
Ketika fajar mulai menyingsing dan cuaca tidak begitu gelap lagi, tiga orang lantas meninggalkan api unggun yang sudah tidak bernyala, tinggal berasap saja. Dibawah turunnya hujan salju, mereka berlari cepat seolah tidak menginjak tanah, melanjutkan perjalanan tadi malam yang terganggu oleh kegelapan malam dan kelelahan.
Ketika mereka mulai bertemu dengan para petani yang menuju ke ladang, tiga orang ini kemudian memperlambat langkah kaki, tidak mempedulikan pandang mata para petani yang terheran-heran melihat mereka.
Tak berselang lama, akhirnya tibalah mereka di sebuah gerbang kota. Kedatangan ketiga orang itu dengan membawa potongan tangan dan telinga putri Pauw-sie tentu saja menggemparkan seisi rumah Bupati Pauw-an Kio, bahkan berita itu cepat sekali menyebar dan menggemparkan seluruh kota Hangciu.
Wajah Bupati Pauw-an Kio membeku mengelam. Kedua tangannya mengepal. Kemarahan dan kesedihan yang amat sangat membuat dia tak sanggup membuka mulut! Sebaliknya di dalam kamar, istrinya terdengar menangis meraung-raung.
“Mana anakku! Mana anakku!” pekik ratap perempuan itu. “Sie'er! Pauw-sie, di mana kau anakku? Oh Dewa! Di mana anakku. Aku tak percaya dia sudah...” perempuan itu tak dapat meneruskan ucapannya. Kedua telapak tangannya ditekapkannya ke mukanya sambil menangis terisak-isak.
Tenggorokan Bupati Pauw-an Kio turun naik. Dadanya menggelora. Kematian anak gadisnya Pauw-sie membuat kepalanya serasa mau pecah oleh luapan darah! Di samping itu yang membuat dia tak bisa diam dan seperti mau gila ialah karena ketiga utusannya yang kembali membawa potongan tangan dan telinga anaknya itu sama sekali tidak mengetahui siapa pelaku pembunuh anaknya tersebut.
Seperti yang pernah diceritakan, lima utusan Bupati Pauw-an Kio pernah bertemu dengan Arya dan kawan-kawan di sebuah bukit sewaktu dalam misinya mencari jejak Putri Pauw-sie yang diculik. Waktu itu mereka mendapati Arya dan kawan-kawan menemukan potongan tangan serta potongan telinga yang diduga kuat adalah milik Putri Pauw-sie. Karena salah paham mereka pun jadi saling bertarung, hingga akhirnya dua diantara utusan Bupati Pauw-an Kio tewas ditangan rekannya sendiri yakni si Rahang Besi. Dan karena Arya telah menghapus ingatan Rahang Besi serta dua rekannya, maka mereka bertiga pun menjadi lupa akan pertemuan waktu itu. Setelah dikirim ke suatu desa, dan sesudah mereka sadar, mereka bertiga kemudian menguburkan dua rekannya yang tewas itu sebelum akhirnya kembali ke kota Hangciu untuk melaporkan hasil dari pencarian mereka yakni potongan tangan dan potongan kuping yang di yakini mereka sebagai anggota tubuh Putri Pauw-sie.
Selagi sedang berfikir-fikir ‘Siapa yang menculik anak gadisnya? Anak tunggal satu-satunya yang menjadi kesayangan tambatan hati?!’. Telinganya tiada henti mendengar ratap tangis istrinya yang bukan saja menyayat hati tapi juga membuat darah di dalam tubuhnya semakin bergejolak mendidih!
Karena luapan amarah yang tak terkendalikan dan tak tentu kepada siapa dilampiaskan, ditambah pula mendengar ratap tangis istrinya di dalam, maka sewaktu pandangannya menatap ke obor yang tergantung di dinding sebelah kanan, tiba-tiba Bupati Pauw-an Kio menghantamkan tinju kanannya!
Braakkk...!
Obor itupun hancur berkeping-keping! Bahkan tembok disana juga dibikin jebol. Itulah ilmu pukulan ‘Menghantam Karang Melebur Baja’. Sementara itu, para pembantu Bupati Pauw-an Kio yang berdiri diruangan itu masing-masing sama merasa takut dan cemas. Mereka khawatir kalau-kalau dalam amarah gelap mata seperti itu, diri mereka juga akan jadi sasaran dihantam sang Bupati Pauw-an Kio.
Tiba-tiba laksana halilintar di siang hari, berteriaklah Bupati Pauw-an Kio. Semua pembantu-pembantunya yang berjumlah lima belas orang diperintahkannya untuk bersiap-siap.
“Kita akan ulangi lagi penyelidikan!” teriaknya. “Kau Gak Hoan, bersama enam belas orang lainnya menyelidik ke desa Hoay-sui dan sekitarnya. Rahang Besi dan yang lain-lain ke timur! Kalian harus berhasil mencari jejak manusia yang telah melakukan kebiadaban ini! Harus berhasil membekuk batang lehernya! Siapa yang kembali sebelum dapatkan manusia jahanam itu akan ku bunuh! Sekarang kalian pergilah!”
Demikianlah, tanpa mengucapkan apapun dan hanya menjura memberi hormat, semua pengawal termasuk Rahang Besi dan Gak Hoan segera berlalu untuk mengambil kuda masing-masing dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam perjalanan mencari pembunuh putri Pauw-sie itu. Mereka masing-masing menyadari bahwa pencarian itu tidak akan berhasil dalam tempo yang singkat, tapi pasti akan memakan waktu berhari-hari.
Selang beberapa saat tiga puluh penunggang kuda sudah berkumpul di halaman gedung Bupati. Mereka siap menunggu perintah dan langkah-langkah terakhir yang harus mereka lakukan. Bupati Pauw-an Kio menatap kelima belas orang anak buahnya yang berbaris di paling depan itu lalu berkata,
“Sekali lagi kalian ingat baik-baik. Kalian harus temukan bangsat itu dan seret dia hidup-hidup ke sini! Jika orang itu....”
Bupati Pauw-an Kio tidak teruskan ucapannya. Sepasang matanya kini dialihkan ke gerbang. Saat itu terlihat berjalan seorang prajurit menuju ke arahnya.
Dengan sorot mata tajam memancarkan kemarahan, Bupati Pauw-an Kio menatap prajurit itu. Hal itu membuat sang prajurit jadi berdebar-debar ketakutan, namun meski demikian dia tetap memberanikan diri menghadap dan cepat-cepat menjura memberi hormat.
__ADS_1
“Ada apa?..” ucap Bupati Pauw-an Kio dengan dingin.
Prajurit itu mengangguk cepat, ia menarik nafas dalam-dalam lalu katanya, “Kami mendapatkan informasi terkait kemunculan manusia iblis yang baru beberapa pekan telah menimbulkan serangkaian tragedi berdarah disekitar wilayah utara desa Daoyao. Kemunculan manusia iblis itu selalu ditandai dengan adanya sebuah gambar tengkorak merah bertanduk dirumah korbannya. Dan gambar tengkorak itu sendiri dibuat dengan darah yang masih basah. Gambar itu tampaknya sama seperti gambar yang diketemukan sebelum Putri Pauw-sie dilarikan orang. Mungkin manusia iblis itulah pelaku yang telah menculik Putri Pauw-sie, tuan.”
Bupati Pauw-an Kio menyeringai dingin, luapan kemarahan jelas terlihat dari sorot matanya, kedua tangannya terkepal erat. Sebagai orang yang diamanati untuk membina kesejahteraan diwilayahnya, Bupati Pauw-an Kio merasa bertanggung jawab atas kejadian yang laporkan oleh prajurit itu. Apalagi putrinya sendiri juga telah menjadi korban diantaranya. Dengan nada bergetar dia berkata kepada ke-lima belas anak buahnya yang berbaris paling depan, “Aku sendiri akan memimpin sebagian dari kalian untuk menyelidiki desa Daoyao dan sekitarnya, dan sisanya tetap selidiki setiap desa disekitar kota ini. Siapkan aku kuda..!”
Seorang prajurit segera berlalu untuk menyiapkan kuda sang Bupati, sedang yang lainnya masih berdiri dihalaman. Beberapa saat berselang, prajurit yang tadi berlalu sudah muncul kembali, berjalan sambil menarik tali kekang kuda.
Bupati Pauw-an Kio yang sudah tidak sabar untuk secepatnya menemukan pembunuh anak gadisnya, langsung melompat dan dengan ringan sekali telah duduk diatas kuda tunggangannya. Ia mengangkat tangan kanannya sebagai tanda agar anak buahnya mulai melaksanakan tugas yang diberikannya. Setelahnya ia lantas menggebah kudanya. Sesaat kemudian maka puluhan ekor kuda yang di tunggangi para pengawal itu pun segera berderap meninggalkan halaman dan lalu keluar gerbang.
*******
Selama tiga pekan belakangan ini telah terjadi serentetan peristiwa yang mengejutkan. Munculnya manusia iblis yang menimbulkan tragedi berdarah disekitar wilayah utara kerajaan Guangzhou.
Yang paling menghebohkan ialah terbunuhnya menantu kepala desa Kim Hong yang bernama Thian Cee Bio, sekaligus diculiknya anak gadis kepala desa yang bernama Kim Thiam Ci.
Kejadian itu terjadi dimalam hari dikala kepala desa Kim Hong baru saja selesai mengadakan pesta pernikahan anak gadisnya Kim Thiam Ci. Pesta pernikahan antara Thian Cee Bio dan Kim Thiam Ci di dusun Daoyao itu sungguh sangat meriah. Seluruh penghuni desa turut serta merayakannya. Hal ini tidak mengherankan karena kepala desa Kim Hong dikenal sebagai pemimpin yang ramah dan baik, bahkan Kim Thiam Ci sangat terkenal sebagai kembangnya para gadis cantik di desa itu.
Pada saat sebelum kejadian, salah seorang pelayan yang hendak memasang obor diluar berteriak ketika melihat sebuah gambar tengkorak bertanduk yang tergambar di dinding.
Rupanya peristiwa seperti itu, yang ditandai dengan adanya gambar tengkorak bertanduk juga terjadi di desa-desa lainnya. Tentu saja tragedi tersebut sangat menggemparkan beberapa desa yang mengalami kejadian tersebut.
Penculikan gadis dan bayi memang telah berulang kali terjadi, namun penculikan yang ditandai dengan gambar tengkorak bertanduk baru akhir-akhir ini terjadi.
Menurut saksi mata dari salah seorang korban yang masih hidup, si pembunuh itu hampir sukar sekali dilihat sosok tubuhnya. Karena berkelebat begitu cepat bagaikan bayangan hantu.
Kejadian yang paling menghebohkan kedua adalah terbunuhnya seorang bangsawan, yang juga bekas punggawa kerajaan, bernama Soat ji. Laki-laki itu mempunyai empat orang anak. Seorang anak gadisnya diculik, sementara tiga anak laki-lakinya terbunuh dengan isi perut terburai diatas tempat tidur. Sedang istrinya tewas dalam keadaan tergantung di tiang rumah. Soat Ji sendiri tewas dalam keadaan mengerikan. Kedua tangan dan kedua kakinya putus, isi perutnya juga terbuai keluar. Tubuh laki-laki bekas punggawa kerajaan itu digantung di tiang depan gedung tempat tinggalnya.
*****
Malam itu tak ada bulan di langit, dan cahaya taburan bintang yang lemah mendatangkan suasana yang remang-remang menyeramkan. Biarpun hujan salju telah berhenti namun dinginnya bukan alang kepalang. Kesunyian yang sangat mencekam itu kadang kala dipecahkan oleh suara burung malam yang mendatangkan suasana lebih menyeramkan, dan kadang-kadang terdengar bunyi lemah kelepak burung malam yang terbang berlalu. Raungan serigala di kejauhan menambah seramnya keadaan hutan itu.
Diantara kegelapan malam dan pepohonan besar yang diselimuti salju putih, tampak terlihat tiga tenda berdiri berjajar-jajar, yang di depannya terdapat tujuh orang sedang duduk menghadapi nyala api unggun. Tak jauh dari tenda-tenda itu juga terlihat tiga kereta kuda.
“Seharusnya kita menginap saja di desa daripada menghabiskan malam di hutan ini.” berkata salah seorang diantara mereka yang berwajah lonjong dan berhidung besar.
__ADS_1
“Benar, tapi apa kau sampai hati membiarkan kedua anak dari mendiang sahabat kita kedinginan dalam perjalanan. Biarkan mereka sejenak istirahat untuk meredakan kesedihan mereka.” jawab seorang lainnya yang berbadan gempal.
“Benar-benar jahanam manusia iblis itu..” desis seorang pria yang memakai mantel tebal terbuat dari kulit rusa dan dipenuhi bulu-bulu lebat berwarna putih. Wajahnya menunjukkan kemarahan dan sorot matanya memancarkan dendam, memandangi nyala api unggun dihadapannya.
Orang ini bernama Tiat Sim. Dia sangat menyesalkan dirinya sendiri karena datang terlambat, sehingga sahabat-sahabatnya terbunuh oleh beberapa sosok berjubah putih yang bagian depan jubahnya tergambar kepala tengkorak bertanduk.
Pada saat itu, ia sedang berjaga di gerbang desa Daoyao. Lamat-lamat ia mendengar suara gaduh pertarungan. Maka dengan cepat iapun melompat ke atas genteng warga untuk selanjutnya melakukan pengejaran ke arah larinya manusia berjubah putih yang ketika itu terlihat menculik istri sahabatnya yang bernama Ling Qingzhu.
Mana kala ia melewati samping rumah salah seorang warga. Hampir saja dia berteriak keras ketika dia melihat betapa dua orang rekannya sudah menggeletak di situ dengan badan mandi darah. Pada waktu dia menghampiri dan memeriksa, ternyata kedua orang rekannya ini sudah tewas dengan dada tertembus tombak pendek miliknya sendiri, sementara yang satunya tewas dengan leher hampir putus!
Kembali dia mengalami guncangan batin hebat sesudah melihat dua orang rekan lainnya lagi telah menggeletak menjadi mayat di pekarangan depan. Dan seperti juga keadaan dua orang rekannya yang tewas di samping rumah, kedua orang ini pun tewas oleh senjata mereka sendiri.
Melihat betapa empat orang rekan atau sahabat yang seakan sudah menjadi saudaranya sendiri itu tewas dalam keadaan yang begitu menyedihkan, hati Tiat Sim penuh dengan kedukaan dan kemarahan. Maka, diapun segera berkelebat dan berloncatan di atas atap rumah-rumah warga. Mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyusul ke arah perginya sosok berjubah putih yang tadi menggotong tubuh istri sahabatnya.
Akan tetapi kemampuan sosok berjubah putih bergambar tengkorak bertanduk tersebut melebihi kecepatannya, sehingga ia semakin ketinggalan jauh. Disaat-saat tengah berusaha keras melakukan pengejaran tersebut, tiba-tiba pandangan matanya terbentur pada sebuah bayangan yang berlari terhuyung-huyung. Ketika ia mendekati, ternyata bayangan itu adalah Cia Lie Peng yang berlari sambil terhuyung dan kedua tangannya mendekap leher karena dari situ bercucuran darah segar dari sebuah luka yang menganga!
“Lie Peng...! Kau kenapa...?” Tiat Sim meloncat dan menubruk sahabatnya sekaligus juga saudara seperguruan sektenya itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hatinya melihat luka di leher sahabatnya itu. Sungguh hebat sekali dan amat mengherankan jika Cia Lie Peng masih dapat berlari. Begitu melihat Tiat Sim, Cia Lie Peng langsung roboh terguling namun tubuhnya cepat disambar dan dipeluk oleh Tiat Sim.
“Is..istriku, anak-anakku..” desis Cia Lie Peng. “Ba..ba..bawa.. a..a..anak-anak..ku pa..pada gu..gu..guruu..” setelah berkata begitu, Cia Lie Peng tiba-tiba terkulai, nyawanya telah minggat meninggalkan raga!
Mengingat kejadian tersebut, tanpa terasa kedua mata Tiat Sim menjadi basah. “Aku harus membalas dendam ini!” Tiat Sim memegang pedangnya yang masih terbungkus sarungnya erat-erat dan sinar matanya berkilat.
Dalam kesenyapan malam, tiba-tiba tiga ekor kuda yang tertambat tidak jauh dari tenda itu meringkik-ringkik dan kelihatan panik. Tiat Sim dan enam orang lainnya cepat bangkit, mereka masih belum curiga, hanya mengira bahwa mungkin saja tiga ekor kuda itu mencium keberadaan binatang buas. Tentu saja mereka tidak merasa takut. Kemudian dengan hati-hati, salah seorang diantara mereka mendekati untuk selanjutnya menenangkan kuda-kuda tersebut.
Mendadak ketiga ekor kuda itu meringkik lagi, bahkan kali ini kuda-kuda tersebut mengangkat kaki depan. Tiba-tiba salah seekor di antara tiga kuda itu mengeluarkan suara memekik kemudian roboh. Di lehernya menancap sebatang tombak sampai menembus. Tak lama setelahnya terdengar lagi suara pekik kuda, dua kali berturut-turut. Ketiga kuda itupun tewas seketika.
Tentu saja Tiat Sim dan yang lainnya terkejut bukan main. Dengan cekatan merekapun menarik pedang masing-masing sambil menatap berkeliling penuh waspada.
Tak berselang lama, tiba-tiba terdengar suara tertawa di antara kegelapan hutan. Kejap kemudian muncul sesosok tubuh melangkah perlahan-lahan menghampiri tenda dari arah depan.
Semakin dekat semakin jelaslah bahwa sosok tersebut ialah seorang laki-laki pendek yang berpakaian jubah putih dengan gambar tengkorak darah pada dadanya. Mukanya tertutup topeng tengkorak!
Melihat kemunculan sosok tersebut, Tiat Sim yang memang menyimpan dendam membara atas kematian sahabat-sahabatnya, langsung melompat maju menerjang sosok tersebut dengan memutar pedangnya.
__ADS_1