
Di pihak lain, Hulao yang di serang dua lawannya sudah mengalami luka-luka baret, pakaian manusia yang dikenakannya terlihat terkoyak di bagian lengan kanan dan dada. Sementara lawannya sendiri masih bisa tertawa-tawa seolah meremehkan dan mempermainkannya.
Hulao sebenarnya memang berniat memancing mereka, bersikap seolah tersudutkan dan merelakan tubuhnya terkena serangan agar dua lawannya itu percaya diri, sehingga ketika dia melarikan diri maka dua lawannya itu akan terpancing mengejarnya.
Dan rencananya tersebut sampai saat ini berjalan mulus, kini Hulao telah berhasil memancing dua lawannya tersebut untuk mengejarnya. Meskipun masih berada di dalam kota, namun setidaknya lebih baik daripada bertarung di dalam kawasan istana.
Namun tiba-tiba Huang Kun dan Cao Song mendadak berhenti melakukan pengejaran, manakala mereka melihat situasi di dalam kota telah hancur dan di beberapa titik terlihat adanya pertarungan. Maka bersamaan dengan itu mereka langsung menyadari bahwa mereka sedang di jebak.
Hulao sendiri sebenarnya juga terkejut melihat situasi di dalam kota, namun saat merasakan di beberapa titik terpancar aura Arya, diapun tersenyum menyeringai dan menghentikan terbangnya.
"Hei, mau pergi kemana kalian?" Hulao sebenarnya ingin mengatakan bahwa 'Pertarungan sesungguhnya baru akan di mulai' namun ketika melihat dua lawannya sudah berbalik arah, terbang kembali menuju kawasan istana, diapun segera melesat menyusul.
Sepuluh kuku-kuku jari tangan Hulao tiba-tiba memanjang, menyala biru kekuningan. Dia lantas mengangkat kedua tangannya, bergerak mencakar.
Seiring dengan itu, sepuluh larik cahaya biru kekuningan menderu dahsyat ke arah Huang Kun dan Cao Song.
Huang Kun memutar tubuhnya sambil mengayunkan tangannya, tiba-tiba muncul asap berwarna hitam bergulung membuntal-buntal menderu ke arah Hulao, sehingga membuat pemandangannya menjadi terhalang.
Hulao yang merasakan asap itu mengeluarkan hawa aneh dan karena tidak ingin mengambil resiko diapun terbang menukik turun, menghindari asap tersebut.
Meski sudah berhasil menghindar, namun asap itu ternyata terus mengejarnya. Pada saat Hulao fokus terhadap lawannya yang kabur, pada saat itulah asap hitam berhasil mengenai pergelangan kakinya, seketika Hulao merasakan kulit kakinya tersebut seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum.
"Celaka!" Keluhnya, Hulao buru-buru mengibaskan tangan kanannya ke arah asap hitam yang terus mengerjakannya.
Wuuusshh...
__ADS_1
Segelombang angin menderu dahsyat menyapu bersih asap hitam tersebut.
Hulao segera mengerahkan Qi dalam jumlah besar untuk mengejar lawannya, dan dalam sekejapan mata diapun sudah menghadang jalan Huang Kun dan Cao Song.
Meskipun terkejut, namun Cao Song mengeluarkan suara membentak. "Siluman keparat! Rupanya kau memang mencari mati!"
Yang di bentak malah terlihat acuh dan tersenyum sinis, lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan dan menggerak-gerakkan jari telunjuknya, menantang.
Huang Kun langsung melesat, dengan kedua tangannya yang menyala merah dia memukulkan tinjunya bertubi-tubi ke tubuh lawan.
Mendapati semua pukulannya dapat di tangkis dan dielaki, Huang Kun mulai mengombinasikan pukulan dengan tendangan.
Hanya dalam beberapa menit, terhitung sudah lebih dari 300 pukulan yang dilancarkan Huang Kun, namun tidak ada satupun yang dapat mengenai targetnya.
Mengetahui kelemahan dari serangannya, Huang Kun mulai menyelipkan beberapa serangan tipuan. Tangannya di gerakan menghantam ke dada, namun pada saat yang sama dia langsung merubah gerakan, memutar tubuhnya memberikan tendangan keras menuju wajah Hulao. Namun Hulao yang sudah memperkirakan arah serangan lawan, segera menundukkan kepala, membuat tendangan Huang Kun hanya menyapu angin.
Suara pekik panjang terdengar seolah lolongan serigala keluar dari mulut Huang Kun. Tubuhnya terpelanting ke samping sejauh beberapa tombak, dari perutnya menyembur darah hitam, wajahnya merah padam, matanya melotot ke arah Hulao penuh kemarahan.
Hulao mengalihkan pandangannya ke arah Cao Song yang sedari tadi hanya diam memperhatikan pertarungan. "Kenapa kau hanya diam, apa kau ingin menunggu kematian temanmu ini, baru kau mau bergerak menyerangku? Ataukah kau memang sengaja menginginkan kematian temanmu ini." Ucapnya dengan nada mencibir.
"Setelah ini, ku pastikan kau tidak akan bisa berbicara lagi." Berkata Cao Song dengan senyuman sinis. Sepasang bola matanya berubah merah menyala sepenuhnya.
Mendadak udara memadat membentuk paku-paku kecil, sekejap kemudian melesat ke arah Hulao.
Hulao memusatkan Qi ke sepasang kaki dan tangannya, dengan tubuh yang di condongkan ke depan, tangannya bergerak memutar menciptakan perisai kubah energi.
__ADS_1
Disaat yang sama dari arah samping, Huang Kun yang sudah memulihkan diri, mengangkat kedua tangannya tinggi, sekejap itu juga muncul puluhan tombak petir melesat berniat menghujam, menghantam Hulao.
Hulao yang sudah menyadari adanya serangan dari arah lain, dengan cepat dia melontarkan terbang lebih tinggi. Kubah energi itupun hancur terhantam paku-paku dan pedang petir dari kedua lawannya.
Booommm...
Suara ledakan mengudara, asap mengepul dari tempat Hulao tadi melayang, daya kejutnya menyapu awan yang berkumpul di atas pertarungan. Kilatan petir muncul dari langit melesat menghantam rumah-rumah penduduk kota.
Tak ayal tanah bergetar hebat, puluhan rumah penduduk harus roboh. Sebuah lubang cekung besar tercipta, tanah berhamburan debu membumbung tinggi menghalangi pandangan.
Semua orang melihat ke atas langit, kilatan-kilatan petir masih menggelegar berulangkali di atas sana. Para penduduk sudah pasrah dengan keadaan, namun membayangkan kematian sendiri mereka enggan karena bagaimanapun mereka masih berharap musibah ini cepat berlalu agar mereka bisa melanjutkan kehidupan di hari mendatang.
Para prajurit dan para pendekar yang tengah membantu melawan hewan iblis lekas-lekas menarik diri dari pertarungan, mereka semua mendongak ke atas.
"Celaka, jika kekuatan ini berasal dari musuh, maka tamatlah sudah kerajaan ini." Membatin salah seorang prajurit.
Para pendekar yang mengetahui sedikit banyak mengenai kultivasi seketika menjadi gentar dan tidak punya lagi semangat bertarung. Mereka yakin kekuatan seperti itu hanya dimiliki para pendekar suci, bahkan ada beberapa yang langsung meninggalkan kota demi menyelamatkan diri.
"Nek, sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Bertanya seorang bocah lelaki dengan polos.
"Nenek juga tidak tau.. sebaiknya Lu Ping pejamkan mata, berdoalah agar kita diberi keselamatan." Si nenek dengan lembut mengusap-usap kepala cucunya itu lalu memeluknya dengan erat.
"Duhai Sang Pencipta, jika kau ingin mengambil nyawa seseorang, ambillah saja nyawaku ini, tapi ku mohon selamatkanlah cucuku." Berdoa si nenek dalam hati, sepasang matanya berkaca-kaca memandangi wajah cucunya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi mendatang, mungkin saja ini adalah kali terakhirnya dia bisa melihat cucunya itu.
Si nenek dan cucunya itu saat ini tengah meringkuk di dalam gubuk kecil kediaman mereka yang kumuh. Tak ada seorangpun prajurit yang mendatangi mereka untuk mengajak mereka ke tempat pengungsian, mungkin para prajurit memang tidak tahu atau bisa saja mereka memang tidak mau perduli terhadap keselamatan orang-orang miskin seperti nenek dan cucunya ini.
__ADS_1
Kini si nenek dan cucunya hanya bisa memasrahkan diri kepada takdir, tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan saat ini selain pasrah dan berdoa.