Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Pil Bunga Anggrek Hantu


__ADS_3

“Aku hampir mati kehausan karena diikat tali aneh itu..” Dengus Heng Dao lalu menenggak araknya, “Gluuuukk..”


Mendadak Heng Dao tertawa bergelak-gelak. Selepas tawanya mereda, ia lalu berkata, “Eh, apakah kau sempat diajak tidur oleh Ratu cantik bermata biru itu…?”


Arya mendelik, namun ia tetap melanjutkan larinya, malah semakin kencang!


Matahari tampak semakin condong disebelah barat ketika mereka tiba di kaki gunung Jiuhua. Untuk sejenak mereka berhenti karena Putri Zhou Jing Yi meminta untuk beristirahat.


Sang putri mendekati Arya, lalu ucapnya. “Apa yang telah kalian lakukan berduaan? Dan kenapa kau bilang akan menemuinya lagi?”


Arya terkekeh mendengar pertanyaan Putri Zhou Jing Yi, “Ada apa? Kau cemburu?”


Putri Zhou Jing Yi mendengus, “Jawab sajalah!”


Si pemuda geleng-gelengkan kepala. Tiba-tiba tangannya bergerak terayun ke arah Putri Zhou Jing Yi. Kejap kemudian tubuh gadis itu lenyap dari pandangan.


Jenderal Sun Jian dan Heng Dao melengak kaget melihat kejadian tersebut. Akan tetapi belum sempat Jenderal Sun Jian melangkah ataupun sekedar membuka suara, tubuh sang jenderal juga di buat lenyap oleh sapuan tangan Arya.


“Anak muda, apa yang telah kau lakukan pada mereka?” Seru Heng Dao. Matanya melebar saat melihat Arya hendak menyapukan tangannya ke arahnya. Dengan cekatan, ia segera mengelak melompat ke samping sehingga sapuan tangan si pemuda tidak membuatnya lenyap seperti halnya Putri Zhou Jing Yi dan jenderal Sun Jian.


Arya mengerutkan dahi, tanpa membalas ucapan si orang tua, ia kembali mengayunkan tangannya. Kali ini gerakannya tak bisa di lihat oleh mata Heng Dao! Orang tua itu seketika lenyap tak berbekas!


Heng Dao merasakan kepalanya pusing, pandangannya kabur. Namun sesaat kemudian dia dapat melihat segala sesuatunya kembali terang. Alangkah terkejutnya orang tua ini ketika didapatinya, ia telah berada di tempat yang berbeda. Bukan pepohonan lagi yang kini ada di sekelilingnya, melainkan halaman yang luas. Dan dikejauhan terlihat bangunan-bangunan yang berdiri megah!


“Bagaimana mungkin?!” Desis orang tua ini. Tangan kirinya bergerak ke muka, mengucek-ngucek matanya seolah ingin memastikan apa yang dialaminya kini bukanlah mimpi.


Pada saat itu terdengar suara jenderal Sun Jian berkata, “Dimana Tabib Xian?”


“Sebenarnya apa yang telah pemuda itu lakukan pada kita. Bagaimana mungkin tiba-tiba kita telah berada di kerajaan?” sahut Heng Dao.


“Jangan terkejut! Dunia ini memang dipenuhi segala hal yang aneh-aneh..”


Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan Heng Dao serta-merta memutar tubuh. Disana mereka melihat pemuda berbaju merah tengah berjalan mendekat.


“Ilmu apa yang kau pakai? Apakah ini hanyalah ilusi atau jangan-jangan..”


Arya segera memotong perkataan Putri Zhou Jing Yi, “Anggaplah aku memiliki ilmu yang bisa memindahkan kalian dari satu tempat ke tempat yang lain.” pemuda ini mengalihkan pandangannya kepada jenderal Sun Jian, lalu katanya. “Mari kita segera mengobati Sang Raja. Bunga energi itu sudah aku dapatkan.”


Mereka semua tampak tertegun sejenak, kata-kata si pemuda masih terngiang-ngiang dan membuat mereka skeptis. Meski lebih condong kepada rasa tak percaya, namun mereka telah mengalaminya sendiri, bagaimana pemuda itu memang benar-benar telah memindahkan mereka semua dalam sekejapan mata. Mau tak mau mereka percaya saja kepada ucapan si pemuda. Merekapun baru tersadar ketika Arya telah tidak terlihat lagi berdiri ditempatnya, segera mereka menoleh ke arah istana. Dan benar saja, pemuda yang mereka cari telah melangkah berjalan menuju ke istana.


Akhirnya merekapun mulai mengikuti si pemuda. Ketika berada di depan pintu istana, tampak beberapa prajurit penjaga menghadang Arya. Putri Zhou Jing Yi dan jenderal Sun Jian yang melihat kejadian itu, segera mempercepat langkah kaki mereka.


“Pemuda ini adalah tamu kita, jadi berikan jalan untuknya masuk." Kata jenderal Sun Jian lugas.


Prajurit-prajurit itupun tak berani membantah. Apalagi mereka juga melihat kedatangan Putri Zhou Jing Yi. Maka serta-merta mereka menjura, lalu dua orang diantaranya cepat-cepat membukakan pintu.


“Tuan, aku akan mengolah bunga energi. Untuk itu aku memerlukan satu ruangan yang cukup luas.” kata Arya.


Semua Alkemis memang dapat mengolah tanaman-tanaman untuk dijadikan obat. Namun untuk bunga energi, mereka pasti mengalami kesulitan, dimana cara mengekstrak bunga tersebut harus menggunakan teknik khusus yang tidak bisa di samakan dengan tanaman obat biasa. Karena itulah Arya memerlukan tempat yang cukup luas.


“Baiklah, kalau begitu kita ke ruangan Alkemis. Disana terdapat alat-alat yang mungkin kau butuhkan untuk mempermudah pekerjaanmu.” Balas Jenderal Sun Jian.


“Aku ikut..” Sahut Putri Zhou Jing Yi.


Arya mengerutkan dahi. Di saat seperti ini alangkah lebih baik jika Putri Zhou Jing Yi menemani ayahnya yang sedang terbaring sakit, daripada mengikutinya yang akan membuat obat. Namun dia tidak punya hak untuk melarang sang putri.

__ADS_1


Jenderal Sun Jian mengangguk.


Dengan demikian, mereka tak jadi memasuki pintu istana. Kini mereka melangkah ke gedung yang tak jauh dari sana.


Tidak terasa, setelah berjalan melewati beberapa gedung, merekapun kini telah sampai di gedung Alkemis. Meski tidak sebesar bangunan istana, namun Gedung Alkemis milik kerajaan Lanzhu ini nampak luas dan lebih besar jika dibandingkan gedung Alkemis yang ada di Sekte Lembah Petir.


Gedung itu terdiri dari 2 lantai besar dengan setiap lantai menyediakan berbagai fasilitas lengkap yang dibutuhkan oleh para Alkemis.


Arya sudah tidak terkejut lagi dengan pemandangan tersebut, dia sudah menduga milik kerajaan pastilah lebih mewah dari sekte manapun.


Ketika mereka memasuki gedung ini, orang-orang yang tengah sibuk membuat obat sontak menghentikan pekerjaan dan buru-buru menjura. Mereka dibuat keheranan atas kedatangan Putri Zhou Jing dan Jenderal Sun Jian. Memang tak biasanya dua orang penting kerajaan tersebut memasuki gedung Alkemis ini. ‘Pastilah ada sesuatu yang sangat penting.’ begitulah pikir para Alkemis disana.


Seorang pria paruh baya berpakaian coklat, berjalan tergesa-gesa menuruni tangga, menghampiri Putri Zhou Jing Yi dan yang lainnya.


“Apa ada yang diperlukan dari kami, tuan putri, tuan jenderal?” tanya seorang pria paruh baya itu setelah terlebih dulu menjura memberi hormat. Rupanya si orang tua tersebut adalah kepala Alkemis di gedung ini.


“Siapkan sebuah ruangan yang luas.” Kata putri Zhou Jing Yi.


Kepala Alkemis itu mengangguk. Segera ia mengantar mereka semua menuju lantai atas.


Kini mereka telah memasuki sebuah ruangan yang luas. Disana juga terdapat peralatan lengkap untuk membuat obat. Seperti tungku, tanaman-tanaman beraneka bentuk dan jenis, dan lain sebagainya.


“Alat apa yang anda butuhkan, Tabib Xian?” tanya jenderal Sun Jian.


“Sebenarnya aku hanya membutuhkan ruangan ini saja. Tapi jika anda tak keberatan, izinkan aku meminjam sebuah tungku untuk membentuk pil, selebihnya aku akan mengerjakannya sendiri,” jawab Arya.


“Kau bicara apa! Tentu saja aku tak akan keberatan sama sekali. Sekarang pilihlah tungku mana saja yang kau inginkan.” Kata jenderal Sun Jian, kemudian dialihkannya pandangannya menatap ke sudut ruangan sebelah kanan. Disana tampak berjejer-jejer puluhan tungku besar kecil.


Heng Dao menenggak araknya, “Gluuukkk..” orang tua ini rupanya amat penasaran bagaimana cara Arya membuat pil.


Kemudian terdengarlah Arya berkata, “Baiklah, aku akan mulai sekarang. Maaf, kalian menjauhlah! Jangan mendekatiku lebih dari lima tombak.”


Melihat semua orang mengangguk, Arya segera membentuk segel tangan dan menciptakan kubah penghalang berukuran kecil dari energi keemasan miliknya.


Kubah energi tersebut dia ciptakan untuk membatasi energi Bunga Anggrek Hantu agar tidak menyerap energi kehidupan semua orang yang berada di ruangan itu. Kemudian Arya mengeluarkan Bunga Anggrek Hantu dari cincin ruang miliknya. Bunga itu kini tergenggam di tangan kanannya.


Sontak saja semua orang melebarkan mata menyaksikan apa yang dilakukan oleh si pemuda.


Dalam kubah energi, Arya tampak sedang menarik seluruh inti Bunga Anggrek Hantu menggunakan energi keemasan. Tidak ada yang tidak takjub menyaksikan apa yang dilakukannya. Tak lama kemudian, muncul cahaya energi putih dari inti Bunga Anggrek Hantu. Cahaya putih itu memancar sangat terang hingga sosok Arya tidak dapat dilihat dari luar.


Andai si pemuda tidak menciptakan kubah energi untuk menahannya, sudah dapat dipastikan semua orang yang ada di ruangan itu akan tewas dengan tubuh mengering, dimana energi kehidupan milik mereka akan langsung terhisap oleh inti bunga tersebut.


Setelah berhasil mengeluarkan inti bunga, Arya menetralkan semua energi putih dari inti bunga tersebut, membuat cahaya putih seketika lenyap dari pandangan semua orang.


Tampaklah sebuah bola transparan seukuran jari tangan yang memancarkan cahaya putih redup di atas telapak tangan si pemuda


Selepas proses penarikan inti energi, Arya kemudian memasukan inti energi itu ke dalam periuk pembentukan Pil yang berada di atas tungku pembakaran, tidak lupa dia kembali menutup rapat periuk itu agar tidak terjadi kebocoran.


Selanjutnya Arya menarik kembali kubah energi yang diciptakannya tadi, masuk ke dalam tubuhnya, membuat kubah itu lenyap menjadi butiran cahaya ke-emasan.


Arya menoleh kepada Heng Dao “Orang tua, apa kau bisa membantuku memasak?”


Heng Dao tak segera menjawab, ditenggaknya araknya, baru ia berkata, “Tadi kau bilang, kau akan mengerjakannya sendiri! Kenapa sekarang meminta bantuanku.”


Namun meski begitu, orang tua ini melangkah menghampiri Arya. Sesampainya di sana, Heng Dao segera mengalirkan energinya ke dalam tungku energi.

__ADS_1


Sebenarnya Heng Dao ingin bertanya dari mana Arya belajar semua itu, namun diurungkannya karena merasa lebih baik menanyakannya nanti jika pembuatan obat telah selesai.


Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian, kepala Alkemis dan dua Alkemis senior lainnya terus memandangi Arya penuh kagum. Disaksikan mereka, saat ini si pemuda sedang menyiapkan beberapa tanaman dan buah yang memiliki bentuk aneh. Sedang Heng Dao tampak beberapa kali menenggak araknya dengan tangan kiri, sebab tangan kanannya terus saja terjulur mengeluarkan api ke arah tungku.


Tak lama kemudian, Arya berjalan menghampiri tungku sambil membawa sebuah cawan yang terbuat dari besi. Di dalam cawan itu terdapat cairan hijau kemerahan. Cairan tersebut berasal dari tanaman-tanaman serta buah-buahan yang sebelumnya telah ia tumbuk menjadi satu.


Si pemuda membuka penutup Periuk yang ada di atas tungku. Tampak ia memasukkan cairan yang ada di cawan yang dibawanya. Setelah itu, Arya duduk bersila diatas lempengan batu yang tak jauh dari tungku. Ia memejamkan matanya. Meluangkan waktunya untuk berlatih di alam jiwanya!


Pembentukan pil telah memakan waktu sekitar dua jam, selama itu pula Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian duduk dengan setia menyaksikan setiap prosesnya. Sementara kepala Alkemis dan dua Alkemis senior telah ikut membantu Heng Dao dalam memasak. Mereka secara bergantian mengalirkan energi api ke dalam tungku.


Beberapa kali Heng Dao melirik ke arah Arya. Ia mengira jika pemuda itu sedang berkultivasi. Dalam benaknya ia tak habis pikir dengan segala kemampuan yang di miliki pemuda tersebut. Selama menjadi Alkemis, orang tua ini tidak pernah melihat penarikan inti tanaman menggunakan energi keemasan. Walau menarik inti tanaman menggunakan Qi terlihat mudah, namun ia sendiri kadang kesulitan untuk melakukannya.


Tiba-tiba Arya membuka matanya. Dia bangkit berdiri dan lalu menghampiri kepala Alkemis tua yang tengah menyalurkan elemen api miliknya ke arah tungku.


“Apakah pembentukan pil sudah jadi?” tanya pemuda ini.


Sebagai seorang Alkemis, tentu saja si orang tua tahu apa yang di maksudkan Arya. Lalu jawabannya. “Belum.. aku juga heran, sampai selama ini Periuk ini belum juga berbunyi.”


Arya mengangguk, “Orang tua, biarlah aku yang mengambil alih pekerjaan ini. Anda beristirahatlah.”


Setelah berkata begitu, tangan kanannya bergerak terulur ke arah tungku. Dari tangannya itu serta-merta meluncur lidah api berwarna biru.


Menyaksikan hal itu, wajah si orang tua atau kepala Alkemis tersebut menjadi terheran-heran. Ia memandangi api biru di tangan Arya, lalu berganti memandangi wajah si pemuda. Begitu dilakukannya berulangkali!


Si orang tua tak habis pikir, bagaimana seorang pemuda yang masih belia dapat memiliki jenis elemen api biru. Level api yang setingkat lebih tinggi dari yang dimilikinya! Untuk dapat memiliki api biru, seseorang diharuskan membentuk pondasi tubuh paling tidak setahap Pendekar Suci. Dengan demikian tahu lah kiranya si orang tua bahwa pemuda disampingnya itu adalah seorang Pendekar Suci.


Tak lama kemudian, periuk pembentukan pil berbunyi pertanda proses pemasakan pil telah selesai. Arya segera membuka tutup periuk! Asap tebal berwarna putih seketika menyeruak ke seluruh ruangan.


Setelah asap itu menghilang, Arya dapat melihat 6 pil kecil berwarna hijau transparan mengambang di atas air. Seluruh pil tersebut mengeluarkan bau yang sangat harum membuat semua orang semakin penasaran, termasuk Heng Dao.


Dengan cepat Alkemis tua dari Kekaisaran Tang tersebut mendekat. Ia sangat penasaran bagaimana bentuk dan kualitas pil yang dibuat oleh Arya.


Sementara itu, Arya tampak mengeluarkan semua pil tersebut, lalu menaruhnya di atas telapak tangan. Melihat demikian, Putri Zhou Jing Yi, jenderal Sun Jian dan semua Alkemis yang ada disana segera mendekat, ingin melihat lebih dekat bagaimana bentuk pil tersebut.


Sontak mata mereka semua tampak berbinar saat menyaksikan enam butir pil yang ada diatas telapak tangan Arya. Pil tersebut memiliki bentuk dan warna sangat indah, sebuah maha karya yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


“Apa nama pil ini?” Tanya Putri Zhou Jing Yi.


Arya menyerahkan semua pil itu kepada Sang Putri, ia tersenyum lalu berkata. “Sesuai dari nama bahan untuk membuatnya. Pil ini bernama Pil Bunga Anggrek Hantu..”


“Nama yang aneh..” desis Putri Zhou Jing Yi.


Tiba-tiba terdengar Heng Dao berkata, “Bolehkah aku melihat kualitas pil itu, tuan putri?”


“Orang tua, sepertinya kau mencurigaiku. Pil itu adalah buatanku. Jadi jika Raja sampai kenapa-kenapa setelah meminum pil itu, aku disini bersedia menanggung akibatnya. Kau tak perlu takut jika Pil itu adalah racun.” Kata Arya dengan dingin.


“Ah...” Heng Dao mendesah. “Kau terlalu berprasangka anak muda. Aku hanya ingin memeriksa kualitas pil buatanmu saja.”


Arya tak menyahut, dia tidak dapat dibohongi. Memang rupanya Heng Dao diam-diam menaruh curiga pada pil itu, karena bagaimanapun pil itu terbuat dari bahan yang berbahaya.


Putri Zhou Jing Yi mengulurkan pil ditangannya kepada Heng Dao.


Untuk beberapa lama, Heng Dao mengamati pil itu satu persatu dengan teliti. Bahkan ia juga menggunakan energi kehidupannya serta energi Qi nya untuk memastikan apakah ada kandungan berbahaya didalam pil tersebut.


Sesaat kemudian, keluarlah ucapan si orang tua ini, “Luar biasa! Pil ini memiliki tingkat efektivitas yang hampir sempurna. Rupanya kabar yang ku dengar tentangmu memang bukanlah berita kosong. Aku telah melihat sendiri bagaimana kemampuan yang kau miliki, Tabib Xian. Sangat beruntung Kekaisaran ini memiliki orang sepertimu.” Kata orang tua ini dengan wajah menyorot penuh kekaguman melihat Arya.

__ADS_1


__ADS_2