Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Bersulang


__ADS_3

Selagi Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi tengah mengedarkan pandangan, terdengar suara tawa bergelak menggema seantero empat penjuru angin. Keduanya dibuat bingung untuk memastikan dimana sumber suara tawa itu adanya.


Cepat-cepat keduanya memasang kuda-kuda. Dua kaki tegak merenggang seperti dipantek ke tanah. Dua tangan disilang di depan dada bersiap lancarkan pukulan jarak jauh.


Suara tawa itu memang bukan lain adalah suara Heng Dao yang mengerahkan teknik Menebar Suara Empat Penjuru. Teknik itu sangat berguna untuk mengelabuhi lawan ataupun sekedar menakut-nakuti.


Arya melirik ke samping kiri. Di situ, berkisar belasan tombak tegak pohon besar yang di atasnya terdapat kakek tua tengah duduk uncang-uncangkan kaki, tertawa-tawa sambil goyang-goyangkan kendi arak ditangannya.


Suara tawa si orang tua itu terhenti manakala dia menyadari keberadaannya telah diketahui Arya. Heng Dao benar-benar tidak menyangka pemuda itu dapat mengetahui keberadaannya meskipun dia telah kerahkan teknik Menebar Suara Empat Penjuru dan menekan hawa keberadaannya ketitik paling rendah.


Alkemis tua ini tersenyum tipis sebelum berkelebat dan berhenti tepat di hadapan Arya. Sambil melirik kendi arak ditangan kanan pemuda itu, dia lalu berkata. “Anak muda, kau memiliki kepandaian yang tak sewajarnya dimiliki anak seusiamu. Ada yang ingin aku pastikan darimu! Untuk itu layani aku barang sejurus dua jurus!”


Masih memasang sikap tenang, Arya pandangi orang tua dihadapannya itu lekat-lekat, lalu katanya. “Orang tua, kepandaianmu sangat luar biasa. Aku mengagumi dan menghormatimu, aku yang muda ini masih perlu belajar banyak tapi untuk saat ini waktu kita sangat terbatas, ada nyawa orang yang perlu secepatnya kita tolong.”


“Hahaha..” Sambil tertawa Heng Dao berjalan terhuyung-huyung mendekat. “Aku suka anak muda sepertimu, kau pintar sekali merendah! Tapi apa salahnya bermain-main barang sebentar, ataukah kau ketakutan jika rahasiamu terbongkar!” Selesai berkata begitu, orang tua ini angkat kendi araknya.


Jenderal Sun Jian yang terkejut melihat kemunculan Heng Dao di dekat Arya cepat-cepat pusatkan energinya ke kedua tangan, dia hendak kirimkan pukulan jarak jauh! Namun segera diurungkannya karena khawatir akan mencederai Arya yang berada di sana. Maka diapun melompat, sambil turun dari udara dia sentakkan kaki kanannya bergerak menendang. Mengincar kepala si orang tua.


Yang di serang terkejut bukan kepalang, sedang asyik-asyiknya menenggak araknya, diserang begitu rupa orang tua ini sampai semburkan arak yang baru ditenggaknya. Buru-buru dia tundukkan kepala seraya pukulan kendi arak ditangan kanannya ke betis lawan.


Melihat itu, Jenderal Sun Jian tidak mau tinggal diam. Dia cepat-cepat putar tubuhnya di udara, pukulan kendi orang itu dapat dihindari. Kemudian Jenderal ini hentakkan tangan kanannya yang berisi energi besar ke dada Heng Dao.


Pada saat yang sama dan dari arah yang sama pula, Putri Zhou Jing Yi berkelebat cepat lemparkan senjata rahasia berupa besi segitiga pipih ke arah Heng Dao. Senjata itu berdesing hebat menebar hawa panas.


Digempur demikian rupa, Heng Dao segera rubuhkan tubuhnya sama rata dengan tanah, lalu buru-buru bergulingan dan melompat menjejakkan kakinya di atas ranting pohon sebelah kiri.


Pukulan Jenderal Sun Jian hanya membentur tanah kosong, tempat dimana Heng Dao tadi berada. Sementara senjata rahasia yang di lemparkan putri Zhou Jing Yi menembus kepulan asap hasil dari pukulan Jenderal Sun Jian, namun hebatnya senjata rahasia itu melenting ke atas memburu ke arah dimana Heng Dao berdiri di atas ranting.


“Pengendalian senjata yang hebat” Puji Heng Dao dalam hati, detik itu juga orang tua ini lemparkan kendi araknya memapasi senjata rahasia yang menderu ganas tersebut.


Duuuaar...

__ADS_1


Kendi arak itu membuat senjata rahasia milik Putri Zhou Jing Yi meledak hancur berkeping-keping. Hebatnya kendi itu masih berputar-putar di udara lalu kembali dengan sendirinya ke tangan Heng Dao.


Putri Zhou Jing Yi tampak tertegun sesaat, lantas berkelebat menuju pohon tempat Heng Dao berdiri. Jenderal Sun Jian yang khawatir dengan keselamatan sang putri juga buru-buru mengejar.


“Tunggu!” Satu bentakan keras terdengar dari segala penjuru.


Bentakan itu nyatanya mengandung energi yang luar biasa kuat. Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi sama-sama tertahan di udara sebelum terpental berjungkir-balik. Untungnya keduanya masih bisa menjaga keseimbangan dan dapat menjejakkan kaki ke tanah dengan mulus.


“Anak-anak muda tidak punya peradatan! Tidak punya malu mengeroyok orang tua! Gluk... Gluk... Gluk...” Suara bentakan itu terdengar kembali dari empat penjuru angin, lalu di akhiri suara seperti orang yang sedang menengguk minuman.


Putri Zhou Jing Yi, Jenderal Sun Jian dan Arya yang tahu bahwa suara itu berasal dari Heng Dao, menatap ke orang tua yang berdiri di atas pucuk pohon. Mereka nampak mengerenyitkan dahi, melihat orang tua disana berdiri terhuyung-huyung kian kemari namun tidak terjatuh bahkan ranting pohon yang di jejakinya pun tidak patah, seolah orang tua itu sedang melayang dan menari-nari di udara.


Tetapi bukan hal itu yang membuat mereka terheran karena kepandaian semacam itu memang sudah lumrah dikalangan pendekar, hal yang membuat mereka keheranan adalah kendi arak milik Heng Dao kini entah sejak kapan telah berubah menjadi kendi raksasa yang melayang berputar-putar di udara dan orang tua itu sendiri entah sejak kapan pula sudah berpindah tempat.


“Turun dan serahkan dirimu baik-baik! Melihat tingkahmu aku yakin kau salah satu penyusup yang tempo hari menyerang kerajaan.” Bentak Jenderal Sun Jian sambil gertakkan rahang. Meskipun maklum kepandaian Heng Dao berada di atasnya, namun sebagai punggawa kerajaan sudah menjadi kewajibannya meringkus Heng Dao yang diduganya adalah musuh kerajaan.


Terdengar suara gelak tawa Heng Dao menggetarkan tanah. Orang tua ini kemudian meraih kendinya, dan sungguh aneh kendi itu mengecil kembali. “Kecurigaanmu sungguh lucu, jenderal! Kalau aku memang penyusup dan musuh kerajaan, sudah barang tentu aku sudah membunuh Rajamu ketika dia sekarat.”


“Kau memang tidak membunuh, tapi bisa saja kau yang telah meracuni Yang Mulia!” Tuduh Jenderal Sun Jian lantas mencabut pedang yang terselip di pinggangnya. Begitu pedang itu lepas dari sarungnya, memancarlah sinar biru terang dari bagian bilahnya, hal itu sudah cukup menunjukkan bahwa pedang tersebut adalah senjata pusaka.


Orang tua itu terkekeh sejurus, lalu melayang turun dengan ringan seperti kapas ke tanah.


Ketika Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing hendak memburu, dari arah kanan terdengar suara Arya mengudara.


“Tahan!” Bersamaan dengan itu, Arya berkelebat seperti bayangan dan berhenti di hadapan Heng Dao. “Orang tua, aku tahu kau sedang mabuk dan aku juga tahu kau tidaklah seperti yang dituduhkan jenderal. Namun jika kau ingin bermain-main denganku, maaf ini bukanlah waktu yang tepat. Aku berjanji akan melayanimu jika bunga itu sudah berhasil aku dapatkan.”


“Baiklah, aku pegang kata-katamu ini, anak muda! Aku suka padamu, kau mau mendahulukan kepentingan orang lain, padahal aku merasa saat ini kau tengah memiliki keperluan yang tidak kalah pentingnya. Tapi permintaanku yang satunya harus kau lakukan. Setelah itu aku akan tunjukkan padamu dimana bunga itu adanya.” Ujar Heng Dao sambil elus-elus perutnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan yang memegang kendi dia ulurkan ke muka.


Arya yang mengerti maksud orang tua dihadapannya itu, segera dibukanya tutup kendi di tangan kanannya. “Permintaanmu aku turuti!”


Tanpa khawatirkan kendi yang dipegangnya berisi racun, Arya cepat tenggak kendi arak ditangannya sampai setengahnya.

__ADS_1


Terdengar suara tawa mengekeh dari Heng Dao, “Kenapa kau minum sendiri! baiknya kita bersulang!”


Orang tua ini ulurkan kendi araknya ke depan, Arya mengangguk dan ulurkan pula kendi araknya. Akhirnya kedua kendi arak mereka saling beradu, namun anehnya beradunya kedua kendi yang terbuat dari tanah itu menimbulkan suara seperti suara logam yang saling menghantam dengan keras. Tanah tempat dua orang itu bergetar hebat lalu amblas sampai selutut.


Heng Dao nampak mengerenyit, bulir-bulir keringat dingin mulai mengucur membasahi pelipisnya. “Cukup! Mari..”


Melihat Heng Dao menarik ulang kendinya dan kemudian menenggaknya, Arya terlihat menarik salah satu sudut bibirnya. Pemuda ini yakin dengan demikian rasa penasaran si orang tua setidaknya sudah cukup terjawab.


Kalau Arya mau, dia bisa saja mematahkan tangan Heng Dao sewaktu tadi mereka bersulang beradu energi. Tapi pemuda ini hanya berusaha mengimbangi, dia sebenarnya ingin mengalah namun jika dia melakukannya dikhawatirkan orang tua itu akan semakin penasaran terhadapnya.


Gluk... Gluk... Gluk...


Keduanya sama menenggak kendi masing-masing sampai arak di dalamnya habis.


Sebenarnya semenjak Arya di gembleng Wukong dan Kaisar Surga di Dimensi Cahaya Keabadian, pemuda ini sering di cekoki arak kayangan oleh Wukong. Awalnya Arya menolak karena dia memang tidak menyukai arak, namun ketika merasakan nikmatnya arak kayangan dan khasiatnya menambah tenaga dalam, dia lambat laun jadi menyukai minuman itu. Sejak saat itulah, Arya sering menemani Wukong mabuk selesainya dia berlatih.


Meskipun arak yang di minumnya saat ini menurutnya tidak senikmat arak khayangan dan tidak terlalu memabukkan namun Arya nampak menikmatinya. Bagaimanapun dia memang merindukan sensasi meminum minuman memabukkan seperti ini.


Sebagaimana yang sudah-sudah, begitu kendi arak ditangannya kosong, Heng Dao meremas kendi itu lalu mengunyah dan menelannya sampai habis!.


Melihat kejadian itu, baik Jenderal Sun Jian maupun putri Zhou Jing Yi sama terkejut. Sang putri bahkan leletkan lidahnya seperti hendak muntah.


Heng Dao keluarkan suara bersendawa, sambil usap-usap perutnya dengan tangan kiri, orang tua itu lantas berkata. “Ikuti aku! Tempat yang kita tuju masih jauh. Jika kalian sampai ketinggalan, aku tidak akan mau menunggu.”


Belum selesai suara itu terdengar, si orang tua sudah berkelebat jauh.


Jenderal Sun Jian menatap Arya sekilas lalu segera menyusul ke arah mana Heng Dao pergi.


“Tuan putri, sebaiknya kau kembali lah ke istana. Kau tak akan mampu mengejarnya!”


Tanpa perdulikan ucapan Arya, putri Zhou Jing Yi lekas berkelebat menyusul.

__ADS_1


Arya gelengkan kepala. Dirasa tidak ada orang lain di sana, dia kemudian gerakan jari-jarinya merangkai sebuah pola tangan. Sejurus kemudian, muncul sosok tubuh yang sama persis seperti Arya. Sosok itu mengangguk sebelum lenyap dari pandangan.


Hal itu dilakukan Arya karena dia ingin menyempatkan diri untuk membaca kitab Samudera Hijau tanpa diketahui oleh siapapun. Mencari petunjuk bagaimana cara memetik bunga hantu berikut dengan cara meramu penawar racun untuk sang raja.


__ADS_2