
“Iblis keparat, sekarang aku akan mengadu nyawa denganmu!” Tiat Sim keluarkan suara membentak sambil menerjang menyerang dengan pedangnya.
Sosok berbaju putih bergambar tengkorak bertanduk itu mengeluarkan suara ketawa panjang dan langsung menyambut serangan itu dengan gerakan-gerakannya yang lincah dan aneh. Tetapi Tiat Sim yang sedang dikuasai dendam dan kemarahan juga terus menerjang dengan dahsyat dan mati-matian.
Melihat lawan mengayunkan pedangnya yang bersinar biru menebas ke arah leher sedangkan tangan kirinya sudah siap di atas kepala, manusia bertopeng tengkorak cepat menggeser kakinya ke belakang.
Akan tetapi tangan kiri Tiat Sim yang tadi mengancam di atas kepala itu menyambar turun, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala topeng tengkorak.
Menghadapi serangan yang tak terduga itu, topeng tengkorak kembali menggeser kakinya ke kiri, kemudian tubuhnya membalik ke kanan dan kedua tangannya mendorong. Dari posisi diserang, dia kini bahkan berbalik menjadi penyerang dari samping.
Dalam waktu sesempit itu Tiat Sim mencoba menangkis ke arah kanannya, dari mana dorongan pukulan itu datang. Akan tetapi pukulan topeng tengkorak itu amat kuat sehingga tangkisan pedangnya tak mampu membendung, akibatnya tubuhnya terpental ke kiri lantas terbanting jatuh ke atas tanah!
Tentu saja hal ini mengejutkan enam rekan Tiat Sim. Ke-enam orang itupun tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang pendekar berkemampuan tinggi, sebab itu tanpa membuang waktu lagi mereka pun menerjang maju membantu Tiat Sim. Salah seorang berbadan gempal melompat ke atas dan menubruk dengan kedua tangannya membentuk cakar, seperti serangan seekor singa kelaparan.
Dengan kecepatan kilat topeng tengkorak menghindar ke samping, lantas tangan kanannya bergerak cepat menghantam ke arah lambung penyerangnya. Lelaki berbadan gempal yang masih berada di udara itupun menangkis pukulan itu dengan tangannya yang membentuk cakar, bermaksud mematahkan tangan lawan. Akan tetapi karena kalah kuat, dia pun terpental!
Sambil membentak lima orang lainnya sudah menerjang menyerang, mengurung topeng tengkorak dengan tebasan, tusukan dan bacokan pedang yang begitu cepat dan bertubi-tubi layaknya curahan hujan.
__ADS_1
Meski dalam kepungan seperti itu, namun topeng tengkorak masih tetap tenang, bahkan ia sama sekali tak menggunakan senjata. Menghadapi curahan serangan pedang para lawannya, ia hanya menggunakan kedua lengannya ke kanan kiri. Ketika lengan itu bertemu dengan pedang lawan, maka mencipratlah bunga api dan terdengarlah pula suara berdentrang seolah lengan itu terbuat dari baja yang beradu dengan pedang.
Tiba-tiba gerakan topeng tengkorak semakin cepat, ia kini tidak hanya menangkis. Gerakan kedua tangannya berubah, yang kiri menusukkan dua jari ke arah mata lawan didepannya, yang kanan menyerang lelaki berwajah lonjong dengan tusukan ke arah dada dengan tangan miring. Dua serangan itu yang amat berbahaya bagi dua orang lawannya, sehingga dua orang yang di serang jadi kaget dan cepat-cepat melompat mundur menghindarkan diri dari serangan, sambil memutar lengan ke depan bagian tubuh yang diserang untuk melindungi.
Akan tetapi topeng tengkorak terpaksa tarik kembali serangannya karena saat itu ia harus melayani serangan lima orang lainnya yang menebaskan pedangnya susul-menyusul, bukan secara kacau balau melainkan dengan teratur sekali.
Orang pertama mengayunkan pedangnya dari atas, lantas turun ke arah kepalanya. Ketika topeng tengkorak menangkis dari samping, orang ke dua sudah menyerang menusukkan pedangnya ke lambung, ke bawah lengan kanannya yang terbuka untuk menangkis tadi ketika dia mengelak. Orang ke tiga sudah menebaskan pedangnya ke arah lututnya dan begitu dia meloncat ke atas menghindar, orang ke empat menyambutnya dengan tusukan pedang ke arah di punggung!
Pertarungan pun semakin lama semakin berjalan cepat dan sengit. Ledakan demi ledakan terjadi dan pepohonan disekitar tempat itu satu persatu roboh akibat berturan energi dari pertukaran serangan mereka.
Gadis kecil yang bernama Cia Ling menangis. Akan tetapi Cia Wan, kakak laki-lakinya merangkulnya dan mendekap mulut adiknya itu.
“Diam... jangan menangis, kita harus pergi dari sini...,” bisik anak laki-laki itu dan mereka berdua lalu diam-diam keluar dari dalam tenda, berjalan mengendap-endap menyelinap ke belakang sambil memandang ke arah pertarungan. Yang pada saat itu Tiat Sim dan lima rekannya tengah terdesak hebat oleh orang bertopeng tengkorak. Satu orang diantaranya sudah tewas!
Tiat Sim yang hendak menebas kepala topeng tengkorak mendadak terkejut ketika tahu-tahu pedangnya telah di cengkram tangan lawan. Cepat-cepat ia menendang perut lawannya yang terbuka itu, akan tetapi topeng tengkorak telah lebih dulu mempergunakan tangan kanannya melakukan tamparan ke kepala Tiat Sim. Tamparan ini bukan sembarang tamparan, melainkan tamparan yang mengandung energi kuat sekali, merupakan serangan maut sehingga tangannya itu terbungkus sinar ungu terang. Jangankan kepala orang, batu karang sekalipun akan remuk terlanda tamparan topeng tengkorak tersebut.
Pada saat berbahaya seperti itu, seorang lelaki berbadan gempal melontarkan pukulan jarak jauh, bertujuan untuk mengalihkan perhatian orang bertopeng agar orang itu tidak melanjutkan tamparannya.
__ADS_1
Untunglah orang bertopeng itu agaknya menyadari pukulan jarak jauh tersebut sehingga tamparannya agak mengendur. Tendangan Tiat Sim berhasil mengenai perut topeng tengkorak terlebih dahulu, ia lantas melepaskan pedangnya untuk kemudian memiringkan kepalanya menghindari tamparan. Namun energi dorongan yang kuat dari tamparan itu membuat tubuhnya terjengkang keras! Hanya dengan berjungkir balik sajalah dia terhindar dari bantingan keras.
Mendapati Tiat Sim lolos dari maut, orang bertopeng tengkorak tersebut mendengus, matanya menyorotkan kemarahan. Apalagi saat itu pukulan jarak jauh lelaki berbadan gempal beberapa tombak lagi akan mengenai tubuhnya. Akan tetapi orang bertopeng tengkorak tidak menjadi gugup melihat datangnya serangan gelap ini. Sekali berkelebat tubuhnya sudah lenyap dari kurungan enam lawannya itu. Dengan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, topeng tengkorak sudah melompat ke atas sehingga pukulan jarak jauh itu lewat di bawah kakinya. Orang bertopeng tengkorak tidak hanya mengelak, akan tetapi ketika tubuhnya turun, tubuh itu menyambar ke arah lelaki berbadan gempal yang tadi menyerangnya dengan pukulan jarak jauh.
Tentu saja lelaki berbadan gempal terkejut sekali melihat topeng tengkorak itu secara tiba-tiba lenyap, dan dia menjadi semakin terkejut ketika tiba-tiba ada angin menyambar dari atas dan ketika dia menengadah, dia melihat lawannya tadi sudah meluncur turun sambil menyerangnya dengan cengkeraman ke arah ubun-ubun kepalanya!
Datangnya serangan ini demikian tiba-tiba dan cepat sehingga satu-satunya jalan bagi lelaki berbadan gempal itu untuk menyelamatkan diri hanyalah dengan cara membuang tubuhnya ke samping, ke arah yang berlawanan dengan datangnya serangan, terus menjatuhkan diri ke bawah. Akan tetapi gerakannya masih belum cukup cepat karena sebagian rambutnya telah kena dicengkeram dan rontok dari kepalanya!
Lelaki berbadan gempal bergulingan kemudian melompat bangun dengan muka pucat saking ngerinya. Nyaris dia tewas dengan kepala hancur!
Pada saat itu lelaki berwajah lonjong sudah menerjang dengan serangan kilat, menebaskan pedangnya ke arah dada, disusul dengan serangan yang dilakukan oleh Tiat Sim dan satu orang lainnya.
Topeng tengkorak yang dikepung dan dikeroyok dari tiga penjuru, mendadak tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan putih yang sulit sekali disentuh, apa lagi dipukul.
Tiba-tiba topeng tengkorak dengan kecepatan gerak tangan dan kakinya, dan sungguh pun empat orang lawan ini pun mampu menghindarkan diri dengan saling bantu, namun permainan pedang mereka menjadi kacau saking cepatnya gerakan topeng tengkorak. Dalam beberapa gebrakan tiga orang terpelanting dengan tubuh jebol, tak mampu bangun lagi. Tewas!
Tiat Sim melawan mati-matian, akan tetapi orang bertopeng tengkorak itu sungguh sangat kuat. Terlebih lagi lawannya ini memiliki kecepatan luar biasa sehingga mampu menghindarkan semua serangannya berikut serangan dua rekannya dengan amat mudahnya. Bagaimana pun juga keadaannya, Tiat Sim yang merasa dendam, marah serta penasaran, terus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk melawan dengan tekad bulat melawan sampai mati.
__ADS_1