Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Menyelamatkan Anak Perempuan


__ADS_3

Arya yang melihat anak perempuan di hadapannya memejamkan mata, seketika berbalik dan menghadap ketiga pria berpakaian hitam.


"Menculik seorang anak kecil, apalagi itu seorang anak perempuan, apakah kalian sebegitu rendahnya?" Arya menunjuk ketiga pria berpakaian hitam dengan seringai tajam.


"Kau berlagak seperti seorang pahlawan, aku penasaran dengan kemampuanmu, apakah kemampuanmu bertarung sebanding dengan nyalimu." Salah seorang diantara pria berpakaian hitam maju, wajahnya yang di penuhi brewok membuat penampilannya terkesan seram.


Arya memerhatikan penampilan pria dihadapannya itu, lalu tertawa karena teringat Wukong.


Pria brewok itu mendengus kesal, "Apa yang tertawakan? Apakah kau sudah gila?"


"Wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Eh, maksudku kau mirip sekali dengan monyet. Haha..." Arya menunjuk muka pria brewok sambil tertawa.


Anak perempuan dibelakang Arya tertawa lirih masih dengan memejamkan mata, ekspresi ketakutan yang tadi terlukis dalam wajahnya seketika pudar, digantikan kerutan akibat senyumannya.


"Kau!" Pria brewok itu tersentak marah, kemudian menoleh ke arah temannya.


Mendapati lirikan temannya, dua pria berpakaian hitam yang berada di barisan belakang seketika mengangguk, dan lantas mengeluarkan pedang.


"Kau cari mati, kau tahu kau sedang mencari masalah dengan orang yang salah." Seorang pria berpakaian hitam yang berada di belakang mensejajarkan dirinya dengan temannya yang berada satu langkah di hadapannya.


"Heh! Hanya berada di tahap Pendekar tingkat enam saja sudah berlagak di hadapanku." Arya berkata dengan nada mencibir, wajahnya tak menampilkan kecemasan walau hanya secuil.


"Pak tua, aku memberikan kalian kesempatan. Pergi sekarang, atau kalian akan menyesal." Arya mengayunkan tangannya, seolah sedang mengusir kumpulan lalat di depannya.


Namun kemurahan hatinya tidak dianggap serius oleh ketiga pria tua itu, mereka malah memasang kuda-kuda, dan bersiap untuk bertarung.


"Trik busukmu tak akan berpengaruh untuk kami. Kau berkata seolah kau dapat mengalahkan kami dengan mudah. Tapi dalam hati, kau berharap kami pergi karena takut dengan perkataanmu..,"


"Cuih! Kami tak sebodoh itu. Mari kita lihat siapa yang akan menyesal." Pria dengan wajah penuh brewok itu meludah, mencibir Arya dengan tatapan meremehkan.


"Tak sebodoh itu?" Arya berkata heran sambil menautkan alisnya. "Heh! Kalian memang bodoh!" Pungkasnya.


"Bangsat! Maju!" Pria berpakaian hitam itu maju serentak, ketiganya menggunakan senjata berupa pedang yang merupakan senjata tingkat menengah.


Arya menggeleng sembari terkekeh mencibir, entah apa yang membuat ketiga pria berpakaian hitam itu begitu percaya diri.


Arya melesat menyambut serangan ketiga lawannya dengan tangan kosong. Dengan mudah dia menangkap salah satu pedang dari mereka, lalu menggunakan pedang tersebut untuk menahan tebasan dua pedang lainnya.


Shut!


Trang!


Arya kini berada dalam kepungan ketiga pria berpakaian hitam.

__ADS_1


"Ini, ku kembalikan pedangmu." Arya melemparkan pedang yang berada di genggamannya kepada pemilik aslinya.


Pria yang paling kurus melompat, meraih pedang itu lalu menebas mengincar perut Arya.


Shut!


Arya menarik perutnya, membuatnya sedikit menunduk. Saat itu juga, dari arah lain seorang pria berpakaian hitam lainnya melesat menyabetkan pedangnya.


Arya yang tengah menunduk dengan cepat mengangkat kepalanya dan mencengkram pedang yang hendak menebas lehernya dengan tangan kosong.


Bruk!


Arya mendorong pedang yang di cengkramnya, membuat si pemilik pedang tersebut terhuyung menabrak tembok sampai jebol. 


Dari arah belakang terasa hembusan angin, Arya dengan cepat membalikkan badan, lalu menggunakan dua jarinya untuk menjepit tebasan pedang pria berambut panjang yang mencoba menyerangnya dari belakang.


Hulao yang melihat dari kejauhan, hendak membantu karena tidak mau hanya tinggal diam melihat tuannya bertarung. Namun Honglong segera mencegah.


"Mau kemana kau! Biarkan tuan sedikit bermain-main. Lagipula mereka hanyalah semut, jika tuan mau, tuan bisa saja membunuh mereka hanya dengan menjentikkan jari."


Hulao mengangguk paham, lantas kembali ke tempat Honglong.


Sementara dua pria berpakaian hitam yang melihat Arya dapat mematahkan pedang dengan mudah hanya menggunakan dua jari, menatapnya penuh ketakutan sekaligus gentar. Mereka buru-buru membalikkan badan, berniat melarikan diri karena telah sadar bahwa kemampuan lawannya itu jauh di atasnya.


Kini di hadapan Arya, berdiri tiga pria berpakaian hitam yang di buat mematung.


"Tadi aku sudah berbaik hati membiarkan kalian pergi, tapi kalian menolaknya. Jadi jangan salahkan aku.."


Arya mengayunkan tangannya, energi angin tipis melesat ke tubuh pria brewok. Kepalanya menggelinding sebelum tubuhnya roboh.


Kedua pria berpakaian hitam yang tersisa, memandang kepala temannya saat menggelinding, berhenti di dekat sepasang kaki. Mereka perlahan menaikkan pandangannya, dan mendapati Arya sedang tersenyum menyeringai.


Gleg!


Keduanya menelan ludah dengan kasar, keringat dingin mulai bercucuran keluar dari dahi juga punggung.


Keduanya saling pandang, kemudian berlutut dengan serentak. 


Bruk! Bruk!


"Aku heran terhadap orang-orang seperti kalian. Awalnya sombong dan merasa paling kuat, tapi setelah mengetahui kemampuan musuh, kalian malah mengemis minta ampunan." Arya mendengus kesal.


Diapun kemudian melirik ke arah anak perempuan dibelakangnya, kemudian dia bersuara agar anak perempuan itu membuka matanya. "Bukalah matamu!"

__ADS_1


Anak perempuan itu membuka matanya, seketika wajahnya menunjukkan ketakutan karena melihat pemandangan yang begitu mengerikan.


"Kemarilah!" Arya melambaikan tangannya, menyuruh anak perempuan itu mendekatinya.


Meskipun dengan wajah takut, anak perempuan itu tetap berjalan ke arah Arya, berjalan selangkah demi selangkah, perlahan tapi pasti.


"Gadis kecil, menurutmu apa yang harus kita lakukan kepada orang-orang ini?" Arya bertanya kepada anak perempuan itu dengan tatapan masih tertuju ke arah kedua pria yang terus berlutut.


Anak perempuan berusia delapan tahun itu melirik ke arah Arya, yang di balas senyuman olehnya. 


"Aku tidak tahu, tapi mereka sudah sering sekali menculik anak-anak di desa ini, teman-temanku juga telah mereka culik, entah apa yang mereka lakukan terhadap teman-temanku itu." Gadis kecil itu berkata dengan sedih, mengingat teman temannya. 


Arya merendahkan tubuhnya, menyetarakan tingginya dengan tinggi gadis kecil itu. Lalu mengusap lembut kepala anak perempuan di sampingnya tersebut.


"Kau tenang saja, aku akan menyelamatkan teman-temanmu, dan kalian akan bisa berkumpul bersama lagi," Arya mengacak rambut anak perempuan yang mengingatkannya pada adik angkatnya, Han Nian.


"Benarkah?" Mata gadis kecil itu berbinar cerah, memandang Arya dengan tatapan penuh harapan.


"Tentu saja." Arya beralih menatap kedua pria yang tengah berlutut di hadapannya. "Pergilah, jangan pernah kembali ke markas kalian! Perbaikilah hidup kalian, percayalah jika aku melihat kalian masih berada di jalan yang sama. Maka saat itu juga kalian akan ku kirim ke alam baka."


Wajah kedua pria itu menjadi pucat, mereka khawatir tidak dapat mempertahankan nyawa jika mereka keluar dari kelompok Taring Hitam, pasti ketua mereka akan menyuruh orang-orang untuk memburu ataupun membunuh mereka.


"Apa yang kalian tunggu! Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran."


"Tapi jika kami keluar, mereka akan mencari dan membunuh kami." Ucap pria bertubuh kurus dengan nada khawatir.


Arya memangut dagunya, dia sedang menimang apa yang akan dia pilih lalu sesaat kemudian dia menyeringai samar, "Baiklah, kalau begitu lebih baik kalian mati sekarang."


Mata kedua pria berpakaian hitam tersebut sontak saja melebar, lalu buru-buru bersujud meminta ampunan.


Seolah tidak perduli, Arya kemudian menggandeng anak perempuan di sampingnya, berjalan melewati kedua pria berpakaian hitam yang tengah bersujud tersebut.


Merasa Arya sudah menjauh, kedua pria berpakaian hitam tersebut bangkit berdiri. Namun tiba-tiba pandangan mereka mendadak gelap.


Bruk! Bruk!


Dua kepala terlepas dari tempatnya, disusul dengan robohnya tubuh dua pria berpakaian hitam tersebut.


________


Kenapa sekarang banyak author yang jarang update, bahkan 1-2 bulan baru update. Itu semua karena kita sebagai author merasa kecewa dengan kebijakan platform, selebihnya kita juga memiliki kesibukan jadi di maklumi saja karena menulis bukanlah mata pencaharian kami.


Author usahakan untuk kedepannya, akan rutin update 1-2 episode setiap harinya.

__ADS_1


Untuk yang masih setia mengikuti PNE, saya ucapkan terimakasih banyak dan semoga kalian di beri kesehatan serta panjang umur.


__ADS_2