Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Portal Dimensi


__ADS_3

"Kalian kembalilah ke istana, lindungi raja dan orang-orang kerajaan. Aku akan segera menyusul kalian."


Baru saja Hulao dan Honglong hendak membantu menumpas para hewan iblis yang mengamuk di dalam kota, terdengar suara Arya di dalam kepala mereka.


"Baik, tuan."


Hulao dan Honglong kemudian berputar balik, terbang menuju ke arah kawasan kerajaan.


"Honglong, tugasmu adalah menjaga raja. Sementara Hulao, kau urus semua pendekar aliran hitam dan hewan iblis. Aku akan mengirim beberapa bayanganku untuk membantu kalian." Suara Arya kembali terdengar di kepala mereka berdua.


Saat mereka sedang menuju ke kawasan kerajaan, mereka melihat adanya sesosok siluet dari kejauhan, menuju ke arah timur.


Honglong buru-buru mengejar orang tersebut, berdasarkan energi kegelapan yang menyelimuti orang tersebut, dia sangat yakin jika orang itu adalah salah satu pendekar aliran hitam.


"Hei, apa kau melupakan tugasmu!" Maki Hulao sambil mendengus pelan, dia hendak menyusul namun saat itu juga terdengar suara ledakan dari dalam kawasan kerajaan.


*** 


Di tempat lain, terlihat Arya baru saja keluar dari kamar. Sambil bersiul-siul, pemuda itu mendekati para gadis-gadis yang nampaknya memang sedang menunggu kedatangannya.


"Tuan, apakah sekarang tuan akan membawa kami dari sini?" Bertanya salah seorang gadis.


"Tidak, kondisi di luar terlalu berbahaya bagi kalian. Tunggulah disini sebentar, aku akan segera kembali." Selesai berkata demikian, Arya lenyap dari pandangan.


Semua orang yang melihatnya, nampak terkesiap bahkan ada beberapa gadis yang berteriak histeris. Suasana semakin ricuh manakala tiba-tiba beberapa kepala penjaga di ruangan itu terpisah dan jatuh menggelinding.


Arya muncul kembali dengan senyuman khasnya, lalu kembali bersiul-siul. Pemuda itu menghentakkan kaki kanannya ke lantai, kemudian berkelebat ke lantai atas.


Para penjaga yang tersisa hendak menyerang, akan tetapi langkah mereka tertahan dan kemudian tiba-tiba tubuh mereka terpental membentur tembok tak kasat mata.


Baru saja pemuda itu menuju lantai atas, muncul beberapa kelebatan siluet terlihat turun dari tangga menuju lantai bawah. Tak berselang lama, terdengar suara pertarungan dari lantai bawah.


Bayangan Arya langsung menyebar, bergerak cepat membantai para pendekar aliran hitam yang menyamar sebagai pekerja di rumah seribu bunga.


Tidak ada satupun pendekar aliran hitam yang dapat mempertahankan nyawa terlalu lama, karena selain pergerakan para bayangan Arya yang teramat cepat, para bayangan Arya juga tidak segan-segan langsung melancarkan serangan jurus-jurus tingkat tinggi menghabisi targetnya.


Begitu juga dengan para hewan iblis yang menyamar, mereka juga tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan perlawanan. Karena kali ini para bayangan Arya benar-benar mengunakan kekuatan penuh agar semua musuhnya tidak dapat berkutik dan menyebabkan kerusakan di dalam bangunan.


Seorang pria berkulit hitam bangkit dari kursi goyang, kemudian dia berjalan dan membuka jendela untuk melihat penyebab kegaduhan di luar. Wajahnya berubah buruk saat mendapati sebuah pertarungan yang tidak terlalu jauh dari gedung tempatnya berada.


Ketika dia hendak berjalan ke arah pintu, tiba-tiba pintu ruangannya di dobrak dari luar. Serpihan pintu itupun melesat ke arahnya, lelaki berkulit hitam segera mengulurkan tangannya ke depan. Sebuah gelombang kejut meledak menghancurkan serpihan pintu menjadi debu. Tidak hanya itu, gelombang kejut tersebut juga membuat sebagian tembok di sisi kiri kanan pintu jebol.

__ADS_1


Seutas seringai sinis tersungging dibibir lelaki berkulit hitam ketika dilihatnya sosok pelaku yang mendobrak pintunya tadi, seorang pemuda tampan tengah menatap datar ke arahnya.


"Nyalimu besar juga anak muda, memasuki lantai ini dan mendobrak pintu ruanganku. Kau tahu, kedatanganmu ini sama saja dengan mengantarkan nyawa." Lelaki hitam itu tersenyum sinis, menatap pemuda dihadapannya itu dengan tatapan meremehkan.


Dimatanya, pemuda itu hanyalah seorang pendekar yang berada di tahap Pendekar Raja, tentu karena alasan itulah dia terlihat begitu percaya diri dan meremehkan pemuda dihadapannya tersebut.


Pemuda yang tidak lain adalah Arya balas tersenyum tipis, lalu tangan kanannya dia gerakan ke depan.


"Heh, silahkan seranglah aku jika kau mampu. Pilihlah bagian manapun dari tubuhku yang kau anggap lunak. Hahaha.." Selesai tertawa, wajahnya mendadak mengerenyit. "Aku sudah berbaik hati memberimu kesempatan, namun kau tak lekas menyerangku. Nampaknya sekarang kau sudah mulai sadar bahwa kau tidak akan mungkin dapat mengalahkanku."


Arya tertawa rendah, lalu berkata. "Aku muak dengan orang-orang sepertimu, belum apa-apa sudah merasa yakin akan menang. Tapi kau beruntung kali ini karena aku tidak punya waktu untuk mengurusi makhluk sepertimu."


Muka lelaki berkulit hitam itupun menjadi merah padam, namun sebelum dia bisa melampiaskan kemarahannya, tubuhnya tiba-tiba lenyap berpindah ke tempat lain.


Sesaat lelaki berkulit hitam nampak keheranan saat dia sudah tidak mendapati pemuda dihadapannya tadi. Dan keheranannya semakin bertambah manakala dia menyadari bahwa kini dirinya sudah tidak lagi berada di ruangannya, melainkan tengah berada di hamparan bebatuan yang di kelilingi tebing-tebing tinggi.


Sepasang mata lelaki hitam tersebut membeliak ketika dilihatnya beberapa naga raksasa tengah melilitkan tubuhnya di atas beberapa puncak tebing.


Dengan tubuh gemetaran hebat, lelaki berkulit hitam hendak melarikan diri dari tempat tersebut, namun tiba-tiba terdengar sebuah suara yang tidak asing ditelinganya.


"Dimana rasa percaya dirimu yang tadi kau tunjukkan padaku?"


Lelaki berkulit hitam mendongakkan kepalanya ke atas, dimana sumber suara tersebut berasal. Di sana dia mendapati seorang pemuda yang ditemuinya tadi sedang melongokkan kepalanya dari dalam lubang portal.


Mendengar suara Arya, seketika Nuwa membuka kelopak matanya. Dia langsung mendapati Arya tengah berada di sampingnya, tetapi yang terlihat hanyalah kepalanya saja sedang tubuh pemuda itu berada di dunia yang berbeda.


"Tuan, apa yang sedang anda lakukan?" Tentu Nuwa merasa heran dan kebingungan melihat kejadian di hadapannya tersebut.


Seumur hidupnya, memang baru kali ini dia melihat sebuah lubang muncul mengambang di udara dan yang lebih mengherankan, kepala Arya terlihat menyembul keluar dari dalam lubang tersebut.


"Ini adalah pintu portal untuk menuju dunia lain.. Ah sudahlah, suatu saat aku akan menjelaskannya padamu. Sekarang aku sedang tidak ada waktu untuk membahas hal ini. Aku minta bantuanmu, urus hewan iblis itu. Jangan biarkan dia tetap hidup."


Setelah berkata demikian, Arya kembali menatap lelaki berkulit hitam. Dia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan, sebelum menarik kembali kepalanya dari lubang portal dan kemudian lubang itupun lenyap.


Nuwa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Arya, barulah setelah itu dia mulai menatap lelaki berkulit hitam yang berdiri gemetaran di bawahnya.


Nuwa menatap tajam lelaki hitam itu, lalu merubah ukuran tubuhnya menjadi lebih kecil dan kemudian melesat dengan cepat ke arah lelaki hitam tersebut.


Booommm...


Sekali sabetan ekor ke arah kepala, membuat tubuh lelaki berkulit hitam tersebut terpental dan menghantam rentetan tebing.

__ADS_1


Lelaki berkulit hitam baru bisa berhenti setelah merubuhkan belasan tebing, dia terduduk di tanah, mengedipkan mata berkali-kali dan menggelengkan kepala. Kepalanya terasa sangat pusing akibat serangan dan benturan, tapi dia tidak menyangka akibatnya akan separah ini sehingga kepalanya seperti akan hancur.


Belum lelaki hitam itu bisa mencerna keadaan, sebuah energi berbentuk lima pedang raksasa membabat ke arahnya. "Keparat!" Dengan memaki lelaki hitam itu melenting ke atas.


Lelaki itu cepat-cepat memadatkan Qi ke tangannya, dan sekejap kemudian terbentuklah sebuah tongkat hitam, "Jangan kira aku takut padamu naga sialan."


Pelebur Gunung


Sambil mengerahkan jurusnya, lelaki berkulit hitam tersebut menukik tajam ke arah Nuwa. Namun sebelum dia bergerak mengayunkan tongkatnya, tiba-tiba Nuwa muncul di hadapannya dan cepat melilit tongkat hitam itu. Dengan sekali hentak ke bawah tubuh lelaki berkulit hitam tersebut meluncur menghantam tanah. 


Booommm...


Lubang besar menganga, pandangan beberapa saat gelap, tertutupi tanah dan bebatuan yang berhamburan.


Ledakan itu membuat para naga lainnya terbangun, mereka segera melesat ke arah Nuwa.


"Lanjutkanlah meditasi kalian, ini biarlah menjadi urusanku. Dia hanyalah semut, tak perlu khawatir." Berkata Nuwa sebelum para naga lainnya mencapai tempatnya.


Para Naga mengehentikan laju terbangnya, sekilas mereka mengalihkan pandangan ke bawah, memandangi kubangan tanah yang besar. Di sana mereka mendapati seorang lelaki berkulit hitam tengah terkapar, merasa lelaki itu bukanlah ancaman berarti, merekapun akhirnya kembali ke tempat masing-masing.


Setelah para naga kembali, Nuwa yang tidak ingin memberikan waktu bagi lawan untuk memulihkan diri, kemudian membuka rahangnya, menyemburkan api dari mulutnya ke arah tempat lelaki berkulit hitam terjatuh.


Kobaran api hijau melesat bagaikan petir menghantam tanah, hingga menciptakan ledakan yang teramat mengerikan.


Nuwa mendengus sebelum menyabetkan ekornya ke arah atas. Benar saja, lelaki berkulit hitam sudah berada di atasnya, siap melancarkan serangan.


Kembali tubuh lelaki tersebut dibuat terpental jauh, Nuwa segera memburu dan kembali menyerang dengan ganas.


"Jadi ini wujud aslimu.." Nuwa menyeringai, memandangi lelaki berkulit hitam yang kini sudah menampakkan wujud aslinya, yakni hewan iblis berwujud ular berkepala buaya.


"Sebenarnya aku tidak ingin membunuh makhluk sejenisku, namun kau adalah pengecualian. Tubuhmu tidak sepenuhnya ular dan terlebih tuanku sudah memerintahkanku untuk membunuhmu. Jadi sebagai belas kasihanku terhadapmu, aku akan membunuhmu dengan cepat."


Hewan iblis ular berkepala buaya itu nampak pasrah, dia merasa tidak akan mungkin dapat mengalahkan naga hijau tersebut. Kini dia mulai menyesali keputusannya ikut bergabung dengan rencana Iblis Berdarah menyerang kerajaan.


Di atas udara, Nuwa terlihat bersiap mengahiri pertarungan, dia mengalirkan banyak energi Qi pada ujung kukunya sehingga bersinar menggidikkan.


"Tunggu! Tolong jang ..."


Nuwa tiba-tiba lenyap dan...


"Slash!"

__ADS_1


Hewan iblis tersebut tidak bisa menyelesaikan perkataan, tubuhnya telah terpotong menjadi beberapa bagian, lalu hancur menjadi abu. Tongkat hitam tergeletak di tanah sebelum akhirnya lenyap dengan sendirinya.


"Aku harus meratakan kembali tanah-tanah di tempat ini. Ah... Merepotkan sekali, kenapa tuan membawa makhluk itu kemari."


__ADS_2