
Pelita dunia sang Surya mulai naik di ufuk timur, sinarnya menembus kabut yang masih menyelubungi udara. Kabut ini sudah tidak lagi mengandung serbuk Pelemah Energi, dimana petang tadi ditebarkan oleh orang-orang bercadar.
Seiring dengan suara burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembek, menyambut datangnya pagi. Para penduduk terbangun dari lelapnya. Terjadilah kegemparan hebat, para penduduk yang hendak melakukan aktivitas keluar dari rumah, mereka dibuat terheran-heran manakala menemukan puluhan orang yang terkapar di depan rumah mereka. Lekas saja mereka memeriksa kondisi orang-orang yang terkapar tersebut. Beberapa diantara mereka segera mengenali siapa yang terkapar disana.
“Mereka masih hidup! Apa yang terjadi terhadap mereka? Kenapa mereka tertidur disini?” Kata salah seorang penduduk setelah memeriksa beberapa orang yang masih dalam kondisi terkapar tak sadarkan diri.
Beberapa orang berusaha membangunkan mereka yang terkapar, namun segala cara yang dilakukan seperti menggoyang-goyangkan bahkan menyiramkan air, tak mampu menyadarkan mereka.
Salah seorang membuka suara, mengusulkan agar semua orang yang terkapar segera di pindahkan. Dia sendiri kemudian mengajak beberapa penduduk untuk melaporkan kejadian ini kepada prajurit yang berjaga di pos terdekat.
Dalam perjalanan, pandangan mereka membentur beberapa bangunan yang hancur dan terbakar. Hal ini justru semakin membuat mereka keheranan.
“Aneh, ku rasa semalam tak ada badai tak ada bencana! Mengapa bangunan-bangunan di tempat ini hancur.” Berkata salah seorang dengan pandangan tertuju ke arah bangunan yang roboh.
“Aku juga semalam tidak mendengar apapun! Sungguh aneh..!” Sahut yang lainnya.
“Pasti sudah terjadi sesuatu disini.. tidak biasanya aku tidur begitu lelapnya seperti semalam, apa mungkin ada perampokan di kota.” Ujar seorang penduduk yang paling tua. Lalu dia berjalan ke arah reruntuhan.
Sesampainya di dekat reruntuhan, matanya membentur sosok tubuh yang tertimbun tiang-tiang bangunan.
“Cepat kalian kesini!” Teriak orang tua itu.
Beberapa penduduk yang bersamanya segera mendekat, mereka tertegun sesaat. Air muka mereka menggambarkan kengerian melihat kondisi mayat yang tertimbun bangunan tersebut.
“Ayo kita cari bantuan secepatnya untuk mengeluarkan mayat itu. Aku yakin diantara bangunan yang hancur disini masih ada korban di dalamnya. Siapa tahu masih ada yang bisa diselamatkan!” Berkata penduduk paling tua, kemudian buru-buru berjalan setengah berlari, tujuannya yakni pos penjagaan prajurit terdekat.
Memang pertarungan yang terjadi semalam telah menghancurkan beberapa bangunan, tak ayal hal itu memakan korban orang-orang yang berada didalamnya. Meski banyangan Arya telah berusaha agar tidak menimbulkan korban tak berdosa, namun takdir tak bisa dihindarkan. Setidaknya Arya telah berusaha menekan angka kerusakan dan korban yang terjadi.
Didalam kawasan istana, terlihat para prajurit masih bergelimpangan tak sadarkan diri. Bekas-bekas pertarungan terlihat dibeberapa titik. Dari bekas-bekas pertarungan tersebut terlihat beberapa prajurit dalam kondisi tubuh hancur, itu disebabkan dampak pertarungan dan serangan serangan nyasar.
Di jajaran bangunan terlihat beberapa sosok bercadar tampak keluar masuk ruangan. Mereka nampaknya sedang mencari-cari sesuatu.
Pencarian mereka terhenti manakala tanah tiba-tiba bergetar, mereka segera menyadari bahwa ada seseorang yang sengaja menunjukkan kekuatannya.
Belasan sosok bercadar lekas berkumpul pada satu tempat, di sana mereka melihat 4 sosok manusia tengah melayang di udara. Meski berwujud manusia, namun orang-orang bercadar dapat memaklumi bahwa 4 orang yang melayang tersebut bukan lain adalah hewan iblis yang menyamar.
__ADS_1
Ke-empat hewan iblis tersebut adalah pimpinan hewan iblis dari laut kuantan. Meski bukanlah penguasa tertinggi, namun kemampuan mereka tidaklah jauh dibawah penguasa tertinggi mereka, yakni sang ratu.
Mereka semalaman tidak muncul karena ada sesuatu yang membuat mereka lemah. Jika mereka keluar pada saat itu juga, mereka sadar akan kalah. Karena itulah, mereka memerintahkan pasukannya untuk menyerang orang yang membuat perkara diluaran. Dengan begitu mereka memiliki waktu untuk memulihkan diri. Kini setelah mendapatkan kembali kondisi prima, mereka segera saja keluar dari persembunyian.
Alangkah terkejutnya ketika mendapati keadaan diluar, seluruh prajurit kerajaan bergelimpangan, para pasukan hewan iblis yang dikerahkan mereka semuanya telah tewas terbunuh.
“Jadi semua ini adalah perbuatan jahat kalian! Atas nama Kerajaan aku perintahkan pada kalian untuk menyerah!”
Orang yang berkata tersebut memakai pakaian perwira kerajaan, setidaknya itu adalah pakaian panglima. Wajahnya tampak garang, dipenuhi kumis dan jenggot meranggas.
“Hahaha... Jangan mengigau! Apa kau kira kami tidak tahu siapa adanya kau dan tiga orang yang bersamamu itu! Saat ini semua pasukan hewan iblismu sudah tidak ada lagi! Yang namanya kumpulan penyusup yang berada dipihakmu hanya tinggal sisa bangkai yang telah mampus!
Saat ini kalian tengah menghadapi Pengadilan Dunia! Dan sebentar lagi kalian akan kami kirim ke neraka untuk berkumpul kembali dengan pasukanmu yang telah mampus itu.” Berkata salah seorang bercadar sambil acungkan mata tombak ditangan kanannya, menunjuk mayat hewan iblis yang ada dihadapannya.
Meski penyamarannya telah terbongkar, namun empat orang yang melayang tersebut tidak mau menunjukkan keterkejutan apalagi rasa takut.
Pria berpakaian perwira berwajah garang nampak begitu marah, kulit wajahnya jadi merah, kepalanya mengepulkan asap. “Omong besar! Kalian tidak lebih hanya sekumpulan pengecut yang hanya berani menyerang dengan cara licik. Bukan kami yang akan mampus, tapi kalianlah dan seluruh manusia yang ada disini akan ku musnahkan untuk membayar kematian semua bawahanku!”
Sosok bercadar yang mengacungkan tombaknya kerutkan kening, delikkan mata lalu tertawa bergelak. “Di saat-saat maut hendak mengambil nyawamu, kau masih bisa bersyair menutupi kepengecutan! Kalau kau memang hebat kenapa saat anak buahmu kami bantai, kau malah bersembunyi seperti tikus!”
Meledaklah amarah ke-empat hewan iblis yang menyamar tersebut. Mereka secara bersamaan jentikkan tangan hingga mengeluarkan suara keras. Empat larik sinar hitam kemerahan menggebubu ganas menderu ke arah sosok bercadar yang bersenjatakan tombak.
Empat larik sinar hitam kemerahan menghantam pusaran sinar kuning. Ledakan besar pun terjadi! Sosok bercadar mencelat beberapa tombak, meski serangan lawan tak mampu menembus pusaran sinar kuning milikinya, namun daya kejut peraduan energi tadi membuat tangannya panas dan nyeri.
“Kemampuan hanya segini, kalian sudah berlagak congkak!” Sosok bercadar meludah ke depan. Air ludah itu melesat ke arah salah satu hewan iblis yang menyamar sebagai pria botak.
Dengan mudah pria botak menyingkirkan lesatan ludah itu dengan kibaskan tangan.
“Dengan tombak ini anak buahmu ku bunuh! Dengan tombak ini pula kau akan ku bantai!” Suara itu masih mengudara, namun di atas sana sosok bercadar tadi tiba-tiba sudah berada di hadapan pria botak, telah siap tusukkan tombaknya, mencari sasaran ke kepala.
Sambil kertakkan rahang, pria botak miringkan kepalanya ke kanan. Tusukan tombak lewat, dengan teriakan keras si botak kirimkan tinjuan ke sambungan lengan lawan.
Sosok bercadar yang sadar tangannya terancam, segera lepaskan tombak dan tarik ulang tangannya kemudian bergerak memutar sentakkan tendangan kaki kiri ke bahu pria botak.
Belasan sosok bercadar tiba-tiba muncul mengepung, mereka langsung melakukan pengeroyokan.
__ADS_1
Belum lagi berkelit hindari tendangan, dari tiga arah berlesatan serangan, membuat si pria botak gelagapan. Namun “Aaaakkhhh...”
Bersamaan dengan teriakan itu, empat sosok bercadar terhempas. Ternyata teriakan si botak adalah teknik yang di milikinya. Dengan teknik itu, orang biasa akan hancur tubuhnya bila terkena gelombang suaranya, namun empat sosok bercadar yang telah menamengi diri sebelumnya dengan Qi, sehingga mereka hanya terhempas.
Si botak hendak meraih tombak yang terjatuh, namun di lain kejap dari arah atas salah seorang bercadar telah kirimkan tebasan menargetkan batok kepalanya. Tak ingin ambil resiko, cepat-cepat si botak berkelit ke samping.
Tombak itu masih terjatuh, namun sebelum mencapai tanah. Sosok bercadar yang semula memegang tombak tersebut telah meraihnya kembali, “Sudah ku katakan, tombak inilah yang akan mengakhiri nyawamu!”
Pertempuran di atas udara kian menjadi-jadi. Sesekali terdengar ledakan dan bunga api di langit. Pemandangan itu tak ayal menjadi pusat perhatian para penduduk.
“Jahanam pengecut! Jangan kira aku akan takut menghadapi kalian semua!” Di dahului dengan teriakan dahsyat pria brewok berjumpalitan di udara. Golok besar di tangan kanannya membacok kian kemari, berkiblat mengeluarkan suara deru mengerikan.
Para sosok bercadar yang mengeroyok nampak terkesiap sesaat. Kemudian cepat-cepat menghilang dan tahu-tahu sudah kembali berada di dekat lawan seraya lancarkan serangan secara keroyokan.
Pria brewok menggeram, amarahnya meluap-luap laksana gunung meletus. Dia menghindar ke kiri sambil lepaskan satu pukulan tangan kosong mengandung hawa menggidikkan, membuat salah seorang sosok bercadar bergoyang-goyang dan lenyap musnah.
Ke-empat sosok bercadar lainnya tidak perdulikan kawannya yang musnah, mereka teruskan serangan. Pria brewok berhasil menghindari dua serangan lawan, namun dua lainnya berhasil menghantam tubuhnya di bagian perut dan kaki kanan.
Terdengar teriakan keras dari pria brewok. Meski badannya masih utuh, namun serangan tadi telah menghancurkan otot serta tulang-tulangnya. Tangan kirinya bekerja melepaskan pukulan jarak jauh untuk membalas serangan. Golok di tangannya diputar laksana curahan hujan. Berkiblat ganas mengerikan.
Satu jeritan menggelegar, satu sosok bercadar kembali lenyap terkena energi yang di lancarkan pria brewok. Meski begitu pria brewok sendiri harus kembali terkena pukulan sosok bercadar lainnya. Pria brewok mencelat ke belakang, tubuhnya terasa remuk hingga jatuh berlutut di tanah. Darah mancur dari tangan kanannya yang buntung.
Melihat kejadian itu, hewan iblis yang menyerupakan diri menjadi sosok pria berkumis bersenjatakan tombak berteriak menghambur coba menghampiri pria brewok yang saat itu hendak kembali diserang secara keroyokan. Namun seorang bercadar muncul menghadang kirimkan hentakkan tapak penghancur gunung. Tak ada pilihan lain, pria itu cepat ayunkan tombaknya untuk memapasi serangan deru angin berupa tapak tersebut.
Duuuarr...
Benturan energi untuk sekian kali menggelegar di langit biru, percikan bunga api terlihat indah seperti kembang api dimata para penduduk yang menyaksikannya dari bawah.
“Pengecut, kalau berani bertarunglah satu lawan satu!” Teriak pria berkumis sambil gertakkan rahang.
“Hahaha... Kalian juga pengecut, merencanakan penyerangan kerajaan dengan cara penyamar. Dalam pertempuran tak ada kata pengecut, yang ada siapa yang menang dan siapa yang mampus!" Sosok bercadar yang tadi kerahkan pukulan penghancur gunung tertawa mengejek sambil pentangkan kedua tangannya ke pinggang.
Saat itulah, tiba-tiba terdengar suara kecil melengking-lengking. Suara itu terus-menerus tertawa-tawa, lalu muncul dua sosok tubuh manusia mengambang di udara.
“Walah, sepertinya kita datang terlambat! Bagaimana menurutmu, apa sebaiknya kita balik saja?” Berkata seorang pria berpakaian awut-awutan penuh tambalan disana sini. Dia menoleh ke arah kawannya yang berperawakan kurus dan berjanggut panjang berwarna kelabu.
__ADS_1
Kawan yang di ajak bicara itu gelengkan kepalanya. “Tuan mengirim kita kemari untuk menyelesaikan masalah disini sampai benar-benar tuntas. Bagaimanapun kita harus menunggu tuan, kita tidak tahu jalan pulang.”
Dua orang itu tidak lain adalah perwujudan Hulao dan Honglong. Merasa tidak perlu membantu, mereka berdua hanya menempatkan diri sebagai penonton.