
‘hah, kau benar-benar menangis?’ Firon tertawa tanpa mengeluarkan suara tawa memandangi sahabatnya.
“Saudara Firon, kau menertawaiku?” Ucap Noguchi sambil menangis.
‘Baik, aku minta maaf. Tadi aku sengaja menyandarkanmu di atas pohon karena aku khawatir kalau meletakkanmu di bawah, nanti ada binatang buas yang menyerangmu’ Firon mencoba menenangkan sahabatnya. Ia menyodorkan ikaan bakar yang dibawanya kepada Noguchi.
‘Tadi ada orang baik yang memberikan ini, kau makanlah! Kau tentu lapar?!’
Firon kemudian melangkah membelakangi Noguchi yang baru saja mengambil ikan bakar dari tangannya. Ia tidak ingin mengganggu sahabatnya yang masih terisak-isak sambil memegang ikan.
“Saudara Firon, bagaimana denganmu?” Tanya Noguchi.
‘Itu untukmu! aku sudah makan. Aku pergi dulu sebentar!’ Firon mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh. Ia kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena pertanyaan Noguchi barusan.
‘Dia masih disana! Siapa orang itu’ Firon menggumam. Ia semakin penasaran dengan Ryusa. Ia ingin menemui Ryusa sekali lagi. Namun ia ragu, ia tidak tahu dari mana keyakinannya berasal, namun ia benar-benar yakin kalau Ryusa punya maksud tertentu.
Dari jarak lebih dari satu mil, Firon terus menerus memperhatikan Ryusa yang masih duduk diam tanpa berbuat apa-apa.
Firon tersentak kaget ketika tiba-tiba Ryusa memandang ke arahnya.
‘Jangan-jangan dia bisa melihatku?’ Firon sempat mengalihkan pandangannya sebelum ia memperhatikan kembali Ryusa dari jauh.
Ryusa kemudian bangkit dan meraih ranting kayu kering yang berada di dekatnya. Ia kemudian mulai menulis sesuatu di atas tanah.
“Padamlah ketika pesan ini sampai pada tujuannya!” bisik Ryusa. Ia kemudian melangkah meninggalkan tempat itu.
‘Apa yang dia lakukan? Sepertinya, tadi dia mengucapkan sesuatu. tapi kenapa aku tak dapat mendengar apa yang ia katakan?’ Firon bertambah bingung dan penasaran.
“Firon! Dimana kau?”
Pikiran Firon pecah karena mendengar suara Noguchi yang sedang mencari dirinya.
Firon kemudian melesat ke arah suara sahabatnya memanggil.
__ADS_1
‘Ada apa saudara Nogu?’ Terdengar suara Firon di kepala Noguchi.
‘Aku disini! Di atas pohon yang berada didepanmu’
Noguchi kemudian menoleh ke atas pohon yang ada di depannya. Ia melihat Firon sedang tersenyum lebar ke arahnya.
“Apa yang kau lakukan di situ? Ayo kita tinggalkan tempat ini!” Teriak Noguchi kesal. Sudah beberapa kali Firon membuat Noguchi kesal. Pertama ketika Firon menyeretnya menggunakan ilmu meringankan tubuh yang membuatnya pingsan. Kedua, saat dirinya diletakkan di atas dahan pohon yang membuatnya nyaris mati karena jatuh dari ketinggian. Dan terakhir, ketika Firon meninggalkannya dan membuatnya harus berteriak-teriak di tengah hutan.
Firon kemudian melompat dan mendarat tepat di depan Noguchi.
‘Ikut aku!’ Seru Firon
“Kita mau kemana?” Noguchi bernada ketus.
‘Ikut saja, nanti juga kamu akan tahu!’ Jawab Firon sambil tersenyum ke arah sahabatnya yang masih bermasam muka di hadapannya.
Firon kemudian melangkah menuju tempat Ryusa memberinya ikan tadi. Ia sungguh penasaran, apa yang dilakukan oleh Ryusa sebelum meninggalkan tempat itu tadi.
Sesampainya di tempat yang ia tuju, Firon kemudian memeriksa apa yang ditulis oleh Ryusa di atas permukaan tanah. Dan benar saja, di atas tanah itu terdapat goresan yang bertuliskan.
“Jika kau ingin dapat berbicara lagi, maka temui aku di celah gunung Kiso dan Koto! Jangan Lupa bawa temanmu juga ada rahasia besar yang harus dia ketahui!”
Firon mengerutkan dahi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
‘Ternyata benar dugaanku!’ Firon kemudian menengadah memandang langit. Seolah-olah ia sedang memandang seseorang di atas sana.
Noguchi yang tiba belakangan di tempat itu langsung menghampiri Firon yang tampak kebingungan.
“Ada apa?” Tanya Noguchi yang menyadari kebingungan sahabatnya.
Firon tidak menjawab, ia hanya mengacungkan jari telunjuknya ke arah goresan di atas tanah yang berada di hadapannya.
Noguchi kemudian membaca tulisan itu dengan sedikit terbata-bata. Ia memang tidak terlalu lancar membaca. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia bisa membaca. padahal sejauh ingatannya, ia tidak pernah belajar membaca.
__ADS_1
Pesan yang tertulis di atas tanah itu kemudian menghilang seketika sesaat setelah Noguchi membaca tulisan itu. Permukaan tanah itu terlihat tidak pernah terjamah sama sekali. Seakan-akan tidak pernah ada tulisan di atasnya.
“Apa yang terjadi?” Noguchi mengerutkan dahi.
‘Tidak ada jalan lain, kita harus menemui orang itu!’ Seru Firon terlihat serius.
“Tapi saudara Firon, apa kau tidak takut terhadap dia? Dia mengetahui bahwa kau tidak dapat berbicara, padahal tidak ada yang tahu hal itu kecuali aku. Dan satu lagi, dia juga mengetahui sesuatu tentang aku, padahal aku bukan siapa-siapa!” Tutur Noguchi mengutarakan pendapatnya.
‘Kita harus menemuinya! Kita harus mengetahui jawabannya! Apa pun resikonya!’ Seru Firon antusias.
“baiklah, aku juga ingin tahu, siapa aku sebenarnya! Aku ingin tahu kenapa pendekar itu mengetahui sesuatu tentang aku!” Noguchi kelihatan tidak kalah antusias dari Firon. Meskipun ia tidak punya ilmu bela diri, namun entah kenapa ia merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya tidak gentar untuk menghadapi sesuatu yang ada di depannya.
‘Bagaimana rencana sebelumnya?’ Firon mengingatkan Noguchi tentang tujuannya mendatangi Kota Nikoto.
“Mengenai hal itu, kita tunda dulu! Ayo berangkat!” Seru Noguchi sangat antusias. Ia kemudian melangkah mendahului Firon.
Firon hanya berdiri mematung memandang sahabatnya yang sudah melenggang pergi meninggalkannya.
‘Hey kau, mau kemana? Apa kau tahu kemana arah yang akan kita tuju?’
Suara Firon yang terdengar di kepala Noguchi, sontak membuat Noguchi menghentikan langkahnya. Ia lalu memutar badannya ke arah sahabatnya yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
‘Iya yah? Kenapa aku jadi bodoh begini?’ Gumam Noguchi dalam hati sambil tersipu malu ke arah Firon.
Firon tersenyum lebar melihat sahabatnya yang salah tingkah. Ia kemudian mengeluarkan bungkusan dari balik bajunya dan mengambil dua gulungan dari dalam bungkusan itu. Ia kemudian mengambil posisi jongkok sambil menghamparkan kedua peta yang ada di tangannya.
Baru kali ini Firon memandangi kedua peta pemberian kakeknya itu dengan seksama. Terlihat perbedaan yang sangat besar dari kedua peta itu.
Noguchi yang baru tiba juga mengambil posisi jongkok dan memperhatikan kedua peta itu dengan seksama. Ia menyadari betul bahwa, kedua peta itu memiliki persamaan, namun perbedaan di antara kedua peta itu lebih menonjol.
“Dari mana kau mendapatkan benda ini Saudara Firon?” Tanya Noguchi penasaran.
Firon tidak menjawab pertanyaan sahabatnya. Ia hanya tersenyum lembut. Menurutnya, belum saatnya Noguchi mengetahui siapa dia sebenarnya.
__ADS_1