
Sebagaimana yang telah di ceritakan, kegagalan rencana Pangeran Tong Shun mengkudeta kerajaan Goading memaksanya kembali ke kerajaannya. Kerajaan Hanggai sebuah kerajaan yang ada di Kekaisaran Tang. Pengaruh kedudukannya di kerajaan itu memudahkannya untuk menyusun kembali pasukannya, setelah sebelumnya seluruh pasukan yang dibawanya telah ditumpas habis oleh Arya dan para prajurit kerajaan Goading.
Bersama ribuan pasukannya, serta orang-orang dari Sekte Kelabang Racun dan para pendekar aliran hitam yang telah berhasil ia ajak kerjasama. Kini ia kembali lagi untuk membalaskan dendamnya atas kematian adik kandungnya selir Tong Lia dan keponakannya Pangeran Tong Jiao, yang telah dihukum pancung oleh Raja Lin Yousan.
Tentunya pangeran Tong Shun bisa mendapatkan bantuan dari Sekte Kelabang Racun dan para pendekar aliran hitam karena janji-janji dan imbalan yang menguntungkan.
Selain itu, para pendekar aliran hitam termasuk dari Sekte Kelabang Racun juga diam-diam memanfaatkan keadaan. Jumlah kekuatan pasukan yang dimiliki pangeran Tong Shun mereka manfaatkan guna mencapai tujuan mereka yang ingin menguasai seluruh sekte yang ada di wilayah kerajaan Goading. Jika maksud pertama itu sudah tercapai, maka untuk selanjutnya tujuan-tujuan mereka yang lain akan lebih mudah untuk realisasikan.
Tie Mole melihat seseorang keluar dari pintu kemah. Orang itu nampak gagah dengan jubah panjang bermotif loreng seperti kulit harimau. Dan Tie Mole mengenal orang itu adalah jenderal An Nantian. Salah seorang jenderal yang dimiliki kerajaan Hanggai. Maka cepat-cepat Tie Mole menjura memberi hormat.
Melihat kedatangan Tie Mole, yang dikenalnya sebagai kepala pasukan khusus pengintai, sang jenderal tersenyum, namun senyumannya lenyap berganti rasa heran ketika tidak dilihatnya anggota pasukan khusus pengintai lainnya yang ada disana.
Meski demikian sang jenderal tidak bertanya. Dia tahu bahwa kedatangan Tie Mole pastilah membawa hal yang amat penting dan Pangeran Tong Shun sendiri juga telah lama menunggu informasi darinya. Maka cepat-cepat ia membawa Tie Mole masuk ke dalam kemah untuk kemudian di hadapkan kepada sang pangeran.
Ternyata kemah itu amat luas seperti rumah penduduk. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan serta perabotan seperti kursi, meja dan lain sebagainya. Mereka terus berjalan dan pada sebuah persimpangan lalu berbelok kiri. Disana mereka langsung dihadapkan pada sebuah pintu.
Begitu pintu itu terbuka, maka setiap orang yang duduk melingkar di sekeliling sebuah pelita minyak kelapa, berpaling memandang ke arah pintu. Hampir bersamaan mereka melihat jenderal An Nantian dan Tie Mole melangkah masuk.
Tie Mole mendadak tertegun. Ia melihat beberapa orang petinggi Sekte Kelabang Racun, petinggi Sekte aliran hitam lainnya serta Pangeran Tong Shun. Karena itu dadanya menjadi berdebar-debar.
“Ada apa denganmu, Tie Mole?” tanya jenderal An Nantian.
Sontak Tie Mole tersadar dari kegelisahannya yang mencekam dadanya. Ia pun cepat menggeleng, kemudian melangkah dan menjura di hadapan pangeran Tong Shun.
“Sampaikanlah laporanmu!” Perintah Sang pangeran.
__ADS_1
Tie Mole mengangguk, ia menarik nafas dalam-dalam, lantas berkata, “Pangeran, ternyata di kerajaan itu terdapat banyak sekali orang-orang yang memiliki kultivasi di atas Pendekar Suci.”
Semua orang di ruangan itu sontak terkejut. Laporan yang disampaikan Tie Mole sama sekali tak ada dalam perhitungan mereka. Dan mereka masih mendengar Tie Mole melanjutkan perkataannya.
“Apakah beberapa hari lalu pangeran juga mendengar adanya suara dentuman keras beberapa kali di langit?” Tie Mole berhenti sejenak, dan ketika dilihatnya pangeran Tong Shun mengangguk, iapun melanjutkan. “Suara dentuman itu sebenarnya terjadi karena adanya pertarungan di kerajaan itu.”
“Pertarungan? Maksudmu ada pihak lain yang menyerang kerajaan itu?” potong pangeran Tong Shun.
Tie Mole mengangguk, “Benar, dan pihak yang menyerang itu rupanya adalah orang-orang dari Sekte Iblis Berdarah yang terlebih dulu menyusup dan menyamar menjadi penduduk kota, bahkan banyak diantaranya berhasil memasuki kerajaan."
“Lalu bagaimana selanjutnya?” sahut Patriark Yong Guifai selaku Pemimpin Sekte Kelabang Racun. Dia memang telah mendengar berita mengenai keganasan sepak terjang serta kekuatan yang dimiliki Sekte Iblis Berdarah. Ia menduga kemungkinan besar, kerajaan Goading saat ini telah berhasil dikuasai oleh sekte tersebut.
Tie Mole menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata orang-orang Sekte Iblis Berdarah itu dapat ditumpas bahkan hampir tanpa sempat melakukan perlawanan berarti. Lebih dari itu, pasukan Hewan Iblis yang berpihak membantu mereka juga dapat di musnahkan dalam waktu semalaman saja.”
Mereka semua kemudian terdiam sejenak. Dada setiap orang menjadi bergejolak. Jika pasukan Sekte Iblis Berdarah yang dibantu pasukan Hewan Iblis saja tak mampu menundukkan kerajaan Goading, lalu bagaimana dengan pasukan mereka yang meskipun memiliki jumlah banyak namun hanya memiliki tiga orang yang berkemampuan di atas Pendekar Suci. Meskipun begitu, ada juga diantara mereka yang tak percaya bahwa Kerajaan Goading memiliki banyak orang diatas Pendekar Suci. Karena bagaimanapun menurut sepengetahuan mereka, keberadaan orang yang dapat menembus tahapan diatas Pendekar Suci di Kekaisaran Ming sangatlah langka bahkan bisa dibilang telah punah.
Semua orang tidak ada yang berani berbicara, bahkan beberapa diantara mereka merasakan kepalanya pusing dan jantung berdebar kencang seolah mau pingsan karena pangeran Tong Shun dalam amarahnya mengeluarkan tekanan energi dan hawa pembunuh yang kuat.
Kesunyian dan ketegangan itu kemudian dipecah oleh suara jenderal An Nantian, “Pangeran, kita tidak boleh menuruti perasaan saja tanpa pertimbangan nalar dan menyusun rencana. Jika itu yang kita lakukan, kemungkinan besar kita akan terjerumus ke dalam suatu keadaan yang tidak kita kehendaki, sedang dengan demikian belum tentu kita dapat mencapai tujuan.”
Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi pangeran Tong Shun menggeram. Hatinya sedang terbakar api dendam yang meminta untuk segera dilampiaskan. Karenanya ia melihat segala macam persoalan, kesulitan dan bahaya dengan darah yang mendidih. Tetapi ia tidak dapat berkata apa-apa sebab sadar bahwa apa yang dikatakan oleh jenderal An Nantian memang benar, sebagai seorang pemimpin tertinggi pasukan ia harus bisa mengendalikan perasaan dan mengedepankan pikiran.
“Tie Mola,” berkata Jenderal An Nantian, “Lalu apa lagi yang kau lihat disana? Apakah kau sudah mendapatkan gambaran titik mana saja pertahanan kerajaan itu yang mudah di tembus.”
“Maaf jenderal, kami tidak memiliki cukup waktu untuk membaca pertahanan kerajaan itu sebab saat kami hendak akan menyusup ke dalam kerajaan. Salah seorang diantara kami ketahuan dan kami pun akhirnya terpaksa melarikan diri.” Tie Mole menarik nafas panjang seolah ingin meredakan gejolak di dadanya. Kemudian ia meneruskan, “Sialnya beberapa prajurit terus mengejar kami sampai memasuki hutan. Kami pun kemudian bertarung melawan mereka. Tapi...” Tie Mole tidak dapat meneruskan penjelasannya karena tenggorokannya terasa tercekat oleh perasaan amarah yang mendalam.
__ADS_1
Semua orang mengerutkan keningnya. Pangeran Tong Shun menggeram, ia tidak sabar mendengar kelanjutan keterangan Tie Mole, maka diapun kemudian membentak.
“Apa orang-orang di atas Pendekar Suci itu yang mengejar kalian?”
Karena itu dada Tie Mole menjadi berdentang cepat. Cepat dia menggeleng dan perlahan-lahan ia berkata, “Bukan pangeran... Pada saat itu orang-orang diatas Pendekar Suci itu belum muncul. Tetapi justru orang-orang yang mengejar dan bahkan membunuh kami semua itu ternyata adalah orang-orang Sekte Iblis Berdarah. Sebelumnya mereka mencurigai kami, mereka mengira bahwa kami adalah mata-mata kerajaan yang sedang menyelidiki mereka. Dan ketika mereka akan membunuhku...” Tie Mole lagi-lagi tak sanggup meneruskan ucapannya, kepalanya menunduk semakin dalam.
“Katakanlah!” bentak pangeran Tong Shun.
Jenderal An Nantian manggut-manggut, ia kini baru mengerti kenapa Tie Mole datang seorang diri dan bahkan dari awal dia merasa jika Tie Mole nampak tegang. Dalam benak sang jenderal, ia sudah dapat menerka kelanjutan dari cerita tersebut.
Tiba-tiba Tie Mole mengeluarkan pedang, dan kejap kemudian mata pedang itu telah menempel di lehernya. Perbuatan itu sontak saja membuat semua orang begitu terkesiap, bahkan beberapa orang cepat berdiri untuk mencegah Tie Mole melakukan sesuatu yang tidak diharapkan.
Dengan nada bergetar Tie Mole berkata, “Maafkan aku pangeran, aku telah membocorkan rencana kita kepada orang-orang Iblis Berdarah itu. Sungguh memalukan! Sungguh sudah sepantasnya aku mati.. Suatu kehormatan bagiku jika pangeran mau mencabut nyawaku yang rendah ini.”
Pangeran Tong Shun kertakkan rahang. Matanya menyorot penuh kemarahan. Namun sebelum ia melakukan sesuatu, jenderal An Nantian segera melompat ke tengah-tengah mereka.
“Maafkan atas kelancanganku ini pangeran. Tapi aku merasa jika tindakan Tie Mole juga ada benarnya..” Kata sang jenderal.
“Apa maksudmu membelanya jenderal?! Seorang penghianat memang harus mampus!” Hardik pangeran Tong Shun. Tangannya sudah berkobaran api, siap melayangkan pukulan mematikan.
“Tidak pangeran, aku tidak membelanya! Memang seorang penghianat harus dihukum pancung! Namun Tie Mole bukanlah penghianat, dia melakukan hal itu supaya dia dapat menyampaikan informasi penting kepada kita. Jika dia memang penghianat, lalu untuk apa dia kembali kesini untuk mengantarkan nyawa.” perkataan jenderal An Nantian rupanya membuat kemarahan pangeran Tong Shun agak mereda.
Kembali sang jenderal meneruskan, “Jika dia tidak kembali dan menyampaikan informasi yang di dapatkannya kepada kita. Sudah tentu kita akan buta pada kekuatan musuh. Dan hal itu sangat berbahaya. Dengan adanya gambaran kekuatan pihak lawan yang telah disampaikannya, kita bisa mencari solusi terbaik atau menyusun rencana lebih matang untuk dapat mencapai kemenangan.”
Dalam keremangan ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu minyak, semua orang nampak terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
Pada keadaan itu tiba-tiba diluar terdengar suara dentuman dan suara teriakan banyak orang. Semua orang di ruangan itu segera berhamburan keluar. Ketika mereka telah berada di luar, mereka melihat telah terjadi pertarungan hebat.