Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 25 - Lembah Kupu-Kupu


__ADS_3

Warna mata Firon yang sebelumnya putih dan hitam sebagaimana biasanya, kini berubah menjadi berwarna merah dan warna hitam berbentuk segitiga di bagian tengahnya.


Firon terus mengerang tanpa henti. Kedua tangannya yang tadinya belum bisa ia gerakkan kini mampu ia gunakan untuk menutupi kedua matanya. Bukan hanya tangannya yang kini mampu ia gerakkan, bahkan seluruh tubuhnya sudah bisa ia gerakkan meskipun ia tidak menyadarinya sama sekali. Ia terguling-guling ke sana ke mari menahan


dahsyatnya rasa sakit yang menyerang matanya.


Kondisi itu terus berlangsung hampir satu jam lamanya, hingga ia akhirnya jatuh tak sadarkan diri tidak jauh dari tumpukan jerami tempat ia terbaring sebelumnya.


***


Seperti biasanya, setelah memberikan ikan hasil ia memancing di danau kepada juru masak di rumah Tuan Yorinaga, Noguchi bergegas melangkah menuju gua dengan menenteng lentera kecil miliknya sebagai penerang jalan.


Noguchi terperanjat bukan main saat tiba di mulut gua dan menyaksikan ada ular besar tergeletak tak bernyawa di dekat tumpukan jerami dan Firon yang kini tidak lagi terbaring di tempat yang seharusnya ia terbaring.


‘Apa yang terjadi?’ Gumam Noguchi bingung. Ia kemudian menghampiri tubuh Firon yang tergeletak di atas tanah. Ia meletakkan lentera dari tangan kanannya dan bungkusan berisi makanan dari tangan kirinya di atas tanah. Ia kemudian mengangkat tubuh Firon lalu membaringkannya kembali di atas tumpukan jerami.


Beberapa saat kemudian, Firon kembali mengerang pelan. Suara erangannya hampir tak terdengar oleh Noguchi. Firon kemudian duduk menunduk sambil memegang kedua matanya.


“Saudara Firon, kau sudah bisa bangun sekarang!?” Ujar Noguchi gembira.


Firon yang awalnya tidak menyadari tindakannya, cukup kaget mendengar pernyataan Noguchi. Ia kemudian mencoba berdiri sambil menggerakkan seluruh anggota badannya.


Rasa sakit di matanya beransur menghilang. Yang ada kini ada hanyalah perasaan takjub dengan perubahan pada tubuhnya. Ia kemudian melangkah menghampiri Noguchi yang berdiri mematung memperhatikan dirinya.


Ketika pandangan keduanya bertemu, Noguchi cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.


‘Ada apa saudara Nogu? Kenapa kau seperti orang yang ketakutan melihatku?’ Tanya Firon menggunakan ilmu telepati.

__ADS_1


“Matamu.. kenapa dengan matamu?” Suara Noguchi terdengar gemetar.


‘Apa maksudmu saudara Nogu?’ Tanya Firon heran.


“Bola matamu berwarna merah dan mata hitammu berbentuk lain!” Noguchi mencoba menjelaskan apa yang ia lihat.


“Oyah.. kenapa ada ular mati di…?” Belum sempat Noguchi menyelesaikan perkataannya, Firon sudah melangkah keluar dari gua sambil menenteng lentera milik Noguchi. Ia kemudian menghampiri danau untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Noguchi mengenai matanya.


Firon terpaku memandang bayangan matanya di air. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya. Apalagi ia masih syok karena hampir dicelakai oleh seekor ular. Namun yang paling membuatnya syok adalah karena tiba-tiba ular yang nyaris mencelakai atau bahkan membunuhnya itu mati secara misterius.


‘Apa yang terjadi dengan mataku? Mungkinkah ini penyebab matinya ular itu?’ Gumamnya dalam hati.


Firon kemudian menengadah ke langit sambil menggumam dalam hati ‘Kakek, apa yang terjadi dengan diriku? banyak hal aneh  yang tak dapat kumengerti! namun kepada siapa lagi hendak aku mengadukan semua ini? Ayah dan ibuku sudah tiada, dan kini engkau juga meninggalkan aku!.’


Air mata mengalir di kedua pipinya. Ia benar-benar tak dapat membendung kesedihan yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia tiba-tiba merindukan kedua orang tuanya. Namun tak dapat ia pungkiri, bahwa kini ia sudah sebatang kara. Tak ada lagi tempatnya untuk mengadu.


‘Saudara Nogu.. hari ini aku akan meninggalkan tempat ini. Aku ingin kau ikut denganku, tapi itu terserah kamu mau ikut atau tidak!’ Firon menoleh ke arah Noguchi dengan memasang wajah penuh harap. Ia sangat tahu bahwa Noguchi sebenarnya sangat menginginkan untuk terbebas dari kekejaman Tuan Yorinaga.


Noguchi hanya terdiam sejenak. Ia tidak bisa memutuskan antara menerima ajakan orang yang baru dikenalnya atau tetap tinggal di bawah kekejaman Tuan Yorinaga.


Firon yang mengira diamnya Noguchi adalah penolakan, bergegas melangkah pergi meninggalkan Noguchi yang masih tertunduk tanpa kata.


Firon melangkah dengan perlahan di antara pohon-pohon Kriptomeria yang menjulang tinggi ke angkasa. Hanya cahaya bulan redup yang mengiringi perjalanannya. Sesekali Firon menengok kebelakang sambil berharap kalau-kalau Noguchi mengikutinya.


Ketika mentari mulai menampakkan cahayanya di ufuk timur, Firon tiba di sebuah gerbang desa yang bertuliskan “Lembah Kupu-Kupu”.


'Desa ini, kenapa desa ini terlihat seperti desa mati! Kemana semua penghuninya?' Firon melangkah dengan penuh waspada. Ia sangat heran karena tidak seorang pun penduduk desa yang ia temukan. Ia terus menelusuri desa itu dengan harapan akan menemukan seseorang yang bisa ia tanyai.

__ADS_1


Kabut asap yang menyelimuti desa itu membuat suasana bertambah mencekam. Firon hanya mendengar suara serangga dan suara burung bul-bul yang terdengar menyanyi menyambut mentari pagi.


Sekitar satu mil dari gerbang desa, Firon kemudian menemukan mayat berserakan di mana-mana. Tubuh tanpa tak bernyawa memenuhi jalan utama desa itu. Satu tubuh di antara tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan itu tiba-tiba mengangkat tangannya.


“Tolong” Suara samar yang dilontarkan orang itu terdengar jelas di telinga Firon.


Firon bergegas mendekati asal suara itu. Ia kemudian menemukan orang itu bersimbah darah dengan lengan yang terpotong dan kepala yang terkena tebasan pedang. Darah di mulut orang itu sudah kelihatan kering.


“Aa..apa ini?” Teriak seseorang dari arah lain di kejauhan. Sesaat kemudian orang itu muntah-muntah karena tidak tahan melihat pemandangan mengerikan di depan matanya.


Firon yang sudah berdiri di dekat sumber suara yang meminta tolong, kemudian menoleh ke sumber teriakan. Senyum merekah di bibirnya. Ternyata Noguchi telah bersedia menyusul dirinya.


 ‘Terima kasih saudara Nogu, kau sudah bersedia menerima ajakanku!’


“Sama-sama!” Jawab Noguchi berat. Kepalanya masih pusing. Perutnya masih mual dan ia masih ngeri melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya.


Noguchi kemudian menyeka sisa-sisa muntahan di bibirnya lalu melangkah mendekati Firon yang masih tersenyum sumringah ke arahnya.


Noguchi hanya memandang mata Firon sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke arah tubuh satu-satunya yang masih bernyawa di antara ratusan tubuh tak bernyawa. Ia masih enggan atau mungkin takut melihat keanehan pada mata Firon.


“Apa yang terjadi Tuan?” Tanya Noguchi sambil berjongkok di hadapan orang yang sudah di ambang kematian itu.


“Selamatkan orang-orang kami! Mereka membawanya!” Orang itu menjawab dengan suara yang terputus-putus.


“Mereka siapa?” Tanya Noguchi lagi.


“Kelompok Iblis Gunung!” Bisik orang itu samar.

__ADS_1


“Siapa?” Noguchi mengulang pertanyaannya karena suara orang itu tidak jelas di pendengarannya.


__ADS_2