Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 18 - Penginapan Bulan Sabit II


__ADS_3

Jenderal Lee terlihat tersenyum melihat kakaknya diliputi kebimbangan. Ia tahu bahwa Aron pasti tidak akan bersedia pulang ke Desa Air Terjun karena istri yang sangat ia cintai adalah pemimpin sekaligus pendiri Kota Penyu.


Jenderal Lee juga bisa melihat bahwa hal yang sama juga dialami oleh kakak iparnya. Meskipun kakak iparnya itu pintar menyembunyikan kebimbangannya.


“Oya.. kita cicipi masakan yang enak ini sambil berbincang-bincang!” Ucap Jenderal Lee memecah keheningan. Ia kemudian menyantap hidangan tersebut terlebih dahulu.


Melihat adiknya menyantap makanan yang baru datang itu, tanpa berpikir panjang Aron langsung mengambil seketul daging paha ayam yang berada persisi didepannya. Ia lalu menyantap daging ayam itu dengan lahap. Ia mencoba menghindar dari menjawab pertanyaan ayahnya.


Dewi Rara dan Ketua Jo kemudian ikut menimati hidangan yang ada. mereka begitu lahap, mereka bertiga memang sudah beberapa hari tidak makan makanan yang lezat.


“Aron.. ayah tahu apa yang sedang kau pikirkan. Kau harus berterima kasih kepada adikmu Lee. Karena dia telah bersedia pulang, maka dari itu aku tidak akan memaksamu untuk pulang. Lebih baik kamu tetap di Kota Penyu untuk membantu istrimu. Mungkin suatu saat nanti kalian bisa membantu Desa Air Terjun!” Ucap Ketua Jo sambil


tersenyum ke arah Aron yang dari tadi terlihat gelisah.


Ucapan Ketua Jo sontak membuat Aron gembira dan lega.


“Terima kasih ayah. Kami akan selalu membantu Desa Air Terjun jika dibutuhkan!” Ucap Aron merasa bersyukur.


“Lee, terima kasih karena kau bersedia pulang!” Ucap Aron sambil tersenyum hangat kepada adiknya. Rasa kesal yang ia tujukan kepada adiknya kini telah sirna. Ia benar-benar bersyukur karena menurutnya kini, Lee tidak seperti seburuk yang ia kira.


“Hahaha.. kakak terlalu naif, ini tidak seperti yang kau kira. Namun aku rasa, kau memang harus berterima kasih padaku, karena sebentar lagi kau, ayah dan istrimu ini tidak perlu memikirkan apapun lagi!” Jenderal Lee terkekeh.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, keringat yang tidak biasa membasahi tubuh Aron, Ketua Jo dan Dewi Rara. Setiap pori-pori di kulit ketiganya mengeluarkan keringat yang berwarna ungu dan berbau busuk.


“Apa yang kau lakukan?!” Teriak Aron sambil menahan rasa sakit yang dialaminya menggunakan tenaga dalam dari energi dewa yang dimilikinya.


“Lee.. apa maksudmu hah? Inilah kenapa leluhur Klan Gojo membuat aturan melarang seluruh anggota klan untuk tidak ikut serta dalam perpolitikan! Politik hanya membuat hampir semua orang yang terjun di dalamnya menjadi manusia biadab ” Teriak Ketua Jo yang sudah terkapar tak berdaya di lantai. Tenaga dalam yang ia miliki tidak mampu menahan dahsyatnya racun yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya.


“Sungguh biadab, kau sanggup melakukan ini pada ayah dan saudaramu. Kau sungguh tidak layak disebut manusia!” Dewi Rara sudah menduga kalau Jenderal Lee punya niat yang jahat terhadap mereka. Namun Dewi tidak menduga tindakan Jenderal Lee akan sejauh ini.


“Hahahaha.. katakan apa yang ingin kalian katakan, aku tidak peduli. sebentar lagi kalian akan mati!. Oya, aku ingin menceritakan sebuah kebenaran sebelum kalian mati!” Jenderal Lee melangkah mendekati ayahnya yang hampir kehilangan kesadaran.


Jenderal Lee kemudian menceritakan bahwa dia membunuh para pendekar Klan Gojo dengan cara meracuni mereka dengan racun yang sama. Dia membunuh para pendekar Klan Gojo karena para pendekar tersebut tidak membiarkannya untuk bergabung dengan Klan Mojo yang hendak mendirikan kekaisaran.


“Salah mereka sendiri karena tidak mau mendengarkan aku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangi rencanaku untuk menguasai Benua Kuning, hahahahaaha!” Jenderal Lee terkekeh sambil memandang sinis ke arah Ketua Jo.


“Kau lihat sendiri Dewi? pada dasarnya beginilah sifat manusia, mereka hanya mementingkan diri sendiri dan sanggup melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan” Sesosok perempuan tiba-tiba hadir di samping Dewi Rara. Perempuan itu mengenakan pakaian serba merah dan rambut yang berwarna merah menjuntai panjang hingga di paha perempuan tersebut. Dua tanduk berwarna hitam pekat menghiasi kepalanya dan dua sayap lebar dengan bulu yang berwarna merah gelap menghiasi punggungnya.


“Kau siapa?!” Dewi Rara bertanya kepada sosok perempuan yang tiba-tiba muncul di sampingnya itu.


“Nanti aku ceritakan, aku hadir untuk membawamu dari sini!” Ucap perempuan yang masih enggan menyebutkan identitasnya itu.


“Bagaimana dengan orang itu?” Dewi Rara memalingkan wajahnya ke arah Jenderal Lee.

__ADS_1


“Tenang saja. Dia tidak akan menyadarinya. Lagipula dia tidak dapat melihatku” Jelas perempuan itu lagi.


“Baiklah, tapi aku hanya akan pergi dari sini jika suami dan ayah mertuaku juga ikut bersamaku!” Dewi Rara mengalihkan pandangannya ke arah Aron dan Ketua Jo.


“Baiklah, itu sangat mudah bagiku!” Ucap perempuan itu seraya menghilang.


Bersamaan dengan menghilangnya sosok perempuan misterius itu, Aron, Dewi Rara dan Ketua Jo juga ikut menghilang tanpa jejak.


“Dimana mereka? Apa yang terjadi?” Teriak Jenderal Lee syok melihat ketiga targetnya tiba-tiba menghilang begitu saja.


“Tenang Jenderal! Walaupun mereka berhasil  lolos dari sini, mereka tidak akan selamat dari ganasnya Racun Dewa Maut milik Klan Sino!”  Sesosok pria berpakaian serba hitam kemudian muncul di hadapan Jenderal Lee dan memuji racun milik klannya.


Racun Dewa Maut adalah racun buatan Klan Sino yang terkenal sangat ganas dan mematikan.


Klan Sino sendiri adalah klan yang berasal dari wilayah timur bumi yang daratannya kini telah menjadi lautan akibat bencana besar yang terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Anggota Klan Sino yang selamat kemudian bertransmigrasi ke sebuah pulau yang hanya puluhan mil dari bibir pantai benua kuning sebelah timur. Beberapa tahun yang lalu. Jenderal Lee berhasil menundukkan dan menjadikan Klan Sino sebagai abdinya.


“Tuan Obi, Bagaimanapun aku ingin melihat mayat mereka. Aku ingin memastikan bahwa mereka memang sudah tewas!” Jenderal Lee menatap tajam ke arah lelaki bertopeng yang ada di hadapannya itu.


“Baiklah tuan, aku akan segera membawa mayat mereka ke hadapan anda!” Ucap Tuan Obi seraya menghilang.


Saat menggunakan tenaga dalam untuk menahan racun yang masuk ke dalam tubuhnya, Aron terperanjat oleh sesuatu yang menyentuhnya. Ia bertambah terkejut saat menyadari dirinya tidak lagi berada di Penginapan Bulan Sabit.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” Aron bingung . Ia kemudian menyadari bahwa bukan hanya dirinya saja yang tiba-tiba beralih tempat.


Aron kemudian memandangi sesosok makhluk bersayap yang sedang memegang punggung istrinya dan mengalirkan energi. Ia menyadari bahwa makhluk itu sedang berusaha menolong istrinya.


__ADS_2