Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Latih Tanding


__ADS_3

Sembari menunggu sore hari, Arya menyuruh ketiga bersaudara berlatih tanding, dia ingin melihat sejauh mana perkembangan dari ketiga adik angkatnya tersebut.


Melihat Han Jifan dapat mengimbangi kedua saudaranya yang menggunakan pusaka hanya dengan mengandalkan senjata Nunchaku, membuat Arya tersenyum bangga.


Memang Pedang Taring Macan Putih dan Kipas Naga Angin adalah pusaka tingkat bumi yang dapat menghancurkan senjata kelas atas hanya dalam beberapa kali serangan, namun saat ini baik Han Rui dan Han Nian sama-sama belum dapat memaksimalkan kekuatan dari pusaka mereka, sebab pusaka tersebut masih tersegel karena kemampuan Han Nian dan Han Rui belum memadai untuk dapat menundukkan roh pusaka milik mereka. Dengan kata lain kedua pusaka tersebut saat ini tidak lebih kualitasnya dari senjata kelas atas.


Kini mereka bertiga mulai saling melancarkan serangan jarak dekat, meski hanyalah latihan tanding tetapi mereka begitu bersemangat menunjukkan kemampuan terbaik, sebab Arya memang menyuruh mereka untuk tidak menahan diri dan menunjukkan semua hasil latihan yang telah mereka capai.


Kipas Naga Angin milik Han Nian nyatanya mampu menahan kerasnya hantaman Pedang Taring Macan Putih dan Nunchaku Baja Berkualitas milik Han Jifan. Karena Kipas Naga Angin bukanlah terbuat dari bahan biasa melainkan terbuat dari tulang dan kulit Naga yang tidak perlu lagi di ragukan kekerasan serta kualitasnya.


Selepas berhasil menangkis serangan kedua kakaknya dengan baik, Han Nian lantas melompat mundur sembari mengibaskan Kipas Naga Angin. Han Rui dan Han Jifan yang sudah sedikit memahami teknik bertarung Adik perempuannya itu segera bersiap menyambut serangan yang datang.


Benar saja, sikap Han Nian yang seolah melompat mundur untuk mengambil jarak ternyata adalah sebuah jebakan karena gadis kecil itu justru melancarkan serangan puluhan jarum es dari kibasan kipasnya.


Andaikata Han Rui dan Han Jifan tidak memahami teknik bertarung adiknya itu, tentu saja mereka akan kembali melancarkan serangan sebab di saat Han Nian melompat mundur, pada saat yang sama pertahanan gadis kecil itu terbuka.


Kini puluhan jarum es meluncur deras layaknya panah yang melesat dari busur. Han Rui segera menyelimuti pedangnya dengan api lantas menebas setiap jarum es yang datang, sementara Han Jifan terlihat sedikit kewalahan sebab jangkauan tangkisan Nunchaku miliknya tidak cukup untuk menangkis semua lesatan jarum es, dia harus menghindar setiap kali ada jarum es yang mengarah ke kakinya.


Di sela-sela menghindar Han Jifan melesat melompat ke atas, seperti kelelawar di tengah ilusi purnama. Dia mengayunkan dan memutar-mutar Nunchaku berulangkali, melancarkan kilatan petir dari setiap hentakan serangannya mengarah ke tempat Han Nian dan Han Rui.


Tetapi kedua saudaranya itu tidak terkejut, mereka berdua malah terlihat tersenyum. Saat sedikit lagi kilatan petir beruntun akan menyentuh mereka, keduanya berputar ke samping lalu melompat tinggi ke udara.


Seraya turun dari ketinggian, ketiga bocah bersaudara tersebut sama-sama melepaskan serangan energi yang berlainan. Han Rui melesatkan beberapa bola api, disisi lain Han Jifan melesatkan kilatan petir bertubi-tubi, sementara Han Nian mengibaskan kipasnya yang mengeluarkan berjibun jarum es.


Ledakan energi saling beradu dan tanah tempat mereka menghindar meledak terjadi selama beberapa menit akibat gencarnya serangan ketiga bocah bersaudara. Gerakan mereka yang begitu mulus dan gesit dalam melancarkan serangan serta menghindar tak ayal membuat tetua Lin Hai dan Liu Wei yang menyaksikannya menjadi terpukau.


Mendapatkan serangan bertubi-tubi dan tidak mau terus-terusan menghindar Han Jifan berinisiatif berlari memperpendek jarak seraya menghindari serangan. Han Jifan sadar kemampuannya dalam menggunakan Nunchaku lebih efektif jika bertarung jarak dekat.


Laju lari Han Jifan tiba-tiba di hadang akar yang mengeruak dari dalam tanah dan menjalar berniat melilit Han Jifan, itu adalah teknik milik Han Rui. Meski sedikit terkejut tapi Han Jifan segera menenangkan diri agar pergerakannya tidak kaku, hampir saja kakinya terlilit akar jika dia tidak segera reflek melompat ke samping.


Konsentrasi Han Rui teralihkan manakala dia harus menangkis jarum es yang mengarah padanya, bersamaan dengan itu akar yang di kendalikan Han Rui berhenti mengincar Han Jifan.


Ketika baru saja Han Jifan menarik nafas, tiba-tiba raut wajahnya menjadi buruk sebab tanpa di sadarinya ada pergerakan yang merangsek naik ke tubuhnya.


Yang sebenarnya terjadi, di saat Han Rui harus menangkis jarum es. Dalam waktu bersamaan Han Nian diam-diam menciptakan air di bawah kaki Han Jifan, sehingga kini sepertiga tubuh Han Jifan menjadi beku.


Tidak hanya lontaran jarum es yang harus di tangkis Han Rui, ternyata dalam serangan bertubi-tubi tersebut Han Nian sengaja menyisipkan jarum es berlapis cahaya kuning. Itu adalah jarum es peledak. Jika saja Han Rui terlambat menyadari dan tidak memahami teknik adiknya itu, dia sudah pasti akan menangkis jarum es kuning itu seperti halnya jarum es yang telah dia tangkis sebelumnya.


Ledakan terjadi di tempat Han Rui menghindar, kini Han Rui melesat di udara seraya menebaskan energi tebasan api ke arah Han Nian yang tersenyum mengejek.


Han Jifan yang sudah mencairkan jeratan es yang membelenggunya dengan elemen api segera menyerang Han Rui yang baru saja mendarat.


Pertukaran serangan jarak dekat keduanya pun tidak terhindarkan. Pedang Taring Macan Putih yang memiliki jangkauan lebih jauh nyatanya di buat kerepotan menghadapi gesitnya pergerakan Nunchaku milik Han Jifan.


Han Rui melebarkan mata ketika hampir saja pedangnya terlepas saat di hantam dengan keras. "Sial..." Baru saja Han Rui menggenggam pedangnya dengan benar, kini dari arah lain terdapat serangan jarum es.


Dengan segera Han Rui dan Han Jifan berlompatan kesana kemari menghindari setiap lesatan jarum es Han Nian. Ledakan demi ledakan terjadi di atas tanah tempat mereka menghindar. Menciptakan banyak lobang tanah yang cukup besar.


Ketika lesatan jarum es sudah tidak terlalu konstan dari sebelumnya, Han Rui dan Han Jifan lantas berkelebat menyerang Han Nian secara bersama-sama.

__ADS_1


Pertukaran serangan jarak dekat terjadi, mereka bertiga saling menyerang dengan begitu gesit dan mematikan. Setiap serangan selalu di targetkan ke titik vital, kini ketiga bocah bersaudara mulai mengalami luka yang mengeluarkan darah.


Huang She, Liu Wei dan tetua Lin Hai nampak melebarkan mata khawatir mereka mengalami cidera. Sementara Arya terlihat tersenyum bangga melihat kecepatan dan ketepatan gerakan mereka yang meningkat beberapa tahap di atas pencapaian mereka sebelumnya.


"Ya Gege, cepat hentikan mereka! Jika mereka terus bertarung seperti ini bisa-bisa mereka akan terluka parah." Liu Wei menarik lengan Arya, memasang raut cemas.


"Jika hanya terluka aku bisa mengobati mereka. Biarkan mereka bertarung dengan serius, lagipula aku tidak akan membiarkan mereka saling membunuh." Arya menggeleng pelan lalu kembali melihat jalannya pertarungan.


"Jangan terlalu keras mendidik anak kecil, jika kau membiasakan mereka melakukan pertarungan seperti ini, nanti ketika dewasa mereka cenderung memiliki sifat yang haus pertarungan, dingin dan keras." Tukas Liu Wei.


"Itu terjadi jika mereka tidak di beri arahan dengan benar. Ambisi besar adalah hasrat dari sebuah karakter hebat. Mereka yang diberkati dengan hasrat itu dapat melakukan tindakan yang sangat baik atau sangat buruk. Semua tergantung pada prinsip yang mengarahkan mereka. Lagipula mereka adalah seorang pendekar yang sudah seharusnya ditempa mentalnya. Di dunia pendekar senjata yang berbicara bukan mulut."


"Kesuksesan yang besar datang dari pengorbanan yang juga besar. Jika hanya karena luka ringan saja sudah membuat mental mereka melemah, bagaimana bisa mereka akan naik level. Segala kerja keras, kedisplinan dan juga luka yang di dapatkan, percayalah suatu saat akan membuahkan hasil yang setimpal. Sebagai seorang pendekar, terkadang kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk di pertarungan yang kita hadapi." Ucap Arya panjang lebar sambil terus mengamati jalannya pertarungan ketiga bocah bersaudara.


Tetua Lin Hai menepuk pundak Arya. "Aku mengerti maksudmu. Seorang Pendekar itu tidak hanya membutuhkan fisik yang kuat saja, tapi juga mental baja. Tetapi sesuatu yang berlebihan justru akan menghasilkan hal yang tidak baik."


Arya mengangguk, dengan tatapan yang masih tertuju ke pertarungan ketiga adik angkatnya.


Sementara itu, terlihat ketiga bocah bersaudara saling melebarkan jarak. Mereka nampak tengah mengatur nafas, sudah banyak luka yang mereka dapatkan dari jual beli serangan yang berlangsung selama hampir satu jam.


Ketika mereka akan bersiap melanjutkan pertarungan, tiba-tiba Arya muncul di tengah-tengah mereka bertiga.


"Sudah cukup... Kemarilah."


Tanpa memperdulikan rasa sakit dari luka yang mereka alami, ketiga bocah bersaudara tersenyum lebar lalu berkelebat ke arah Arya.


Arya tersenyum bangga sambil mengelus dan memberikan pil kepada mereka satu persatu.


"Ingat, jadilah kuat tetapi tidak kasar. Bersikaplah baik, tetapi tidak lemah. Tunjukkan rendah hati, tetapi tidak malu-malu. Berbanggalah, tetapi jangan sombong. Teruslah berlatih dengan giat dan jadilah yang terkuat tetapi jangan menindas yang lemah!"


Ucapan Arya di tanggapi ketiga bocah bersaudara dengan anggukan kepala. Mereka menunjukkan sikap hormat dan bangga kepada kakak angkatnya sekaligus gurunya itu dengan membungkukkan badan hampir bersamaan.


Huang She, Liu Wei dan tetua Lin Hai berkelebat mendekat. Sementara empat siluman peliharaan Arya hanya memandangi mereka dari kejauhan.


"Kak, apakah kakak akan benar-benar pergi meninggalkanku?" Han Nian merengut dengan mata berkaca-kaca.


Arya tersenyum lalu berlutut sambil mencubit hidung Han Nian. "Nian'er, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dalam hidup kita pasti akan kehilangan banyak hal, karena sejatinya dunia memang untuk di tinggalkan, tidak ada yang benar-benar abadi. Tapi percayalah, kakak akan kembali untuk melihat adikku yang manis ini."


"Arya, untuk kali ini izinkan aku ikut bertarung bersamamu.."


Perkataan Huang She membuat dahi Arya mengerut, lalu diapun bangkit dan menatap gadis itu.


"Kau memang selalu saja bisa menebak apa yang sedang aku rencanakan." Arya tersenyum kecut. "Tidak, kau tetaplah di sini! Aku bisa mengatasi mereka. Lagipula aku tidak sendiri, Hulao dan Honglong akan ikut bersamaku."


Tetua Lin Hai dan Liu Wei yang tidak mengerti ke arah mana pembicaraan mereka, hanya bisa memandangi Arya dengan ekspresi kebingungan.


Mendapati jawaban Arya, wajah Huang She semakin kusut. Sebenarnya dia sudah tahu bahwa Arya pasti tidak akan mengizinkannya, namun setidaknya melalui jawaban tersebut ia sudah dapat memastikan dugaannya bahwa kepergian Arya tidak lain adalah untuk menyerang Iblis Berdarah.


Arya berbalik kepada Han Nian. "Apakah kau bisa menangkap ikan, Nian'er?"

__ADS_1


Han Nian mengangguk cepat lalu tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol ke atas.


"Kalau begitu tangkaplah ikan yang banyak, hari ini kita akan makan sampai kenyang." Arya mencubit pipi Han Nian, dia sangat gemas pada lesung pipi gadis kecil itu.


Han Nian menjulurkan lidahnya sebelum berlalu ke tepi danau. Arya menggeleng pelan, muncul perasaan sedih karena sebentar lagi dia akan meninggalkan ketiga bocah bersaudara yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.


Setibanya di tepi danau, Han Nian memperagakan suatu gerakan seperti yang pernah di tunjukan Arya ketika menangkap ikan dengan menggunakan elemen air. Gerakannya yang begitu lembut dan anggun membuat Han Nian terlihat seperti sedang menari.


Permukaan air danau di hadapan Han Nian nampak beriak, dan beberapa menit kemudian muncul puluhan gelembung yang perlahan naik ke udara sebelum bergerak melayang menuju daratan. Puluhan gelembung air itupun pecah menyisakan puluhan ikan yang menggelepar-gelepar.


Han Rui serta Han Jifan segera membantu mengumpulkan puluhan ikan tersebut lalu membawanya kepada Arya.


Di siang itu mereka semua makan bersama di selingi canda tawa ketiga bocah bersaudara, Hulao dan Honglong. Namun tidak dengan Arya, Huang She, Liu Wei dan Tetua Lin Hai yang nampak canggung. Orang-orang dewasa itu lebih banyak diam dan sesekali tersenyum menanggapi kekonyolan ketiga bocah bersaudara yang bercanda bersama dengan Hulao dan Honglong.


Awalnya tetua Lin Hai begitu terkejut ketika mendapati Hulao dan Honglong bisa berbicara, dan keterkejutannya semakin bertambah dengan penjelasan Arya yang mengatakan jika kedua siluman tersebut dapat berbicara karena telah mencapai tahapan yang lebih tinggi dari Pendekar Suci.


Sebagai Pendekar yang sudah berumur tetua Lin Hai begitu malu karena pencapaiannya ternyata tidak ada apa-apanya di bandingkan Arya dan dua siluman tersebut. Mungkin karena itulah tetua Lin Hai yang biasanya banyak tertawa kini menjadi pendiam.


____________


Sebagai pengingat, tahapan Kultivasi.


Tahap awal.


Tahap menengah.


Tahap Pendekar.


Tahap Pendekar Panglima.


Tahap Pendekar Raja.


Tahap Pendekar Kaisar.


Tahap Pendekar Suci.


Pendekar Pertapa.


Pendekar Fana.


Pendekar Alam.


Pendekar Bintang.


Pendekar Langit.


Pendekar Surgawi.


Pendekar Naga.

__ADS_1


Pendekar Abadi.


Pendekar Dewa.


__ADS_2