Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Wabah Penyakit


__ADS_3

Seorang pria berpakaian layaknya penduduk biasa berjalan tergesa-gesa menuju kediaman kepala penjaga, Bi Changfeng. Sesampainya dia disana, beberapa prajurit yang berjaga segera menghadang.


Dengan nafas yang masih memburu, pria itu buru-buru menunjukkan tanda identitasnya kepada para penjaga, lalu menjelaskan tentang maksud dari kedatangannya.


Salah satu penjaga mengambil dan mengecek keaslian dari indentitas pria itu, lalu berjalan memasuki kediaman Bi Changfeng.


Ternyata pria itu adalah pasukan pengintai yang bertugas di luar kawasan istana. Tujuannya menemui Bi Changfeng tidak lain untuk melaporkan sebuah informasi.


Tak lama berselang, penjaga yang tadi masuk ke dalam kembali keluar, kemudian menyuruh pria itu untuk masuk.


Tok.. tok.. tok..


"Masuklah.." Terdengar suara Bi Changfeng dari dalam ruangan.


Pria itu mendorong gagang pintu, ia mendapati Bi Changfeng tengah duduk sambil membaca beberapa lembaran kertas yang ada di atas meja. Pria itu kemudian berjalan masuk, setelah berada di dekat Bi Changfeng, dia segera berlutut memberi hormat.


Bi Changfeng menatap pria itu lalu memberi isyarat agar pria itu menyampaikan informasi yang dibawanya.


Raut wajah Bi Changfeng menjadi buruk setelah mendengar informasi yang sampaikan pria itu, "Baiklah, sekarang kembalilah. Lakukan penyelidikan terhadap orang-orang itu, dan usut sampai tuntas apa yang sebenarnya terjadi di goa itu."


Sepeninggal si mata-mata, Bi Changfeng nampak mengetuk-ngetuk meja. Dia merasa hancurnya goa yang berada di sebelah timur perkebunan warga, tentu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Dan jikapun ada sesuatu yang menghancurkannya pastilah hal itu akan menimbulkan suara yang cukup keras dan akan mengundang perhatian para penduduk sekitar. Namun menurut keterangan dari mata-mata itu, ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan ataupun tanda-tanda bahwa telah terjadi pertarungan di lokasi reruntuhan goa tersebut.


Selain itu, masih ada informasi lain yang membuat Bi Changfeng penasaran. Informasi itu terkait sosok bertopeng yang sempat di lihat mata-mata tersebut. Dan satu lagi informasi yang membuat Bi Changfeng menjadi khawatir, yakni tentang di temukannya beberapa pendekar aliran hitam yang menyamar menjadi penduduk.


Bi Changfeng yang terkenal pintar dalam membaca situasi segera menyadari bahwa ada kemungkinan jika para pendekar aliran hitam juga telah menyusup ke dalam istana.


Meskipun belum di temukannya bukti yang kuat, Bi Changfeng memutuskan akan merundingkan masalah ini dengan para petinggi kerajaan.


*** 


Di aula utama istana. Sedang diadakan pertemuan yang di usulkan oleh Bi Changfeng. 


Pertemuan ini di hadiri oleh hampir seluruh petinggi-petinggi kerajaan, bahkan Raja Zhou Lun dan pangeran Zhou Kesing juga ikut serta meramaikan pertemuan.


Setelah mendiskusikan tentang pertumbuhan ekonomi dan gagasan terkait rencana pembangunan maupun peningkatan kekuatan militer. Raja Zhou Lun kemudian mempersilahkan Bi Changfeng untuk menyampaikan informasi yang dikatakannya penting.


Bi Changfeng berdiri, membungkukkan badan memberi hormat. "Terimakasih yang mulia."


"Salah seorang mata-mata melaporkan kepadaku bahwa dia menemukan goa di sebelah timur perkebunan warga telah hancur namun tidak di ketahui apa penyebabnya. Tapi dia sempat melihat sosok bertopeng berada di dekat sana, menurut hamba kemungkinan besar sosok itulah penyebabnya. Dan satu lagi yang mulia, pasukan mata-mata kita menemukan bahwa terdapat pendekar aliran hitam yang menyamar di dalam kota."


"Menurut hamba, mulai sekarang alangkah baiknya kita harus lebih waspada karena tidak menutup kemungkinan jika para pendekar aliran hitam itu juga telah berhasil menyusup ke dalam istana."


Raja Zhou Lun mengangguk, meski terkejut dia berusaha untuk tetap tenang. Sikutnya diletakkannya di atas pegangan kursi kebesarannya, sedang jarinya memangut dagunya. Diam, berfikir.


Seorang menteri kerajaan yang bernama Yihong Duan nampak tersenyum kecut, dia memandangi Bi Changfeng dengan tatapan sinis.


"Maaf yang mulia, menurutku apa yang di katakan Bi Changfeng memang ada benarnya, kita memang harus meningkatkan kewaspadaan. Tapi alangkah baiknya jika kita lebih fokus terhadap nasib para penduduk yang belakangan ini banyak yang terjangkit penyakit menular. Untuk permasalahan kemungkinan adanya penyusup di dalam kerajaan, biar Jenderal Luo Jing yang menyelidikinya. Yang mulia lebih baik banyak beristirahat dan fokus saja pada kesehatan anda." Ucap Yihong Duan.


Raja Zhou Lun menoleh memandangi Yihong Duan. Memang benar adanya bahwa urusan keamanan kerajaan adalah tanggung-jawab para jenderal dan para panglima, namun belakangan ini dia menaruh curiga terhadap gerak-gerik beberapa panglimanya dan jendral Luo Jing, terlebih terhadap Yihong Duan. Informasi yang di bawa Bi Changfeng semakin menguatkan kecurigaannya bahwa saat ini kondisi di dalam kerajaan sedang tidak baik-baik saja.


"Maaf Yang Mulia, terkait penyakit menular yang menjangkit para penduduk, ada baiknya kita meminta bantuan dari Tabib Xian. Ku dengar dari para penjaga gerbang kota, pemuda itu saat ini tengah berada di gedung asosiasi lotus perak." Ucap Jenderal Sun Jian seraya berdiri.


Raja Zhou Lun tersenyum, dia sudah mendengar kehebatan Tabib Xian dalam bidang pengobatan. Kedatangan pemuda itu di kota ini membawa angin segar dalam pikiran Sang Raja. Karena selama beberapa minggu belakangan, dia terus saja di pusingkan dengan permasalahan wabah penyakit yang tak kunjung dapat teratasi. Bahkan saat ini, Sang Raja sendiri juga terjangkit wabah penyakit mematikan tersebut.


Sementara itu beberapa panglima, Jenderal Luo Jing dan menteri Yihong Duan terlihat memasang ekspresi buruk. Mereka jelas mengenal siapa itu pemuda yang bernama Tabib Xian, seseorang yang patut mereka waspadai. Sebelum menjalankan tugas, memang mereka sudah di peringatkan oleh Patriark Pao Shaowen untuk menghindari maupun berhati-hati terhadap pemuda itu.


Kini mereka dapat menarik kesimpulan bahwa hancurnya goa yang menjadi tempat rahasia pertemuan mereka dengan kemunculan sosok bertopeng, ada kaitannya dengan Tabib Xian.


"Mengenai penyelidikan di dalam istana, aku serahkan tugas itu pada jenderal Sun Jian. " Raja Zhou Lun akhirnya membuka suara. "Panggil Tabib Xian kemari, siapa tahu dia bisa menemukan obat untuk mengatasi wabah penyakit ini."


*** 


Kedai Sindara terletak di tengah pusat kota kerajaan Guangzhou. Meskipun wabah penyakit sudah banyak memakan korban, namun kedai ini masih beroperasi seperti biasanya, buka siang malam dan selalu saja ramai pengunjungnya.


Sebegitu terkenalnya, banyak orang yang rela jauh-jauh datang ke kota Guangzhou hanya untuk mendatangi kedai ini.


Sebenarnya makanan yang di sediakan di kedai ini memiliki cita rasa yang terbilang biasa-biasa saja, namun orang-orang selalu datang ke sana untuk makan dan minum karena harganya murah. Selain itu, kecantikan dari anak pemilik kedai menjadi candu di mata para pengunjung lelaki.


Kecantikan anak gadis si pemilik kedai sudah sangat terkenal, dia bernama Diao Chan. Gadis itu berkulit putih bening dan berparas cantik, hidungnya mancung, berbibir kecil, leher jenjang, alisnya laksana bulan sabit, dan bulu mata panjang melentik. Di tambah pula dengan lenggak-lenggoknya ketika berjalan serta sikapnya yang genit manja. Semua itulah yang menjadi penyebab mengapa kedai Sindara begitu terkenal dan banyak di kunjungi orang.

__ADS_1


Selaku pemilik kedai, memang Xie Hu sengaja menyuruh anak gadisnya itu duduk di kedai untuk melayani para tamu.


Colekan dan cubitan tangan para tamu lelaki bagi Diao Chan sudah merupakan hal yang biasa, malah tak jarang banyak yang tergila-gila padanya.


Sedemikian banyak para tamu dan pedagang yang terpikat namun tak seorangpun yang bisa mendekatinya. Bahkan banyak pula yang melamar, semuanya di tolak. 'Jinak-jinak merpati' begitulah julukan yang diberikan orang-orang pada Diao Chan.


Malam ini, di dalam kedai Sindara terdapat sekitar 50 tamu. Kebanyakan di antara mereka minum arak atau kopi hangat sambil menghisap asap tembakau, tak luput mata mereka memandangi kecantikan putri si pemilik kedai tersebut.


Pada saat Diao Chan membawakan pesanan salah seorang pengunjung, dari pintu depan masuklah seorang pemuda berpakaian coklat sederhana, pemuda itu memandangi sekitar lalu memilih tempat duduk di sudut yang agak terpencil.


Diao Chan mendatangi tempat pemuda itu dengan cara berjalannya yang genit. "Hai, siapa namamu?" Sapa Diao Chan dengan memperlihatkan senyuman yang memikat.


Pemuda itu mengerutkan kening, "Ada apa nona? Aku datang kesini untuk makan bukan ingin berkenalan dengan gadis." Pemuda itu tertawa pelan.


Diao Chan merengut, bibir kecilnya di manyunkan, nampak menggemaskan. "Siapa juga yang ingin berkenalan denganmu." Balas ketus gadis itu.


Tertawalah pemuda itu, "Bibirmu itu kau apakan, sampai sebegitu merahnya seperti habis minum darah."


"Iya, sini biar ku minum darahmu." Diao Chan melengos duduk di samping pemuda itu. Meski jengkel karena di ledek, namun agaknya dia menyukai pemuda itu.


Para pengunjung diam-diam memperhatikan pemuda itu, tatapan mereka mengutarakan rasa iri. 


"Hei, kenapa kau duduk di sini. Hus hus, kau ini pelayan, harusnya melayani para tamu bukan malah duduk disini." 


Mata Diao Chan melotot, meski benar dia adalah pelayan tetapi di singgung seperti itu, dia merasa jika harga dirinya telah di injak-injak.


"Sana pergi, siapkan kopi dan makanan ringan untukku." Ucap pemuda itu seolah tak perduli, dia malah memandangi orang-orang yang ada di dalam kedai tersebut.


Wajah Diao Chan memerah, dia menggebrak meja sebelum berlalu pergi.


"Ada masalah apa kau denganku? Dasar gadis aneh." Celetuk pemuda itu sambil memandangi punggung Diao Chan yang berjalan setengah berlari menuju ke bagian belakang kedai.


Tak lama berselang, Diao Chan kembali dengan membawa makanan dan minuman yang di pesan. Tanpa berkata apapun dan masih dengan wajah tertekuk, Diao Chan kembali meninggalkan meja pemuda itu.


Saat pemuda itu akan memakan makanannya, seseorang tanpa permisi tiba-tiba seenaknya saja duduk di hadapan si pemuda.


"Hmm.." Pemuda itu mendehem.


"Kau datang darimana nak?" Kakek itu bertanya.


Pemuda itu menatap si kakek penuh selidik, lalu tiba-tiba tertawa tergelak.


Melihat pemuda itu tertawa, si kakek ikutan tertawa. Waktu dia tertawa, jelas terlihat tidak ada sepotong gigi gusi di atas maupun bawah.


"Hanya orang yang memiliki maksud tertentu yang suka menyelidiki orang lain." Kata pemuda itu.


"Benar.." Kakek berhidung pesek itu angguk-anggukan kepalanya. Lalu di keluarkannya kantong kulit berbentuk kotak. "Apa kau merokok?"


Si pemuda menggeleng.


Orang tua itu mengeluarkan sebatang rokok lalu menyalakannya, kemudian duduk menyenderkan punggungnya ke dinding kedai.


"Kau sendiri siapa, kek?" Si pemuda ganti bertanya, dia tidak lain adalah Arya.


"Dari sekian banyak pengunjung kedai, ku lihat hanya kau yang tidak tertarik pada gadis cantik itu, bahkan kau telah membuatnya kecewa dan marah. Kau benar-benar pemuda konyol." Bukannya menjawab, kakek itu malah berceloteh seenaknya, lalu menghembuskan asap rokoknya tinggi-tinggi ke udara.


Sesaat kemudian, kakek itu kembali berkata. "Ku perhatikan, kau jelas memiliki maksud penting datang ke kota ini. Kau tahu bukan, semenjak wabah penyakit menyebar di kota ini banyak orang yang takut datang kemari. Hanya mereka yang memiliki tujuan mendesak yang berani datang ke kota ini."


"Tujuan penting atau bukan, itu bukan urusanmu, kek." Ucap Arya sambil mengunyah makanannya.


Kakek itu tertawa mengekeh, hidungnya yang lebar dan pesek itu semakin lebar dan semakin pesek.


Arya tidak memperdulikan si kakek, mulutnya terus sibuk mengunyah makanannya sampai habis, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding kedai dan memejamkan matanya.


Beberapa menit berlalu, seorang pemuda berwajah tampan berjalan tegap, dia langsung duduk di depan meja kasir. Sepasang matanya yang sipit tidak berkedip dan selalu tertuju pada Diao Chan.


Si gadis yang merasa diperhatikan balas memandang dan tersenyum genit, lalu mendatangi pemuda itu.


"Pemuda gagah, kau datang darimana?" Sapa Diao Chan.

__ADS_1


Sepasang mata pemuda itu yang sipit sedikit melebar, tatapannya menunjukkan keterpukauan. "Aku datang dari jauh. Melihat parasmu yang cantik, sepertinya kaulah yang bernama Diao Chan, si Jinak-jinak merpati itu."


"Ah, kau sudah tahu namaku. Rupanya namaku telah diterbangkan angin sampai jauh." Anak gadis pemilik kedai itu kembali menyunggingkan senyuman memikat.


"Tentu karena parasmu yang cantik seperti Dewi itu yang membuat namamu di terbangkan jauh sampai kemana-mana."


"Kau pandai merayu. Hmm, kalau boleh tahu siapa namamu?" Tanya Diao Chan.


"Junwe.."


"Nama yang indah, seindah parasmu yang tampan. Sekarang katakanlah, kau mau pesan apa?"


"Siapkan tiga guci arak, dan satu porsi ayam bakar. Jangan lupa sediakan sambal yang pedas."


Sambil menunggu pesanannya, Junwe memandangi sekeliling. Tak banyak yang menarik perhatiannya dalam kedai itu. Pandangannya berhenti saat melihat Arya yang tertidur bersandar di dinding kedai serta seorang kakek tua pesek yang mendengkur, satu meja dengan pemuda itu.


"Boleh aku menemanimu makan?" Ucap Diao Chan setelah selesai meletakkan hidangan di atas meja.


"Tentu saja, gadis cantik." Jawab Junwe antusias.


Dengan tersenyum genit, Diao Chan meletakkan bokongnya yang bahenol ke kursi yang berada si sebelah Junwe.


Mencium keharuman dari tubuh Diao Chan, Junwe tiba-tiba melingkarkan tangannya memegangi pinggul gadis itu.


Meskipun Diao Chan sering kali mendapatkan godaan dari para pengunjung, tetapi mereka hanya berani sebatas mencubit atau memegang tangan. Kini di perlakukan seperti itu, Diao Chan nampak menunjukkan sikap tidak nyaman.


Xie Hu selaku ayah dan pemilik kedai yang sengaja menyuruh Diao Chan melayani tamu, perlakuan sejauh itu terhadap anaknya benar-benar tidak diharapkannya.


Para pengunjung lain di kedai itu juga memperhatikan dengan mata melotot. Ada yang dongkol, ada yang menganggap tindakan Junwe itu kurang ajar, tetapi ada juga yang iri.


Hanya dua tamu yang sepertinya tidak perduli, yakni Arya dan kakek berhidung pesek.


Selesai makan, Junwe menengguk araknya sampai setengah guci. Wajahnya yang putih kelihatan menjadi merah.


"Maaf, tolong lepaskan aku." Diao Chan yang sudah tidak tahan dan risih, ingin melepaskan diri, namun pelukan Junwe di pinggulnya begitu kencang sampai membuatnya tidak bisa bergerak.


Seolah tidak mendengar, Junwe kembali meminum araknya, mukanya semakin memerah. Tiba-tiba ditariknya kepala Diao Chan lalu diciumnya wajah gadis itu bertubi-tubi.


Gadis itu menggeliat sekuat tenaga dan berseru tegang, setengah marah, setengah takut.


Semua orang yang ada di kedai tampak terkejut. Xie Hu tercengang lalu buru-buru melangkah cepat ke meja Junwe dan membentak keras.


"Manusia kurang ajar! Lekas bayar makanan dan arak itu, lalu angkat kakimu dari kedaiku!"


Di bentak demikian, si pemuda tenang-tenang saja seolah tak mendengar. Malah tangannya merayap lebih berani. Tangan yang satu masih melingkar di pinggul Diao Chan, dan yang satunya lagi bergerak ke dada.


Xie Hu segera menarik anaknya dari pelukan Junwe, namun tidak berhasil.


"Lepaskan anakku!" Teriak Xie Hu.


Junwe tertawa mengejek, "Bukankah kau sendiri yang sengaja menyuruh anakmu melayani tamu, mengandalkan kecantikan dan kegenitannya supaya meraup banyak uang. Sekarang dia sedang melayaniku, kenapa kau justru malah marah?"


"Jangan khawatir, aku tidak akan lupa membayar harga makanan dan arak itu. Malah akan ku tambah dengan harga kehangatan dari tubuh anakmu ini."


Kemarahan si pemilik kedai tak terbendung lagi. Di ambilnya guci arak dari atas meja lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. "Jika kau tak melepaskan anakku dan tak segera membayar, akan ku pecahkan kepalamu." Ancam Xie Hu.


Junwe tertawa, dia sama sekali tidak memperdulikan ancaman pemilik kedai, malah kini dengan kurang ajar, tangan kanannya menyelinap di balik dada pakaian Diao Chan.


"Manusia terkutuk!" Maki Xie Hu, tangan kanannya bergerak menghantamkan guci arak yang dipegangnya ke kepala Junwe.


Namun pemilik kedai itu di buat terkaget bukan main, karena tiba-tiba badannya tidak dapat bergerak. Tangan dan sekujur badannya menjadi kaku.


"Sialan, lepaskan aku." Teriak pemilik kedai.


Junwe menyeringai, lalu menotok tubuh Diao Chan. Gadis itu nampak ingin berteriak namun dia tidak mampu membuka mulutnya.


Dari balik pakaiannya, Junwe mengeluarkan sekantong uang, lalu dilemparkannya ke atas meja. "Uang ini ku rasa cukup banyak untuk membayar makanan, arak serta anak gadismu ini."


Selesai berkata demikian, Junwe bangkit berdiri dan memanggul tubuh Diao Chan di bahu kirinya.

__ADS_1


__ADS_2