Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 35 - Kota Hidden III


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu sejak Firon menjalani latihan keras di Pulau Batu Sembilan. Ia berlatih mengendalikan kekuatan mata dan pendengarannya di bawa bimbingan Sin Toru.


Pulau tempat Firon berlatih itu disebut Pulau Batu Sembilan karena letaknya berada di posisi ke Sembilan di antara gugusan batu-batu besar yang ada di Danau Hidden. Luas Pulau Batu Sembilan hanya sekitar seribu meter persegi. Tidak ada bangunan yang berdiri di atasnya karena suhu di pulau itu jauh lebih panas dari pulau-pulau lainnya. Karena itu, pulau itu hanya digunakan sebagai tempat untuk melatih ilmu bela diri oleh Kaum Hidden sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan sebelum Sin Toru diangkat menjadi ketua Kota Hidden.


“Firon, jika kau ingin suaramu kembali seperti sedia kala, maka kau harus bisa mengendalikan kekuatan mata dan telingamu dengan sempurna. Untuk itu, kau harus bisa menggabungkan antara energi dewa dan tenaga dalam murni yang ada dalam tubuhmu.”


Sin Toru kemudian menjelaskan, bahwa energi dewa yang diberikan oleh Sin Toga dalam jumlah yang sangat banyak itu, telah mengacaukan rangkaian energi murni dalam tubuhnya. Akibatnya, Firon tidak mampu mengendalikan kekuatannya dengan baik. Dan bahkan jika dibiarkan,bukan hanya suara Firon yang hilang, namun ia juga akan mengalami kelumpuhan pada semua organ tubuhnya.


“Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya, kek?” tanya Firon.


“Kamu harus punya senjata pusaka yang cukup kuat dan mampu bertahan ketika dialiri energi dewa dan tenaga dalam murni secara bersamaan. Pusaka itulah yang akan menjadi sarana untuk melatih dirimu memusatkan dua energi berbeda dalam satu titik.”


“Pedang Langit pasti sangat cocok, tapi kakek tidak pernah memberitahu aku dimana ibu menyembunyikan


pedang itu,” ucap Firon. Wajahnya tiba-tiba menjadi murung.


“Aku juga bingung, apa tujuan kakekmu sebenarnya. Bukan hanya membahayakan nyawamu dengan memasukkan begitu besar energi dewa ke dalam tubuhmu, ia juga menyembunyikan sesuatu yang seharusnya kau ketahui … tapi kurasa, kakekmu punya alasan tersendiri.”


Firon menatap kosong ke arah dinding-dinding bebatuan yang mengelilingi Kota Hidden. Peritiwa buruk


yang menimpa Kota Penyu sepuluh tahun yang lalu, tiba-tiba mengisi benaknya. Ia merindukan kedua orang tuanya.


“Sebenarnya aku tahu dimana ibumu menyembunyikan Pedang Langit,” ucap Sin Toru.


Firon tersentak. Ia segera menghampiri Sin Toru dengan wajah yang penuh semangat.


“Kakek yakin?”


“Ya, Pedang Langit adalah pusaka yang berasal dari langit. Namun aku tidak bisa merasakan energinya, padahal seharusnya aku bisa merasakan energi dari semua benda yang berasal dari langit. Hanya ada satu tempat di bumi ini yang bisa menyembunyikan energi Pedang Langit,” jelas Sin Toru.


“Dimana, Kek?”


“Di Palung Neraka.”


“Palung Neraka?”


“Iya, Palung Neraka adalah tempat yang terdalam di bumi. Airnya sangat dingin. Tidak ada makhluk hidup yang bisa hidup disana. Kedalamannya sekitar ratusan mil dari permukaan laut.”

__ADS_1


“Kakek tahu dimana tepatnya palung itu berada?”


“Palung itu berada di sebuah danau di dekat Kota Lombonggia. Tapi itu dulu, sebelum bencana dahsyat melanda bumi. Kota itu sekarang sudah menjadi lautan dan tidak ada yang tahu letak persisnya.”


Setelah mendengar penjelasan Sin Toru, Firon kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.


“Kakek bisa menunjukkan aku dimana tempatnya,” pinta Firon sambil menghamparkan dua buah gulungan di atas lantai.


Sin Toru hanya bisa mengerutkan dahi melihat Firon menghamparkan dua buah peta di hadapannya. Ia kemudian menghampiri kedua peta itu dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah salah satu peta itu.


“Posisinya disini,” ucap Sin Toga.


“Berarti posisinya disini, berhampiran dengan Benua Merah.” Firon menunjuk peta yang berbeda.


“Ya, kau benar. Tapi kau tidak akan mampu sampai ke dasar palung itu jika kondisimu masih seperti ini. Kau harus bisa menggabungkan antara energi dewa dan tenaga dalam murni yang ada dalam tubuhmu terlebih dahulu,” ungkap Sin Toru sambil memegang pundak Firon.


“Terus apa yang harus aku lakukan sekarang, Kek?” tanya Firon.


“Kau masih ingat dengan orang yang bertarung denganmu tempo hari? Kau bisa menggunakan pedang miliknya! Kelihatannya pedang ini cukup kuat.” Sebuah pedang tiba-tiba muncul di telapak tangan Sin Toru.


“Maksud Kakek, Pedang Ratu Iblis milik tetua Kelompok Iblis Gunung itu?”


Firon meraih pedang itu dengan gelagat yang terlihat sedikit ragu. Ia kemudian memandangi pedang yang ada di tangannya itu dengan seksama.


“Tapi jangan berlatih disini!”


“Kenapa, Kek?”


“Kau bisa merusak keindahan tempat ini. Lebih baik kau berlatih di-“ Ucapan Sin Toru tiba-tiba terhenti. Seekor burung elang raksasa tiba-tiba mendarat di belakangnya. Seorang Kurcaci terlihat menunggangi


burung elang raksasa itu. Kurcaci itu kemudian menyampaikan sesuatu menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh Firon.


“Sepertinya, tempatmu untuk berlatih telah ditentukan,” ucap Sin Toru sesaat setelah Kurcaci itu menyampaikan sesuatu.


“Maksud kakek?”tanya Firon.


“Kau ikut dia! Dia akan menunjukkan tempatnya,” ucap Sin Toru. Ia kemudian melesat meninggalkan Firon.

__ADS_1


**


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya salah satu rekan Yatsu. Gadis bertubuh mungil dan berkulit putih itu diselimuti kegelisahan. Ia bersama keenam rekannya sedang memandangi Hutan Terlarang yang dipenuhi kabut tebal.


“ Kau diam saja dulu! Aku sedang berpikir,” ucap Yatsu ketus.


“Miya, kamu jangan membuat Kapten bertambah bingung!” ucap seorang pria bertubuh kekar yang berada


di belakang Yatsu.


“Ningju, aku juga tidak ingin membuat Kapten Yatsu bertambah bingung, tapi apa kau tidak ingat ucapan Tetua Goemon tiga hari yang lalu? Waktu kita tinggal empat hari, kalau tidak, kita semua akan mati,” balas Miya geram.


“Kau ini, apa kau tidak bisa di-“ Ningju tiba-tiba berhenti bicara.


“Ningju, sudah,” ucap Yatsu memotong. “Jangan berdebat! Biarkan saja Miya!” lanjutnya.


Miya melontarkan senyum kemenangan ke arah Ningju, sedangkan Ningju hanya bisa mengutuk Miya dalam hatinya.


“Begini … kita akan memancing penghuni hutan itu agar mau keluar,” ucap Yatsu antusias.


“Caranya?” tanya Miya.


Yatsu tidak menanggapi pertanyaan Miya. Ia memutar badannya ke arah belakang.


“Yugo, Yura, Momo, Nagato. Ratakan hutan itu! Aku tidak ingin melihat ada sebatang pohon pun berdiri disana!” perintah Yatsu kepada empat rekannya yang dari tadi hanya diam.


Yugo, Yura, Momo dan Nagato langsung bangkit dan melangkah dengan penuh waspada mendekati hutan. Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah dari tepi Hutan Terlarang, tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar dari dalam hutan.


“Berani sekali kalian mendekati hutan ini!”


Mereka berempat menghentikan langkah dan saling berpandangan. Kecuali Nagato, ketiga rekannya kelihatan


kehilangan nyali.


“Kalian jangan takut! Kita tidak punya pilihan lain. Walau bagaimanapun kita tetap akan mati jika tidak membawa kepala anak itu di hadapan kaisar.”


Nagato kemudian menghunus pedangnya dan mulai mengeluarkan jurus.

__ADS_1


Ketiga rekan Nagato yang tadinya nampak ciut, juga turut mengeluarkan senjatanya masing-masing dan segera memasang jurus.


__ADS_2