
Di kaki gunung yang rimbun terlihat hamparan warna kecoklatan yang luas di terpa sinar matahari sore akibat dedaunan yang mengering karena musim gugur. Di sebelah selatan ada sebuah tebing batu menjulang tinggi, kelihatannya dinding tebing itu sebagai pembatas telaga dari daratan tinggi. Disekitar telaga itu sendiri banyak sekali berserakan batu-batu besar kecil, serakan batu itu tertata alam, bukannya menjadi pemandangan jelek, tetapi justru di situlah daya tariknya. Itulah seni alam yang menakjubkan!
Sementara disepanjang pinggir telaga terlihat pasir putih bagai permadani yang menutupi permukaan tanah. Dalam pandangan orang, suasana telaga itu seperti layaknya sebuah pesisir pantai. Luas telaga itu mungkin lebih dari lima puluh hektar. Disebelah timur terlihat aliran air deras dari luar, tampaknya aliran air itu berasal dari muara sungai yang membentang panjang dan memiliki air terjun.
“Luar biasa, tempat ini seperti di surga!” Batin seorang pemuda dengan sorot mata berbinar. Dia juga begitu takjub, sampai-sampai saat menarik nafas terasa olehnya badannya menggeletar.
Kekaguman pemuda ini memang beralasan. Di sekitar telaga banyak terdapat batu besar, suasana Telaga ini bisa dibilang ramai, terutama jumlah nelayan yang memanfaatkan telaga ini untuk mencari nafkah. Air di telaga tersebut benar-benar jernih, andai saja kedalaman telaga tak lebih dari lima tombak (1 tombak \= 2 meter) atau kurang dari itu, tentu saja dasar telaga bisa kelihatan. Tapi kedalaman telaga tersebut mungkin lebih dari dua puluh tombak, saat melihat ke bawah yang terlihat hanya selapis warna hijau kebiruan indah, tapi mengerikan jika ada orang yang tidak bisa berenang atau punya kenangan tenggelam.
Agak lama pemuda ini terpukau oleh keindahan Telaga tersebut. Mendadak dia melompat tinggi dan menceburkan diri ke dalam telaga.
Pria tua yang sedari tadi berdiri di sampingnya juga nampak terpukau. Dia memang sudah lama terkungkung dalam kesibukannya mengurus sekte, sehingga pemandangan semacam ini membuat matanya menjadi segar dan damai. Alangkah indahnya jika di masa tuanya seperti ini dia bisa menghabiskan waktu dengan hidup tenang.
“Lihatlah, burung saja terbang saling mengiringi.
Tapi aku, aku terus terjerat oleh sang sepi.
Telaga biru memang menyegarkan tubuh butut ini.
Tapi hati ini tetap masih saja terasa sendiri.
Oh, aku malu mengakui,
Bahwa aku iri pada ikan yang menari.”
Mendengar ucapan yang bernada syair, pria tua itu terperanjat dari lamunannya. Dia tersenyum geli ketika melihat pemuda yang datang bersamanya sedang berenang sambil tertawa-tawa berusaha mengejar ikan.
“Dasar konyol Gurunya gila muridnya sinting. Hahaha..” Sambil tertawa pria tua itu mengalihkan pandangan ke sekeliling telaga, dia mencari nelayan yang mungkin bersedia menyewakan perahunya.
Pandangannya kemudian tertuju pada seorang pria kurus berkulit gelap, pria itu tengah berjalan ke arah perahu sambil membawa jala.
“Maaf…” tegur orang tua ini dengan sopan pada lelaki kurus yang sedang mendorong perahu agar masuk ke air.
Pria kurus itu berhenti mendorong, dia menoleh. “Ya, bisa saya bantu?”
__ADS_1
“Apakah ini perahu anda?"
“Oh, tentu saja. Memangnya kenapa?” jawab lelaki itu agak kaget.
“Bisakah aku menyewa perahumu?” Tanya orang tua ini lagi.
“Bisa tuan. Tapi saat ini saya harus menangkap ikan untuk dijual…" Sahut orang itu agak tergagap.
“Sebenarnya kami hanya ingin menyeberang telaga ini saja. Kalau anda hendak sekalian mencari ikan, kami pun tak keberatan menunggu.”
Selagi nelayan tersebut sedang berfikir, pria tua mengulurkan tangannya. “Ini sebagai jasa sewa perahumu sekaligus untuk membayar tenagamu mengantarkan kami.”
“Ini… ini terlalu banyak tuan..” Seru nelayan ini kaget sekaligus gembira. Dia merasa orang tua yang ingin menyewa perahunya telah salah memberi bayaran.
“Terima saja! Anggaplah hari ini adalah hari keberuntunganmu.” Kata orang tua tersebut dengan senyuman ramah.
“Terima kasih tuan...” Si nelayan nampak senang bukan kepalang. Dia buru-buru menyimpan kepingan emas ditangannya ke balik pakaian yang di kenakannya.
Selagi si nelayan kembali mendorong perahunya masuk ke air, orang tua itu mengirimkan gelombang suara yang hanya dapat di dengar si pemuda yang masih asyik berenang di telaga.
“Mari tuan-tuan..”
Sore itu suasana di sekitar telaga begitu sejuk dan nyaman. Orang tua yang tidak lain adalah Patriark Dai Wubai dari sekte Pedang Suci benar-benar terpesona melihat pemandangan di sekeliling telaga tersebut. Di depannya terbentang dinding yang amat tinggi, dinding itu adalah tebing yang menjadi salah satu dinding pembatas alam dari telaga.
Patriark Dai Wubai merasa tubuh dan jiwanya sudah menyatu dengan keindahan alam Telaga, dia benar-benar terpana. Hatinya makin tenang, ia benar-benar menyadari bahwa Tuhan itu Ada dan Maha Kuasa.
Sepanjang perjalanan, si nelayan bercerita panjang lebar tentang telaga dan dinding itu. Konon telaga itu sebenarnya sangat luas, tetapi karena gempa dahsyat ratusan bahkan ribuan tahun silam, maka pada pertengahan telaga itu ditimbuni tanah, batu dan cadas yang sudah berusia ratusan tahun silam. Karena termakan usia, timbunan itu akhirnya terkikis sedikit demi sedikit dan membentuk sebuah dinding tebing, tinggi dari permukaan telaga kurang lebih dua puluh tombak.
Dilihat dari tingginya dinding tebing itu, Patriark Dai Wubai dapat membayangkan bagaimana dahsyatnya gempa yang pernah melanda daerah itu. Dari mana cerita itu berasal, tiada seorangpun yang tahu, mereka semua mempercayai cerita itu sebab di belakang tebing itu masih terdapat telaga lain yang dinamakan Telaga Bening. Berdasarkan jarak antara tebing dinding Telaga ini sampai tebing dinding Telaga Bening, maka cerita itu patut dipertimbangkan, sebab kecuali gempa yang maha dahsyat hingga mencabik seluruh permukaan dunia, tak mungkin sebuah telaga dapat dipisah dengan tebing cadas seluas itu.
Namun Patriark Dai Wubai terlihat serius menanggapi cerita tersebut. Instingnya merasakan samar-samar ada energi aneh di dasar telaga. Entah itu berasal dari siluman atau benda pusaka, dia tidak bisa memastikannya.
Sementara itu pemuda berpakaian kumuh penuh tambalan disana sini, tidak memperdulikan keindahan alam sekitar. Dia seperti orang yang tertidur bersandar pada dek depan perahu, matanya terkatup rapat namun anehnya bibirnya bergerak-gerak seperti tengah mengucapkan sesuatu.
__ADS_1
Si nelayan menghentikan perahunya di tengah telaga, dia mulai mengambil jala. Sekali tangannya bergerak, jala besar itupun meluas.
“Tuan, bisa tolong bantu aku mengangkat jala ini?!” Seru si nelayan, dia tampak kesusahan dan berusaha keras menarik jala dari dalam air. Perahu yang di tumpangi mereka bahkan sampai miring akibat tarikan itu.
Patriark Dai Wubai tersadar dari lamunannya, dia melirik pemuda kumuh, tersungging senyuman di bibirnya. Patriark Sekte Pedang Suci ini tahu bahwa pemuda itulah yang telah membuat perkara sehingga menyebabkan jala si nelayan menjadi berat.
Patriark Dai Wubai mengulurkan tangan kanannya menyentuh bahu si nelayan. Meski hanya sentuhan namun akibatnya si nelayan merasakan ada kekuatan besar yang membuat tubuhnya mendadak bisa menarik jala yang tadinya berat menjadi ringan.
Mata si nelayan sampai membeliak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Selama dirinya menjala ikan, baru kali ini dia mendapatkan hasil yang sangat melimpah. Dalam sekali jala saja, ratusan ikan terjerat di dalamnya. Ketika tangkapan itu dimasukkan ke dalam perahu, maka perahu kecil itupun terisi sampai setengahnya.
“Sekali tangkap lagi penuhlah perahu ini.. Aku bisa kembali ke rumah dan menjadi orang kaya.” Begitu pikir si nelayan, maka diapun mengayuh perahunya ke jurusan lain.
Sampai di suatu tempat yang dirasakannya baik diapun siap mengambil jala. Namun mendadak sepasang matanya melirik ke arah pemuda yang tiduran di perahunya. Dia yakin tadi merasakan sentuhan seseorang pada pinggangnya.
“Belum cukupkah hasil tangkapanmu? Keserakahan bisa membuatmu dalam bahaya.”
Si nelayan menatap lekat-lekat pada si pemuda yang terlihat masih terlelap dalam tidurnya. Dia mengerutkan dahi, dia yakin bahwa suara tadi adalah suara pemuda tersebut. Tapi kenapa dia tidak melihat pemuda itu menggerakkan bibirnya?
“Jika kau lemparkan jala itu lagi, maka perahumu akan tenggelam. Tidakkah kau lihat perahu ini sudah tak sanggup membawa beban. Lalu apakah kau yakin akan menangkap ikan lagi? Jika begitu maka bukan hanya perahumu saja yang tenggelam tapi ikan tangkapanmu juga akan lepas dan kau sendiri belum tentu bisa pulang dengan selamat.”
Sadarlah kini si nelayan. Meski tidak tahu siapa yang sebenarnya berbicara namun perkataan itu memang benar adanya. Maka dia berfikir sebaiknya mengantarkan penumpangnya menyebrang, dengan begitu beban pada perahunya akan berkurang dan dia bisa menangkap ikan lagi.
Sesampainya di tepi telaga, pemuda kumuh yang tidak lain adalah Xiao Zhiyuhan alias Pendekar Penyair menatap malas si pelayan yang telah mengayuh perahu kembali ke tengah telaga.
“Ternyata keserakahan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang kaya dan memiliki jabatan.” Desisnya sambil gelengkan kepala dan kemudian memutar tubuh hendak melanjutkan perjalanan.
“Begitulah watak manusia, dikala mendapatkan kesempatan yang menguntungkan, mereka yang memandang tinggi harta akan mudah tergoda. Mereka akan melakukan apapun meskipun harus berbuat culas dan mengorbankan keselamatannya sendiri.” Balas Patriark Dai Wubai, lalu lanjutnya. “Apakah kau juga merasakan ada energi aneh di dasar telaga ini?”
Zhiyuhan mengangguk, “Energinya terasa samar namun aku menduga energi itu seperti energi yang dimiliki makhluk asap yang tempo hari membuat perkara di depan sektemu, kek. Mungkin juga itu energi hewan iblis. Sepintas sama.”
“Apa kau yakin!?” Patriark Dai Wubai mengepalkan tangannya, beralih menatap ke telaga.
Zhiyuhan menaikkan bahunya, “Entahlah, tapi aku tadi sudah berusaha memancingnya keluar. Tapi makhluk itu sepertinya sedang sibuk atau mungkin tidak tertarik membuat urusan dengan pendekar daratan ini yang dianggapnya lemah.”
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu kita tunggu sampai dia keluar. Atau perlu kita yang mendatanginya.”
“Tunggu kek! Tujuan kita kemari adalah untuk memastikan pecahan pusaka legenda yang ada di Sekte Lembah Petir. Masalah makhluk itu, kita urus saja setelahnya.”