
Pemilik kedai sebenarnya sudah berusaha mengalirkan Qi nya untuk melepaskan diri dari teknik yang membelenggu tubuhnya, namun berkali-kali usahanya tidak membuahkan hasil. Ketika melihat anak gadisnya akan di bawa pergi, dia segera berteriak keras. "Penjaga, cepat hentikan manusia terkutuk itu.."
Beberapa penjaga kedai yang berada di luar memang tidak mengetahui jika terjadi masalah di dalam, ketika mendengar suara teriakan keras, mereka buru-buru masuk dan langsung menghadang Junwe.
Masih dengan memanggul Diao Chan di pundaknya, Junwe menyeringai menatap sinis orang-orang yang menghadangnya.
"Serahkan gadis itu, atau kami akan menjebloskanmu ke penjara." Bentak salah satu penjaga.
"Tenanglah aku hanya akan membawanya sebentar, setelah itu aku pasti akan mengembalikannya." Masih dengan sikap tenang, Junwe kembali melangkahkan kakinya.
Semua penjaga langsung menarik senjata dan bergerak menyerang.
Junwe segera menarik tubuhnya ke belakang saat pedang salah satu penjaga akan menebas perutnya. Dia lalu menghentakkan tangan kanannya ke penjaga yang menyerang tadi, penjaga itu sontak menjerit dan tubuhnya terpental menabrak satu penjaga lainnya
Berat tubuh Diao Chan yang dipanggulnya nyatanya tak membuat pergerakan Junwe terhambat, pemuda itu begitu gesit mengelaki setiap tebasan dan serangan yang datang.
Kedai itu seketika menjadi ricuh, suara pertarungan membuat suasana menjadi mencekam.
Dalam waktu singkat, semua penjaga di buat berpentalan. Meja-meja dan kursi-kursi yang berada dekat dengan pertarungan hancur berantakan.
Sebagian besar pengunjung bangkit, dan langsung mengurung Junwe.
"Keparat, cepat lepaskan gadis itu jika kau ingin selamat." Teriak seorang pemuda berdandan tinggi berkumis tipis.
"Ambil sendiri gadis ini jika kau sanggup." Junwe menatap pemuda itu dengan tatapan mengerikan.
"Bangsat..." Pemuda itu melesat, mengerahkan jurus tangan kosong dengan kecepatan tinggi.
Junwe menangkis semua pukulan pemuda itu dengan santai, peraduan jurus tangan kosong mereka menimbulkan deruan angin kencang, menerbangkan kursi-kursi yang hancur berserakan.
Sembari mengelak ke samping, Junwe memutar tubuhnya lalu melontarkan tendangan menyilang, yang dengan telak mengenai kepala si pemuda.
Braaakk..
Tubuh pemuda itupun terpelanting terbang, kepalanya membentur dinding kedai sampai jebol.
Para pengunjung lain yang terperangah menyaksikan kemampuan Junwe mulai sedikit gentar, namun salah seorang berseru lantang. "Ayo kita serang bersama-sama, jangan biarkan Jinak-jinak merpati di bawa pemuda brengsek itu."
Melihat semua orang yang mengepungnya, mulai menarik senjata, Junwe tersenyum datar. "Aku peringatkan kalian, lebih baik kalian menyingkir, atau kalian akan bernasib sama seperti pemuda itu."
"Bangsat, mampuslah."
Salah seorang melesat cepat, menghujamkan belati panjang ke arah Junwe.
Cepat-cepat Junwe menggeser tubuhnya, seiring dengan itu Junwe menghantamkan kepalan tinjunya ke mata si penyerang.
Orang yang memegang belati itu terjengkang jauh menghatam beberapa meja, dan jatuh tanpa bisa bangun lagi.
Semua pengunjung yang berusaha menyerbu juga mengalami nasib sama, dihantam pingsan satu-persatu. Kecepatan Junwe begitu cepat, menunjukkan bahwa dia memiliki kemampuan yang tidak sembarangan.
Sementara itu di sudut terpencil kedai, Arya dan kakek hidung pesek masih duduk bersandar memejamkan mata.
Namun ketika Junwe melangkah ke arah pintu, terdengar suara bentakan yang membuat gendang telinganya mendengung.
"Tunggu dulu, jangan buru-buru pergi!"
Langkah Junwe tertahan, membalikkan badan dan mendapati orang tua pesek tadi sudah berdiri dari kursi, melangkah ke hadapannya.
Junwe memasang sikap waspada, mengetahui tidak dapat membaca tingkat kultivasi kakek itu diam-diam dia menjadi gentar.
__ADS_1
"Aku tak punya waktu untuk mengurus kakek tua jelek sepertimu." Junwe memutar tubuhnya hendak berlalu.
Tapi kakek pesek itu cepat-cepat memegang bahu kanannya.
Junwe seketika memasang wajah terkejut, cengkraman tangan kakek pesek itu dirasanya seperti di timpa batu yang begitu berat.
"Siapa sebenarnya orang tua ini?" Batin Junwe, sepasang matanya menatap dingin.
Buru-buru Junwe melesat keluar kedai, namun sebelum dia berhasil melewati pintu, selarik cahaya biru bertekanan kuat hampir saja menghantam tubuhnya jika saja dia tidak cepat-cepat mengelak berputar ke samping.
"Turunkan gadis itu.." Bentak kakek pesek.
Melihat gelagat Junwe yang akan kembali berusaha kabur, kakek tua itu segera berkelebat mengulurkan tangannya, lima jarinya membentuk cakar berniat meraih gadis yang di panggul pemuda itu.
Melihat kilatan energi biru dari lima jari cakar si kakek, Junwe buru-buru memompa aliran Qi nya untuk mengerahkan Jurus Tapak Tulang Siluman.
Cakar si kakek berhenti beberapa jengkal di depan tapak pemuda itu, seolah-olah di antara mereka terdapat tembok pembatas yang membuat mereka tidak dapat bersentuhan.
Tekanan peraduan energi itu sampai membuat lantai bergetar kuat dan dinding di kedai tersebut retak di segala sisi.
Merasa tertekan, Junwe yang tidak mau mengambil resiko bertarung sambil membawa seorang gadis, lalu melemparkan tubuh Diao Chan sampai keluar kedai.
Kembali kakek tua itu berkelebat, namun lagi-lagi Junwe berhasil mengelak menghindar. Tak membuang waktu lama, kakek tua itu terus menerkamkan cakarnya secara bertubi-tubi.
Sambaran angin akibat serangan mereka semakin membuat ruangan kedai itu porak-poranda.
Di mata orang biasa, pertarungan mereka hanya terlihat seperti banyangan yang berkelebat begitu cepat.
Pada suatu kesempatan, sosok bayangan terlempar mundur. Kakek tua melebarkan mata tak percaya jika serangannya yang mendarat ke tubuh Junwe, seperti lenyap tak berbekas.
Junwe menyeringai, lalu mengeluarkan tiga besi runcing yang menyala merah, kemudian di lemparkannya ke arah kakek tua.
Dengan mata yang masih terpejam, Arya mengangkat tangannya dan menangkap tiga senjata itu dalam sekejap.
Baik kekek pesek maupun Junwe sama-sama terperangah menyaksikan kejadian itu.
Tiga senjata besi runcing yang menyala tersebut memang hanyalah senjata kelas atas namun kekuatannya menyamai sebuah pusaka, bahkan bongkahan karang besar sekalipun jika terkena senjata itu akan hancur lebur. Namun saat ini, kedahsyatan senjata itu dapat dibendung Arya hanya dengan tangan kosong, bahkan tanpa melihat.
Perlahan-lahan Arya membuka matanya, dia menguap lalu garuk-garuk kepala seolah kebingungan melihat di tangan kanannya telah menggenggam 3 besi runcing yang menyala merah.
Kakek tua nampak tersenyum samar, sementara Junwe segera mengeluarkan sebuah pusaka berupa lonceng kecil berwarna putih keperakan.
Tanpa buang-buang waktu, Junwe lantas menggerak-gerakkan lonceng perak di tangannya tersebut, sehingga mengeluarkan suara gemerincing yang menggetarkan seluruh kedai.
Kakek tua terpental jauh setelah terkena lesatan energi hitam yang tiba-tiba telah menghatam perutnya. Namun sebelum tubuh kakek itu membentur dinding, dari sudut berbeda, Arya mengulurkan tangannya ke arah si kakek, membuat laju tubuh kakek itu terhenti.
Si kakek sekilas menunjukkan ekspresi keheranan, namun 'Uhukk' bersamaan dengan batuk, kakek itu memuntahkan setengguk darah hitam.
Tidak berhenti di sana, selarik cahaya hitam tipis dari lonteng yang di pegang Junwe kembali menderu ke arah si kakek.
Merasa tidak punya pilihan lain, sebab energinya kacau setelah mengalami luka dalam, kakek itu buru-buru menjatuhkan diri ke samping. Namun terlambat, cahaya itu sejengkal lagi akan mengenai wajahnya.
Di saat yang sangat krisis tersebut, tiba-tiba dari arah samping terdengar suara menderu seperti lebah. Sinar hitam tampak bergoyang-goyang lantas terdorong keras ke samping dan musnah tak berbekas.
Kakek pesek yang merasa di selamatkan oleh gelombang angin dari samping tadi menjadi terkejut, lebih-lebih Junwe yang berdiri di seberang sana.
Junwe dan kakek tua serentak sama-sama menoleh ke samping. Di sana, Arya dengan sikap tenang, perlahan-lahan berdiri dari kursinya seraya tersenyum tipis.
"Orang tua, serahkan pemuda mesum itu padaku. Aku memang sudah mengincarnya." Ucap Arya.
__ADS_1
"Sekarang ada lagi yang ingin ikut campur urusan orang. Baiklah, kau juga akan ku bikin mampus!" Bentak Junwe terkesan garang, namun sebenarnya mentalnya sudah melumer.
Sadar jika saat ini dia dalam bahaya, Junwe kembali menggerakkan lonceng perak di tangannya.
Di sudut lain, Arya menggeleng pelan. Pemuda itu lalu mengacungkan jari telunjuknya, selarik cahaya emas melesat ke arah lonceng perak di tangan Junwe.
Duuuarr...
Ledakan keras akibat benturan cahaya emas mengahantam lonceng perak, membuat kedai Sindara bergetar kuat seolah terkena gempa. Salah satu dinding jebol, atap kedai hancur luluh lantah. Orang-orang yang tergeletak pingsan, sebagian terhempas, dan sebagian lagi mati mengenaskan, tertimpa reruntuhan.
Untung Arya sempat melindungi sebagian orang, termasuk kakek tua, pemilik kedai dan anak gadisnya, dengan menciptakan perisai energi.
Tubuh Junwe sendiri terhempas menjebol dinding dan baru berhenti saat tubuhnya tertahan tembok bangunan di seberang jalan.
Arya mendengus pelan, dia tidak menyangka perlawanan energi pusaka lonceng perak itu begitu besar. Jika saja dia tahu dari awal, dia akan memilih membawa Junwe keluar terlebih dahulu agar tak menimbulkan kerusakan separah ini.
Setelah memandangi sekitar, Arya kemudian berkelebat menuju ke tempat Junwe. Di sana, Junwe telah tertelungkup, tergeletak di depan tembok bangunan yang retak parah. Nafasnya terlihat masih turun naik, namun tangan kanannya yang tadi memegang lonceng perak, kini telah buntung mengeluarkan banyak darah.
Orang-orang yang berada di dekat lokasi tersebut, nampak mulai berkerumun, semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan untuk melihat kejadian tersebut.
Arya nampak acuh seolah tidak memperdulikan tatapan banyak orang yang tertuju padanya. Dia mulai melangkah mendekati Junwe yang sudah tak berdaya, pemuda itu kemudian menjambak rambut Junwe dan di angkatnya tinggi-tinggi.
"Murid dari seorang pendekar aliran putih... Hmmm, perbuatanmu selama ini benar-benar telah mencoreng nama baik gurumu." Dengan tatapan dingin, Arya mengelap wajah Junwe yang berlumuran darah.
Seraya meringis kesakitan, Junwe meludahi wajah Arya. Tak ada satupun kata yang keluar dari bibirnya yang robek lebar itu.
Meskipun di ludahi, Arya terlihat tidak marah, dia malah tersenyum sambil mengusap mukanya yang basah oleh ludah, "Sekarang tentukan pilihanmu, kau mau mati sekarang atau hidup dengan tubuh cacat?"
Junwe masih terdiam membisu seribu bahasa, sedang matanya melotot berkilat-kilat menggambarkan kebencian dan kemarahan.
"Hmm.. rupanya kau lebih memilih mati. Baiklah." Arya mulai mengangkat tangan kirinya, bersiap menghantam dada pemuda itu.
Tiba-tiba dari belakang, mendarat sesosok tubuh manusia. Dia tidak lain adalah kakek tua berhidung pesek.
"Jebloskan saja dia ke ruang tahanan. Jangan kotori tanganmu dengan membunuh pemuda sampah ini." Ucap si kakek dengan nada dingin.
"Ucapkanlah terimakasih pada tuan putri, karena dia telah berbaik hati mengampuni nyawamu."
Mendengar perkataan Arya, kakek tua dan Junwe sama-sama nampak terkejut.
Namun keterkejutan Junwe tidak berlangsung lama, sebab tepat setelah beberapa tarikan nafas Arya selesai berkata demikian, tubuh Junwe kejang-kejang sesaat sebelum jatuh tidak sadarkan diri, alias pingsan.
Kakek tua terus memandangi Arya dengan perasaan heran. "Ku dengar tadi kau menyebut tuan putri. Siapa yang kau maksudkan itu?"
"Kek, ku lihat kulit mukamu keriput dimakan usia. Tapi mengapa sepasang matamu bagus sekali seperti milik gadis-gadis remaja." Arya tersenyum tipis menatap si kakek sebelum berlalu menuju kedai Sindara yang telah hancur.
Kakek tua itu tersurut mundur dan terlihat salah tingkah.
"Dunia ini penuh dengan segala macam keanehan, salah satu keanehan itu terjadi di hadapanku. Apakah tidak aneh, kalau seorang kakek tua memiliki sepasang mata yang bagus dan bercahaya, sedang kulit mukanya keriput tapi kulit tangannya halus." Arya berbicara sendiri sambil tetap melangkahkan kaki dan bersiul-siul seperti burung.
Tatapan kakek pesek tersebut memandang punggung Arya tak berkedip, mulutnya sedikit ternganga tak bersuara.
"Sudahlah, tak usah dipikirkan pertanyaan dan ucapanku tadi. Seseorang yang menyamar tentu memiliki maksud rahasia, yang tentunya aku tak berhak menanyakan soal maksud itu." Arya membalikkan badan, tersenyum ke arah si kakek.
Kakek itu tetap berdiri tegak tak bersuara, sikapnya tersebut seolah membenarkan segala ucapan Arya. Tiga tahun dia menyamar membaur dengan masyarakat, tak seorangpun dapat mengenali siapa dirinya. Kini hanya dalam sekali pertemuan, Arya dapat membongkar indentitasnya.
Tak punya pilihan lain, kakek tua itu menanggalkan pakaian abu-abu yang melekat ditubuhnya. Ternyata dibalik pakaian itu, dia mengenakan pakaian ringkas berwarna biru. Tangannya lalu di gerakkan ke wajahnya, sehelai kulit tipis yang tersambung dengan rambut putih, dia singkapkan.
Kini, terlihatlah wajah dan rambutnya yang asli, ternyata si kakek ini adalah seorang gadis berwajah jelita dan memiliki rambut berwarna emas menjuntai. Dia memang tidak lain adalah Putri Zhou Jing Yi.
__ADS_1