Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Bertemu Sang Ratu


__ADS_3

Qianqiao makin hanyut dalam perasaannya, ia mulai mengatupkan sepasang matanya. Terasa olehnya hembusan nafas hangat si pemuda menerpa wajahnya. Debaran jantungnya kian kencang, tubuhnya gemetar panas dingin. Namun meski begitu ia tak kuasa menolak dan bahkan hatinya seakan tidak sabar menunggu apa saja yang akan dilakukan oleh si pemuda terhadap dirinya.


“Maafkan sikapku yang lancang ini. Tetapi percayalah aku tak bermaksud yang bukan-bukan terhadapmu.”


Didengarnya suara si pemuda tepat ditelinganya. Masih dengan menutup matanya, ia mengangguk pelan. Lalu terdengar kembali si pemuda berbicara,


“Tujuanku membawamu kesini karena aku ingin berbicara empat mata denganmu.” Arya menepuk pundak si gadis, “Bukalah matamu!"


Perlahan sekali Qianqiao membuka matanya, dilihatnya wajah si pemuda yang tersenyum menawan. Tak kuasa ia melihat senyuman itu, maka cepat-cepat ia merundukkan kepalanya. Tampaklah wajah si gadis yang muram kecewa.


Sementara itu, Putri Zhou Jing Yi sudah keluar dari kamar. Terlihat gadis ini mengenakan celana panjang dan baju tangan panjang berwarna merah dengan hiasan berupa sulaman dari benang emas. Dipinggangnya juga tampak terlilit rantai yang terbuat dari emas.


Tak berselang lama, jenderal Sun Jian dan Heng Dao juga telah keluar dari kamar masing-masing. Mereka saling pandang melihat pakaian yang dikenakan mereka yang sama persis. Sesaat kemudian seorang gadis berbaju hijau berjalan keluar dari kamar dengan muka merengut. Mereka hanya memandangi gadis itu tanpa keluarkan suara sedikitpun.


Didalam kamar, Arya termangu sesaat. Sebenarnya ia memang bisa membaca pikiran gadis berbaju hijau yang bernama Qianqiao itu. Namun meski demikian ia tidak bisa mengorek terlalu banyak keterangan dari pikirannya, sebab ada suatu energi aneh yang menghalang-halanginya untuk melakukan hal itu.


Dialihkannya pandangannya memandang ke pintu, lalu memandang ke seantero kamar yang diterangi cahaya dari batu-batu yang tertempel di atas langit-langit ruangan.


Dengan senyum-senyum Arya mulai menanggalkan pakaian birunya lalu dengan cepat mengenakan baju dan celana merah, lengkap dengan ikat pinggang rantai emas.


Di dinding sebelah kiri terdapat sebuah kaca besar. Arya pandangi dirinya di dalam kaca itu dan menyeringai sendiri ketika terlintas olehnya, rasa ingin tahu bagaimana penampilannya jika berambut dan bermata kuning. Maka iapun melakukan gerakan pola tangan, kejap kemudian sebagian rambutnya menjadi kuning keemasan, titik hitam dimatanya juga berubah kuning pula.


“Gagah juga diriku ini! Tak kalah dari seorang pangeran! Pangeran Naga Emas! Huh!?” Dia tertawa sendirian lalu melangkah ke pintu. Tapi cepat berpaling ketika ingat pakaiannya yang tergeletak dilantai.


Dengan kibaskan tangannya. Pakaian yang jelas-jelas ditanggalkannya dan diletakkannya di lantai itu kini lenyap tanpa bekas.


Arya keluar dari dalam kamar. Begitu berada di ruangan besar, di depan sana dilihatnya Putri Zhou Jing Yi dan yang lainnya menatapnya dengan tatapan aneh. Mereka jelas melihat pemuda itu keluar dari kamar yang sama seperti gadis berbaju hijau yang sebelumnya juga keluar dari kamar itu pula.


“Ada apa dengan rambut dan matamu?” Bertanya putri Zhou Jing Yi.


Si pemuda hanya menanggapi pertanyaan itu dengan senyuman. Ia kemudian melangkah mendekati Qianqiao.


Melihat pemuda itu mendekat, si gadis segera menundukkan kepalanya. Sikap Qianqiao tersebut, menambah kesan penasaran dalam benak Putri Zhou Jing Yi dan yang lainnya. Rasa penasaran mengenai apa yang sudah terjadi diantara dua orang tersebut ‘di dalam kamar’.


“Kami sudah siap menghadap Ratumu..” Kata si pemuda.


Bersama gadis berbaju hijau, mereka kemudian berjalan menyusuri lorong yang di sisi kanan kiri tembok, tergantung deretan puluhan lampu kecil yang tersusun pada sebuah vas kecil indah terbuat dari perak dan memancarkan sinar berkilau-kilau.


Di ujung lorong itu terlihat pintu berwarna putih yang diatasnya terdapat lampu berwarna hijau. Mereka terus mengikuti Qianqiao memasuki pintu tersebut.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka telah berada di ruangan luas yang bertiang dua belas, lantainya beralaskan permadani. Permadani ini membujur lurus ke arah bagian ujung lain dari ruangan besar tersebut.


Di sebelah ujung sana tampak tangga terdiri dari lima undakan, dan di undakan paling atas lantainya ditutupi sehelai permadani tebal berwarna putih. Di tengah-tengah ruangan besar, di atas tangga itu, terdapat sebuah kursi besar berukiran kepala naga pada kedua tangannya dan ukiran kepala burung garuda pada sandarannya sebelah atas.


Di kiri kanan kursi, sebuah payung besar terbuat dari benang emas memayungi kursi besar. Di langit-langit ruangan menyala puluhan batu bercahaya yang memancarkan sinar berkilau-kilau. Anehnya, diruangan besar itu sama sekali tak memiliki tembok. Sehingga dari dalam, seseorang dapat melihat air danau berikut dengan ikan-ikan yang tampak berenang disana.


Meski tidak memiliki dinding namun ruangan kiri kanan terdapat tiga buah pintu berwarna putih. Di atas pintu menyala lampu-lampu aneh berwarna biru, merah, kuning, hijau, abu-abu dan cokelat.


Putri Zhou Jing Yi berhenti berjalan, ia memandangi berkeliling dengan terkagum-kagum. Sementara hidungnya kembang kempis karena mencium bau yang harum semerbak di tempat itu.


“Inilah istana Ratu Danau Lembah Peri…” Berkata Qianqiao setelah sejenak berhenti dan memandangi orang-orang dibelakangnya.


“Sebenarnya makhluk apa kalian? Siluman ataukah bidadari?” terlontar pertanyaan jenderal Sun Jian yang memang telah lama ditahannya.


Mendengar pertanyaan itu, gadis baju hijau tersenyum. “Kalian bisa tanyakan itu nanti pada Tabib Xian.” lalu dipandanginya wajah Arya. “Sekarang bukan waktunya membahas hal itu. Ratu sudah menunggu kalian.”


Demikianlah, mereka segera melangkah ke ujung ruangan. Kini mereka sudah dapat melihat jelas di atas sana tampak duduk seorang dara cantik luar biasa, mengenakan pakaian putih yang sangat tipis. Di kepalanya ada sebuah mahkota emas bertaburkan permata. sedang di keningnya menempel sebuah batu permata besar.


Sadar kalau sedang berhadapan dengan Ratu penguasa kerajaan danau lembah peri, dan sadar pula bahwa posisi mereka kini adalah seorang tamu. Maka tanpa diminta, merekapun cepat menjura.


Setelah itu, Arya memandang ke arah gadis di atas kursi. Ada sinar agung yang memancar dari sepasang matanya yang biru, membuat pemuda ini berdebar-debar tak kuasa menatap lebih lama. Maka di palingkan matanya ke arah sisi kiri kursi yang terdapat ukiran kepala Naga.


Gadis di atas kursi itu bukan lain adalah Ratu Qian Yu, gadis yang terlihat berusia tujuh belas tahun. Meski terlihat masih muda namun usianya yang sebenarnya telah mencapai ratusan tahun. Sang Ratu tersenyum melihat Arya yang memerah pipinya.


Jenderal Sun Jian sudah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Sesaat dia menatap wajah Sang Ratu, tapi untuk kesekian kalinya sinar yang keluar dari mata biru gadis muda itu membuat d


ia tak sanggup bertahan dan tundukkan kepala. Dalam hatinya ia mengeluh dan menimpakan kesalahan tersebut karena sikap Tabib Xian yang terlalu berlebih-lebihan.


“Maafkan kami Ratu... Jika anda hendak menyalahkan pembunuhan itu, maka Aku lah yang pantas disalahkan. Kera-kera siluman itu tewas karena perbuatanku yang sebelumnya tidak tahu sama sekali bahwa mereka adalah penjaga-penjaga kerajaan anda.” Berkata Arya. “Sekarang katakanlah, untuk apa kami di undang ke sini?”


Ratu Qian Yu tersenyum, “Baguslah jika kau telah mengakui kesalahanmu. Karena itu kau harus dihukum!”


Arya tersentak, ia sama sekali tak menyangka jika Ratu muda itu akan menjatuhkan hukuman atas dirinya. Namun sesaat kemudian pemuda ini menyeringai. “Maaf, aku tak mau dihukum atas perbuatan yang tidak aku sengaja. Lagipula aku hanya membela diri, jika siluman-siluman itu tewas, itu semua karena kesalahannya sendiri yang diam-diam mengintai kami, bahkan terlebih dulu menyerang kami.”


Pada saat itulah tiba-tiba seorang gadis berbaju kuning berjalan mendekat. Ia menjura sebentar lalu berkata, “Maafkan aku ratu... Tapi yang dikatakannya hanyalah alasan semata untuk menutup-nutupi niatnya yang sebenarnya.” gadis ini memandang kepada Arya. “Aku tahu alasanmu membunuh kera-kera siluman itu karena kau sedang kelaparan. Dan kebetulan kau mendapati siluman-siluman itu menyerangmu. Sehingga hal itu bisa kau jadikan alasan. Tapi kami tidak bodoh! Ratu juga telah melihat sendiri bagaimana kalian memakan daging panggang yang bukan lain adalah tubuh kera-kera itu. Kau tak bisa mengelak sekarang! Aku dan dua kawanku telah memantau kalian sejak awal kalian memasuki wilayah gunung Jiuhua ini.”


Ratu Qian Yu, menatap Arya dengan sorot mata dingin. Matanya yang tajam memancar seperti mata seekor harimau di dalam gelap. Kuning kebiru-biruan.


Arya menarik nafas dalam-dalam, ia mengeluh dalam hati. Dicobanya untuk mencari penjelasan terbaik agar masalah ini tidak semakin berlarut-larut. “Cobalah kalian tempatkan diri kalian jika berada diposisi kami. Memang pada saat itu aku sedang kelaparan, sehingga ketika melihat siluman-siluman itu aku menjadi berhasrat untuk membunuhnya. Lagipula tidak ada niatan kami sama sekali untuk menyinggung kalian apalagi mencari masalah dengan kalian. Tujuan kami kesini hanyalah sekedar mencari obat untuk menyembuhkan Raja Zhou Lun dari sakitnya.”

__ADS_1


“Aku tak perduli apapun alasanmu!” Kata Sang Ratu setengah membentak. “Kalian tetap harus menerima hukuman! Membunuh orang-orangku sama saja dengan mencari masalah pada kerajaan kami!”


Gadis berbaju hijau nampak menggigit bibir, dadanya berdebar-debar karena khawatir melihat Arya dalam masalah. Tapi meski begitu ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela si pemuda.


Arya tersenyum kecut, dengan nada tegas ia menyahut, “Aku tetap pada pendirianku! bahwa semua ini bukanlah sepenuhnya kesalahan kami. Bagiku persoalan ini hanyalah salah paham.”


Kemudian tiba-tiba Putri Zhou Jing Yi menimpali, “Sebagai penguasa di tempat ini seharusnya kau bisa melakukan pertimbangan-pertimbangan dengan baik. Menempatkan persoalan pada tempat yang sewajarnya! Bukan malah seenaknya menjatuhkan hukuman kepada seseorang hanya karena kau merasa berkuasa ditempat ini! Jika kalian tetap bersikeras ingin menghukum kami, maka jangan salahkan kami jika kami membela diri.”


“Gluuukk..!” Heng Dao mengusap mulutnya yang basah oleh air arak. Di dahului tertawa kecil, ia lantas berkata. “Apakah pikiran kalian sedemikian sempitnya, sehingga sudah tidak dapat melihat lagi jalan lain yang dapat ditempuh kecuali kekerasan? Aku tidak dapat mengerti, bahwa untuk persoalan yang kecil itu, maka kami harus di sudutkan ke dalam suatu persiapan untuk menghadapi pertarungan.”


Dalam ketegangan itu, Sang Ratu menarik nafas dalam-dalam. Tanpa dikehendakinya sendiri, maka terpandanglah olehnya wajah Arya yang tampan dan menggetarkan hati. Kembali wajah pemuda itu mengingatkannya pada seseorang yang dikenalnya di masa lalu.


Tiba-tiba terasa desir yang tajam tergores di dalam hati Ratu Qian Yu ketika ia merasakan energi emas yang mulai mengeruak dari tubuh Arya.


Maka timbullah keragu-raguan di dalam hati Penguasa Kerajaan Danau Lembah Peri ini. Pengenalannya atas energi emas milik si pemuda rupanya telah melunakkan hatinya.


“Hem,” gumam Sang Ratu di dalam hatinya, “Energi emas itu memang bukan milik orang itu. Tetapi kenapa energi pemuda itu mirip sekali dengan energi naga langit.”


Dalam kediamannya, Sang Ratu mendengar Arya berkata, “Sebelum aku pergi dari ruangan ini, terlebih dahulu aku ingin meminta izin darimu. Aku akan memasuki pulau di tengah danau untuk mengambil bunga energi yang sedang kami cari.”


Terasa sesuatu berdesir di dada Sang Ratu. Perkataan si pemuda benar-benar telah membuatnya terkejut. Namun demikian ia untuk beberapa lama tidak segera menjawab, tetapi pandangan matanya menyorotkan perasaannya yang berguncang.


Mendengar perkataan Arya, Putri Zhou Jing Yi dan jenderal Sun Jian serta-merta menoleh kepada Heng Dao.


Dengan berbisik, sang putri mengajukan pertanyaan. “Benarkah bunga energi yang kita cari ada di pulau itu?”


Heng Dao mengangguk-anggukkan kepalanya, dan didengarnya Putri Zhou Jing Yi mendengus, “Kenapa kau tidak memberitahukannya sebelumnya! Sekarang kita malah dihadapkan dengan persoalan yang rumit.”


Karena tak kunjung mendapatkan tanggapan, maka Arya menelangkupkan tangannya hendak berlalu. Tetapi tiba-tiba terdengar suara membentak,


“Tetap ditempat kalian! persoalan kalian disini belum selesai.”


Arya dan yang lainnya berpaling ke arah gadis berbaju kuning. Tampak wajah gadis itu menegang merah.


“Untuk apa berlama-lama disini kalau hanya untuk menunggu di hukum?” Dengus Putri Zhou Jing Yi, “Diperbolehkan atau tidak, kami akan tetap pergi!”


Meski geram, namun gadis berbaju kuning tidak dapat mengambil tindakan sendiri. Karenanya ia menoleh kepada Ratu Qian Yu. Menunggu perintah!


Suasana menjadi hening. Mereka kehilangan pilihan kata-kata untuk meneruskan pembicaraan yang semakin lama menjadi semakin tegang. Namun justru karena mereka saling berdiam diri itu, maka ketegangan pun menjadi semakin memuncak.

__ADS_1


Tiba-tiba dalam keheningan yang panas itu, Sang Ratu berkata perlahan, “Qianqiao, Qian Si, bawa mereka semua keluar! Awasi mereka, jangan sampai mereka kabur! Aku ingin berbicara empat mata dengan pemuda yang bernama Tabib Xian.”


Semua orang melengak kaget mendengar perkataan Sang Ratu tersebut, bahkan terbesit kecurigaan bahwa sebenarnya tujuan sang ratu mengundang mereka datang kesini hanyalah untuk bisa berduaan dengan Arya. Semua terpancar ketika mata sang ratu yang beberapa kali tertangkap basah menatap si pemuda. Sebagai seorang gadis, Putri Zhou Jing Yi dan dua gadis berbaju hijau dan kuning dapat merasakan pancaran perasaan dari sorot mata sang ratu ketika menatap Arya.


__ADS_2