Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Menjalankan Rencana


__ADS_3

Paviliun putri adalah bangunan megah yang menjadi tempat kediaman Putri Zhou Jing Yi, bangunan itu berdiri diantara taman bunga dan kolam ikan yang luas. Di tengah kolam ikan tersebut terdapat gazebo, tempat yang biasa digunakan Putri Zhou Jing Yi untuk duduk menyendiri bersantai memandangi ikan-ikan peliharaannya.


Terlihat di setiap sudut paviliun putri yang di kelilingi tembok tersebut, para prajurit lengkap dengan senjata melakukan tugas penjagaan. Di antara banyaknya para prajurit yang berjaga, dua prajurit yang tidak lain adalah Hulao dan Honglong tengah berjaga di titik yang tidak terlalu jauh dari bangunan paviliun.


"Sudah berulangkali ku katakan, Berhentilah! Kau membuat kepalaku pusing tupai tengik." Hulao menatap kesal pada Honglong yang berdiri mondar-mandir, kadang melompat-lompat, kadang mengguratkan sesuatu di tanah dengan ranting ditangannya, semua itu dilakukannya untuk mengusir rasa bosan.


Seorang penjaga lain yang berjaga bersama mereka berdua sebenarnya juga merasa heran dengan sebutan yang mereka ucapkan untuk memanggil satu sama lain serta kelakuan Honglong yang tidak pernah bisa diam. Namun karena mengetahui mereka berdua adalah penjaga baru, penjaga itupun bisa memaklumi jika mereka berdua belum terbiasa dengan pekerjaan ini, maka diapun membiarkan Honglong melakukan apapun untuk mengusir rasa bosan selama hal itu tidak mengganggu keamanan.


Honglong mendengus kasar sebelum berjalan mendekati Hulao, "Sebaiknya kita apakan penjaga itu?" Bisik Honglong dengan mendekatkan bibirnya ke daun telinga Hulao.


"Tunggu dulu sampai waktunya tepat." Balas Hulao dengan suara berbisik pula.


Merasa curiga terhadap kelakuan Hulao dan Honglong yang berbisik-bisik, penjaga itupun berjalan mendekat. "Apa yang kalian sembunyikan dariku?"


Mendengar ucapan penjaga itu, sontak saja Hulao dan Honglong menoleh. Tersungging senyuman aneh dari bibir mereka berdua.


Tiba-tiba penjaga itu memiliki firasat buruk. Dan benar saja, saat dia ingin kembali membuka suara, mulutnya mendadak menjadi kaku bahkan tubuhnya juga tak bisa di gerakkan.


Tanpa berkata apapun, Hulao tiba-tiba menampar kepala Honglong. Dia sangat tahu jika Honglong lah yang telah membuat penjaga itu tidak bisa bergerak.


Honglong dengan cepat menggerakkan tangannya untuk membalas, namun tangannya mendadak tertahan oleh sesuatu yang membuat tangannya berhenti di udara. Sementara Hulao sendiri sudah lenyap dari tempatnya berdiri.


Meski Hulao seolah menghilang, namun Honglong masih dapat melihat pergerakan Hulao yang berkelebat ke arah salah satu pohon yang berdiri di samping bangunan paviliun. Maka dengan cepat diapun berkelebat menyusul.


Sesampainya disana, Honglong dapat melihat Hulao tengah berdiri di hadapan tiga orang yang berpakaian prajurit sama seperti dirinya. Ketiga prajurit itu kini terlihat mematung.


Ketiga prajurit itu tidak lain adalah utusan dari kepala penjaga Bi Changfeng untuk mengawasi Hulao dan Honglong.


Sebenarnya Honglong sendiri sudah menyadari jika mereka sedang di awasi, itu sebabnya dia merasa risih dan tidak bisa diam selama sedang melakukan penjagaan.


"Ini bukan saatnya kita bertengkar bodoh. Karena kau telah bertindak ceroboh, maka sekarang kau sendirilah yang harus bergerak melakukan penyelidikan. Aku akan tetap disini untuk membereskan semua masalah yang kau timbulkan ini." Hulao berkata dengan nada sinis tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Honglong yang berdiri di belakangnya.


"Tunggu apa lagi tupai jelek? Cepatlah lakukan tugasmu! Kau masih mengingat orang-orang yang harus kau selidiki bukan?" Hulao membalikan badan, menatap Honglong yang terdiam memandanginya. "Tapi ingat, lakukan semuanya dengan hati-hati, jangan bertindak ceroboh lagi atau kau akan tahu sendiri akibatnya."


"Kenapa tak kau sendiri yang melakukannya?" Tukas Honglong dengan wajah jengah.


"Itu karena kesalahanmu sendiri tupai jelek, jika saja kau mau sedikit bersabar, maka kita akan melakukannya bersama."

__ADS_1


Honglong mendengus kesal sebelum merubah tubuhnya ke wujud aslinya, yakni seekor tupai setinggi mata kaki. 


"Wujudmu yang kecil itu memang cocok untuk menjalankan tugas ini." Hulao berkata dengan nada mencibir.


Meski kesal namun Honglong tidak mau membalas perkataan Hulao, dia kemudian berkelebat melompat-lompat keluar dari paviliun menuju ke kompleks kediaman para prajurit kerajaan.


Sepeninggal Honglong, Hulao segera mengerahkan teknik ilusi miliknya untuk memanipulasi ingatan ketiga prajurit di hadapannya. Setelah itu dia kemudian kembali ke tempatnya berjaga dan membuat tubuh tiruan manusia yang menjadi penyamaran Honglong. Semua itu di lakukannya demi menghindari kecurigaan.


Di bawah sebuah pohon, terlihat tiga prajurit sedang berkumpul dan nampaknya mereka tengah membicarakan sesuatu yang serius. Sebelumnya mereka bertiga adalah prajurit yang melakukan penjagaan di titik yang berbeda, namun kini mereka diam-diam melakukan pertemuan setelah terlebih dulu membuat alasan agar dapat meninggalkan tempat penjagaan untuk melakukan pertemuan ini.


"Dengar, situasi saat ini benar-benar di luar rencana kita. Para petinggi kerajaan kabarnya telah menaruh curiga terhadap adanya penyusup di dalam istana. Besok mereka akan melakukan pemeriksaan terhadap seluruh prajurit, para pelayan termasuk kepada para pejabat kerajaan, para panglima dan para Jenderal." Salah seorang yang berperawakan tinggi besar berkata dengan nada pelan.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya salah seorang lainnya.


"Selama belum ada perintah dari jenderal Luo Jing, tidak ada yang dapat kita lakukan sekarang, tapi sebaiknya kita harus lebih berhati-hati." Balas prajurit tinggi besar tersebut, lalu kembali membuka suara. "Kita sekarang tidak memiliki waktu banyak, sebaiknya kalian segera kembali agar tidak ada yang curiga. Kabarkan hal ini juga pada anggota kita lainnya."


"Tapi tuan jika besok orang-orang kita tertangkap, apakah kita diperbolehkan melawan?"


"Tidak, jangan gegabah! Meskipun kita memiliki banyak anggota, namun selama belum mendapatkan perintah dari atasan kalian masing-masing, maka lebih baik kalian tetap diam." Tukas orang berbadan tinggi besar tersebut.


"Baiklah, kita akan kembali untuk mengabarkan hal ini pada yang lainnya."


Prajurit berbadan tinggi besar dengan cepat melompat ke atas pohon. Jika dia mendapati orang yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka, maka dia tidak akan segan-segan untuk melenyapkan orang itu.


Akan tetapi sesampainya di atas pohon, dia tidak menemukan siapapun disana. Setelah memeriksa lebih teliti, dia mendapati seekor tupai kecil sedang menatapnya sambil menggigit sebiji kacang yang ada di kedua tangannya.


Tupai itu tidak lain adalah perwujudan dari Honglong, namun entah darimana siluman tupai itu mendapatkan kacang yang ada di tangannya tersebut.


Merasa jika tupai itulah yang menyebabkan dedaunan pohon berguguran, prajurit berbadan tinggi besar tersebut menghela nafas lega. Namun baru saja dia hendak melompat turun, tupai itu tiba-tiba melemparkan kacang ditangannya tepat mengenai tengah kening prajurit itu. Yang sontak saja membuat prajurit berbadan tinggi besar tersebut jatuh terjerembab ke tanah.


Dua prajurit yang berada di bawah dibuat terkesiap melihat tubuh seseorang terjatuh dari atas pohon, yang tidak lain adalah rekan mereka yang baru saja naik.


Sesaat kedua orang itu mengamati tubuh rekannya tersebut diam tidak bergerak, di tengah keningnya terlihat lubang yang mengeluarkan cairan berwarna merah darah.


Disaat dua orang itu larut dalam keterkejutan, tiba-tiba dari atas menderu selarik gelombang angin mengarah ke arah mereka berdiri. Seketika dua orang itu tumbang dengan kondisi tubuh terbelah.


Honglong mendarat, lalu tertawa cekikikan dengan suara khasnya selayaknya suara tupai. Tepat setelah suara tawa itu mereda, kedua tangan tupai kecil tersebut tiba-tiba mengeluarkan jilatan api yang kemudian di hentakkannya ke arah ketiga jasad prajurit secara bergantian.

__ADS_1


Bola-bola api dari tangan Honglong melesat menghantam ketiga jasad prajurit tersebut, jilatan api dengan cepat merambat membakar seluruh tubuh mereka bertiga hingga dalam waktu singkat tubuh ketiganya telah hancur menjadi abu.


Kejadian itu menarik perhatian para prajurit yang kebetulan sedang melintas tidak jauh dari sana.


Ketika melihat nyala api di kegelapan malam di dekat salah satu pohon, beberapa prajurit segera berlarian menuju ke tempat tersebut, akan tetapi mereka di buat keheranan sebab ketika beberapa meter lagi mereka sampai ditempat kejadian, api yang dilihatnya tadi sudah lenyap bahkan tidak meninggalkan jejak selain abu yang berserakan.


Salah satu prajurit merunduk dan meraup abu dengan tangan kanannya, dia kemudian mendekatkan abu tersebut ke hidungnya. Sesaat prajurit itu nampak mengendus-endus abu tersebut sebelum membuka suara, "Tidak salah lagi, ini bau abu dari tubuh manusia."


"Apa kau yakin?" Seorang prajurit lain juga merunduk, dia mengambil abu yang berserakan lalu mendekatkan abu ditangannya itu ke dekat hidungnya.


"Aku tidak yakin, tapi jika benar ini adalah abu dari tubuh manusia. Lalu siapakah yang sanggup dan memiliki kemampuan untuk melakukan ini semua."


Pembunuhan dengan elemen api yang dapat membakar targetnya bukanlah sesuatu yang baru dikalangan para prajurit dan para pendekar, namun membunuh dengan membakar sampai menjadi abu dalam waktu singkat benar-benar kasus yang baru kali ini mereka temukan.


Maka biarpun mereka merasa yakin bahwa abu itu berasal dari tubuh manusia, namun keanehan yang baru mereka dapati tersebut membuat mereka menjadi sedikit tidak percaya atas dugaan mereka sendiri. Terlebih jika mengingat kasus ini terjadi di dalam kawasan istana.


"Bawa abu itu dan sampaikan hal ini pada panglima Dong Zhuo." Ucap seorang prajurit yang memegang senjata berupa gada. "Kalian bertiga berpencar! Sisir setiap sudut di sekitar lokasi ini. Jika ada yang mencurigakan, kalian jangan bertindak sendiri, sebaiknya kabarkan pada prajurit lainnya."


Tiga prajurit segera meninggalkan lokasi tersebut, bergerak ke arah yang berlainan. Sementara satu prajurit yang membawa bungkusan kain berisi abu bergerak ke arah kediaman panglima Dong Zhuo. Prajurit yang memegang gada sendiri masih berada disana, memeriksa setiap jengkal tempat kejadian.


Tidak berselang lama setelah kejadian itu, dari tempat lain yang masih berada didalam kawasan kerajaan terjadi kegemparan. Hal itu tidak lain adalah perbuatan Honglong yang membunuh setiap prajurit yang telah dipastikannya adalah penyusup dari golongan pendekar aliran hitam.


Hanya dalam hitungan jam, sebagian besar kawasan yang berada di dalam tembok kerajaan menjadi gempar. Kini hampir semua prajurit di kerahkan untuk mencari pelaku pembunuhan, bahkan 10 panglima juga ikut turun tangan untuk mengusut masalah ini.


Kabar tentang pembunuhan yang telah merenggut nyawa puluhan prajurit sampai terdengar di telinga Hulao. Tak pelak hal itu membuat Hulao memasang ekspresi buruk.


Meskipun para prajurit penjaga yang bertugas di kawasan paviliun putri tidak di perbolehkan untuk ikut campur pencarian, namun Hulao diam-diam keluar dari kawasan paviliun untuk mencari Honglong.


Tak sulit bagi Hulao untuk mencari keberadaan Honglong, kini bersama para prajurit lainnya Hulao yang sudah merubah penampilannya berjalan mendekati sekelompok prajurit yang sedang melakukan pencarian di gedung persediaan perlengkapan senjata dan alat-alat perang.


Wajah salah satu prajurit nampak menjadi buruk ketika melihat seorang prajurit yang di yakininya adalah Hulao berjalan mendekatinya.


"Bagus, kau memang benar-benar pembuat keonaran. Sekarang kau harus ikut denganku." Setelah berkata demikian, Hulao dengan cepat mencekal tangan Honglong yang saat ini sudah menyamar menjadi prajurit yang telah dibunuhnya.


Sebenarnya Honglong berniat kabur karena yakin Hulao pasti akan marah besar, bahkan bisa saja memberikan hukuman terhadapnya. Namun dia tidak bisa berkutik ketika tiba-tiba dirinya di tarik oleh Hulao dan dibawanya ke dalam rimbunnya pepohonan.


Meski di sana terdapat hampir 30 prajurit, namun semua prajurit tersebut sama sekali tidak dapat melihat pergerakan Hulao. Yang dapat mereka rasakan hanyalah deruan angin yang tiba-tiba berhembus kencang di lokasi mereka berada.

__ADS_1


Seiring dengan berhembusnya angin, semua prajurit nampak menatap ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena tidak menemukan hal yang mencurigakan, mereka kemudian kembali melanjutkan pencarian.


__ADS_2