
Tiga serangan secara bersamaan datang menerjang, mengancam hewan iblis bertubuh pria botak. Suatu kerja sama yang teratur baik, memang cukup berbahaya serangan ini. Apalagi tiga sosok bercadar masing-masing membekal senjata. Arah sasaran yang dituju pun dalam kejapan mata selalu berubah-ubah, hal ini jelas sangat menyulitkan lawan yang diserang.
Tapi yang diserang kali ini adalah hewan iblis berpangkat panglima, yang memiliki kepandaian luar biasa. Terbukti, hewan iblis ini sanggup menghadapi kepungan sosok bercadar sampai sejauh ini.
Gerakannya lincah laksana seekor belut, tubuhnya menyelinap di antara gempuran serangan senjata maupun pukulan jarak jauh lawan.
Namun demikian, hewan iblis yang menyamar menjadi pria botak ini tampak kerepotan juga. Kali ini serangan-serangan tiga sosok bercadar semakin cepat dan benar-benar berbahaya. Rupanya dengan menyerang bertiga, mereka memiliki tambahan tenaga secara aneh, dan terus mendesak.
Setiap serangan sosok bercadar sampai sejauh ini selalu dapat ditahan. Sebaliknya pria botak sendiri agak repot juga menghadapi setiap serangan balasan lawannya. Untunglah dengan kultivasi yang berada di atas lawannya, sampai saat ini hewan iblis pria botak masih mampu menyelamatkan diri dari setiap serangan.
Belasan jurus telah berlalu. Dan pria botak belum juga mampu mendesak lawannya. Hal ini membuatnya penasaran bukan main. Dia tahu betul kalau tingkat kepandaian ketiga orang lawannya tersebut berada di bawahnya. Baik dalam segi kultivasi maupun pengalaman. Tapi, kenapa dia sampai bisa paksa bertahan demikian rupa?
Pria botak ini segera saja dapat menebak apa penyebabnya. Pasti karena mereka menyerang secara teratur. Saling kerja sama, saling bantu, dan saling dukung. Jadi, seolah-olah mereka memiliki satu pemikiran.
Dia yakin kalau saja mereka mengeroyok secara tak teratur, jangankan hanya tiga orang, biarpun ditambah dua kali lipat, dia yakin akan mampu mengalahkan mereka tanpa mengalami kerepotan seperti ini.
Jadi rupanya karena keteraturan dalam penyerangan inilah yang menyebabkan sosok bercadar begitu tangguh.
“Mereka harus dipisahkan, aku harus melawan mereka satu persatu!”
Mendapat pikiran demikian, hewan iblis pria botak mulai menganalisa setiap serangannya tadi. Ditemukan kalau tadi penyerangannya berpindah-pindah. Disaat sosok bercadar bersenjatakan pedang telah menerjang mencecar serangan, di saat itulah dia tampak menyeringai. Tekadnya sekarang adalah mengarahkan serangan pada satu lawan saja.
Didahului bentakkan keras, pria botak melentingkan tubuhnya ke atas lalu kirimkan tendangan mengandung energi kuat. Udara seolah terbelah, suara gemuruh seperti topan menderu ganas ke arah sosok bercadar bersenjatakan pedang.
Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, dua sosok bercadar lainnya bergegas memapaki serangannya, menolong lawan yang diincarnya.
Tapi kali ini tidak seperti yang sudah-sudah. Pria botak tak mempedulikan adanya bantuan itu, dia segera bergerak cepat, terbang melesat menerjang sosok bercadar bersenjatakan pedang tadi.
Terus saja dicecarnya dengan serangan-serangan berbahaya tangan kosong. Melihat hal ini, dua sosok bercadar pontang-panting mengikuti setiap serangan pria botak. Mereka berusaha untuk terus berada di sisi pria bercadar yang bersenjatakan pedang.
__ADS_1
Dalam beberapa gebrakan selanjutnya, kekompakan sosok bercadar pun membuyar. Namun demikian ketiga orang itu berupaya untuk menyatukan posisi lagi. Hanya saja mereka tetap tidak mampu karena sosok bercadar bersenjatakan pedang memang tak mampu melakukannya karena terus saja di serang tanpa ampun. Cecaran demi cecaran pria botak benar-benar merepotkannya. Sampai pada suatu saat...
Kraaakk!
“Akh... !”
Sosok bercadar bersenjatakan pedang memekik tertahan. Tangan pria botak yang berbentuk cakar telah menghantam telak pelipisnya. Tubuh bayangan Arya ini terpelanting sesaat, tubuhnya terus meluncur di udara dan perlahan lenyap menjadi butiran-butiran cahaya keemasan. Musnah.
Dua sosok bercadar yang hendak mencegah tertegun sesaat, namun dilain kejap keduanya langsung menerjang.
Pria botak hanya tersenyum mengejek. Tanpa kerja sama yang teratur seperti halnya tadi, tidak sulit baginya untuk merubuhkan mereka. Dibiarkan saja tubuh lawannya mendekat. Dan ketika jarak keduanya telah semakin dekat, tiba-tiba dihentakannya kedua tangannya ke depan.
Wuuuttt...
Angin yang luar biasa kuat menderu ganas ke depan.
Bressss...
Sekilas pria botak nampak menyeringai penuh kemenangan, namun ketika dia menoleh ke arah rekannya diapun menggeram keras, amarahnya meluap-luap manakala dilihatnya sosok buaya merah telah tewas terkapar dengan tubuh terpotong-potong.
Akan tetapi ketika dia hendak menerjang sosok bercadar yang telah menewaskan rekannya tersebut, tiba-tiba dia menoleh ke samping kiri disertai sikap waspada. Pendengarannya yang tajam menangkap adanya suara deruan angin halus. Ternyata di samping kirinya dalam jarak sekitar tiga tombak, terlihat melayang seorang pemuda berbaju coklat tengah melintangkan sebuah tombak didepan dada.
“Bagaimana mungkin!” Pria botak keluarkan seruan tertahan. Dia yakin serangannya tadi telah melenyapkan sosok bercadar bertombak tersebut.
Belum juga keterkejutannya mereda, dari belakang pemuda bercadar bertombak tersebut tiba-tiba muncul puluhan sosok yang berperawakan dan berpakaian sama persis seperti pemuda bercadar tersebut. Mereka semua juga berpakaian coklat, dengan rambut hitam panjang yang diikat ke belakang, dan memakai selarik kain yang menutupi sebagian wajah.
“Terkejut?” Ucap sosok bercadar yang melayang paling depan. Tombak di depan dadanya diacungkannya ke depan. “Kau ingat tombak ini?! Sesaat lagi dengan tombak inilah kau akan mampus!”
Pria botak yang selalu memasang ekspresi percaya diri, kini nampak mulai gentar. Tanpa sadar dia tersurut ke belakang. “Siapa sebenarnya kalian?! Kenapa kalian terlihat sama persis?”
__ADS_1
Terdengar suara tawa bergelak sebagai jawaban pertanyaan pria botak, pemuda bertombak putar tombaknya lalu di hentakkannya ke depan.
Angin bergulung-gulung menderu laksana kilat dan dahsyat ke arah pria botak. Dengan cepat pria botak selamatkan diri dengan melemparkan tubuh ke samping.
Pusaran angin topan terus bergemuruh ganas lalu akhirnya meledak dan lenyap dengan sendirinya di udara setelah tidak menemui sasaran.
Sadar posisinya sama sekali tidak menguntungkan, pria botak cepat ambil langkah seribu, kabur dari kalangan pertempuran. Dia terbang melesat secepat yang dia bisa tanpa perdulikan lagi nasib teman-temannya. Dalam beberapa tarikan nafas saja dia telah berada jauh dari kota kerajaan.
Pemuda bertombak mendengus pelan lalu lenyap dari pandangan, puluhan sosok bercadar lainnya juga menyusul.
Di sudut lain, sosok manusia berekor dan berkepala buaya bertanduk satu di kening nampak kewalahan. Mau tak mau dia melompat mundur untuk selamatkan diri dari serangan serentak lawan.
“Aku tidak punya urusan dengan kalian! Menyingkirlah!”
“Lucu sekali! Kalian sudah lama telah merencanakan menguasai kerajaan ini. Kami datang untuk membasmi kalian, dan sekarang kau bilang tidak punya urusan dengan kami?! Lucu sekali!” Selepas berkata demikian, sosok bercadar menerjang siap hantamkan pukulan Halilintar ke arah dada sosok setengah buaya tersebut.
Tahu betapa hebatnya pukulan petir pemuda berbaju coklat itu, manusia setengah buaya segera kerahkan segenap kemampuannya. Tangan kanannya yang berbentuk cakar mengandung tekanan energi besar menyambar ke depan, berniat mengadu kekuatan. Sementara tangan kirinya dipalangkan di depan dada, siap lancarkan serangan susulan.
Ledakan dahsyat seolah memecah langit, petir di selimuti bunga api meluas dikalangan pertempuran. Udara sesaat menjadi panas luar biasa, langit yang semula cerah menjadi kemerahan.
Meski benturan serangan tadi menimbulkan daya kejut mengerikan, namun sosok bercadar maupun manusia setengah buaya sama-sama tegak mengambang di tempatnya. Bayangan Arya masih termangu sejurus karena pandangannya terhalang asap tebal serta tebaran bunga api, sementara manusia setengah buaya diam-diam menyelinap kirimkan serangan susulan.
Melihat serangan itu, bayangan Arya terkejut bukan main. Sebentar lagi serangan energi tersebut akan melabrak tubuhnya, dari arah samping tiba-tiba terdengar gemuruh angin dahsyat membelah kepulan asap yang mengambang. Dengan sebuah gerakan sederhana, didoyongkan tubuhnya ke belakang seraya memapakkan sepasang kakinya di udara untuk melontarkan tubuhnya menjauh. Bersamaan dengan itu, tangan kanannya menghentak ke arah lesatan serangan.
Wuuuuttt.. booommm...
Manakala tiga lesatan energi bertemu ditengah jalan, seketika suara benturan ledakan keras lagi-lagi menggema seantero langit. Asap tebal semakin meluas dan menghalangi pandangan.
Seiring dengan meredanya suara ledakan tersebut, sayup-sayup terdengar pekikan keras seperti geraman raksasa merobek udara.
__ADS_1
Mengenali suara tersebut, sosok setengah buaya palingkan pandangannya ke bawah. Matanya membeliak lebar, tubuhnya bergetar menahan amarah. Dilihatnya sosok buaya putih melayang jatuh dengan kondisi tubuh terbelah dua bagian.