
Sementara itu, di lain bagian dari hutan itu, tampak bayangan seseorang berkelebat cepat menyelinap menerabas pepohonan dan semak belukar. Langkahnya begitu ringan seolah tak menginjak tanah, sehingga jejak kakinya sama sekali tak berbekas diatas permukaan hamparan salju yang menutupi tanah yang dilewatinya.
Dia adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh dua tahun. Berwajah amat tampan dan gagah. Berpakaian putih-putih, berambut panjang yang juga berwarna putih. Di dahinya melintang ikat kepala berwarna putih. Si pemuda agaknya menuju ke arah mana suara pertarungan yang tertangkap oleh pendengarannya.
Pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan ini bukan lain adalah seorang pangeran dari Istana Es, sebuah kerajaan yang ada di Kekaisaran Tang. Dia kabur dari Istana Es tanpa pamit karena ia tidak bersedia diangkat menjadi Raja, ia merasa sama sekali tidak pantas menjadi Raja setelah mengetahui bahwa dirinya ternyata adalah seorang anak pungut. Lebih dari itu, rupanya diam-diam pangeran ini sedang menjalankan misinya untuk merebut kembali Pedang Pusaka Es Abadi yang diketahui telah dirampas oleh Serigala Iblis Dari Timur, sebuah pusaka kerajaan sebagai tanda sahnya seseorang menjadi Raja di kerajaan Istana Es.
Setelah bertahun-tahun melakukan penyelidikan di Kekaisaran Tang, mencari-cari keberadaan Serigala Iblis Dari Timur, akhirnya ia mengetahui bahwa orang yang dicarinya itu telah melarikan diri ke Kekaisaran Ming. Sudah satu bulan lebih pangeran yang bernama Fei Lun ini telah berada di wilayah Kekaisaran Ming, berusaha mengumpulkan petunjuk mengenai keberadaan Serigala Iblis Dari Timur dari para Pendekar maupun dari masyarakat awam.
Pada hari itu, kebetulan sekali dia yang hendak melakukan perjalanan ke desa Shanyin. Berdasarkan informasi yang didapatkannya dari seorang penculik gadis yang pernah ditangkapnya beberapa hari yang lalu, dia mendapatkan keterangan bahwa penculik itu berasal dari Sekte Iblis Berdarah yang bermarkas di desa Shanyin. Menurut keterangan dari penculik yang ditangkapnya tersebut, dia mendapatkan pula keterangan bahwa Patriark dari Sekte Iblis Berdarah adalah Pao Shoawen. Mendapatkan informasi ini senanglah hati pangeran Fei Lun, akhirnya penyelidikannya selama bertahun-tahun menemui titik terang. Dari penyelidikannya selama ini, dia memang telah mengetahui bahwa Pao Shoawen adalah murid Serigala Iblis Dari Timur. Dia berharap dari Pao Shoawen ia akan dapat mengetahui keberadaan Serigala Iblis Dari Timur, atau bahkan akan mendapatkan orang yang dicarinya itu berada di Sekte tersebut.
Ketika sedang berkelebat seperti itu, mendadak telinganya yang tajam mendengar suara seorang anak menangis, dan suara lain yang membentak-bentak marah. Iapun terkejut, lantas menghentikan larinya. Pandangannya disapukan berkeliling, mengamati kegelapan malam, telinganya sudah tidak mendengar suara tangisan atau bentakan tadi. Namun dia masih menangkap suara pertarungan yang tadi hendak dia selidiki. Dan manakala di dengarnya kembali suara bentakan itu, tanpa berfikir dua kali, Fei Lun langsung melompat berkelebat ke arah utara, dimana suara itu berasal.
Melihat seorang berjubah putih dan bertopeng tengkorak sedang memanggul tubuh seorang anak perempuan. Fei Lun menggertakkan rahangnya, penglihatannya itu sudah cukup membuatnya mengerti bahwa sosok bertopeng itu adalah seorang penjahat yang hendak menculik anak-anak. Namun meski begitu dia tidak bisa serta-merta bertindak gegabah, karena jika ia menyerang saat itu juga maka keselamatan gadis kecil itu akan terancam. Iapun kemudian dengan cepat mendarat di hadapannya sosok bertopeng tengkorak tersebut.
“Lepaskan anak itu!” bentak Fei Lun sambil menunjuk anak perempuan yang mungkin telah pingsan di atas bahu sosok bertopeng tengkorak itu. Matanya melirik ke arah bocah laki-laki yang saat itu berjalan mendekatinya.
“Hahaha...” sosok bertopeng itu keluarkan suara tawa menyeramkan.
“Tolong selamatkan adikku,” terdengar suara seorang anak laki-laki disampingnya yang terdengar parau, mungkin ia menahan tangis atau takut.
Fei Lun mengangguk tanpa menoleh, pandangannya masih tertuju ke arah sosok bertopeng tengkorak.
Tiba-tiba sosok topeng tengkorak itu telah menerjang menyerang sambil masih memanggul tubuh gadis kecil dipundaknya.
Dalam waktu singkat saja, Fei Lun dapat menduga bahwa lawannya itu bukanlah orang lemah, dan melihat cara lawannya itu menyerang serta ilmu yang dipergunakan itu mudah diduga bahwa sosok bertopeng tengkorak tersebut adalah orang-orang dari golongan hitam. Ia pun cepat mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya dan tubuh itu pun berkelebatan ke sana-sini, di antara tangan dan kaki lawan yang menyerang. Fei Lun tak berani melancarkan serangan, khawatir akan keselamatan gadis kecil tersebut.
Dalam keadaan yang terlihat terdesak dan hanya tampak terus menghindar seperti itu, Fei Lun diam-diam melakukan gerakan-gerakan tipuan untuk membuka celah lawan.
Rupanya niat Fei Lun itu dapat terbaca oleh sosok bertopeng tengkorak. Maka iapun tidak membiarkan pemuda itu mendekatinya. Dengan gerakan aneh, tahu-tahu dari balik jubahnya yang putih itu berlesatan larikan sinar ungu menebar hawa menggidikkan.
__ADS_1
Tahu bahwa pukulan lawan yang disusul lesatan jarum-jarum racun yang sangat berbahaya maka Fei Lun mau tak mau segera hantamkan tangan kanannya ke depan. Gelombang angin deras memukul memblok lesatan jarum-jarum tersebut.
Meski tubuh sosok bertopeng tengkorak itu kemudian terpelanting sampai tiga tombak oleh benturan energi tadi dan membuat tubuh anak gadis dipanggulannya terlepas, namun sosok bertopeng tengkorak itu masih sempat hantamkan telapak tangannya ke arah Cia Wan, anak laki-laki yang berdiri mematung beberapa tombak di sampingnya.
Fei Lun membentak keras! Tubuhnya lenyap pada detik sosok bertopeng tengkorak coba lepaskan pukulan ke arah Cia Wan. Anak laki-laki itu lenyap di sambar Fei Lun yang berkelebat laksana kilat.
“Adik tampan, kau pergilah berlindung.”
Tanpa menunggu tanggapan dari bocah laki-laki itu, Fei Lun telah berkelabat maka lenyaplah tubuhnya seperti ditelan gelapnya malam.
Anak laki-laki itu rupanya cerdik, dia tahu bahwa keberadaannya akan merepotkan pemuda yang menurutnya orang baik itu, maka cepat-cepat ia berlari dan bersembunyi di balik pohon besar. Bocah laki-laki itu meringkuk disana sambil tak lepaskan pandangannya dari tempat pertarungan.
Plaaaakk! Bruuukk..!
Sosok topeng tengkorak yang hendak menyambar tubuh anak gadis yang tergeletak di permukaan salju, tahu-tahu terhempas dan merasakan tangan serta kepalanya terasa dihantam seseorang. Ia sama sekali tidak dapat melihat pergerakan penyerangnya itu.
Setelah berjungkir balik agar tubuhnya tidak terbanting, sosok topeng tengkorak memandangi sekeliling. Karena hanya terdengar suara deruan angin seperti ada orang berkelebat, maka kembali ia lancarkan pukulan ganas dua kali berturut-turut ke arah suara lawan yang didengarnya itu. Tapi salah perhitungan, serangannya itu hanya menghantam rubuh pohon-pohon.
Sosok topeng tengkorak kembali terpental empat tombak ke belakang. Kepalanya serasa pecah sedang kulit keningnya laksana terbakar! Topengnya hancur berkeping-keping, pada kulit keningnya itu kini kelihatan benjolan seukuran telur!
Topeng tengkorak meluap amarahnya. Tanpa hiraukan rasa sakitnya pada keningnya dia menerjang ke depan, kirimkan lima pukulan empat tendangan! Fei Lun mendengus, tangan kanan menghantam ke depan. Sinar pukulan berwarna biru menderu, menyusup di antara serangan lawan!
Untuk ketiga kalinya sosok topeng tengkorak terpental. Kali ini sampai delapan tombak dan kali ini terus terguling ke tanah bersalju dengan mulut memuntah darah! Jantungnya hancur didalam! Tamatlah riwayatnya!
Fei Lun mendekati mayat sosok bertopeng tengkorak tersebut, dilihatnya wajah orang itu beberapa lamanya. Wajah tua dengan dahi benjol besar serta tergurat bekas goresan benda tajam, melintang dari kening sebelah kiri sampai ke rahang sebelah kanan. Setelah memastikan tidak mengenali orang tersebut, kemudian Fei Lun berjalan mendekati Cia Ling dan membawa gadis kecil itu kepada anak laki-laki kecil yang saat itu telah keluar dari balik pohon.
Fei Lun merebahkan tubuh gadis kecil bernama Cia Ling itu di atas semak belukar. Tangannya bergerak menekan jalan darah pada bagian pangkal lehernya, lalu mengurutnya dengan lembut. Benar saja beberapa saat berselang, gadis kecil itupun membuka sepasang matanya.
Cia Ling, gadis kecil itu sontak membelalakkan matanya ketakutan, lalu menangis meratap ketika kesadarannya pulih mendapati seorang pemuda tidak dikenalnya berada didekatnya.
__ADS_1
Di balik semak-semak yang diselimuti salju itu, Cia Wan seorang anak laki-laki buru-buru merangkul sambil mengelus-elus rambut adik perempuannya itu, berusaha menenangkannya agar jangan menjerit atau menangis lagi.
Fei Lun yang mengerti ketakutan gadis kecil itu, tersenyum lembut. Membiarkan saja dua bocah itu saling berpelukan. Dua orang anak ini bukan lain adalah dua bersaudara yang melarikan diri dari dalam tenda sewaktu terjadinya pertarungan melawan orang bertopeng tengkorak.
Cia Ling masih menatap kepada pemuda ini dengan mata terbelalak penuh rasa takut. Mengira bahwa pemuda yang muncul itu tentulah orang jahat pula.
Tiba-tiba Fei Lun teringat sesuatu yang membuat dahinya mengernyit. Keberadaan dua orang anak kecil di dalam hutan yang gelap dan dingin seperti ini, tentulah ada penyebabnya dan mungkin ada hubungannya dengan suara pertempuran yang di dengarnya. Maka bertanyalah ia kemudian,
“Ehhh, siapakah kalian adik-adik kecil? Dan mengapa kalian berdua di dalam hutan? Lalu siapa orang yang hendak menjahati kalian itu?” kata Fei Lun lembut, sambil menunjuk ke arah mayat sosok berjubah putih.
Dua kakak beradik itu melempar pandangan ke arah tangan pemuda dihadapannya itu menunjuk. Tangis Cia Ling seketika berhenti, dahinya mengerut, lalu ditatapnya pemuda tampan itu dengan sorot matanya yang keheranan.
Fei Lun tersenyum hangat, “Jangan takut kepadaku, aku bukan orang jahat.”
Kedua bocah itu masih terdiam dengan tubuh menggigil kedinginan bercampur takut. Sekali lagi Fei Lun tersenyum, lantas merapatkan diri dan mengelus-elus rambut dua orang anak kecil itu dengan lembut penuh kasih. Rupanya usapan itu bukanlah usapan biasa, karena usapan itu rupanya dialiri energi Qi hangat, akibatnya tubuh kedua bocah itu tidak lagi menggigil dan mulai bisa tenang.
Mendapatkan perlakuan demikian, Cia Ling gadis kecil yang berada dalam pelukan kakaknya mulai nampak tenang dan bisa mempercayai pemuda ini yang sama sekali tidak kelihatan seperti orang-orang jahat, “Ayah kami dibunuh iblis...”
“Apa...?!” Fei Lun terkejut sekali, dia berseru keras, membuat dua bocah itu terperanjat kaget.
Fei Lun mengerutkan dahinya, otaknya cepat menghubungkan kejadian yang dialami dua bocah ini ketika hendak diculik sosok bertopeng tengkorak. “Ceritakan, lalu dimana ayah kalian. Jangan takut. Aku akan melawan Iblis itu!” katanya.
“Ayah kami dibunuh kemarin malam... dan ibu kami diculik iblis...” jawab Cia Wan.
“Ahhh...!” kembali Fei Lun terkejut. “Lalu apakah orang bertopeng itu yang membawa kalian kemari?”
Cia Wan menggeleng, “Tidak, kami dalam perjalanan bersama paman Tiat Sim dan teman-temannya dengan naik kereta. Akan tetapi saat kami beristirahat di tenda... Iblis... Iblis itu menyerang dan sekarang sedang berkelahi dengan paman Tiat Sim... dan kami melarikan diri... Lalu tiba-tiba orang itu muncul hendak membawa kami.”
Fei Lun mengangguk, ia bangkit berdiri dan lalu melakukan pola tangan. Kejap kemudian tangan kanannya yang bersinar putih diarahkan kepada dua anak-anak yang meringkuk di semak-semak tersebut. Sinar putih dari tangan itu bergulung-gulung membungkus tubuh dua anak-anak tersebut. Dan ketika sinar itu mulai pudar membentuk kubah energi, terdengarlah suara pemuda itu berkata,
__ADS_1
“Kalian tetaplah disini, aku akan segera kembali” suara itu menggema di udara, namun sosok Fei Lun sudah lenyap dari pemandangan.