
Setelah berada sekitar belasan meter dari para penjaga, Noguchi kemudian membalikkan badan dan berlari kencang ke arah Firon.
‘Ayo, kita pergi dari sini!’ Firon memegang tangan Noguchi yang masih ngos-ngosan dan baru saja tiba.
“Tapi?”
Belum sempat Noguchi menyelesaikan perkataannya, Firon sudah menyeret tubuhnya secepat kilat. Hanya dengan hitungan detik, mereka berdua sudah sampai di luar kota.
Firon kemudian menyandarkan tubuh Noguchi yang tidak sadarkan diri di batang Pohon Kriptomeria. Ia kemudian melompat ke puncak pohon Kriptomeria raksasa itu.
Posisi Firon berdiri tepat di puncak pohon Kriptomeria yang berusia ribuan tahun itu sangat strategis untuk mengawasi pergerakan di gerbang kota.
Meski jarak antara gerbang kota dan tempatnya berdiri sekitar beberapa mil, namun dengan kekuatan matanya, Firon mampu melihat orang-orang yang berada disekitaran gerbang dengan amat jelas.
Setelah yakin bahwa tidak ada pergerakan apa-apa dari arah kota, Firon kemudian memutuskan turun dan menghampiri Noguchi yang masih bersandar di pohon dalam keadaan tak sadarkan diri.
Setelah memandang sahabatnya beberapa saat, Firon kemudian memandang ke perutnya lalu memegangnya. Terdengar suara perutnya memberi aba-aba bahwa ia sedang kelaparan.
Senyum tipis menghiasi bibir Firon sebelum ia mengangkat Noguchi ke atas pohon lalu menyandarkannya ke pohon dengan berlandaskan salah satu dahan raksasa pohon Kriptomeria itu.
‘kau tunggu disini ya! Aku akan segera kembali’ Gumam Firon. Ia kemudian meloncat ke dahan yang lebih tinggi dan sekali lagi mengarahkan pandangannya ke arah gerbang kota.
Firon memegang dagunya sembari memandang langit dan berfikir.
‘Bagaimana ya caranya agar aku bisa mendapatkan makanan tanpa membuat seseorang menyadari keanehan pada mataku?’ Firon bingung. Rasa lapar menguasainya. Ia kemudian meraba bungkusan yang berada di balik baju yang ia kenakan.
‘Ternyata uang pemberian kakek masih utuh’ Terlihat ratusan keping koin emas dan dua lembar gulungan peta di dalam bungkusan tersebut.
‘Kalau aku menggunakan uang ini, pasti akan menarik perhatian’ Firon menggaruk kepalanya sebelum mengikat kembali bungkusan miliknya lalu menyembunyikannya di balik bajunya.
__ADS_1
‘Aku harus cari cara lain! Sabar ya!’ gumamnya sambil menepuk-nepuk perutnya yang terus mengeluarkan bunyi, seolah-olah berteriak meminta makanan.
Firon kemudian meninggalkan Noguchi di atas pohon Kriptomeria dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Sekitar satu mil sebelum ia mencapai gerbang kota, Firon kemudian melihat kepulan asap kecil dan seorang lelaki separuh baya sedang memanggang ikan.
Aroma ikan bakar yang memenuhi langit tempat ia lewat, benar-benar mengusik hidungnya. Tanpa berfikir panjang, Firon kemudian mendaratkan kakinya tidak jauh dari sumber aroma. Terlihat lelaki paruh baya sedang duduk memandangi tiga ekor ikan sebesar telapak tangan orang dewasa, sedang terpanggang di atas api.
Firon melangkah perlahan sambil menelan ludah. Ia sudah tidak sanggup menahan lapar. Setelah ia melihat lelaki paruh baya yang mengenakan kimono usang duduk tenang memjamkan mata, batin Firon kemudian berontak untuk tidak mendekati orang asing itu. Ia kemudian bersembunyi di balik batu besar sambil mengintip lelaki paruh
baya yang masih diam memejamkan mata. Sesekali ia menelan ludah sambil memandangi tiga ekor ikan yang terpanggan dan hampir matang.
“Anak muda, kau kelihatannya sangat lapar! Kalau mau, kau bisa ke sini menemani aku makan!”
Firon tersentak kaget, ia benar-benar tidak menyangka kalau lelaki paruh baya itu menyadari keberadaannya.
“Tidak perlu sungkan! Aku tidak bisa menghabisi ikan ini!”
Firon sangat gembira mendengar undangan makan yang dilontarkan oleh lelaki separuh baya itu. Ia kemudian melangkah perlahan mendekati orang yang mengundangnya.
‘Bagaimana aku akan berkomunikasi dengan orang ini’ tanya Firon dalam hati.
“Ayo, aku juga sudah lapar” Lelaki paruh baya itu kemudian meraih seekor ikan dari atas api, ia lalu menyantap sambil meniup-niup ikan itu sesekali.
Firon yang sudah sejak tadi dikuasai rasa lapar, kemudian ikut meraih salah seekor ikan yang masih terpanggang di atas api. Ia terlihat ragu untuk memakan ikan yang sudah ada ditangannya itu.
“Anak muda, silahkan dimakan! Kalau kau ragu, aku bisa mencicipinya terlebih dahulu!” Lelaki paruh baya itu sangat memahami dilema yang dialami Firon. Ia kemudian meminta izin kepada Firon untuk mencubit sedikit daging ikan panggang itu, lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
“Bagaimana, kau sudah percaya anak muda?”
Tanpa berfikir panjang lagi, Firon kemudian menyantap ikan panggang yang sudah agak dingin itu.
__ADS_1
“Bagaimana, enak bukan? Kau bisa memakan yang satunya lagi!” Ucap Lelaki paruh baya itu sambil mengarahkan wajahnya ke ikan yang masih terpanggang di atas api.
Firon yang masih mencicipi ikan panggang yang nyaris tinggal tulang itu, menoleh ke arah ikan yang masih terpanggang.
“Oyah, kenalkan, namaku Ryusa, kau bisa memanggilku Ryu, atau paman Ryu kalau kau tidak keberatan!” Ungkap lelaki paruh baya itu sambil meraih ikan yang masih tersisa dan menyodorkannya kepada Firon.
Dengan sedikit ragu, Firon kemudian meraih ikan itu sambil menunduk tanda terima kasih. Ia kemudian bangkit dan melangkah dua langkah sebelum memutar badannya kembali dan menunduk ke arah Ryusa sebagai tanda terima kasih sekali lagi.
Ryusa hanya tersenyum lembut menyaksikan pemuda yang ia tolong pergi tanpa pernah mengucapkan sepatah kata.
Kali ini, Firon berjalan normal cukup jauh. Benaknya tertanya-tanya. Ia penasaran dengan orang yang baru saja ia temui.
‘Mungkinkah ini hanya kebetulan?’
‘Kenapa orang itu menolongku?’
‘Apa dia tidak menyadari keanehan mataku?’
Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Firon. Ia benar-benar dibuat penasaran oleh Ryusa. Sikap Ryusa yang sangat santai dan ramah kepadanya membuatnya yakin bahwa Ryusa bukan orang biasa dan punya maksud tertentu.
‘Sebaiknya aku bergegas sebelum saudara Nogu sadar!’ Fikirnya Noguchi. Ia khawatir Noguchi bisa jatuh dari Pohon Kriptomeria kalau sampai ia bertindak gegabah.
Benar saja, ketika jarak antara dirinya dan pohon Kriptomeria tinggal ratusan meter, suara teriakan Noguchi terdengar menggema di udara. Firon kemudian melesat dengan kecepatan tinggi. Ia meraih tubuh Noguchi yang sedang terjatuh dari atas pohon.
‘Huff, untung masih sempat. Kalau tidak, Saudara Nogu bisa mati’ Gumam Firon setelah berhasil menangkap tubuh Noguchi yang hampir menghantam tanah.
“Tidak..tidak..tidak…..” Noguchi masih berteriak-teriak karena mengira dirinya akan mati menghantam tanah.
‘Saudara Nogu, saudara Nogu, kau baik-baik saja!’ Firon menepuk-nepuk punggung Noguchi.
__ADS_1
“haahh, a aku se selamat!” Suara Noguchi bergetar. Matanya berkaca-kaca. Ia mengira dirinya akan mati.
‘Saudara Nogu, kau menangis?’ Firon tersenyum lembut memandang Noguchi yang tengah berusaha menahan tangis. Ia baru menyadari kalau sahabatnya itu tidak saja polos dan naif, tapi juga cengeng.