
Shillin begitu bahagia melihat pemuda yang dulu merawatnya sewaktu kecil kini berada di hadapannya. Meskipun perawakan serta wajah Li Xian sudah jauh berbeda dari yang di ingatnya, namun Shillin masih sedikit mengenalinya.
Sangking bahagianya, Shillin sampai meneteskan air mata. Dia langsung memeluk Arya untuk melampiaskan rasa rindunya terhadap kakak sepupunya itu.
"Gadis kecil, sekarang kau sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan kuat." Arya melepaskan pelukan Shillin dengan senyuman lembut.
Perkataan Arya membuat pipi Shillin seketika memerah, dia menunduk malu.
"Sekarang aku ingin melihat sejauh mana kemampuan kalian.." Arya melirik ke arah Yin Feng.
Latih tanding pun di mulai. Melihat kecepatan Arya yang begitu gesit, Shillin dan Yin Feng mengeluarkan seluruh kemampuannya, mereka di buat kesal karena semua jurus dan teknik bertarung yang selama ini mereka banggakan sama sekali tidak bisa menyentuh Arya. Sedangkan Arya hanya terus menangkis dan menghindar, dia tidak ingin menggunakan sedikitpun kekuatannya untuk membalas serangan, dia khawatir hal itu akan membuat mereka berdua terluka parah karena bagaimanapun kemampuan mereka sangat jauh dibawahnya.
Selepas melakukan latihan tanding, Arya memberikan pengarahan terkait jurus yang di miliki Yin Feng dan Shillin. Sebagian besar gerakan dasar, bertahan serta menyerang jurus mereka tersebut telah Arya hafal hanya dengan sekali lihat.
"Jurus pedang kalian sebenarnya mengandalkan teknik bukan tenaga, menonjolkan pola serangan yang sulit di tebak dan lentur." Arya memunculkan pedang yang seketika ada di genggaman tangannya. "Lihatlah baik-baik, seharusnya kalian jangan terlalu kaku menggunakan jurus ini."
Arya mengayunkan pedangnya selama beberapa menit sebelum menyarungkan pedangnya kembali. "Apa kalian sudah mengerti dimana letak kesalahan kalian menggunakan jurus ini?"
Pertanyaan itu membuat Yin Feng dan Shillin tersadar dari keterpukauan.
"Xian Gege, apa kau sedang menari?" Shillin mengerutkan dahi, menurutnya gerakan pedang yang di tunjukkan Arya lebih mirip tarian daripada jurus pedang.
Shillin tidak menyadari bahwa Arya tadi sedang meniru dan mempraktekkan jurus mereka, sebab gerakan Arya begitu luwes seakan begitu menikmati setiap ayunan pedangnya. Hal itu membuat Shillin tidak memperhatikan gerakannya, malah justru terpukau seolah sedang melihat pertunjukan.
Arya terbatuk pelan lalu menarik pedangnya kembali. "Lin'er, aku akan memperagakannya sekali lagi, ku harap kau fokus dan berusaha mengingatnya."
Shillin menghela nafas sebelum mengangguk pelan. Sedangkan Yin Feng yang sedari tadi diam karena terpukau Arya dapat menguasai jurusnya dalam sekali lihat bahkan lebih baik darinya, nampak memperhatikan Arya dengan sangat seksama.
Arya mengulangi jurus pedang mereka berdua dengan sangat perlahan agar Yin Feng dan Shillin melihatnya lebih jelas.
"Sekarang coba kalian tirukan!"
"Hah? Xian Gege, bukankah itu jurus kami? Bagaimana kau bisa menguasainya, bahkan kau menggunakannya lebih baik dari kami." Shillin mengerutkan dahi dan menatap Arya penuh curiga.
Sebenarnya pertanyaan itu juga ingin di lontarkan Yin Feng, namun dia lebih tertarik terhadap cara Arya dalam menggunakan jurus itu. Dia dapat mengambil beberapa pelajaran dari gerakan yang di peragakan Arya.
"Aku menguasainya ketika melihat kalian menggunakan jurus itu. Tapi aku mendapati jurus yang kalian gunakan itu memiliki beberapa kelemahan dan celah ketika kalian menggunakannya dengan tenaga." Arya ingin melanjutkan perkataannya namun Shillin memotongnya.
"Xian Gege, jangan bilang kau bisa menguasainya hanya dengan melihatnya saja." Shillin menarik pedangnya lalu menunjukkan serangkaian gerakan jurus pedang lainnya. "Buktikanlah kalau kau memang mampu meniru jurus hanya dengan melihatnya."
Arya tersenyum tipis lalu menarik pedangnya. Dia tidak hanya berhasil menirukannya dalam sekali lihat, bahkan Arya melakukannya lebih baik dari Shillin.
Shillin menelan ludahnya, dia merasa iri terhadap bakat Arya, padahal dirinya sendiri perlu bertahun-tahun untuk dapat menguasai jurus itu.
Sedangkan Yin Feng tersenyum bangga sambil berjalan mendekati Arya. "Xian'er, bakatmu menirukan jurus sekarang sudah jauh berkembang pesat."
__ADS_1
Sebenarnya Yin Feng sudah mengetahui keistimewaan dari Li Xian. Sewaktu dulu dirinya mengajari Li Xian, Yin Feng di buat berkali-kali kagum dengan bakat dan kecerdasannya, dimana Li Xian dapat menghafal seluruh isi buku ataupun jurus dalam sekali lihat. Namun kecacatannya yang tidak memiliki Dantian, membuat bakatnya tersebut terpendam tidak terlalu di perhatikan banyak orang.
Meskipun begitu, melihat Li Xian saat ini dapat menirukan sebuah jurus rumit bahkan menguraikan kelemahan serta memperbaikinya membuat Yin Feng tidak dapat berkata-kata.
"Selain diriku, di luar sana masih banyak yang memiliki bakat sepertiku. Selain itu ada juga sebuah teknik yang dapat membuat seseorang mampu menirukan suatu jurus."
Mendengar perkataan Arya, Shillin nampak antusias lalu berjalan mendekat. "Xian Gege, apakah kau juga memiliki teknik itu?"
"Aku memilikinya, tapi hanya aku yang dapat menggunakannya."
Shillin tersenyum kecut, harapannya untuk bisa menirukan jurus pupus sudah.
"Tidak perlu iri pada bakat dan kelebihan orang lain, sebab semakin banyak kau membuang waktu untuk merasa iri pada mereka, maka semakin sulit pula kau untuk berkembang maju." Arya tersenyum lembut. "Bakat memang adalah anugerah dari Sang Pencipta. Kamu bisa mendapatkan bakat yang tidak tertandingi lewat semangat dan komitmen tinggi untuk terus berlatih. Lagipula bakat hanya akan membuatmu menang dalam permainan. Sedangkan dalam sebuah pertandingan dibutuhkan tekad dan kecerdasan."
Shillin dan Yin Feng nampak terpukau dengan perkataan Arya.
"Bakat adalah sesuatu yang kau tumbuhkan. Insting adalah sesuatu yang harus di latih. Hebat itu bukan karena bakat, melainkan hasil dari hempasan tekad dan banyak kerja keras. Keberhasilan bukan milik mereka yang berbakat, tetapi milik mereka yang bertekad." Arya menutup perkataannya dengan menyerahkan beberapa buku kepada Shillin dan Yin Feng.
"Ini..." Batin Yin Feng dengan senyuman merekah di bibirnya, dia menatap Arya dengan ekspresi kagum.
Meski hanya membaca sekilas penjelasan serta melihat gambar gerakan jurus yang terdapat di dalam kitab ditangannya, Yin Feng langsung mengetahui jika kitab yang di berikan Arya bukanlah berisi jurus sembarangan.
"Xian Gege, darimana kau mendapatkan kitab ini?" Tanya Shillin dengan menunjukkan ekspresi senang.
"Dari guruku, aku sedikit banyak merubahnya agar kalian dapat mempelajarinya. Sebenarnya aku memang menuliskan jurus-jurus yang ada di dalam kitab itu untuk kalian. Pelajarilah, tidak perlu merasa sungkan. Kalian adalah saudaraku, sudah sepatutnya aku berbagi ilmu. Lagipula jika kalian menjadi pendekar hebat, itu akan bermanfaat bagi perkembangan sekte ini."
"Xian'er, kau benar-benar pandai memberi penjelasan. Ku rasa semua tetua bahkan ayah sendiri belum tentu bisa mengajar sepertimu."
"Feng Gege terlalu berlebihan, aku hanya mengajar sesuai apa yang ku pahami."
Malam semakin larut, Arya menyuruh Yin Feng dan Shillin untuk berhenti berlatih. Arya kemudian memberikan beberapa buah sumberdaya untuk meningkatkan kultivasi mereka.
Ketika Arya sedang memperhatikan proses penyerapan buah sumberdaya yang di lakukan Yin Feng dan Shillin, tiba-tiba terlihat beberapa siluet turun dari langit.
"Ya Gege, benarkah kau ingin pergi menyerang Iblis Berdarah seorang diri?" Liu Wei nampak gusar.
Arya menatap Huang She sekilas lalu mengangguk pelan.
Huang She dan Liu Wei dapat mengetahui keberadaan Arya berkat Hulao, karena siluman harimau itu memiliki ikatan dengan Arya sehingga dia bisa berkomunikasi jarak jauh dengan pemuda itu.
Ketika Liu Wei hendak membuka mulutnya kembali, Huang She berjalan mendekati Arya dan lalu memberikan secarik kertas.
Arya tersenyum karena mengetahui isi pikiran Huang She, "Aku akan membacanya nanti.."
"Aku juga punya sesuatu untukmu, Ya Gege." Liu Wei melepaskan kalung di lehernya lalu di berikan kepada Arya. "Itu adalah kalung peninggalan dari orang tuaku. Aku memberikannya untukmu sebagai kenang-kenangan, ku harap kau tidak melupakan aku."
__ADS_1
Arya nampak terkejut, dia sebenarnya sudah tau perasaan kedua gadis tersebut terhadapnya. Namun untuk saat ini Arya sama sekali tidak memikirkan masalah percintaan, setidaknya sampai dirinya berhasil mengumpulkan semua pecahan Roh Kaisar Dewa Naga Emas.
Meski sudah menolak karena bagaimanapun kalung itu pasti sangatlah berharga bagi Liu Wei, namun Arya terpaksa menerimanya sebab Liu Wei terus mendesaknya untuk menerima kalung tersebut.
Malam itupun mereka habiskan dengan saling berbincang-bincang dan berlatih tanding, kini Arya melawan Liu Wei, Huang She, Yin Feng, Shillin dan ke-empat siluman secara bersama-sama.
Meski pertarungan mereka menimbulkan ledakan terus menerus dan kerusakan yang teramat parah. Namun suara gaduh dari pertarungan mereka sama sekali tidak terdengar oleh seluruh penghuni Markas Lembah Petir, sebab Arya telah menciptakan segel kedap suara yang mampu membendung dampak serangan maupun suara gaduh dari pertarungan mereka.
Sampai pagi pertarungan mereka belum juga selesai. Meski Arya di keroyok namun dia masih dapat mengimbangi bahkan mengungguli mereka semua. Kecepatan Arya benar-benar tidak dapat di ikuti, bahkan Hulao yang memiliki kultivasi paling tinggi di antara mereka, tidak mampu melihat kecepatan Arya.
"Gempa?"
Murid-murid Sekte Lembah Petir kelas hijau yaitu anak-anak berusia 5 sampai 9 tahun di landa kepanikan, mereka berlarian keluar dari kamar dan berkumpul di halaman depan karena khawatir tertimpa bangunan tempat peristirahatan mereka.
Getaran tanah yang terjadi terus menerus juga membuat para tetua, murid-murid inti serta Patriark Tao Lian menjadi panik. Mereka segera menuju ke sumber getaran tersebut. Mereka mendapati adanya pertarungan di dekat danau.
Menyadari kehadiran banyak orang yang menuju ke tempatnya, Arya segera memberi tanda untuk menghentikan pertarungan. Dia baru sadar jika segel yang dipasangnya telah mengalami kerusakan akibat benturan pertarungan mereka.
"Minumlah pil itu dan pulihkan kondisi kalian.."
Huang She, Liu Wei, Yin Feng, Shillin dan ke-empat siluman meraih pil yang melayang di hadapannya, kemudian menelannya.
Arya menghentakkan kakinya untuk membuka segel pelindung yang menyelubungi tempat mereka. Pemuda itu tersenyum menyambut kedatangan Patriark Tao Lian.
"Paman, aku kagum padamu. Dalam semalam saja anda sudah bisa menyelaraskan kekuatan anda. Karena paman sudah ada di sini, maka sekalian aku ingin pamit."
Patriark Tao Lian nampak tidak senang, namun dia tidak mau mengungkapkan keinginannya yang menghendaki Arya agar tetap tinggal. Karena sekeras apapun dia membujuk, keponakannya itu jelas akan tetap pergi.
Tidak berselang lama, para tetua mendarat di belakang Patriark Tao Lian. Mereka langsung bisa memahami situasi di sana ketika melihat kondisi tempat tersebut hancur dan kondisi Yin Feng serta yang lainnya nampak kacau karena habis bertarung.
Arya tersenyum canggung memahami tatapan semua tetua, dia lantas menggerakkan kedua tangannya sebelum menghentakkan kakinya ke tanah.
Semua orang melebarkan mata saat merasakan getaran tanah yang kuat, seiring dengan itu lobang-lobang tanah di tempat tersebut menutup seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kalian tetaplah di sini, aku titip dan jaga adik-adikku dengan baik." Ucap Arya yang terdengar di kepala Wouven dan Griffinhan.
"Baik tuan, tapi kapan anda akan kembali."
Arya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Griffinhan.
"Aku pamit, sampai jumpa semuanya." Suara Arya masih mengudara sementara sosoknya sudah menghilang. Melesat dengan sangat cepat ke angkasa, meninggalkan deruan angin yang menerpa semua orang.
"Saatnya berpetualang..." Honglong nampak tersenyum senang sebelum melesat mengejar Hulao yang sudah terlebih dulu pergi tanpa permisi.
Tergambar kesedihan dari wajah Patriark Tao Lian, baru saja dia bertemu dengan keponakannya itu namun kebersamaan mereka tidaklah berlangsung lama. Sebenarnya Patriark Tao Lian sudah menganggap anak adik angkatnya tersebut sebagai anaknya sendiri, karena itulah Patriark Tao Lian menginginkan Arya tetap tinggal, khawatir terjadi sesuatu padanya di luar sana.
__ADS_1
Kesedihan juga terlihat dari Yin Feng dan Shillin, terlebih dua gadis yang sudah lama dekat dengan Arya. Liu Wei dan Huang She sampai menitikkan air mata, mereka berdua segera pamit karena tidak bisa membendung kesedihan, malu jika kesedihan mereka terlihat orang-orang.