
Rumah Seribu Bunga adalah rumah bordil, tempat surganya para lelaki hidung belang. Bangunan ini berdiri megah di sebelah barat dari pusat kota. Bangunan ini memiliki 12 lantai, yang membuat bangunan ini terlihat seperti menjulang langit. Hanya ada beberapa bangunan yang memiliki tinggi seperti Rumah Seribu Bunga di kota Guangzhou.
Meski Rumah Seribu Bunga dikenal luas dikalangan masyarakat sebagai tempat pelacuran dan perdagangan manusia, namun tempat ini dapat terus beroperasi secara legal. Untuk mendapatkan legalitas, tentunya segala aktivitas disana harus memenuhi segala ketentuan dan peraturan pemerintah dari kerajaan. Pajak yang besar adalah peranan penting sehingga Rumah Seribu Bunga dapat terus beroperasi.
Selain di jadikan sebagai tempat pelacuran dan perdagangan manusia, Rumah Seribu Bunga juga di jadikan sebagai tempat pijat, judi dan hiburan lainnya.
Terdapat sekitar 200 perempuan penghibur yang diperkerjakan di Rumah Seribu Bunga, jumlah mereka terus bertambah tergantung pesanan dari pelanggan. Tidak jarang juga, ada pelanggan yang membeli perempuan yang di sukainya untuk dibawa pulang, dijadikan budak pemuas nafsu.
Hal inilah yang menyebabkan Rumah Seribu Bunga selalu ramai dikunjungi setiap harinya.
"Apa yang ingin kau lakukan di tempat yang menjijikkan seperti ini?" Tanya seorang gadis bercadar sambil menarik kerah belakang baju seorang pemuda.
Tarikan itu membuat langkah si pemuda tertahan, lalu dia memandangi gadis yang menarik kerah bajunya dan menepuk keningnya sendiri karena baru teringat bahwa dirinya sedang bersama seorang gadis.
"Hmm.. ganti dulu penampilanmu itu!" Setelah berkata demikian, pemuda itu cepat-cepat menarik lengan si gadis, membawanya sedikit menjauh dan berhenti di gang yang gelap.
Sesampainya di gang sempit yang gelap, wajah si gadis yang tidak lain adalah Putri Zhou Jing Yi terlihat pucat. Berduaan dengan seorang lelaki di tempat yang gelap dan sepi, membuat pikirannya menjadi liar. Dia beranggapan bahwa pemuda itu akan melakukan hal-hal yang tidak senonoh terhadapnya. Bagaimanapun dia belum terlalu mengenal pemuda itu.
"Aku tidak akan menyentuhmu. Cepatlah gunakan penyamaranmu!" Pemuda itu melepaskan pergelangan tangan si gadis, lalu membalikkan badan, berjalan sedikit menjauh.
"Tidak menyentuhku katamu! Lalu apa yang barusan kau lakukan tadi padaku, kalau tidak menyentuhku?" Ketus Putri Zhou Jing Yi.
"Hahaha..." Pemuda itu tertawa sambil mengusap tengkuknya tanpa menoleh, "Maksudku bukan menyentuhmu seperti itu tapi... Hmm sudahlah, cepatlah rubah penampilanmu, kalau tidak aku akan meninggalkanmu disini."
"Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan di tempat menjijikkan seperti itu?"
Tanpa menjawab pertanyaan Putri Zhou Jing Yi, pemuda itu yang tidak lain adalah Arya berjalan menuju ke arah Rumah Seribu Bunga.
"Hei tunggu! Jangan pergi!" Seru Putri Zhou Jing Yi dengan muka masam.
Baru saja Arya berada di hadapan penjaga pintu masuk, seseorang dari belakang berlari dan berhenti di sampingnya. Arya menoleh dan mendapati kakek berhidung pesek tengah tersenyum kepadanya. Kakek itu tidak lain adalah penyamaran dari Putri Zhao Jing Yi.
__ADS_1
Sebelum memasuki rumah bordil tersebut, Arya menyerahkan sejumlah koin perak yang diminta oleh para penjaga.
Memasuki lantai pertama, mereka langsung disambut oleh bau arak yang menyengat, disana terdapat meja-meja dan kursi-kursi yang tersusun rapi, sebagian besar telah di tempati para pengunjung. Suasananya sendiri agak remang-remang, terlihat beberapa gadis penghibur yang menari berlenggak-lenggok mengikuti irama musik, di ujung ruangan.
"Silahkan masuk tuan.. katakanlah, apa yang bisa saya bantu tuan?" Diantara hingarnya suara musik terdengar suara seorang wanita yang berdiri di sudut pintu.
"Aku ingin bertemu dengan majikan kalian." Arya menirukan gaya bicara seorang bangsawan.
Mendengar perkataan Arya, kakek pesek yang tidak lain adalah Putri Zhou Jing Yi langsung mencubit pinggang pemuda itu. "Jangan bilang kau ingin meminta wanita cantik untuk menemanimu tidur."
Pelayan perempuan itu tersenyum-senyum genit. "Kalau tuan menginginkan gadis yang cantik, aku bisa mencarikannya. Jadi tidak perlu bertemu dengan majikan kami."
Arya mengambil sesuatu dari balik bajunya, "Serahkan lencana ini padanya, katakan bahwa pemilik lencana ini ingin menyampaikan sesuatu yang penting."
Sesaat pelayan itu mengamati lencana yang diberikan Arya, matanya mendapati sebuah tulisan disana, 'Sekte Iblis Berdarah.'
Meskipun tidak pernah keluar dari rumah seribu bunga, akan tetapi dia tahu sedikit banyak mengenai Sekte Iblis Berdarah dari pembicaraan para pengunjung. Mengetahui pemuda yang ada dihadapannya adalah anggota Sekte Iblis Berdarah, wajah pelayan itu berubah kecut. Ada kecemasan di dalam hatinya.
Arya mengambil lencana itu lalu melangkah naik ke lantai dua. Di sana banyak orang yang bermain kartu, nampaknya lantai dua memang di khususkan untuk perjudian.
Seolah tidak tertarik dengan aktifitas para pengunjung disana, Arya langsung melanjutkan langkahnya menuju tangga berikutnya.
Sama halnya seperti lantai dua, lantai tiga sampai lantai enam di penuhi para pengunjung yang melakukan aktivitas perjudian. Lantai tiga dikhususkan untuk permainan domino, ke-empat permainan dadu, selanjutnya permainan mahjong dan permainan catur.
Ketika Arya menaiki tangga menuju lantai tujuh, dia merasakan adanya segel pelindung yang menyelubungi lantai tersebut. Baru saja dia tiba disana, dia langsung disambut oleh suara teriakan dan seruan dari para pengunjung.
Ternyata di lantai tujuh adalah tempat yang dikhususkan untuk pertarungan para pendekar, para pengunjung di perbolehkan menantang para petarung yang dimiliki rumah bordil. Jika mereka menang, maka mereka akan mendapatkan sejumlah hadiah uang, sumberdaya maupun wanita. Sementara para pengunjung yang tidak berani turun ke pertarungan, kebanyakan mereka mempertaruhkan uang untuk menjagokan petarung pilihan mereka masing-masing.
"Kek, kalau boleh aku mengusulkan, daripada kakek terus mengikutiku, alangkah baiknya kakek olahraga bertarung dengan mereka, biar badan kakek sehat." Seloroh Arya seraya tersenyum mengejek.
Mata kakek pesek melebar, tangannya sudah di angkatnya hendak menggampar pemuda itu. Namun Arya sudah terlebih dulu melangkah cepat menuju ke arah tangga atas.
__ADS_1
"Jangan marah-marah kek, nanti cepat tua. Hei kenapa aku jadi bodoh seperti ini, bukankah kakek pesek ini memang sudah tua. Hahaha.." Sambil tertawa tergelak-gelak, Arya berjalan setengah berlari berusaha menghindari Putri Zhou Jing Yi yang terlihat marah.
Sambil terus mengejar, Putri Zhou Jing Yi berkali-kali mengumpat panjang pendek. Namun setelah melewati kerumunan, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya karena sudah tidak melihat lagi keberadaan Arya.
Merasa yakin jika pemuda itu menuju ke lantai atas, Putri Zhou Jing Yi kembali melanjutkan langkahnya. Dan benar saja, sesampainya dia disana, dia mendapati Arya tengah duduk di kursi yang tidak jauh dari tangga tempatnya berdiri.
Melihat Arya sedang duduk bersama seorang gadis cantik dan berpakaian terbuka, semakin marahlah dia. Dengan buru-buru diapun menghampiri meja si pemuda.
Gadis yang duduk di samping Arya nampak risih ketika melihat kakek tua pesek tiba-tiba datang dan langsung menarik tangan Arya.
"Kek, kenapa kau mengganggu tamuku." Kata gadis itu dengan nada kesal.
"Diam kau!" Bentak kakek pesek sambil menjulurkan jari telunjuknya ke wajah gadis tersebut.
"Kek, jangan marah-marah, ingat umur kek, ingat umur! Kasihan, gadis secantik ini seharusnya disayangi, bukan malah di bentak-bentak." Arya menoleh ke arah si gadis lalu meraih tangannya.
Perbuatan Arya tersebut, membuat si gadis tersipu malu. Sedangkan kakek pesek semakin tersulut emosi, dengan cepat dia menggerakkan tangannya lalu memukul tangan Arya yang memegang tangan si gadis.
"Hahaha..." Pecahlah tawa Arya, "Nona, sepertinya kakek ini cemburu padaku. Sebaiknya kau temanilah dia. Maaf, sebagai orang muda memang seharusnya aku yang mengalah."
Selesai berkata demikian, Arya kemudian menyunggingkan senyuman mengejek kepada si kakek lalu mulai melangkahkan kaki. Namun baru saja berjalan satu langkah, tangannya tiba-tiba sudah ditahan si kakek.
"Kau benar-benar pemuda gila, awas saja setelah ini aku akan membuat perhitungan denganmu." Rutuk si kakek dengan mata melotot dan lubang hidung kembang kempis, menahan kemarahan.
"Kalau aku gila, kenapa kakek terus mengikutiku. Bukankah itu artinya kakek juga sudah tidak waras.. hahaha." Arya melepaskan tangan si kakek dari lengannya. Lalu seenaknya saja melenggang pergi.
Si kakek masih berdiri tegak sambil mengepalkan kedua tangannya, dia benar-benar dibuat marah namun disisi lain dia juga menyesalkan dirinya sendiri mengapa bisa-bisanya dia menyukai pemuda bodoh itu.
Disaat sedang termenung seperti itu, terdengar suara seorang gadis dari arah samping.
"Kek, sudahlah jangan marah lagi. Kemarilah, aku akan menemani dan melayanimu. Ku jamin malam ini kakek akan puas dengan pelayananku."
__ADS_1
Mata si kakek melotot, mulutnya dibuka namun tidak ada kata yang keluar. Dengan perasaan jengkel, marah, malu, kecewa dan sedih, si kakek buru-buru melenggang pergi.