
Sin Toru memandangi orang-orang yang berada di pihaknya, terlihat olehnya kaum kurcaci yang biasanya menjadi tameng tepi Hutan Terlarang kini terkulai lemas karena pengaruh suara seruling yang sedang menggema di udara.
Kaum hidden yang juga turut hadir di tempat itu tidak luput dari pengaruh gelombang suara Seruling Iblis. Mereka bahkan lebih terdampak daripada para kurcaci, hal itu terjadi karena Kaum Hidden memiliki pendengaran yang lebih tajam dari pada manusia biasa pada umumnya.
‘Untuk pertama kalinya Hutan Terlarang didatangi musuh yang begitu banyak.’ Sin Toru menghela nafas panjang, ‘Sepertinya pertempuran besar sebentar lagi akan terjadi di hutan ini.’
Lima orang yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dan lebih besar dari manusia biasa pada umumnya menghampiri Sin Toru.
“Ketua Sin, menurut pemantauan kami, ada ratusan musuh yang sedang bergerak ke arah sini. Mereka sudah berada pada jarak setengah mil dari sini. Apa langkah yang harus kita tempuh?” tanya salah seorang anggota Kaum Hidden yang ditugaskan untuk melakukan pemantauan.
“Seperti biasa, tugaskan para kurcaci membuat perangkap ilusi! Namun ingat, jangan libatkan mereka yang tidak punya kemampuan tinggi, karena musuh yang akan menyerang kali ini adalah para pendekar yang memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Aku tidak yakin bisa mengatasi mereka, jadi kalian harus berhati-hati!” Sin Toru kemudian memalingkan wajahnya ke arah Ryusa.
“Tetua Ryu,” teriak Sin Toru.
“Iya, Ketua!” jawab Ryusa.
“Cari asal suara seruling ini…! Kamu harus melumpuhkan dia secepatnya! Kalau tidak, kita tidak akan punya kesempatan untuk menang.
“Baik, Ketua.” Ryusa kemudian menghilang dari pandangan Sin Toru.
‘Kemana anak itu…? Kenapa dia belum muncul…?’ Sin Toru melayangkan pandangannya ke berbagai arah.
Tidak lama kemudian, Kibuki dan Nara tiba dan segera menghadap.
“Maaf atas keterlambatanku, Ketua,” ucap Nara sambil membungkuk.
“Dimana Firon, kenapa dia tidak datang bersamamu?”
__ADS_1
“A… Anu… Ketua.” Nara bingung bagaimana menjelaskan tentang apa yang telah menimpa Firon.
“Ada apa dengannya?”
“Di… Dia pingsan, Ketua.”
“Apa yang terjadi, kenapa dia bisa pingsan?”
“Dia memakan buah persik ungu, Ketua.”
‘Anak ini.’ Sin Toru sangat kecewa denga apa yang menimpa Firon. Padahal ia sangat berharap Firon bisa membantunya menyingkirkan musuh yang sebentar lagi akan tiba. Selain itu, ia juga berfikir bahwa ini akan menjadi momentum yang tepat bagi Firon untuk berlatih mengontrol tenaga dalam dan energi dewa yang ia miliki.
“Baiklah, sekarang kau pimpin Kaum Hidden menghadapi musuh!” Sin Toru kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Kibuki, “Dan kau, Kibuki. Pimpin kaum kurcaci…! Aku dan Tetua Sazaki yang akan menghadapi musuh yang memiliki kesaktian tinggi.” Sin Toru mengarahkan pandangannya ke arah Sazaki yang sejak tadi menunggu perintah.
Sementara itu, sekitar seratus meter dari tepi hutan, lebih dari seratus orang penunggang kuda tiba-tiba menghentikan langkah kudanya.
Masing-masing kelompok dipimpin oleh dua orang, kecuali kelompok berseragam hitam yang hanya dipimpin oleh satu orang.
"Tetua Goemon," sapa Kendo sambil tersenyum mengejek, "Sejak persekutuan Lima Perisai Emas dibentuk sepuluh tahun yang lalu, kau selalu saja sendirian memimpin tim-mu, apa tidak sebaiknya kau mencari pengganti Tetua Zen Kai?"
Goemon tidak menanggapi pertanyaan Kendo, ia mencoba menahan diri untuk tidak terlibat masalah dengan Tetua dari Klan Fujiwara itu.
"Hahahahaha..." Senjiro tidak dapat menahan diri untuk tidak terbahak-bahak, "Kau benar, Tetua Kendo. Mungkin ada baiknya kalau Tetua Zen Kai menjadi pemain seruling di Lembah Seribu Bunga saja! kami bersedia menggaji dia dengan gaji tinggi." Senjiro melanjutkan gelak tawanya.
Sejak dibentuknya Lima Perisai Emas, Senjiro memang tidak pernah akur dengan Goemon dan Zen Kai. Ia pernah punya masalah pribadi dengan kedua tetua dari Sekte Golok Angin itu di masa lalu. karenanya, ia sangat bahagia jika ada orang yang menindas kedua tetua tersebut.
“Tetua Otai… Apakah anda tidak merasa ini terlalu berlebihan?" tanya Watanabe kepada tetua Klan Fujiwara sekaligus pemimpin persekutuan Lima Perisai Emas itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Watanabe?!" ucap Otai lantang.
"Kenapa Kaisar Itamo mengumpulkan kembali Lima Perisai Emas, padahal kita hanya mengejar seorang bocah ingusan,” ucap Watanabe kesal.
" Watanabe, Aku tahu kau tidak suka meninggalkan Sekte Gunung Besi jika bukan karena hal yang sangat penting. Namun apa kau tahu, jika Sekte Cahaya Kemurnian mengetahui keberadaan anak dari mendiang Kaisar Nogugato itu, mereka pasti akan berada di pihak Klan Noguchi dan pasti akan berupaya untuk menggulingkan Kaisar Itamo," ungkap Otai.
Tetua dari Sekte Gunung Besi itu akhirnya mengerti apa tujuan Kaisar Itamo membentuk kembali Lima Perisai Emas.
Persekutuan yang bernama Lima Perisai Emas dan dicetus oleh Klan Fujiwara itu terdiri dari Klan Fujiwara dan empat sekte aliran hitam, Yakni Sekte Golok Angin, Sekte Gunung Besi, Sekte Mutiara Hitam dan Sekte Lembah Seribu Bunga.
Tidak jauh dari tempat para penunggang kuda itu menghentikan langkah kudanya, Sin Toru dan Sazaki sedang fokus mempelajari situasi dan mengamati kekuatan lawannya. Mereka berdua bertengger di puncak pohon tertinggi di tepi hutan.
Sazaki meoleh ke arah Sin Toru, "Ketua Sin, jika dilihat dari aura tenaga dalam yang terpancar di tubuh mereka, setidaknya ada enam orang diantara orang-orang itu yang memiliki derajat Pendekar Bumi dan tiga orang Pendekar Bulan tahap awal."
Derajat pendekar dibagi menjadi lima derajat, derajat pertama adalah Derajat Awam, yang kedua adalah Derajat Bumi, ketiga Derajat Bulan, keempat Derajat Langit dan yang kelima adalah Derajat Syurgawi.
Masing-masing Derajat juga punya tingkatan, yakni Tahap Awal, Tahap Inti dan Tahap Puncak. Artinya, tiap derajat harus melewati tiga tahap untuk naik ke derajat berikutnya.
" Tetua Sazaki, bukankah kau sudah mencapai Derajat Bulan?" tanya Sin Toru. Pandangannya masih tertuju kepada sekumpulan penunggang kuda yang masih belum bergerak diseberang sana.
"Belum, Ketua. Aku masih Derajat Bumi Tahap Puncak," jawab Sazaki.
"Kalau begitu, biar aku yang hadapi ketiga Pendekar Bulan itu! Kau yang hadapi keenam Pendekar Bumi itu! Nanti aku suruh Nara dan Kibuki untuk membantumu... Semoga tetua Ryu bisa secepatnya melumpuhkan peniup seruling itu. Jika tidak, kita semua tidak akan bisa melawan dengan kekuatan penuh." Sin toru kemudian melirik para kucaci dan Kaum Hidden yang sudah semakin sekarat akibat dari kekuatan gelombang suara Seruling Iblis.
"Tetua, lihat!" Ucapan Sazaki mengandung nada keterkejutan.
Sin Toru mengerutkan dahi. Ia setengah tidak percaya dengan apa yang ia saksikan dari atas puncak pohon. bagaimana tidak, Nara sedang menuangkan air ke kedua telinga semua orang yang sedang sekarat itu. bahkan orang yang tidak terdampak pun juga ia minta untuk menuangkan air ke kedua telinganya.
__ADS_1