Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Bunga Anggrek Hantu


__ADS_3

Dari analisa, Arya menemukan bahwa Raja Zhou Lun mengalami pembekuan inti energi, itu adalah efek terburuk dari racun 'Penyerap Sukma', sulit untuk disembuhkan kecuali dengan bunga energi yang bernama bunga anggrek hantu.


Dengan mengikat racun menggunakan Qi, Raja Zhou Lun memang dapat memperpanjang umurnya namun hal itu tidak akan bertahan lama, karena cepat atau lambat racun itu akan membekukan seluruh inti energi yang dimiliki sang raja, akibatnya tubuh sang raja akan hancur jika racun yang sudah menyebar di sel-sel tubuh sang raja tidak segera ditangani.


Sayangnya Arya tidak memiliki bunga tersebut, menurut 'Kitab Samudera Hijau' pemberian dari Dewa Obat, anggrek hantu ini hidup di tempat yang terdapat banyak jamur hidup dan dari jamur inilah dia mendapatkan nutrisi.


Keterangan ini Arya dapatkan ketika dia mencari bahan-bahan untuk membuat 'Cairan Pusaran Waktu' di dalam Kitab Samudera Hijau. Meski hanya membacanya sekilas, namun Arya masih mengingat cara mengekstrak bunga itu untuk dijadikan obat penawar racun atau obat untuk mengatasi virus berbahaya.


Dari sinilah Arya memaklumi kegagalan para Alkemis dalam menganalisa racun di dalam tubuh sang raja, kerusakan inti energi memang sulit terdeteksi jika tidak menggunakan energi.


Heng Dao menelan ludah, orang tua ini tidak percaya pengetahuan pemuda itu telah sampai pada tingkat pembentukan inti energi, dimana selama pengalamannya mendalami Alkemis, dia tidak pernah mengetahui ataupun berjumpa dengan seorang pun Alkemis yang dapat melakukan hal tersebut.


Tidak sesederhana hanya dengan mengalirkan energi, mendeteksi racun di dalam inti energi membutuhkan pengetahuan tinggi tentang dasar pembentukan tubuh manusia.


Selain itu juga membutuhkan teknik perubahan energi yang sudah mencapai level puncak, dimana energi yang dimasukan ke dalam tubuh harus diubah menjadi serat kecil yang dapat menjangkau inti energi.


Apa yang dilakukan Arya bukanlah perkara mudah, membuat Alkemis tua yang di datangkan dari Kekaisaran Tang itu tidak sadar menundukkan kepala memberi hormat.


Jenderal Sun Jian sangat senang dengan hasil analisa Arya, walau belum dapat menyembuhkan sang raja, setidaknya pemuda itu telah berhasil mengetahui sumber penyakit yang dideritanya.


"Meskipun aku tidak pernah mendengar jenis racun itu, tapi aku percaya padamu. Akankah kau bisa mengobati Yang Mulia.?" Jenderal Sun Jian tidak bisa menyembunyikan rasa kagum serta perasaannya yang senang. Dengan mengetahui jenis racun itu, Jenderal Sun Jian percaya Arya memiliki pengetahuan untuk menyembuhkan sang raja.


"Maaf Jenderal, untuk saat ini aku belum bisa, dibutuhkan bunga anggrek hantu untuk menyembuhkan raja." Jawab Arya.


"Bunga anggrek hantu?" Heng Dao bertanya cepat.


"Benar, apa anda memiliki bunga itu, bunga yang dapat menyerap energi?" Arya memandang Heng Dao, dia berharap Alkemis tua itu memiliki bunga yang dimaksud.


Jika dari keterangan Kitab Samudera Hijau, bunga itu sangatlah langka tapi dia percaya bahwa bunga tersebut pasti ada di dunia ini, namun untuk bentuk dan nama bisa saja bunga tersebut di dunia ini berbeda nama, jenis dan bentuk, Arya hanya tahu karakter bunga itu, yaitu bunga yang dapat menyerap energi.


Suasana menjadi hening, semua orang masing-masing sedang mengingat-ingat adakah mereka pernah menjumpai bunga semacam itu, atau setidaknya mendengar tentang bunga itu. Keheningan tiba-tiba dirobek oleh suara Heng Dao.

__ADS_1


"Tunggu dulu, jika benar bunga yang kau butuhkan adalah bunga yang dapat menyerap energi, aku pernah melihatnya di suatu tempat, tapi aku tidak yakin bahwa bunga itulah yang kau maksud."


"Bisakah anda menerangkan bentuk dan tempat tumbuhnya bunga itu orang tua?" Berkata Arya pula.


"Sewaktu aku dalam perjalanan kemari, di suatu tempat tiba-tiba aku merasakan energi alam tersedot ke satu titik. Aku yang penasaran kemudian mencari sumber keanehan itu, namun aku tidak berani melihatnya terlalu dekat, aku khawatir energiku akan tersedot habis dan mati konyol di tempat itu. Disana aku melihat banyak tumbuh jamur yang di selimuti hawa mengerikan, tapi samar-samar aku melihat di tengah hamparan jamur itu tumbuh sekuntum bunga berwarna putih."


"Ini merupakan sebuah keberuntungan, bisakah anda menunjukkan dimana tempat itu adanya. Aku akan memetiknya untuk raja."


"Tempat itu agak jauh dari sini, tapi baiklah mari aku tunjukkan." Setelah berkata begitu Heng Dao menenggak araknya, lalu tanpa basa-basi melakukan peradatan kerajaan orang tua ini berlalu begitu saja keluar dari ruangan.


Arya menelangkupkan tangan kepada Putri Zhou Jing Yi dan Jenderal Sun Jian, namun sebelum pemuda ini melangkahkan kaki meninggalkan ruangan. Putri Zhou Jing Yi dan Jenderal Sun Jian mengajukan diri untuk ikut, mereka ingin melihat sendiri bagaimana bentuk bunga itu dari tempatnya tumbuh.


Sebelum meninggalkan istana, Jenderal Sun Jian memerintahkan pendekar khusus untuk menjaga keamanan ruang perawatan sang raja, tidak lupa juga dia memerintahkan para prajurit untuk memperketat pengawasan kerajaan, khususnya bangunan istana.


Di suatu tempat Heng Dao berhenti berjalan, tangan kanannya yang memegang kendi arak diangkatnya ke atas mulut, di goyangkannya berungkali tapi yang keluar hanya beberapa tetesan arak saja. Orang tua ini memaki, "Sialan! Bagaimana aku bisa mabuk kalau cuma minum sedikit!"


Arya yang sudah berada di samping orang tua itu dibuat ternganga. Seperti menyantap kerupuk enak saja si orang itu melahap kendi tanah tersebut, mengunyah dan menelannya sampai habis! Arya jadi leletkan lidah dibuatnya.


"Anak muda, ah bagaimana aku lupa namamu. Kenapa sekarang kita ada disini?" Sepasang mata Alkemis tua itu berputar-putar liar. Tangan kirinya mengusap usap perutnya yang sedikit buncit.


Berubah lah paras Arya, dipandanginya orang tua di sampingnya itu dengan ekspresi heran lalu mengulum senyum karena tingkah lucu Alkemis tua tersebut.


"Orang tua, kenapa kau lupa, bukankah kau tadi mengajakku untuk..."


"Nah, kau menghinaku anak muda! Aku memang tua dan suka mabuk tapi aku tidak pikun. Kau harus ingat aku tidak pikun!" Teriak Heng Dao seraya acungkan kendi arak, tubuhnya terhuyung ke kiri dan kanan berusaha menggapai Arya yang tegak tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Arya cibirkan bibirnya, dia merasa jengkel tapi juga geli. "Jika begitu mari kita lanjutkan perjalanan."


"Eittss.. ck.. ck.. ck.." Heng Dao keluarkan suara berdecak, matanya melotot memandangi Arya tapi dasar orang mabuk dia tiba-tiba tertawa tergelak-gelak dan setelah mereda tawanya dia kembali menenggak kendi arak ditangannya.


Melihat itu Arya jadi kurang yakin mengenai keterangan orang tua itu perihal keberadaan bunga anggrek hantu yang telah dipaparkannya sebelumnya.

__ADS_1


Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi yang sudah menyusul, juga dibuat terheran-heran melihat tingkah Heng Dao yang seperti mabuk berat.


"Jangan main-main kau orang tua, cepat tunjukkan keberadaan bunga itu..!" Bentak Jenderal Sun Jian yang mulai jengkel melihat Heng Dao malah duduk menjelepok di tanah sambil goyang-goyangkan kendi arak ditangannya.


"Suuttt..." Heng Dao tempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, memberi isyarat agar jangan berisik.


Arya geleng-gelengkan kepala dan hendak berlalu kembali ke kota kerajaan namun Heng Dao tiba-tiba berkata yang membuatnya urungkan langkahnya.


"Anak muda, jika kau ingin aku antarkan ke tempat bunga itu, kau harus mau menemaniku minum.!


Nah, tangkap dan minumlah..!" Bersamaan dengan berkata demikian, Heng Dao lemparkan satu kendi arak ke arah Arya.


Lemparan itu sebenarnya bukan lemparan biasa, karena orang tua ini sesungguhnya ingin menjajaki sampai dimana tahap kultivasi pemuda yang berjuluk Tabib Xian, pemuda belia yang beberapa saat lalu telah membuatnya kagum sekaligus sangat penasaran.


Tanpa menoleh Arya ulurkan tangan kanannya ke samping, dimana kendi yang di lemparkan Heng Dao melesat ke arahnya. Maklum jika menangkapnya langsung akan membuat kendi itu pecah dan isinya akan muncrat membasahi tubuhnya, Arya kerahkan kepandaiannya untuk membuat kendi itu berhenti melayang beberapa jengkal dari telapak tangannya.


Bersamaan dengan berhentinya kendi tersebut, terjadilah ledakan energi yang cukup untuk membuat daun-daun pepohonan di sekitar luruh berhamburan ke udara.


Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi yang memiliki kultivasi lumayan tinggi saja dipaksa tersurut beberapa tombak, sedangkan tanah di sekitar mereka menjadi retak seperti tanah dimusim kemarau.


Dalam sekejap air muka Heng Dao nampak terkesiap, namun itu hanya berlangsung sesaat karena dilain kejap Alkemis tua dari Kekaisaran Tang ini tertawa tergelak-gelak.


Beranggapan bahwa Heng Dao hendak mencelakai Arya, Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing Yi segera berkelebat menerjang. Masing-masing mereka sudah kerahkan energi besar untuk lancarkan serangan. Dua larik sinar merah menderu ganas menargetkan Heng Dao.


Namun serangan keduanya hanya membentur tempat kosong, tanah dimana Heng Dao duduk menjelepok kini menjadi lubang besar menganga yang dikobari api. Hal itu membuat Jenderal Sun Jian dan Putri Zhou Jing buru-buru edarkan pandangan berkeliling, mencari dimana keberadaan orang tua itu.


______


Maaf karena baru update sekarang, sebenarnya kemarin-kemarin author sangat-sangat kecewa terhadap kebijakan platform ini.


Tapi mau bagaimanapun, sesuatu yang dimulai di sini harus di tamatkan disini pula.

__ADS_1


Maaf juga atas ketidak-nyamanan karena membuat teman-teman menunggu terlalu lama, semoga masih betah dengan cerita PNE.


__ADS_2