Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Nasib Nie Zha


__ADS_3

Ombak menggulung tinggi menghempaskan serpihan perahu kian kemari. Nie Zha tak kuasa melawan kuatnya sapuan ombak yang bergulung-gulung susul menyusul tersebut. Kepandaiannya berenang tidak ada gunanya di laut yang menggila itu. Tubuhnya timbul tenggelam. Kekuatannya tersedot dengan cepat. Sudah hampir semalam suntuk ia terus berjibaku mempertahankan diri dari terjangan ombak.


“Kalau aku harus mati di laut, aku akan pasrah!” Desis Nie Zha.


Kembali wajah bibinya si Serigala Putih Betina muncul di pelupuk matanya. Kematian bibinya tersebut serta teman-teman sektenya membayang dalam pikirannya. Membuat hatinya menjadi kecut! Kemudian terbayang wajah kakek nenek yang beberapa waktu lalu telah memberikannya berbagai ilmu. Tiba-tiba hatinya mendidih terbakar amarah ketika wajah seorang pemuda muncul dalam kepalanya. Pemuda berjuluk Pendekar Bunga Darah. Pemuda yang telah membunuh bibinya serta teman-temannya bahkan hampir pula memperkosanya.


Namun segala perasaannya menjadi lenyap seketika saat ombak besar memukul mendera tubuhnya. Nie Zha tenggelam sampai sedalam belasan tombak lalu muncul lagi megap-megap. Saat itu hari telah terang. Beberapa meter di samping kirinya, Nie Zha melihat sekeping papan bekas pecahan badan perahu. Dengan sisa-sisa tenaganya, Gadis ini berusaha berenang mencapai papan tersebut.


Papan yang terpisah jauh itu terombang-ambing dimainkan ombak malah seperti datang mendekatinya dan akhirnya menyentuh dadanya.


Nie Zha terperangah dalam nafas megap-megap. Akhirnya dipegangnya juga papan besar itu dengan kedua tangannya. Tubuhnya terbanting kian kemari setiap papan itu dihantam gelombang.


Ketika siang tiba dan matahari bersinar terik. Nie Zha merasakan sekujur tubuhnya yang berada di atas air seperti dipanggang api. Kulitnya mengelupas. Setiap air laut membasahi kulitnya yang mengelupas itu sakitnya bukan main. Seharian penuh terombang-ambing sambil berpegangan di atas papan, Nie Zha tidak pernah melihat pantai atau pulau di kejauhan. Bahkan tak satu perahu pun kelihatan di laut yang luas itu. Gadis ini tak tahu sampai berapa lama dia dapat bertahan bersama sepotong papan itu, sedangkan sekujur tubuhnya seperti terkelupas dipanggang, tenaganya hampir sampai di batas terakhir. Keadaannya antara sadar dan pingsan.


Ketika sore tiba matanya masih sanggup melihat ada cahaya di kejauhan. Mungkin itu cahaya lampu atau pelita dari rumah-rumah penduduk. Yang berarti dia berada di dekat pantai. Tetapi mungkin juga itu hanya ilusi palsu saja. Dan Nie Zha tidak berusaha untuk berenang ke arah cahaya di kejauhan itu. Jangankan berenang, untuk masih dapat memegang papan penyelamat itupun tenaganya sudah tidak ada lagi.


Tak seperti biasanya Pantai Tianya yang memiliki panorama menawan, dengan tebing-tebing, perbukitan serta gugusan pulau-pulau kecil, kini keindahan itu seolah lenyap bahkan terkesan mencekam karena kemarin laut sedang tidak bersahabat. Deburan ombak keras menyapu setinggi tebing, bahkan pemukiman penduduk di pesisir pantai tampak porak poranda diterjang ombak. Puluhan perahu nelayan yang biasanya tampak berjejer di tepi pantai, kini tinggal puing-puing yang berserakan diatas hamparan pasir putih.


Banyak korban yang tewas akibat terjangan ombak besar sore kemarin. Mereka yang selamat segera mencari tempat perlindungan yang lebih tinggi, khawatir akan adanya ombak besar susulan.

__ADS_1


Di puncak bukit di satu pulau kecil yang ada disekitar pantai Tianya, terdapat sebuah rumah gubuk. Tampak pintu rumah terbuka. Seorang tua berambut kelabu bermata juling yang mengenakan celana hitam serta berselimut kain selempang keluar dari dalam gubuk sambil menggosok-gosok matanya.


“Hai! Sudah sore rupanya!” desis si kakek.


Orang tua ini kemudian memandang ke tengah lautan. Cuaca dilihatnya memang lebih cerah dibandingkan hari kemarin, di pantai tampak kotor oleh sampah-sampah yang di bawa arus gelombang ombak besar. Disana juga terlihat pula orang-orang yang sibuk memperbaiki rumah-rumah ataupun memperbaiki perahu. Kini ombak laut sudah tidak tampak ganas, hanya deburan ombak kecil-kecil yang susul menyusul ke tepian pantai.


“Sepertinya hari ini tidak akan ada badai, lebih baik aku mencari ikan untuk membantu mereka.?” Desis orang tua ini dalam hati.


Orang tua itu terenyuh menyaksikan kerusakan akibat badai yang dialami para penduduk di pesisir pantai.


Biasanya tiga kali dalam seminggu dia memang akan turun ke laut untuk mencari ikan. Semua orang ditepi pantai itu tahu bahwa si kakek memiliki satu kepandaian yang dianggap aneh. Orang yang pergi melaut semalam suntuk kadang-kadang hanya mendapatkan ikan sedikit sekali. Tapi sekali si kakek pergi ke laut pada pagi atau siang hari dan kembali beberapa jam kemudian, dia datang membawa ikan sepenuh perahunya.


Si orang tua mulai berjalan ke samping gubuknya. Ia mencuci mukanya menggunakan air yang ada di gentong dan kemudian mengambil jala.


Tak lama kemudian tampak di kakek meninggalkan gubuknya, memanggul jala besar di bahu kirinya, melangkah terbungkuk-bungkuk menuju perahunya yang tertambat di tepi pulau. Sebuah perahu tua yang dindingnya banyak tambalan di sana sini. Aneh, meskipun perahu tersebut nampak rapuh namun tidak hancur ketika diterjang ombak besar seperti halnya perahu-perahu milik nelayan-nelayan yang berada di pinggir pantai.


Si kakek mendorong perahu itu sampai masuk ke air, kemudian naik ke dalam perahu. Sampai di tengah laut, jauh dari pantai, orang tua itu rapikan dan atur jala besarnya. Dan dalam sebuah bumbung bambu, dia mengambil segenggam bubuk berwarna putih. Dengan tangan kirinya bubuk itu dilemparkan ke dalam laut. Begitu bubuk bersatu dengan air laut maka butiran bubuk-bubuk yang ratusan bahkan ribuan banyaknya itu memantulkan sinar berkilau-kilau.


Dalam waktu singkat ratusan ikan besar kecil muncul ke permukaan air laut, penasaran ingin melihat apa adanya butiran-butiran bercahaya yang menarik hati itu. Kalau sudah begini si kakek hanya tinggal mengangkat jalanya dari lantai perahu. Sekali tangannya bergerak maka jala besar itupun melebar luas. Ratusan ikan terjerat di dalamnya. Sambil tertawa-tawa orang tua ini tarik jalanya. Ketika hasil tangkapan itu dimasukkannya ke dalam perahu, maka perahu kecil itu terisi sampai setengahnya!

__ADS_1


Selanjutnya diapun mengayuh perahunya ke jurusan lain. Sampai di satu tempat yang dirasakannya baik diapun siap mengambil bubuk dalam bumbung bambu. Namun tiba-tiba sepasang matanya yang juling melihat sebuah benda terapung-apung di kejauhan. Orang tua ini lindungi kedua matanya dengan telapak tangan kiri agar bisa melihat lebih jelas.


“Aneh, benda itu seperti kepala manusia..” gumam si kakek. Segera perahunya dikayuhnya mendekati benda di kejauhan tersebut. Begitu sampai di dekat benda tadi diapun terkesiap. “Astaga, betul kepala manusia... Sudah mati atau masih hidup? Salah satu tangannya menggapai sepotong papan...”


Si kakek cepat tebarkan jala besarnya. Sosok tubuh manusia di permukaan laut bersama papan yang dipegangnya segera masuk ke dalam jeratan jala. Si kakek menarik. Cukup sulit baginya menarik sosok tubuh itu ke atas perahu kecil yang setengahnya sudah penuh dengan ikan. Ternyata sosok tubuh itu adalah sosok tubuh seorang gadis yang hampir seluruh kulitnya telah terkelupas hangus.


Pakaiannya robek-robek dan ada luka-luka pada beberapa bagian tubuhnya. Si kakek membaringkan tubuh gadis itu di atas tumpukan ikan. Dia terkejut ketika dilihatnya dari tubuh si gadis terpancar energi Qi seperti halnya tubuh para pendekar.


Cepat-cepat kakek tersebut memutar perahunya dan mengayuh menuju ke pantai. Sampai di pantai ternyata sudah banyak orang menunggunya. Malah jumlah mereka kini tambah banyak, belum terhitung para nelayan yang juga ingin kebagian ikan. Kakek itu tidak mengacuhkan orang-orang tersebut, dengan susah payah dia menggotong tubuh gadis yang ditemukannya di tengah laut itu, sementara orang banyak tampak menyaksikan keheranan.


“Kek, siapa gadis itu. Di mana kau menemukannya...?” beberapa orang bertanya.


“Sudah, jangan banyak tanya. Ambil ikan dalam perahu. Bagi-bagilah. Tapi jangan ribut dan bertengkar...!”


Kakek itupun mambawa tubuh gadis yang pingsan tersebut ke dalam rumah gubuknya, membaringkannya di tempat tidur yang terbuat dari bambu.


Tangan kanannya dijulurkan menekan pergelangan tangan si gadis. Dia merasakan masih ada denyut nadi disana.


“Masih hidup.... Syukurlah.” katanya.

__ADS_1


Tubuh gadis yang tidak lain adalah Nie Zha itu dibalikkannya hingga menelungkup. Lalu tangan kirinya ditekankan ke pinggang sedang tangan kanan ditekankan ke punggung. Begitu ditekan gadis yang pingsan keluarkan suara seperti muntah. Air laut keluar mengucur dari mulutnya...


__ADS_2