berbentuk bulan sabit menderu ke arah Arya.
Sesaat lagi sinar hijau itu akan mengenai sasarannya, tiba-tiba dengan gerakan acuh tak acuh Arya mengibaskan tangan kanannya. Serangkum angin dingin menyambar dan si gadis kecil merasa seperti di hantam bongkahan batu besar yang tak kelihatan.
Pada saat yang sama, pemuda itu lenyap dan tiba-tiba dia sudah menghantamkan tapak penghancur gunung yang dengan telak mengenai kepala si gadis kecil.
Tidak dapat menghindar, si gadis kecil akhirnya terpelanting deras ke bawah dan..
Bukkk... Jdduuummm..
Ledakan besar membahana, menciptakan kubangan besar di tanah yang semula dipadati pepohonan. Dari kepulauan debu gadis kecil itu gertakkan rahang, dia keluarkan suara membentak nyaring lalu melesat ke arah si pemuda.
Kecepatannya sungguh luar biasa, sekejap kemudian dia sudah bersiap mengayunkan cakaran, berniat membabat kepala.
Dengan cepat Arya menahan serangan itu menggunakan punggung lengannya, dia menggunakan teknik sisik Naga Emas sehingga membuat seluruh kulit tangannya dilapisi cahaya emas.
Tangan si gadis kecil bergetar hebat saat menyentuh punggung tangan Arya, seperti mengenai logam keras, benturan itu menciptakan suara dengung yang sangat nyaring bahkan dapat di dengar hingga ke daratan.
Cepat-cepat si gadis kecil menarik tubuhnya ketika tangan kiri lawannya bergerak melesatkan sinar keemasan.
Setelah mengambil jarak aman, kini sadarlah gadis kecil itu bahwa dia berhadapan dengan manusia berkemampuan tinggi. Untung saja tak ada satupun pasukannya di situ, yang melihat dirinya kewalahan menghadapi manusia bertopeng ini. Meski sadar kalau yang dihadapinya bukan manusia sembarangan, namun karena sifatnya yang congkak sombong, gadis kecil yang tidak lain adalah ratu hewan iblis tetap saja tidak mau bersikap merendah. Dia kembali membentak.
"Manusia keparat, baru memiliki kemampuan secuil sudah berani berlagak di hadapan sang penguasa ini. Sebelum sang penguasa ini mengirimmu ke neraka, tunjukkan lah wajahmu!"
Arya menyunggingkan seringai mengejek, "Lihatlah wujudmu sekarang.. kau bilang tadi manusia rendahan sepertiku tak pantas melihat wujud penguasa sepertimu, tapi kenapa kau sekarang menampakkan wujud aslimu dihadapan manusia rendahan ini?"
Gadis kecil itu tidak percaya begitu saja dengan perkataan Arya, dia mengira bahwa pemuda itu berniat membuatnya lengah. Namun ketika hendak kembali menyerang, dia merasakan adanya perubahan dalam pergerakannya. Akhirnya dia menghentikan laju terbangnya, dipandanginya tubuhnya sendiri.
Benar saja, kini dia sudah menggunakan wujud aslinya, dimana wujudnya kini sama seperti Griffinhan. Berkepala elang dan bertubuh singa.
__ADS_1
Merasa harga dirinya sebagai ratu hewan iblis telah di rendahkan, elang berkepala singa itupun meraung keras. Dari gelombang suaranya bahkan dapat menyebabkan gunung yang berada di dekatnya meletus.