
Firon segera menghampiri Miya dan mencabut cemeti yang menembus tubuhnya, ia juga menotok aliran darah di tubuh Miya agar gadis itu tidak kehabisan darah.
“Ka.. kau, kenapa menolongku?” Miya memejamkan mata dan kehilangan kesadaran.
Firon kemudian mengangkat tubuh Miya dan menyandarkannya di sebuah batang pohon.
“Keji sekali kau, kau sanggup mengorbankan temanmu demi mencapai tujuanmu?!” Firon perlahan-lahan melangkah menghampiri Momo yang masih berdiri mematung, “tadinya aku hanya ingin memaksa kalian meninggalkan tempat ini, namun setelah melihat tindakanmu tadi, aku jadi berubah fikiran. Orang sepertimu tidak layak dibiarkan hidup.” Firon mengayungkan pedangnya ke arah Momo.
Saat Pedang Ratu Iblis hampir mengenai leher Momo, angin tiba-tiba bertiup kencang dan sesosok pria yang tak lain adalah Yatsu tiba-tiba muncul dan menepis Pedang Ratu Iblis sehingga pedang itu hanya menebas beberapa helai rambut Momo.
Yatsu menatap Firon dari ujung kaki hingga ujung kepala, nalurinya berkata bahwa Firon adalah seseorang yang amat berbahaya. Apalagi ketika Yatsu melihat pedang milik Tetua Yongdai ada di tangan Firon, ia mulai berfikir bahwa berhadapan dengan Firon seorang diri sama halnya dengan bunuh diri.
‘Mata pria ini, bukankah itu Mata Surudoi?’ Fikiran Yatsu bertambah kacau ketika melihat bola mata Firon yang tidak sama dengan bola mata manusia pada umumnya. Sejauh yang ia ketahui, Itu adalah ciri dari Mata Surudoi yang ada dalam legenda yang pernah ia pelajari.
Mata Surudoi atau Mata Elang, hanya dimiliki oleh Klan Akane yang bermukim di ujung timur bumi, tepatnya di pegunungan Kuro-kuro. Mata Surudoi bukanlah hal yang bisa dipelajari, namun Ilmu ini diturunkan melalui genetik, hanya orang-orang yang punya darah Akane yang bisa membangkitkan Mata Surudoi dan belajar menguasainya.
Menurut legenda yang tertulis di buku, Klan Akane telah punah karena kekuatan Mata Surudoi yang begitu dahsyat membuat para pemiliknya harus terbunuh oleh kekuatan mata mereka sendiri.
“Pendekar muda, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau memiliki Mata Surudoi?” Yatsu mencoba tetap tenang di hadapan Firon.
Firon tidak langsung menjawab pertanyaan Yatsu, ia malah menoleh kearah Miya yang masih bersandar di pohon tak sadarkan diri, ketika mendengar nama Mata Surudoi disebutkan, Firon mulai penasaran
“Mata Surudoi? Apa maksudmu?”
Yatsu hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan Firon melalui ilmu telepati, “Bola matamu yang berwarna merah berbentuk segitiga di tengahnya itu sama persis dengan ciri Legenda Mata Surudoi.”
Firon mengerutkan dahi, ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius ketika mendengar penjelasan Yatsu tentang matanya. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar tentang hal itu.
Saat Firon masih memikirkan tentang ucapan Yatsu, ia begitu kaget ketika melihat Yatsu tiba-tiba berlutut dan bersujud di hadapannya.
__ADS_1
“Kapten, apa yang kau lakukan?!” teriak Momo melihat keanehan yang dilakukan oleh Yatsu.
Yatsu tidak menjawab pertanyaan Momo, ia masih bersujud di hadapan Firon, “Tuan muda, aku Yatsu, keturunan dari Keluarga Yagi pengikut Klan Akane sejak ribuan tahunyang lalu.”
Yatsu kemudian menceritakan bahwa dahulu ayahnya pernah bercerita kepadanya tentang seorang pemuda dari generasi terakhir Klan Akane yang akan datang untuk menghentikan peperangan dan menciptakan kedamaian di muka bumi.
Ayah Yatsu berpesan, agar kelak ketika pemuda itu muncul, Yatsu harus menjadi pengikutnya dan mematuhi segala perintahnya.
Firon tidak menanggapi pernyataan Yatsu,ia hanya terdiam sambil memperhatikan Yatsu yang masih bersujud di hadapannya.
“Kapten, bagaimana kau tahu bahwa dia adalah pemuda yang dimaksud oleh ayahmu?” ucap Momo mencoba mempengaruhi Yatsu agar tidak tunduk kepada Firon.
“Ayahku mengatakan bahwa pemuda itu memiliki Mata Surudoi dan dia juga bisu, namun bisunya hanya karena kekuatan yang dimilikinya.”
“Tapi...”
“Sudahlah, Momo! Kalau kau ingin pergi, silahkan kau pergi! Aku sudah memutuskan untuk memenuhi keinginan ayahku, aku akan menjadi pelayan pendekar ini.”
“Hahahahaha...” Yatsu tertawa hambar, “ Kaisar Itamo? Klan Fujiwara...? Momo, apa kau tahu siapa yang telah membantai seluruh keluargaku...?”
Momo tidak menjawab, ia tersentak mendengar pertanyaan Yatsu, ia sudah bisa menebak siapa orang yang dimaksud Yatsu, namun ia memilih untuk diam.
“Momo, apa kau tahu bagaimana rasanya memendam dendam dan berpura-pura baik kepada pembunuh keluargamu, hah?” Emosi Yatsu mulai meluap-luap, ia berusaha menahan tangisnya namun air matanya tak terbendung dan jatuh membasahi tanah tempat ia bersujud, “Bagaimana melayani orang-orang yang telah membantai keluargamu...? Dan bersikap hormat terhadap mereka?”
“Kapten.” Momo memegang pundak Yatsu dan hendak membantunya untuk berdiri.
“Tidak, aku hanya akan berdiri jika Tuan Muda yang memintaku.” Yatsu menolak ajakan Momo.
“Pendekar, aku belum terlalu mengerti dengan semua yang kau katakan tadi, namun aku minta agar kau bisa berhenti bersikap begitu terhadapku!” ucap Firon dingin.
__ADS_1
Yatsu kemudian bangkit setelah Firon yang memintanya untuk bangkit, “Momo, hentikan mereka!”
“Kapten, mereka sudah terjebak dalam perangkap ilusi, kita tidak akan mampu menghentikan mereka, kecuali...” Momo memandang tajam ke arah Firon.
Yatsu yang mengerti perkataan Momo segera memberi hormat kepada Firon, “Tuan Muda, kumohon anda mau menghentikan mereka!”
“Kakek Sin, bisakah Kakek membebaskan mereka?”
Sin Toru yang sedang duduk santai di atas pohon hanya tersenyum mendengar pertanyaan Firon, “Firon, kau jangan terlalu lunak! Apakah kau bisa memastikan bahwa itu bukan sebuah tipu muslihat?”
“Aku yakin , Kek.”
“Baiklah” Sin Toru kemudian mengibaskan tangannya ke udara dan seketika itu juga kabut yang menyelimuti hutan menghilang dan para gadis cantik berubah menjadi kurcaci.
Yugo yang sudah terbebas dari ilusi langsung menghentikan pertarungannya dengan Yura. Ia baru menyadari kesalahannya karena telah menyerang adiknya sendiri.
Nagato dan Ningju justru nampak kebingungan karena tubuhnya sudah terikat dan dan dijaga puluhan kurcaci ketika terbebas dari ilusi.
“Kek, bolehkah aku meminta Kakek mengobati Nona ini?” ucap Firon ketika menggendong tubuh Miya yang masih tak sadarkan diri.
Sin Toru yang masih duduk santai di atas pohon lagi-lagi tersenyum mendengar perkataan Firon di kepalanya, “Firon, apa kau yakin dengan tindakanmu itu?”
“Iya Kek, gadis ini tidak pernah berniat untuk menyerangku. Aku mohon, Kakek mau menyelamatkan nyawanya.”
Firon memandangi wajah Miya, ia baru menyadari kalau wajah gadis yang sedang ia gendong itu mirip dengan seseorang yang ia kenal dulu di Kota Penyu, “Wajahnya mirip sekali dengan adik Yin.”
Ingatan Firon tentang teman-teman satu sekolahnya di Kota Penyu dulu kembali mengisi benaknya. Ia sangat merindukan suasana sekolah ketika belajar dan bermain bersama teman-temannya.
“Firon, kenapa melamun? Cepat naikkan tubuh gadis itu di punggung elang raksasa!”
__ADS_1
Firon langsung melompat menghampiri elang raksasa dan menaikkan tubuh Miya setelah mendengar arahan dari Sin Toru.