Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Pembasmian Kota Goading V


__ADS_3

Untuk beberapa lamanya asap tebal masih mengambang menutupi pandangan, hebusan angin menderu keras di sertai hawa panas. Bahkan kilatan-kilatan petir yang di susul gemuruh gelegar Guntur menyambar-nyambar di langit yang mendadak tertutupi awan hitam.


Tak lama berselang, tiba-tiba tanah kembali bergetar hebat dan dalam sekejap asap debu mendadak terangkat naik.


Hulao dan Honglong yang sudah dapat melihat segala sesuatunya, nampak mengerutkan dahi. Sungguh sangat mengherankan, serangan dahsyat yang dilepaskan kera raksasa sama sekali tidak menghancurkan kawasan kerajaan. Hanya sebagian tembok pertahanan kerajaan yang jebol, hancur berserakan!


Keduanya melihat para bayangan Arya berdiri berjejer sambil pentangkan kedua tangan lurus ke depan. Masing-masing bayangan Arya tampak menciptakan tembok elemen berupa tembok tanah, api, es, angin dan cahaya. Rupanya karena inilah serangan dahsyat kera raksasa tersebut dapat dibendung.


Kera raksasa yang melihat serangannya dipatahkan, terlihat menggeram marah. Matanya berubah merah, energi hitam tiba-tiba mengeruak dari tubuhnya membuat suasana mendadak mencekam. Gada besar di tangan kirinya diangkat dan di putar-putar diatas kepala. Sepertinya kera raksasa ini bersiap lancarkan serangan susulan yang tak kalah dahsyatnya.


Namun pada saat kera raksasa tersebut tengah menghimpun energi untuk lancarkan serangan, tiba-tiba dia merasakan adanya ancaman. Dari arah bawah kakinya, tanah tiba-tiba mengeruak dan dari sana keluar sosok bayangan yang melesat sangking cepatnya.


Praaakk!


Bruuuuakk!


Tanpa di duga dan dapat dihindari, sosok bayangan itu telah mendaratkan pukulan yang dengan telak mengenai dagu kera raksasa. Tak pelak, kera raksasa itu dibuat mencelat ke udara.


Tapi sebelum kera raksasa itu dapat menguasai diri, tahu-tahu muncul belasan sosok bercadar yang telah mengepungnya di udara. Salah satu dari mereka melesat dan dengan cepat telah kirimkan satu jotosan ke lambung.


Buk!


Sosok bercadar tersentak kaget. Pukulannya seperti mengenai benda empuk, dan tak berpengaruh apapun terhadap sang kera tersebut.


Sebelum sosok bercadar sempat berbuat sesuatu, gada besar hewan iblis tersebut telah menyambar pundaknya.


Prakk...!


“Akh...!”


Sosok bercadar memekik tertahan. Seketika itu juga, tubuhnya terlontar ke samping. Daging pundaknya terkoyak. Tubuhnya perlahan hancur menjadi butiran cahaya ke-emasan.


“Grrrr...”

__ADS_1


Kera raksasa tersebut meraung keras. Kemudian meluncur dalam gerakan laksana angin, kera tersebut melesat ke arah sosok bercadar lainnya. Gada ditangan kirinya sudah mengayun ganas ke tubuh lawan.


Tak mau ambil resiko dengan beradu kekuatan dan tak ada kesempatan lagi untuk mengelak, bayangan Arya segera manfaatkan waktu yang tersisa untuk gunakan teknik berpindah dimensi.


Pukulan gada kera itu hanya membelah angin! Kera tersebut menggeram murka kehilangan lawannya! Dengan pandangan marah, diayunkannya gada ditangannya itu dengan gerakan memutar.


Belasan sosok bercadar yang sedang melesat hendak berikan serangan di buat terhempas terkena sapuan energi angin dari ayunan gada sang kera.


Menyaksikan serangannya tidak membuat satupun pengeroyoknya tewas. Kera raksasa itu mengamuk sejadi-jadinya. Namun sebelum tubuhnya melesat menerjang lawan, pendengarannya yang tajam tiba-tiba menangkap adanya suara berdesir halus dari atas. Dengan sigap dia melompat menjauh. Dugaannya tidak meleset, karena terlambat sedetik saja, kepalanya pasti akan terkena tebasan pedang sosok bercadar.


Namun sebelum kera raksasa dapat merasa lega, tiba-tiba dia merasakan dari arah bawah ada sesuatu yang mencekal pergelangan kaki kanannya.


Dengan sebelah tangannya, bayangan Arya segera memutar-mutarkan tubuh hewan iblis tersebut.


Luar biasa, sosok bayangan Arya yang hanya setinggi lutut kera raksasa bisa memutar-mutar tubuh hewan iblis itu dengan entengnya.


“Gggrrr...”


Kera raksasa itu mengaum keras. Suara auman yang timbul karena perasaan marah bercampur takut.


Semakin lama putaran tangan bayangan Arya semakin cepat. Sehingga membuat kera raksasa itu menjadi pusing.


Cukup lama juga bayangan Arya memutar-mutarkan tubuh kera raksasa tersebut. Dan setelah dirasanya cukup, genggaman pada pergelangan kaki kera itu dilepaskan.


Wuuukkk...!


Tubuh kera raksasa melesat jauh di udara, dan baru berhenti manakala hewan iblis tersebut jatuh ke dalam hutan.


Brakkk...!


Pepohonan di dalam hutan tumbang dilanda tubuh kera raksasa tersebut. Tapi hewan iblis itu sendiri tidak apa-apa. Tidak tampak tanda-tanda luka di sekujur tubuhnya.


Kera raksasa itu hendak kembali bangkit, tapi terjadi sesuatu yang menggelikan. Jangankan untuk melesat menerjang lawan, berdiri saja hewan iblis itu terlihat sempoyongan. Miring ke kanan dan ke kiri. Ternyata perbuatan bayangan Arya berpengaruh juga dan membuat kepalanya pusing.

__ADS_1


“Grrrr...”


Sambil mengeluarkan raungan keras, kera itu menatap marah ke arah orang yang telah menyakiti dirinya. Sosok bercadar yang bersenjatakan tombak.


Puluhan tubuh bayangan Arya dengan cepat kembali lancarkan serangan, mereka sama sekali tidak membiarkan lawannya memulihkan diri.


Dengan berdiri sempoyongan dan kepala pusing, kera raksasa ini melompat-lompat terhuyung-huyung mengelak. Luar biasa, meski dalam kondisi demikian, semua serangan sosok bercadar dapat di hindarinya dengan sempurna sehingga membuat hujanan serangan tersebut mengenai tempat kosong. Pada satu kesempatan, kera raksasa ini kirimkan sebuah pukulan ke arah perut salah satu sosok bercadar.


Bukkk...!


Yang kena dihantam memekik sesaat sebelum tubuhnya hancur menjadi serpihan cahaya keemasan.


Kera raksasa mulai menyadari sesuatu. Telah berulangkali dia berhasil melenyapkan lawannya, namun semua lawan yang berhasil dia tumbangkan berakhir menjadi butiran cahaya keemasan sebelum akhirnya lenyap.


Akan tetapi kera raksasa tidak punya waktu lama untuk memikirkan hal tersebut, karena saat itu juga dia merasakan lawannya telah kembali mengepung dirinya. Lancarkan serangan-serangan berbahaya!


Kera raksasa cepat sapukan gadanya dengan gerakan bawah ke atas. Energi ayunan gadanya berhasil menghempaskan sebagian lawannya. Namun beberapa sosok bercadar masih melesat menerjang.


Pertukaran serangan jarak dekat terjadi menegangkan. Sosok kera raksasa terlihat kewalahan di gempur habis-habisan oleh para bayangan Arya.


Salah satu sosok bercadar terperanjat kaget. Tangannya seperti meng-hantam sebuah benda empuk! Tenaganya seolah-olah lenyap begitu tangannya mengenai tubuh hewan iblis itu. Dia yakin jangankan kera raksasa ini, gunung pun akan hancur terkena pukulannya. Tapi kenyataannya, tubuh kera raksasa itu hanya terpental dan tidak terlihat tanda-tanda terluka.


Penasaran, bayangan Arya kembali menerjang, tubuhnya melesat lurus seperti anak panah, telapak tangannya yang memancarkan sinar keperakan terbuka lebar ke arah depan. Jurus tapak penghancur gunung kini menargetkan batang leher kera raksasa!


Bukkk... !


Tubuh kera raksasa tersebut terlontar menghantam rentetan pepohonan akibat kuatnya pukulan yang dilancarkan bayangan Arya. Kali ini bayangan Arya mengerahkan tiga perempat dari energi keseluruhan yang dimilikinya.


Bayangan Arya sendiri terlihat mengerenyit karena tangannya terasa lemas seperti mati rasa. Di tatapnya tubuh kera raksasa yang tertelungkup di tanah. Matanya mendelik tak percaya tatkala dilihatnya hewan iblis itu masih dapat bergerak dan perlahan mulai bangkit.


“Grrrr...”


Terdengar gerengan kesakitan dari mulutnya. Rupanya pukulan bayangan Arya kali ini baru terasa olehnya.

__ADS_1


Bayangan Arya mendengus kesal lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Kera raksasa itu sepertinya tidak mengalami luka yang berarti ketika menerima serangan yang dilancarkannya. Hewan iblis itu hanya nampak sedikit kesakitan.


Pemuda bercadar tersebut jadi bingung, namun kemudian dia lantas teringat pesan Arya. “Aku harus lebih memfokuskan serangan ke arah lambung!”


__ADS_2