
Firon hanya bisa mengerutkan dahi ketika tiba di tepi Hutan Terlarang dan mendapati ratusan pohon Kriptomeria yang sudah berusia ribuan tahun tumbang dimana-mana. Pohon-pohon itu saling tumpang-tindih dan menutupi permukaan tanah.
“Apa yang mereka lakukan?” gumam Firon kesal. Ia kemudian melompat ke atas tangkai pohon Kriptomeria yang sudah tergeletak di tanah. Ia memandangi Momo dan Miya yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sesaat kemudian, Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yugo dan Yura yang sedang bertarung.
Kekesalan Firon berubah menjadi senyuman ketika pandangannya terarah ke sekumpulan kurcaci yang sedang memasang gaya menyerupai perempuan nakal. Mereka sedang menggoda Ningju dan Nagato yang sedang berjalan ke arahnya.
“Hahaha.. Lucu juga mereka.”
Dengan kekuatan mata miliknya, Firon tidak pernah sekalipun terkena ilusi yang dilepaskan oleh para Kurcaci penjaga Hutan Terlarang itu. Ia bisa melihat semua realita yang ada di hadapannya.
Sementara itu, Momo dan Miya sedikit tersentak ketika seekor burung elang raksasa tiba-tiba mendarat tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Miya menjadi terpaku dan terus-menerus memandangi sosok pria muda yang menunggangi burung raksasa itu.
“Wah, tanpan sekali dia,” gumam Miya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Momo yang menyadari sikap Miya, langsung menepuk pundak Miya.
“Oee.. Apa yang kau lakukan?!” pekik Momo. Ia geram melihat tingkah Miya yang tak juga berhenti memandangi Firon.
“A.. apa.. maksudmu?” balas Miya sambil tersipu malu.
“Ada apa dengan kau ini? Tidak pernah aku melihat kau memandang seorang pria dengan pandangan seperti itu.”
“Ahh.. Kau ini, ada-ada saja. Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Sudahlah, lebih baik kita serang dia sekarang!”
“Jangan! kita tanya dia dulu,” ucap Miya sambil melompat ke atas tangkai pohon yang berjarak hanya beberapa meter dari tempat Firon berdiri.
“Tunggu..! Sial.”
Momo hanya bisa menggerutu sambil mengikuti Miya yang sudah bertindak tanpa menunggu persetujuan darinya.
“Hey kau, apa kau bersekutu dengan kucaci itu?” tanya Miya sambil mengacungkan telunjuknya ke arah kurcaci yang duduk di atas punggung elang raksasa.
__ADS_1
Firon tidak menjawab. Ia malah menoleh ke arah kurcaci yang ditunjuk oleh Miya. Sesaat kemudian, ia menoleh ke arah Miya sambil tersenyum-senyum. Hatinya merasa lucu mendengar pertanyaan Miya itu.
Momo yang berdiri tepat di belakang Miya hanya bisa menepuk dahi menyaksikan kekonyolan yang dilakukan oleh rekannya itu.
“Kenapa kau tersenyum-senyum begitu, hah?” pekik Miya. Ia mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah karena merasa malu diperlakukan seperti itu oleh Firon.
“Bukankah pertanyaan itu seharusnya tidak perlu kau ajukan, semua sudah jelas bukan?” Firon membalas pertanyaan Miya dengan nada yang amat lembut. Ia bisa merasakan, ada kebaikan dari balik tatapan mata Miya.
Miya tersentak kaget karena Firon menjawab pertanyaannya melalui ilmu telepati.
“Seharusnya aku yang bertanya kepada kalian, kenapa kalian membuat kerusakan di hutan ini?” sambung Firon.
Miya hanya mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Firon. Ia bingung hendak menjawab apa. Ia kemudian menoleh ke arah Momo dan berharap Momo bisa menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang tidak membuat dirinya bertambah malu.
“Momo, apa kau tidak mendengar ucapan pria itu?” tanya Miya sambil menoleh ke arah Momo.
“Apa maksudmu?” tanya Momo. Ia tidak mengerti maksud Miya.
Miya kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Momo seraya berbisik, “Pria itu berbicara di kepalaku dan bertanya tentang maksud kita datang ke tampat ini.”
Momo kemudian menatap Firon dengan tatapan tajam.
“Sungguh aku tidak ingin melukai siapa pun, namun jika kalian tidak segera meninggalkan tempat ini, maka kalian akan menghadapi pedang ini.” Kali ini suara Firon terdengar di telinga semua orang yang ada di sekitar tempat itu termasuk Yatsu yang masih mengawasi aksi seluruh anggotanya dari kejauhan.
Momo tersentak, suara Firon menggema di kepalanya.
“Momo, bukankah pedang itu milik Tetua Yongdai?” bisik Miya.
“Iya, kau benar. Tetua Yongdai mungkin sudah mati atau ditahan oleh mereka.” Momo hanya bisa mendengus. Kekhawatiran mulai menyelimuti hatinya. Ia sangat yakin bahwa Tetua Yongdai memiliki kekuatan yang sangat jauh di atasnya, bahkan jika mereka bertujuh begabung, mereka belum tentu mampu mengalahkan Tetua Yongdai.
“Benarkah dia yang telah mengalahkan Tetua Yongdai?” gumam Miya sambil memperhatikan Firon mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Gelagat Miya lagi-lagi membuat Firon tersenyum. Ia kemudian melompat ke tangkai yang sama dengan tangkai yang dipijak oleh Miya.
“Nona, kenapa kau memandangi aku seperti itu?” tanya Firon.
__ADS_1
“A.. A.. Apa maksudmu?” Miya terlihat salah tingkah.
Lagi-lagi Momo hanya bisa menepuk dahinya melihat tingkah Miya.
“Sekali lagi aku peringatkan kalian untuk pergi dari sini, kalau tidak, kalian akan merasakan akibatnya!” Firon kemudian mencabut Pedang Ratu Iblis dari sarungnya.
Miya yang tadinya terlihat santai kini terlihat tegang dan mengambil posisi siap bertarung.
Momo yang berada tepat di belakang Miya tiba-tiba melayangkan cemetinya ke arah Firon.
Dengan santai, Firon menepis cemeti milik Momo dengan Pedang Ratu Iblis yang ada di tangannya.
“Miya, apa yang kau lakukan? Cepat bantu aku! Serang dia!” Momo kembali melayangkan cemetinya ke arah Firon sekali lagi.
Miya masih terdiam di tempatnya berdiri. Ia hanya memandangi Momo dan Firon yang sedang bertarung. Ia seperti orang yang sedang kebingungan.
Setelah bertukar beberapa jurus dengan Momo, Firon berhasil mendaratkan tendangannya ke perut Momo dan membuatnya terpental jauh dan muntah darah.
“Miya, apa kau ingin menonton saja dan membiarkan pria sialan ini membunuhku?!” Momo geram melihat Miya yang sama sekali tidak mempedulikan dirinya.
Miya kemudian menghampiri Momo dan membantunya berdiri.
“Momo, ini salahmu sendiri karena tiba-tiba menyerang pria itu,” ucap Miya santai.
“Apa? Kau malah menyalahkan aku?! Atau jangan-jangan kau..?!” Momo kembali memasang kuda-kuda dan hendak menyerang Firon, “Kau jangan lupa, kita tidak punya pilihan lain, membawa kepala Si Noguchi itu... atau kepala kita bertujuh yang akan terpisah dari badan.” Momo mengusap darah di bibirnya.
Miya melangkah menghampiri Firon dengan santai seolah ia yakin bahwa Firon tidak akan mencelakainya.
“Tuan Muda, perkenalkan, namaku Miya, maafkan atas kelancangan temanku.” Miya membungkuk memberi hormat kepada Firon, “Kami hanya tidak punya pilihan lain selain membawa kepala pemuda yang bernama Noguchi itu ke hadapan Kaisar Itamo atau nyawa kami sebagai gantinya.”
Firon tersenyum menanggapi pernyataan Miya. Ia kemudian membalas salam hormat Miya, “Namaku Firon, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun melukai Noguchi sahabatku . Sekarang, lebih baik kalian segera meninggalkan tempat ini sebelum penguasa Hutan ini keluar dan membunuh kalian semua. “
Momo yang berada tepat di belakang Miya tiba-tiba memiliki niat untuk membunuh Firon dengan mengorbankan Miya yang sedang berdiri di hadapan Firon, ‘Ujung cemetiku ini pasti bisa menembus tubuh Miya dan tubuh pria itu sekaligus.’
Momo kemudian melayangkan ujung cemetinya ketubuh Miya dan menembusnya. Namun sebelum ujung cemeti itu mengenai tubuh Firon, cemeti itu tiba-tiba berhenti seketika.
__ADS_1
‘Ada apa ini? Tubuhku tidak bisa bergerak.’ Momo berkeringat dingin.
Miya baru menyadari dirinya terluka saat ia mulai muntah darah, “Momo, apa yang kau lakukan?”