
"Oo... Ini Tongkat Penyanggah Langit, kamu simpan saja baik-baik! Nanti aku ajari bagaimana cara menggunakannya."
Sin Toru kemudian kembali memalingkan pandangannya ke arah lokasi pertarungan dan segera melangkah mendekati lokasi itu.
Tiba-tiba, BUKKK!!!
Tubuh Sin Toru menabrak sesuatu yang tak kasat mata dan membuatnya terpental beberapa langkah ke arah belakang.
"Pagar energi ini ternyata sangat kuat," ucap Sin Toru kagum. Ia kemudian menoleh ke arah Firon, "Firon, apa sebenarnya yang terjadi?!"
Firon kemudian menceritakan bagaimana kekuatan Surudoi tidak sengaja ia bangkitkan dan bagaimana ia kebingungan karena tidak mampu menarik kembali kekuatan itu.
"Kalau begitu, coba kau kembali ke sana!"
"Baik, Kek." Firon kemudian menuruti perintah Sin Toru dan berjalan ke arah lokasi yang dimaksud.
Firon berjalan memasuki lokasi itu tanpa hambatan sama sekali. Ia hanya bisa tersenyum canggung ketika melihat Sin Toru menampakkan ekspresi takjub saat memandang dirinya.
Sin Toru mendapatkan sebuah ide, "Firon, bagaimana kalau kau membawa Tetua Ryu dan yang lainnya keluar dari sana?"
Firon tersenyum mendengar ide Sin Toru itu, "Baik, Kek."
Firon kemudian berlari ke arah lokasi Ryusa dan Sazaki berada.
Namun sebelum Firon mencapai lokasi yang dimaksud, langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia memandangi Nara yang sedang berada dalam posisi jongkok seperti orang yang hendak memungut sesuatu.
'Siapa yang harus aku keluarkan terlebih dahulu?' Setelah berfikir sejenak, akhirnya Firon memutuskan untuk mendahulukan satu-satunya perempuan yang ada di tempat itu.
Perasaan hati Firon cukup kacau ketika memegang tangan halus Nara. Ada sesuatu yang tak dapat ia mengerti sedang mengusik batinnya. Ia bahkan merasakan jantungnya berdetak kencang ketika melihat wajah cantik gadis itu.
Baru selangkah meninggalkan lingkaran energi, Nara tiba-tiba berteriak histeris dan nampak kebingungan. Bagaimana tidak, ia sadar betul bahwa ia sedang bertarung, namun tiba-tiba kini dirinya sedang berada di atas punggung seorang pria.
Nara memukul kepala Firon cukup keras. Ia mengira bahwa pendekar musuh yang sedang menggendongnya.
"Aduh, aduh, aduh." Firon berteriak dan segera menyingkirkan tubuh Nara dari punggungnya.
"Hahahahaha!"
Sin Toru tidak dapat menahan diri untuk tidak terbahak-bahak ketika melihat kelakuan dua orang muda-mudi di depan matanya.
Firon dan Nara reflek menoleh ke arah Sin Toru yang sedang menertawakannya.
Firon tersenyum canggung dan cepat-cepat menyembunyikan ekspresi bodohnya dari Sin Toru. Ia kemudian kembali ke lokasi pertarungan untuk menjemput Ryusa dan yang lainnya.
"Tunggu!" Nara mencoba menghindari Sin Toru dan berlari mengikuti Firon dari belakang.
__ADS_1
BUKKK!!!
Nara terlempar dan terhempas ke tanah.
Sin Toru memukul jidatnya pelan, "Gawat, aku terlambat memberitahunya."
Nara hanya bisa berdecak kesal. Ia kemudian bangkit dan mencoba menyingkirkan semua debu-debu yang menempel pada tubuhnya.
Nara sebenarnya sangat malu karena kejadian yang baru saja menimpanya, namun sebagai orang yang sangat dekat dengan Sin Toru, ia terpaksa harus membuang rasa malu itu dan segera menyapa Sin Toru yang sejak tadi memperhatikannya.
"Ketua Sin." Nara memberi hormat, "Sejak kapan tuan muda Firon bisa bicara?"
Pertanyaan Nara sontak membuat Sin Toru mengerutkan dahi. Ia juga baru menyadari hal itu, "Aku juga tidak tahu," ucapnya lirih.
**
Firon akhirnya berhasil membawa semua pendekar keluar dari Lingkaran Surudoi.
Sin Toru menghampiri Firon, "Firon, gunakan sedikit energi dewa untuk mengobati lengan tetua Ryu dan tetua Sazaki!"
"Baik Kek."
Firon segera membantu Ryusa dan Sazaki. Namun, saat Firon tengah sibuk mengobati kedua tetua itu, tiba-tiba puluhan anak panah melesat dan berhasil melukai beberapa orang Kaum Hidden.
"Ternyata mereka masih hidup," ucap Sazaki kesal.
"Tetua, mohon maaf, situasi sedang genting, nanti aku teruskan pengobatan ini." Tanpa menunggu persetujuan kedua tetua itu, Firon langsung melesat ke arah datangnya anak panah tadi.
"Jangan biarkan dia lolos!" teriak Watanabe.
Firon tidak kesulitan sama sekali untuk menghindari puluhan anak panah yang datang ke arahnya itu. Ia bahkan berhasil menangkap salah satu anak panah itu dengan giginya.
Para pendekar dari Sekte Gunung Besi itu menjadi panik melihat Firon sudah semakin mendekat.
"Tetua, ia berhasil mendekat! Bagaimana sekarang?" ucap Hidate panik.
"Gunakan Formasi Dinding Besi! Cepat" Watanabe bisa melihat kekuatan Firon jauh di atas kekuatannya.
"Formasi Dinding Besi!" teriak Hidate.
Hidate dan sepuluh pendekar yang sedang bersamanya kemudian membentuk formasi dan melakukan gerakan, namun sebelum gerakan mereka selesai, tiba-tiba sekujur tubuh mereka tak dapat bergerak sama-sekali.
Berbeda dengan jurus Lingkaran Surudoi yang Firon keluarkan dengan tidak sengaja, jurus yang ia gunakan kali ini adalah jurus yang cukup ia kuasai dan sudah beberapa kali ia gunakan.
Hanya saja, kali ini kekuatan jurus itu jauh lebih kuat dari sebelumnya.
__ADS_1
Sebenarnya jurus itu juga adalah bagian dari kekuatan Surudoi, namun cara dan efek penggunaannya sangat berbeda dengan Lingkaran Surudoi.
Firon juga tidak mengerti, kenapa kekuatannya meningkat dengan pesat semenjak ia memakan buah persik yang ada di Pulau Bambu.
Firon melangkah dengan santai sambil memukul-mukul pundaknya dengan punggung Pedang Ratu Iblis.
"Berani sekali kalian membuat kerusakan di hutan ini...!" Firon berjalan menghampiri Watanabe, "Kau pasti pimpinannya bukan?"
Watanabe mulai berkeringat dingin. Ia ingin memohon agar diampuni, namun tulang rongga mulutnya seperti terkunci.
"Aku bisa saja mengampuni kalian, tapi kalian harus memberi informasi yang kami butuhkan! Bagaimana?!"
Firon menambahkan tekanan pada persendian para pendekar Sekte Gunung Besi itu. Tujuannya adalah untuk menanamkan ketakutan ke dalam hati mereka agar mau membocorkan semua yang mereka ketahui.
Para pendekar itu mengerang kesakitan namun tidak dapat mengeluarkan suara. Hanya suara nafas ditenggorokan mereka yang terdengar.
Setelah melihat darah mulai mengucur di sudut bibir para pendekar itu, Firon kemudian melumpuhkan sepuluh pendekar yang pakaiannya terlihat sama dengan satu pukulan. Kini yang tersisa hanya Watanabe dan Hidate.
"Saudari Nara, bantu aku mengikat orang ini!"
Nara tersentak mendengar suara Firon di kepalanya, "Ada apa dengannya? Apakah ia kembali bisu?" batin Nara.
Nara kemudian berlari ke arah Firon.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau menghubungiku menggunakan telepati?" ucap Nara datar. Ia mencoba untuk tidak menampakkan rasa kepeduliannya terhadap Firon.
"Aku hanya tidak ingin membuat semua orang datang ke tempat ini," jawab Firon.
Nara terlihat senang mendengar suara Firon, "Syukurlah..." batinnya, "Kenapa kau tidak ingin orang-orang datang kesini?!"
"Selain karena tidak ingin menyusahkan mereka, aku punya rencana terhadap kedua orang ini," jawab Firon sambil menatap mata Watanabe dan Hidate dengan tatapan tajam.
"Apa rencanamu?" ucap Nara penasaran.
Firon kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Nara. Ia membisikkan sesuatu sambil tersenyum licik.
"Aku tidak ingin melakukannya! Itu terlalu kejam ! Lebih baik kita penggal saja leher mereka jika tidak mau menurut." Ekspresi wajah Nara manjadi buruk.
Keringat dingin benar-benar membanjiri tubuh Watanabe dan Hidate, mereka mulai diselimuti ketakutan. Mereka sebenarnya tidak takut mati, namun ada hal lain yang kadang bisa membuat seorang pendekar sangat ketakutan.
"Aku akan tetap melakukan hal itu terhadap mereka!" jawab Firon.
"Kalau begitu... kau lakukan saja sendiri! " Nara kemudian berbalik badan hendak meninggalkan Firon.
"Tunggu...! Bantu dulu aku mengikat kedua orang ini." pinta Firon.
__ADS_1