Pendekar Pedang Langit

Pendekar Pedang Langit
Ch 17 - Penginapan Bulan Sabit


__ADS_3

Dewi Rara merenung begitu dalam. Ia memiliki firasat buruk. Ia merasa bahwa akan ada sesuatu yang tak diinginkan bakal terjadi. Ia sebenarnya enggan untuk memenuhi undangan Kaisar Liong, namun ia tidak ingin membahayakan Kota Penyu dan warganya. Ia tidak punya pilihan selain memenuhi undangan tersebut.


Dewi Rara yang sedang duduk di serambi gedung balai kota mengarahkan pandangannya ke arah orang-orang yang sedang melakukan persiapan untuk perjalanan menuju istana kekaisaran.


Aron yang terlihat sedang membantu anak buahnya melakukan persiapan, membalikkan badannya lalu melangkah ke arah Dewi Rara yang masih duduk merenung.


“Sayang, apa yang sedang kau pikirkan. Oya, sudah kau temui anak kita di asramanya?! Tanya Aron sambil tersenyum ke arah istrinya. Ia sangat memahami kegelisahan yang dialami Dewi Rara.


“Sudah sayang. Firon baik-baik saja. Menurut guru-gurunya, dia adalah siswa yang paling cerdas dan paling berbakat di kelasnya. Ilmu silat yang ia miliki juga sudah melampaui para seniornya di sekolah” Ungkap Dewi Rara sambil tersenyum bangga.


“Anak kita mewarisi otak ibunya dan mewarisi otot ayahnya. Sepertinya dia akan menjadi orang besar kelak di kemudian hari!” Ucap Aron dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat.


Setelah semua persiapan untuk perjalan menuju Istana Kekaisaran, Aron Dewi Rara dan Ketua Jo kemudian berangkat dengan ditemani beberapa orang pengawal dan beberapa pendekar muda Klan Gojo. Mereka semua menunggang kuda. Aron dan Dewi Rara berdua mengendarai sebuah kereta kuda, sedangkan Ketua Jo hanya seorang diri di kereta kuda lainnya.


Iring-iringan rombongan itu melaju tanpa hambatan. Dalam tempo beberapa hari saja, mereka sudah tiba di sebuah kota yang cukup besar. Meski Kota Penyu jauh lebih besar dari kota yang mereka singgahi itu, namun kota itu terlihat sangat ramai.


Sementara itu di sebuah ruangan di sebuah penginapan, seorang lelaki yang berpakaian serba hitam, berambut panjang sepinggang berwarna ungu dan memiliki mata yang mirip mata ular sedang menyampaikan sesuatu kepada Jenderal Lee.


“Jenderal, mereka sudah tiba di gerbang kota” Ungkap Lelaki itu sambil menunduk dan tersenyum tipis ke arah Jenderal Lee.


“Baiklah, ternyata mereka tiba lebih cepat dari yang kuperkirakan. Kalau begitu, inilah saatnya, jalankan sesuai yang sudah kita rencanakan. Jangan sampai gagal. Ini adalah peluang kita satu-satunya!” Perintah Jenderal Lee.


Ketika hendak melewati gerbang kota, para rombongan di periksa oleh para prajurit penjaga gerbang. Setelah prajurit mengetahui bahwa tujuan rombongan tersebut adalah untuk memenuhi undangan Kaisar Liong, akhirnya mereka dibiarkan masuk. Salah seorang prajurit penjaga gerbang menyampaikan bahwa mereka diminta oleh Jenderal Lee singgah dulu di sebuah penginapan di pusat kota sebelum melanjutkan perjalanan ke istana Kekaisaran. Prajurit itu juga menyampaikan bahwa jenderal Lee sedang menunggu mereka.

__ADS_1


Saat melintasi jalanan yang melewati pemukiman padat penduduk, para warga yang melihat iring-iringan rombongan Aron dan kawan-kawan itu terlihat memandang sinis. Ekspresi wajah yang mereka tampakkan sangat jelas tak bersahabat.


“Ada apa ini. Kenapa mereka semua bersikap begitu?” Gumam Ketua Jo menyadari sikap warga.


“Tuan, nyonya, kita sudah sampai” Teriak salah satu pengawal yang berada di posisi paling depan.


Aron kemudian keluar dari kereta untuk memeriksa. Ia mendapati sebuah penginapan besar. Penginapan tersebut dua kali lebih besar dibandingkan dengan penginapan paling besar di Kota Penyu. Tepat di atas palang pintu penginapan itu tertulis “Penginapan Bulan Sabit”.


“Benar, ini dia tempatnya. Ayo kita masuk!” Seru Aron sambil melangkah masuk ke penginapan yang dimaksud.


Para rombongan kemudian mengikuti Aron dari belakang. Hampir semua anggota rombongan berecak kagum melihat pekarangan dan bangunan penginapan yang begitu indah.


Berbeda dengan yang lainnya, Dewi Rara justru memiliki firasat buruk tentang penginapan yang baru saja ia masuki itu.


“Sayang, kita harus hati-hati, perasaanku jadi tidak enak!” Ungkap Dewi Rara kepada suaminya.


“Tenang sayang, kita hanya akan menemui Lee di tempat ini!” Ucap Aron sambil tersenyum hangat ke arah istrinya.


Penjaga penginapan kemudian menghampiri dan mempersilahkan mereka masuk. Penjaga penginapan itu juga memberi tahu bahwa Aron, Dewi Rara dan Ketua Jo telah ditunggu oleh Jenderal Lee di ruangan khusus. Hanya mereka bertiga yang diperbolehkan untuk memasuki ruangan tersebut.


Ketika memasuki ruangan khusus tempat Jenderal Lee menunggu, Ketua Jo terlihat senang melihat seorang lelaki yang mengenakan pakaian yang terdapat lambang Klan Gojo di dada sebelah kirinya.


Sebuah ingatan akan kedua anaknya kembali membayangi benak Ketua Jo. Ia ingat betul bagaimana Aron dan Lee tumbuh besar tanpa seorang  ibu yang merawatnya. Kedua anaknya tumbuh besar dengan melalui latihan yang sangat ketat sehingga Aron menjadi seorang pendekar yang sangat kuat pada usianya yang masih begitu muda. Meski Lee tidak sekuat Aron, namun ia juga termasuk pendekar yang cukup kuat dan mampu melampaui beberapa seniornya.

__ADS_1


Jenderal Lee tidak mengenakan seragam yang biasa ia gunakan. Ia terlihat mengenakan baju yang menunjukkan bahwa dirinya adalah bagian dari Klan Gojo.


“Ayah, Kakak, kakak ipar.. selamat datang!” Ucap Jenderal Lee yang baru saja bangkit dari duduknya memberi hormat dan memberi salam.


Aron, Dewi Rara dan Ketua Jo kemudian duduk di kursi yang telah disediakan. Ketua Jo yang terus memandangi Lee kemudian membuka pembicaraan.


“Apa maksud dari semua ini Lee?!” Tanya Ketua Jo


“Tidak ada ayah, aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku masih bagian dari Klan Gojo dan akan terus mengabdi untuk Klan Gojo sampai kapanpun!” Ucap Jenderal Lee sambil menunjukkan ekspresi wajah yang serius.


“Apakah kamu bersedia jika mengajakmu untuk kembali ke Desa Air Terjun?!” Tanya Ketua Jo yang terlihat masih ragu dengan perkataan Jenderal Lee.


“Aku bersedia meninggalkan segalanya agar bisa kembali ke tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan!” Ucap Jederal Lee berusaha meyakinkan ayahnya.


“Baiklah, setelah urusanku selesai, kita akan pulang ke Desa Air Terjun!” Ucap Ketua Jo yang mulai mempercayai perkataan Jederal Lee.


Ketua Jo kemudian menoleh ke arah Aron “Bagaimana denganmu?!” Tanya Ketua Jo kepada Aron.


Mendengar pertanyaan ayahnya, Aron hanya terdiam dan melirik ke arah Dewi Rara. Ia bingung mau bilang apa. Ia tidak ingin meninggalkan Kota Penyu namun ia juga tidak ingin mengecewakan ayahnya.


“Hidangan tiba..!” Ucap seorang pelayan dari balik pintu ruangan.


“Silahkan bawa masuk!” Ucap Jenderal Lee.

__ADS_1


Aron masih merenung ketika masakan yang datang dihidangkan di hadapannya. Pikirannya berkecamuk. Sungguh ia tidak mampu menemukan kata-kata yang ia yakini patut untuk disampaikan kepada ayahnya.


__ADS_2