
Siu Liong nampak di kawal beberapa prajurit berjalan memasuki gerbang kawasan istana.
Memang setelah mengantarkan Hulao dan Honglong ke kediaman Bi Changfeng, Su Tang yang di perintahkan untuk menyelidiki indentitas serta mengawasi gerak-gerik Hulao dan Honglong, merasa perlu untuk menanyakannya langsung kepada Siu Liong. Maka diapun memerintahkan beberapa prajurit untuk membawa Siu Liong ke hadapannya.
Siu Liong sendiri sebenarnya sudah menaruh curiga, karena tidak biasanya saudaranya yang menjabat sebagai kepala prajurit tersebut, mengirimkan utusan dari prajurit kerajaan untuk membawanya menemui saudaranya tersebut.
Kini Siu Liong sudah duduk di hadapan Su Tang, dia menatap saudaranya itu dengan penuh kebingungan, menunggu Su Tang membuka suara.
"Aku memanggilmu karena sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu. Sekarang jelaskan siapa dan dari mana dua orang yang kau bawa kesini kemarin sore?." Su Tang akhirnya membuka suara.
Wajah Siu Liong seketika menjadi pucat, pikirannya memikirkan segala kemungkinan kenapa tiba-tiba Su Tang menanyakan hal tersebut. 'Pasti kedua orang itu sudah membuat masalah' begitu pikir Siu Liong.
Baru saja Siu Liong berfikir demikian, dari arah pintu masuklah seorang prajurit yang buru-buru berlutut dan menyampaikan kabar penting.
"Tuan, ini benar-benar gawat. Ada pembunuhan di dalam kawasan istana." Kata prajurit tersebut dengan nafas yang masih memburu.
Su Tang nampak terkejut, dia kemudian berdiri dan menghampiri prajurit tersebut. "Siapa korban dari pembunuhan itu?"
"Semuanya berasal dari kalangan prajurit."
"Semuanya? Memangnya ada berapa prajurit yang terbunuh?"
"Aku tidak tahu persisnya berapa tuan, tapi yang aku dengar saat ini sudah ada lebih dari 70 prajurit yang tewas."
Mata Su Tang melebar menunjukkan ketidak-percayaan, begitu juga dengan Siu Liong yang sudah berdiri dari kursinya.
Su Tang hendak kembali membuka mulutnya, namun tiba-tiba terdengar suara lonceng tanda pembunuhan. Suara lonceng itu saling bersautan hampir di setiap sudut kawasan istana.
Mengetahui bahwa suara lonceng tersebut menandakan bahwa pelaku pembunuhan masih berkeliaran, Su Tang tanpa berkata apapun lagi segera berlari keluar kediamannya.
Ditempat lain, Jenderal Luo Jing bersama beberapa panglima dan beberapa menteri sedang melakukan pertemuan rahasia di dalam sebuah ruangan bawah tanah. Wajah mereka semua nampak menegang, namun ada beberapa diantara mereka yang masih terlihat tenang.
Ternyata di ruangan tersebut juga terdapat beberapa gadis dan prajurit.
"Apa semua informasi yang kau sampaikan itu tidak salah?" Tanya seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah mewah berwarna putih abu-abu, meski wajahnya dipenuhi keriput namun rambutnya masih hitam tanpa sedikitpun uban, menjuntai sampai ke punggung. Dia tidak lain adalah menteri yang bernama, Yihong Duan.
__ADS_1
"Aku berani pastikan bahwa semua yang telah aku sampaikan tadi tidaklah salah, tuan." Jawab seorang pria berbadan gempal, berhidung besar dan mancung, rambutnya yang panjang di ikat dibelakang. Dia adalah seorang panglima, bernama Yang Shio.
Beberapa menit suasana menjadi hening sebelum Yihong Duan kembali membuka suara. "Lalu dimana orang yang mengaku sebagai panglima kegelapan itu?"
Panglima Yang Shio menoleh ke arah salah seorang prajurit yang berdiri di belakangnya.
Mengerti maksud dari tatapan panglima Yang Shio, prajurit itupun lantas berjalan mendekat. "Maaf tuan, sosok yang mengaku panglima kegelapan itu hanya menyampaikan bahwa dia hanya sekedar melihat situasi di sini, setelah itu dia menghilang entah kemana."
"Bagaimana kau yakin jika dia benar-benar panglima kegelapan?" Menteri Yihong Duan menatap penuh selidik.
"Aku sangat yakin tuan, karena sosok itu memiliki energi kegelapan yang sama persis seperti yang kita miliki, namun selain itu dia juga tidak memiliki tubuh kasar, tubuhnya sendiri hanya berupa asap hitam."
Menteri Yihong Duan nampak mengangguk pelan, "Apakah ada pesan yang di sampaikan sosok itu padamu?"
Prajurit itu terdiam sejenak untuk mengingat-ingat, lalu kemudian berkata. "Kalau tidak salah dia mengatakan akan membantu jika dibutuhkan."
"Baguslah, sepertinya Patriark telah mengetahui situasi kita saat ini." Menteri Yihong Duan tersenyum lega, "Lalu bagaimana dengan penyelidikan terhadap Tabib Xian?" Tanyanya sambil menatap ke arah Jenderal Luo Jing.
Jenderal Luo Jing menggeleng pelan dan lalu berkata, "Semua anggota kita yang telah aku perintahkan untuk memata-matainya sampai sekarang tidak pernah kembali. Mungkin mereka semua telah tewas di tangan pemuda itu."
Menteri Yihong Duan terlihat memasang sikap biasa saja, dia sudah memaklumi bahwa hal ini pasti terjadi. Dia sudah mendengar semua sepak terjang pemuda yang bernama Tabib Xian, bahkan kemampuan pemuda itu yang dapat menghilangkan banyak orang dalam sekali kibasan tangan sudah di ketahuinya.
"Tuan, apakah yang harus kita lakukan jika sampai orang-orang kerajaan dapat membongkar penyamaran kita?" Tanya prajurit itu.
"Hmm.. kita lihat saja nanti. Jika situasi memang mendesak, tidak ada salahnya jika kita melakukan penyerangan lebih awal dari rencana." Jawab menteri Yihong Duan dengan tenang.
Semua orang yang berada di sana mendadak terdiam karena mendengar derap langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat.
****
"Hei tunggu! Sabarlah, aku akan menjelaskan semuanya." Sergah Honglong sambil mengulurkan kedua tangannya ke depan, berusaha mencegah Hulao yang hendak memukulnya.
Hulao yang telah mengalirkan Qi ke pergelangan tangannya bersiap memukul, segera mengurungkan niatnya dan membiarkan Honglong membela diri.
"Begini, setelah aku pikir-pikir daripada repot-repot menyelidiki mereka, apa tidak lebih baik jika langsung membunuh mereka saja. Itu akan lebih..."
__ADS_1
Bruuukk....
Belum sempat Honglong menyelesaikan kata-katanya, sebuah kepalan tinju sudah menghantam perutnya sampai membuatnya terpental puluhan meter. Beberapa pepohonan yang dihantam tubuh Honglong seketika tumbang.
Bukannya kesakitan, Honglong yang masih terhempas justru malah menyeringai dan tiba-tiba menghilang, melakukan serangan balik.
Namun serangan Honglong dapat ditangkap Hulao tanpa bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Ini bukan saatnya main-main tupai tengik. Jika dulu kau bisa bertahan beberapa jurus dari seranganku, jangan harap kali ini kau bisa menyentuh tubuhku." Hulao berkata dingin, mendadak tubuhnya memancarkan sinar putih yang menyilaukan.
Honglong segera memberontak untuk melepaskan tangan kanannya dari cengkeraman Hulao. Akan tetapi usahanya tidak membuahkan hasil, bahkan pukulan dan tendangan yang di lancarkannya ke tubuh Hulao, semua dapat di tangkis Hulao hanya dengan sebelah tangan.
"Mati aku.." Batin Honglong, matanya melebar karena merasa kali ini Hulao benar-benar akan menyerangnya dengan kekuatan penuh.
Dan benar saja, di sela-sela menangkis setiap pukulan yang dilancarkan Honglong. Dalam sekejap mata, tiba-tiba Hulao menarik tubuh Honglong ke atas lalu menarik tangannya ke belakang, bersiap melayangkan tinjuan.
Honglong berusaha berkelit ke samping namun sudah terlambat, pukulan Hulao benar-benar begitu cepat. Tanpa dapat di lihat, tinjuan Hulao sejengkal lagi akan menghantam wajah Honglong.
Bruuukk...
Suara tubuh terjatuh ke tanah, lalu suasana di dalam hutan itu menjadi hening untuk beberapa saat.
Hulao mematung dengan sikap yang terlihat sedang melakukan tinjuan ke atas. Sementara Honglong terjatuh beberapa tombak dari tempat Hulao berdiri. Keduanya sama-sama terlihat tidak bergerak sedikitpun.
"Kalian benar-benar susah sekali di atur. Tingkah kalian persis seperti kucing dan tikus." Sebuah suara terdengar di kepala Hulao dan Honglong.
"Maaf tuan, ini semua karena tupai tengik itu. Dia telah merusak rencana kita." Balas Hulao melalui telepati.
"Tuan, ini memang kesalahanku tapi aku melakukan semua itu karena jumlah mereka terlalu banyak. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk menyelidiki mereka satu persatu, karena itulah aku berfikir mencari mereka sekaligus mengurangi jumlah mereka, tuan." Dari tempat lain, Honglong yang dalam keadaan terlentang membalas suara tersebut.
"Aku sudah mengetahui semuanya. Apakah kalian lupa, jika aku dapat mengetahui semua yang kalian lihat dan dengar." Sebuah suara kembali terdengar di kepala Hulao dan Honglong. Suara itu tidak lain adalah suara Arya.
"Aku masih ingat tuan, tapi tupai tengik itu sepertinya sudah terlalu tua dan pikun. Dia sama sekali tidak pantas mengikuti tuan, tupai itu sebaiknya di kembalikan saja ke dalam dunia dimensi, dia selalu saja melakukan sesuatu seenaknya." Balas Hulao ketus.
Honglong yang dapat mendengar perkataan Hulao, karena saat ini pikiran mereka sedang terhubung, mengumpat berkali-kali dalam hati tapi sayangnya umpatan itu juga terdengar oleh Hulao dan Arya.
__ADS_1
"Sudahlah, lagipula jika kalian melakukan sesuatu yang benar-benar dapat merusak rencana, aku pasti akan menegur kalian pada saat itu juga. Tapi aku merasa yang dilakukan Honglong tidak sepenuhnya salah, maka dari itulah aku masih membiarkannya."
"Sekarang kalian kembalilah ke istana, cari sebuah bangunan yang berdiri tidak jauh dari taman di belakang istana. Di sana kalian akan menemukan beberapa patung, carilah salah satu patung yang bisa di geser. Setelah itu kalian akan menemukan sebuah ruangan bawah tanah. Masuklah ke dalamnya dan jika kalian menemukan adanya orang didalam sana, bunuh mereka semua."