Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 10 – Era Baru


__ADS_3

Setelah tujuh purnama semenjak hujan yang disertai petir menghantam bumi, kini hujan sudah mulai tampak reda. Orang-orang yang selamat dari bencana tersebut kini bisa bernafas lega. Hanya saja, meskipun bencana serangan naga dan bencana alam telah berlalu, orang-orang yang berhasil selamat harus menyesuaikan diri terhadap bumi yang tidak lagi seperti sebelumnya. Sebagian besar wilayah bumi kini telah menjadi hamparan air.


Di sebuah puncak bukit yang tidak terlalu jauh dari tempat Klan Gojo berlindung, terlihat seorang lelaki berparas tampan berdiri tegak sambil memegang pinggangnya. Ia mendongakkan kepala ke arah langit sambil memejamkan mata. Ia tersenyum penuh semangat. Kedua tangannya ia rentangkan ke samping dan mencoba meresapi angin segar yang bertiup sepoi-sepoi.


Setelah beberapa menit berlalu, Lelaki itu kemudian membuka matanya. Ia mulai memperhatikan apa yang ada di hadapannya.


Sebuah pemandangan yang tidak pernah terbayangkan olehnya, terpampang jelas di hadapannya.


“Apa ... , ujungnya tidak terlihat sama sekali.” Aron benar-benar takjub dengan apa yang dilihatnya.


Setelah Aron tak menemukan ujung dari hamparan air yang ada di hadapannya, ia kemudian menengok ke kanan, kiri dan belakangnya. Kali ini ia benar-benar tercengang dengan apa yang dilihatnya. Bumi tempatnya berpijak kini sudah dikelilingi air. Desa Air terjun kini berubah menjadi sebuah pulau yang tidak begitu luas ukurannya.


Meskipun Aron telah menerawang jauh di empat penjuru mata angin dengan menggunakan Jurus Mata Elang. Ia masih tidak menemukan ujung dari hamparan air tersebut.


Aron kemudian memutuskan untuk kembali dan memberitahu ayahnya tentang apa yang dilihatnya.


"Ayah, daratan tempat kita tinggal sudah dikelilingi air,” ucap Aron sesaat setelah ia sampai di hadapan Ketua Jo.


“Apa maksudmu?” tanya ketua Jo.


“Lebih baik Ayah lihat sendiri,” jawab Aron ringkas. Ia bingung bagaimana menjelaskan apa yang baru saja ia saksikan. Ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ketua Jo bergegas meninggalkan Gua Air Terjun. Ia kemudian melesat ke arah puncak bukit.

__ADS_1


Terlihat ekspresi bingung di wajah Ketua Jo. Ia terpana menyaksikan fenomena yang tidak pernah dia temui selamat hidupnya. Ia benar-benar tidak menyangka bumi tempatnya menjalani hidup selama ini betul-betul berubah hanya dalam jangka waktu yang begitu singkat.


Ketua Jo benar-benar bingung, ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi situasi yang ada di depannya. Apalagi para pendekar Klan Gojo belum kembali dari misi penyelamatan yang mereka laksanakan tujuh purnama yang lalu.


“Beruntung aku melarang Aron untuk ikut dengan para pendekar Klan Gojo. Dia bisa membantuku di sini,” gumam Ketua Jo.


“Aron, perintahkan para penduduk agar keluar dari sana!” ucap Ketua Jo lantang.


Mendengar perintah ayahnya, Aron segera melesat menuju Gua Air Terjun. Tidak lama kemudian, terlihat puluhan orang keluar dari gua tersebut. Para warga Klan Gojo itu terlihat bahagia meski tidak satupun diantara mereka yang terlihat sehat.


“Kita tunggu saja dulu! Semoga air itu surut dalam beberapa hari,” ucap ketua Jo.


Ketua Jo kemudian mengajak para warga untuk membangun kembali Desa Air Terjun. Mereka pun mulai membangun rumah di atas puing-puing rumah mereka yang dulu.


Melihat air yang tidak kunjung surut, Ketua Jo akhirnya membuat rencana agar bisa keluar dari masalah yang tengah dihadapinya. Ia kemudian menyuruh Aron mengumpulkan para warga di halaman balai desa.


“Dengarkan baik-baik, sudah tiga purnama berlalu, namun air belum juga surut. Jadi aku punya rencana akan mengutus seseorang untuk keluar dari tempat ini. Maka, yang ingin jadi relawan, dipersilahkan untuk mengajukan diri!” Teriak Ketua Jo berapi-api.


Ketua Jo tahu persis bahwa diantara penduduk Desa Air Terjun, tidak ada pendekar lain kecuali dia dan Aron.


“Baiklah, karena tidak ada yang bersedia, maka biarlah Aron yang mengembang tugas ini,” teriak Ketua Jo sambil tersenyum ke arah Aron.


Aron yang mendengarkan perkataan ayahnya lagi-lagi hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Tapi karena Desa Air Terjun tidak memiliki lagi pendekar lain, maka saya berencana mendirikan sekolah beladiri untuk anak-anak dan remaja.”


Para remaja dan anak-anak yang mendengarkan ucapan Ketua Jo menjadi sangat antusias. Meski ada juga yang terlihat tidak senang.


“Masa depan Klan Gojo dan Desa Air Terjun sangat bergantung kepada generasi muda. Jadi aku harap kalian para generasi muda bisa bersungguh-sungguh untuk memajukan desa kita ini,” teriak Ketua Jo dengan penuh semangat.


Setelah pertemuan di halaman balai Desa Air Terjun, para warga kemudian bahu-membahu membuat perahu yang ukurannya dua kali lebih besar dari perahu yang pernah mereka gunakan untuk menyeberangi danau kecil yang berada tidak jauh dari desa.


*


Beberapa bulan kemudian, Ketua Jo dan seluruh warga desa terlihat melambaikan tangan ke arah perahu layar yang baru saja meninggalkan daratan. Semua orang terlihat senang atas kepergian Aron. kecuali Ketua Jo yang memperlihatkan rona kesedihan di wajahnya.


Ketua Jo sedih karena beberapa waktu yang lalu ia menyuruh anak keduanya, yaitu Lee, adik dari Aron untuk melakukan misi penyelamatan bersama para pendekar Klan Gojo lainnya. Namun sampai saat ini tidak seorangpun dari mereka yang kembali. Dan sekarang Ketua Jo harus menyuruh anak sulungnya untuk meninggalkan desa.


Hari demi hari Aron lalui dalam kesendirian. Wajahnya yang dulu sangat tampan dan putih mulus, kini terlihat usang tak terawat. Pipi dan dagunya kini ditumbuhi bulu-bulu yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih tua. Ia benar-benar berbeda dari sebelumnya.


Perahu yang dikendarai Aron pun kini terlihat berubah. Layar beserta tiang perahunya sudah tidak ada akibat dihantam badai dan ombak besar beberapa hari yang lalu.


Aron pernah berpikir akan meninggalkan perahu yang dikendarainya menggunakan ilmu meringankan tubuh yang ia miliki. Namun ia tidak yakin akan mampu menemukan daratan sebelum ia kehabisan tenaga. Kini ia hanya bisa pasrah kemana arus air akan membawanya.


Di atas perahu yang kini tidak memiliki layar maupun atap itu, Aron membaringkan tubuhnya menghadap ke langit. Ia tak peduli dengan panasnya terik mentari.


“Kenapa di saat seperti ini dia malah hadir di benakku?” gumamnya.

__ADS_1


Wajah Dewi Rara tiba-tiba hadir di benak Aron. Pertemuan singkatnya dengan Dewi Rara telah cukup membuatnya dimabuk cinta. Meskipun ia sadar dirinya tidak pantas untuk Dewi Rara, namun ia tetap membiarkan rasa cinta itu terus tumbuh di hati sanubarinya. Ia terus berharap semoga suatu hari nanti ia bisa bertemu dengan wanita yang telah membuatnya jatuh cinta.


__ADS_2