
Saat Yongdai sedang mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang, tiba-tiba kabut tebal memenuhi hutan. Bersamaan dengan itu, suara cekikan wanita terdengar dimana-mana.
"Siapa yang telah berani membuat kekacauan di hutan ini?!" Puluhan gadis cantik berjubah putih tiba-tiba muncul di hadapan Yongdai.
Gadis-gadis cantik itu terbang kesana-kemari mengitari Yongdai yang sedang dalam posisi siaga untuk melancarkan serangan.
"Hey Kalian, berani sekali kalian mengganggu pertarungan kami! Pergi dari sini jika kalian masih ingin hidup!" hardik Yongdai. Pedang Ratu Iblis di tangannya dalam posisi siap digunakan untuk menyerang.
Suara cekikan para gadis itu bertambah riuh dan memekakkan telinga.
"Sialan, kalian benar-benar ingin mati ya!" teriak Yongdai. Ia kemudian menyerang para gadis itu dengan menggunakan Pedang Ratu Iblis.
Saat Pedang Ratu Iblis hampir menyentuh salah seorang dari puluhan gadis itu, tiba-tiba suasana menjadi berubah. Kabut tebal tiba-tiba menghilang. Hari berganti menjadi malam. Di hadapan Yongdai tiba-tiba muncul danau kecil yang tampak sangat indah. Danau itu memiliki air yang sangat jernih dan nampak kebiruan. Cahaya bulan redup menyinari danau itu. Belasan gadis cantik tak berbusana sedang mandi dengan riangnya.
Hasrat birahi Yongdai tiba-tiba memuncak. Jiwanya meronta. Ia ingin sekali mendekati para gadis cantik itu. Ingatannya akan kejadian beberapa waktu yang lalu benar-benar sirna. Ia tak ingat apa-apa. Ia benar-benar terhipnotis. Ia hanya ingin melampiaskan nafsu birahinya terhadap semua gadis cantik yang sedang mandi itu.
Cahaya dari energi Pedang Ratu Iblis di tangan Yongdai beransur meredup, lalu menghilang. Ia kemudian membiarkan pedang itu jatuh dari tangannya.
Yongdai kehilangan kesadaran. Ia melangkah mendekati danau sambil sesekali menelan ludah.
Saat kaki Yongdai menyentuh air di tepi danau, semua gadis cantik yang tadinya bermain-main air, menoleh ke arah Yongdai dengan senyuman menggoda.
Para gadis tanpa busana itu tidak segan-segan memperlihatkan dadanya dan bahkan sesekali dengan sengaja menyentuhnya dengan jemari sambil menatap Yongdai yang masih berdiri di tepi danau.
Tiga orang gadis berjalan menghampiri Yongdai. Semakin dekat ketiga gadis itu ke tepi danau, semakin terlihat pula seluruh tubuhnya yang indah nan molek.
Jantung Yongdai berdetak kencang. Salah seorang dari ketiga gadis tadi mendekatkan bibirnya di telinga Yongdai.
"Ikut kami mandi ya, sayang!" ajak gadis itu.
Yongdai hanya pasrah ketika ketiga gadis itu membawanya ke tengah danau.
__ADS_1
***
Di sisi lain, Firon yang masih terbaring di tanah, hanya bisa mengerutkan dahi ketika melihat Yongdai yang dengan sukarela dibawa pergi oleh para Kurcaci.
Bak gadis penari, belasan Kurcaci lainnya menari-nari di depan Firon. mereka terlihat seperti wanita malam yang sedang menggoda calon pelanggannya.
"Hey, kalian Manusia Pendek. Enyahlah dari sini. Aku muak melihat tingkah kalian!" pekik Firon.
Para Kurcaci itu mendadak diam. mereka semua terpaku memandang Firon.
"Kenapa kalian memandang aku seperti itu? Siang-siang menari seperti orang gila," ucap Firon sambil melangkah menghampiri para Kurcaci itu.
Para Kurcaci itu masih diam. Mereka tak bergeming sama sekali. Mereka benar-benar tidak menyangka, pemuda yang ada di depan mereka itu tidak terperdaya oleh Ilusi Hutan Terlarang
"Atau kalian memang gila ya?" tanya Firon mengejek.
Tiba-tiba, "Hahahahaa ... Aku salut padamu anak muda," ucap seseorang dari atas pohon.
"Orang tua ini, siapa dia?" tanya Firon dalam hati. Wajah orang tua itu mengingatkannya dengan seseorang.
"Baru kali ini ada orang yang berhasil lolos dari jerat Ilusi Hutan Terlarang." Orang tua itu melangkah menghampiri Firon. "Tapi sayang, temanmu tidak berhasil melaluinya," sambung orang tua itu.
Orang tua itu terus melangkah. Tak ada sedikitpun rasa was-was di hatinya. Ia bahkan terlihat sangat santai ketika berjalan menghampiri Firon.
"Apa-apaan orang ini? Dia sungguh meremehkan aku," ucap Firon dalam hatinya.
"Hey kau, anak muda!" orang tua itu memanggil Firon.
Firon tidak menyahut. Ia justru memandangi orang tua yang memanggilnya itu dengan pandangan yang dalam. "Siapa orang tua ini? Kenapa dia mirip sekali dengan kakek?" tanyanya dalam hati.
"Siapa namamu? Dan dari mana asalmu, anak muda?" tanya orang tua yang terlihat penasaran itu.
__ADS_1
"Namaku Firon. Aku dari Lembah Teratai." jawab Firon.
Raut wajah orang tua itu tiba-tiba berubah. Ia mengerutkan dahi. Bukan karena kemampuan ilmu telepati Firon yang membuat orang tua itu berubah drastis, melainkan jawaban Firon mengenai tempat asalnya.
"Lembah Teratai ...? Jangan-jangan kamu?" Orang tua itu tiba-tiba menghentikan ucapannya. Ia masih belum yakin dengan apa yang terlintas di benaknya.
"Maaf Kek, aku juga ingin bertanya ...? Apa hubunganmu dengan Kakek Sin? tanya Firon melalui ilmu telepati.
" Sin ...? Sin, siapa maksudmu, anak muda?" tanya orang tua itu. Ia tampak semakin penasaran.
"Sin Toga," jawab Firon ringkas.
Orang tua itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak setelah mendengar jawaban Firon.
"Sudah aku duga. Ternyata, kau memang cucu si tua bangka itu," teriak orang tua itu bangga.
Firon berdecak kesal mendengar kakeknya disebut si tua bangka. "Apa kau mengenal kakekku?"
"Tentu saja, karena dia adalah adikku." Orang tua itu kemudian memperkenal diri, "Namaku Sin Toru. Meskipun kami tidak begitu dekat dan pemikiran kami tidak sejalan, namun dia adalah satu-satunya saudara yang aku punya."
Sin Toru kemudian menceritakan bahwa, Dahulu ia adalah Menteri Pengawas Bumi sebelum digantikan oleh adiknya, Sin Toga. Ia kemudian mengundurkan diri dari jabatannya dan memilih tinggal di bumi dan menjadi makhluk fana. Ia tidak ingin mengabdi kepada Raja yang tidak sejalan dengan pemikirannya.
Sin Toru juga menceritakan, bahwa Raja Langit terdahulu adalah seorang dewa dari keturunan Keluarga Sin di langit. Namun Keluarga Yong, yakni keluarga dari Raja Langit yang sekarang, membuat fitnah yang memaksa Raja Langit Sin Fong mengundurkan diri.
Sin Toga dan Sin Rara adalah dewa yang tersisa dari Keluarga Sin yang masih bekerja di istana.
"Walaupun aku belum punya bukti, namun aku yakin, semua yang menimpa ibu dan kakekmu adalah ulah Raja Langit. Dia ingin menyingkirkan semua Keluarga Sin di istana," ucap Sin Toru menutup ceritanya.
"Terima kasih sudah bercerita, Kek. Tapi tolong lepaskan teman aku, Kek. Kami harus segera menemui seseorang yang amat penting. Dan kami masih harus menempuh perjalanan yang cukup jauh," ucap Firon.
"Maksudmu, orang ini?" Sin Toru memberi aba-aba terhadap dua orang yang berdiri dibelakangnya, untuk segera maju ke depan.
__ADS_1